
Ramai club malam, malam ini. Abang Aariz bersama tim kepolisian segera memasuki salah satu club malam terkenal di Jakarta itu. Kehadiran mereka di sana bukan tanpa alasan. Dengan membawa surat tugas, pihak kepolisian mendapat izin untuk memeriksa setiap para pengunjung untuk menertibkan dan menekan angka penggunaan obat terlarang yang makin hari makin marak saja akhir-akhir ini. Razia gabungan akan semakin gencar dilakukan sampai bisa menimbulkan efek jera buat para pelaku kriminal dalam ranah obat-obatan terlarang seperti ini. Ya, walaupun kecil kemungkinan mereka bakal tobat. Minimal petugas sudah melakukan tugas dengan baik juga sesuai standar operasional prosedur.
Generasi muda yang baru kenal dunia ajeb-ajeb sampai yang udah tua bangka ngumpul jadi satu dalam tempat yang tadinya gelap dengan kelap kelip lampu disko. Kini musik sudah berhenti, lampu pun sudah terang.
Para perempuan dengan pakaian super mini juga dengan berbagai bentuk terpampang nyata. Dandannya juga pada menor, udah ketebelan make up daripada muka, Neon jadi bertanya itu kalo dikerok pake sendok dapet berapa kilo bedaknya. Sungguh terlalu juga sungguh menggoda iman abang-abang yang mesti menghadapi para wanita centil yang nampaknya sengaja lenggak sana lenggok sini. Dempet sana dempet sini. Lumayan gitu, bisa nempel sebentar sama para lelaki gagah, bikin mereka pengen teriak "Pak Pici, Razia Akuh!"
"Pusing kepala gue kalo dapet tugas ginian." Salah satu polisi yang lagi memeriksa kartu identitas salah satu pengunjung club tampak sesekali memijit keningnya. Aariz segera menoyor kening temannya yang paling tidak kuat lihat makhluk semok dengan belahan dada terpampang nyata itu.
"Pusing tapi lo suka juga kan?" dengus abang Neon sambil tertawa.
"Lo lihat nih yang di depan gue."
Abang Neon gak mau lihat. Meski pemandangan bola dunia di depannya begitu memaksa mata buat melirik, ia tetap tidak mau melihat. Jatah yang beginian harusnya dikasih ke bang Ondrong aja. Nah, dia paling suka tuh.
"Pak, saya gak mau di tes urin segala, saya kesini buat joget doang beneran." Suara yang jarang Neon dengar tapi terasa gak asing bikin dia mengangkat wajahnya. Nampak itu bola dunia sekarang udah pindah di depan matanya, Neon jadi sedikit bengek, nafas jadi susah, bukan karena pengapnya ruangan itu sekarang, tapi karena pemandangan di depan bikin imannya rada goyang.
"Ke samping dikit Mbak." tegur bang Neon sopan meminta gadis cantik montok seksi bahenol atas bawah yang tadi berada di depannya itu segera minggir..
"Maaf ya Mas." Suaranya mendesah, jangankan temannya yang tadi Neon juga akhirnya mengeluh. Ini cobaan sekaligus rejeki.
Eh udah Bang jangan mikir begitu, coba cari sumber suara su dekat tadi yang gak asing. Matanya terbelalak lihat gadis yang beberapa hari ini menghantui pikirannya sedang berdebat dengan anggota lain.
"Kenapa ini?" Bang Neon dengan penuh wibawa mendekati mereka. Gadis itu menoleh, lalu jadi menunduk malu.
__ADS_1
"Biar gue aja yang urus." kata bang Neon sama anggota yang tadi menangani gadis yang kemarin kena tilang itu.
"Neon." Cheryl jadi salah tingkah sedang bang Neon cuma lihat dia sambil senyum kecil. Apalagi, setelah itu Cheryl sibuk naikin kembennya yang udah mau melorot. Sumpah, kalau ada yang jualan gamis di depan club dia bakal beli malem itu juga biar Neon gak lihat dia dalam kondisi kurang bahan seperti itu. Biarin deh mau dikatain dugem syariah juga!
"Duh, Cheryl. Kemarin ditilang malem ini kena razia." goda Neon sambil mendata identitas gadis cantik itu.
"Ehmmmmm, aku gak make kok. Aku bersih loh Neon. Aku say no to drugs but say yes to love you."
Mau muntah kelabang yang lagi lewat di lantai ajeb-ajeb denger Cheryl gombalin abang Neon.
"Mau love gak ada larangan kok, tapi tetap harus tes urin ya." Neon menyerahkan wadah tampung air urin sama Cheryl. Ajaibnya, dia langsung nurut bikin anggota tadi blingsatan langsung gerak cepat deketin Aariz yang lagi nungguin Cheryl pipis.
"Gila, jurus apa lo? gue tadi kena semprot sama tuh cewek!" dengus temannya kesal.
"Alah, kesel gue!"
Aariz ketawa ngakak lihat temannya yang sudah berjalan sambil ngedumel.
"Ini Neon." Cheryl menyerahkan wadah tampung yang sudah berisi air urinnya.
"Sering ya ke tempat beginian?" tanya bang Aariz lalu menempel nama Cheryl di wadah itu.
Cheryl cuma menunduk. Ini aja dia bohong sama ayah dan bundanya. Cheryl bandel, bang Neon jadi pengen sentil.
__ADS_1
"Jangan kasih tahu bunda sama ayah aku ya." pinta Cheryl penuh harap.
"Tergantung."
"Kok gitu sih Neon!"
"Kalo lo masih sering ke tempat begini ya gue kasih tahu Oom Kevin lah."
"Gak lagi janji deh."
"Gitu dong, gue anter ke depan ya. Gue belum bisa balik nganterin elo. Kerjaan gue masih banyak. Tuh, masih banyak cabe-cabean yang mesti diperiksa." ujar bang Neon sambil menunjuk para cabe-cabean yang mukanya putih banget. Mukanya doang yang putih yang lainnya abu-abu.
Cheryl mengangguk. Neon bersama Cheryl akhirnya berjalan ke luar diikuti tatapan para anggota kepolisian lain yang saling bertanya-tanya.
Sampai di depan Cheryl segera menuju mobilnya. Dasar Cheryl suka gak fokus tiap ketemu Neon, dia malah salah mobil. Dia pergi pake mobil ayahnya karena mobilnya sendiri masih ditilang. Mobil nya bersebelahan sama mobil orang yang sama persis, jadilah ada adegan mau buka pintu tapi gak bisa bikin Cheryl kesal.
Adegan tarik menarik itu dihentikan oleh Neon yang segera menggiring Cheryl ke mobil yang benar. Ya ampun, Cheryl malu jadi pengen terbang bareng kelelawar yang lagi kelaperan.
"Eh salah ya?" tanya Cheryl oon. Padahal alarm mobil yang dia bawa udah bunyi tapi dia malah salah mobil.
"Hati-hati pulangnya, jangan sampe salah jalan."
"Iya Neon, aku gak papa kok dirazia." Cheryl nyengir terus tancap gas.
__ADS_1
Neon geleng-geleng kepala sambil tertawa lihat gadis itu yang sudah melesat hilang. Bener aja kan, Cheryl jadi salah jalan, niatnya pengen pulang ke rumah dia malah ke jalan rumahnya Oom Bagas. Sabar dong Cheryl, belom waktunya kumpul keluarga apalagi udah subuh gini. Malu sama kodok yang lagi tindihan di atas got.