CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
Ada Rindu


__ADS_3

Dara masih berada di rumah mama sudah hampir tiga hari. Dara masih takut mau ngajak Bagas ngobrol walaupun cuma dari ponsel doang. Perusahaan memang sudah membaik, namun masih memerlukan perhatian ekstra dari Bagas. Karena itu, Dara memilih gak nemuin Bagas dulu.


Bagas sendiri bukannya gak mau nemuin Dara. Tapi emang lagi pengen nyelesain masalah sampe beneran kelar. Lagipula, ia malah mengira Dara udah ngambek karena dia gak pulang ke rumah mama jadi daripada mereka berdebat lagi, mendingan begini dulu.


Jadilah keduanya main tebak-tebakan. Masing-masing mikirnya saling ngambek padahal yang benar mereka itu lagi kangen berat. Dan di malam ketiga ini, Bagas udah gak tahan.


Jadi waktu Dara udah tidur cantik di kamarnya, Bagas diam-diam masuk. Ngelihat Dara tidur sendirian dia jadi ngerasa bersalah. Perlahan Bagas masuk ke dalam selimut terus peluk Dara dari belakang.


"Aku kangen banget tau gak sih?" bisik Bagas pada Dara yang belum sadar dia udah didatengin suaminya.


Merasa sesuatu melingkar di sepanjang perutnya, Dara perlahan membuka mata. Ia segera terkejut mendapati suaminya lagi natap dia dalam diam. Dara takut jangan-jangan ini hantu yang lagi nyamar jadi Bagas.


"Udah bangun?" tanya Bagas sambil tersenyum.


"Iya." sahut Dara sambil ngangguk pelan. Ternyata benar suaminya. Bukan Bagas jadi-jadian.


"Kamu udah sehat, kan?" tanya Bagas masih dengan memeluk istrinya. Dara yang masih nampak takut mengangguk pelan.


"Udah kok, Mas." jawab Dara.


"Terus, kenapa gak ke perusahaan?" tanya Bagas lagi. Dara menggeleng.


"Gak papa." sahut Dara lirih.


"Kalo gitu, aku cari sekretaris baru ya." goda Bagas yang langsung disambut pelototan Dara.


"Besok aku udah bisa masuk kok." sergah Dara cepat.


Bagas tersenyum. Ia mencium pipi Dara perlahan.


"Mas ... "


"Hmmmmm."

__ADS_1


"Maafin aku ya." ujar Dara pelan.


"Buat apa?" tanya Bagas.


"Aku sering banget ngebantah kamu." sahut Dara lirih.


"Duh ... manis banget sih." Bagas semakin mempererat pelukannya.


"Aku kemarin bukan marah kok. Cuma aku pengen kamu itu bisa ngerti kalau gak semua hal yang menurut kamu baik, itu baik juga menurut orang lain. Coba kalo kamu gak istirahat total kemarin, pasti kamu udah di rumah sakit sekarang." jelas Bagas lembut. Dara menganggukkan kepalanya. Ia tahu ia sudah salah.


"Iya, maafin aku ya." kata Dara lagi. Bagas ngangguk lagi terus ngajak Dara segera tidur. Gak ada goyang kasur ya pemirsah.


Besoknya Dara yang udah baikan kesehatan sama baikan dengan Bagas kembali lagi ke perusahaan. Karyawan lain udah pada bertanya-tanya kemarin kenapa istri CEO gondrong itu udah gak masuk kerja beberapa hari. Karena mereka mau ngelamar jadi sekretaris kalo Dara udah pensiun maksudnya. Enak aja, langkahin dulu mayat Kimung!


Dara itu udah milih Tina yang bakal jadi sekretaris pengganti dia kalo nanti udah lahiran. Jadi gak kesempatan tuh barisan para mantan buat balik dan ngarep jadi sekretaris Bagas lagi.


"Pagi Bu Dara, kita kirain udah pensiun gitu." sapa karyawan perempuan yang bodynya kayak gitar bengkok, bukan gitar spanyol.


Yang ketahuan belangnya langsung pura-pura sibuk ngerjain laporan sama aktifitas lain. Dara bakal nemenin Bagas meeting hari ini. Ada pertemuan dengan perusahaan lain yang sangat penting.


Para pengusaha yang udah ngumpul di ruang meeting nampak surprise mengetahui sekretaris Bagas udah melembung sempurna. Sebagian dari mereka emang belum tahu kalau Bagas sudah menikah dengan Dara.


"Wah, sekretarisnya udah hamil aja nih, Pak Bagas." goda salah satu pengusaha yang melihat istrinya yang lagi sibuk nyiapin berkas.


Bagas cuma ketawa, memang lucu melihat ia ditemani meeting dengan sekretaris yang perutnya udah segede balon udara itu.


"Ya hamil lah, tiap malem di tiup mulu." goda yang lain. Pengusaha yang tadi godain jadi bingung.


"Dara ini istri saya, Pak." ujar Bagas meluruskan. Pria tadi jadi senyum malu, ketahuan godain istri bos besar.


Dara juga cuma tersenyum menanggapi.


"Aura hamil itu memang beda ya, jadi lebih gimana gitu." celetuk mereka lagi.

__ADS_1


"Jadi mau bahas orang hamil atau bahas masalah perusahaan ini?" tanya Bagas sambil ketawa santai, bikin yang lain langsung pasang wajah serius.


Dara masih saja tetap berusaha profesional, sama sekali gak pernah menunjukkan sifat manjanya jika sedang dalam suasana meeting begini. Ia juga memanggil Bagas dengan sebutan formal sebagaimana atasan dan bawahannya.


Selepas meeting Bagas dan Dara keluar nyari makan. Udah berapa hari ini Dara gak minta yang aneh-aneh lagi sama Bagas. Bagas kok jadi rindu ya saat-saat itu.


"Kamu gak pengen makan cilok?" tanya Bagas sambil terus mengemudi. Dara menggeleng.


"Aku juga bingung mau makan apa, Mas. Dede gondrong juga belum ngasih petunjuk mau makan apa." ujar Dara lesu.


Bagas udah nyebutin sederetan makanan pinggiran yang selalu bikin Dara nagih tapi belum satu pun yang bikin dia pengen.


"Aku pengen makan nasi padang aja Mas." ujar Dara akhirnya.


"Oh, bilang dong dari tadi Sayang."


"Tapi makannya di pantai ya, kayak dulu itu."


Bagas udah lemes. Mesti puter balik dan bakal ngingetin dia sama kenangan kepala diberakin burung. Tapi Bagas tetap aja kok lolosin permintaan Dara.


Dia juga butuh refreshing. Padahal mereka baru aja pulang dari Bali. Refreshing apaan lagi coba?


Udah sampe di pantai dan menikmati keindahan debur ombak sambil makan nasi bungkus ditemenin angin sepoi-sepoi tetap bikin Bagas was-was sambil sesekali lihat ke langit luas.


Dia takut kepalanya jadi sasaran burung yang udah kebelet pengen eek lagi. Jadilah Bagas persiapan, beli topi koboi bikin dia mirip mas yang jualan cimol anti meledak.


"Main air pantai yuk." ajak Dara setelah selesai makan. Bagas udah bengek lihat Dara mau kejengkang waktu mau berdiri. Lagi-lagi Bagas harus turun tangan bantuin Dara berdiri dengan benar sebelum Dara kejengkang beneran dan berubah jadi penyu laut ni yang siap berenang.


"Lagian kamu Yang, baru aja selesai makan udah main air aja." keluh Bagas sambil menggandeng tangan istrinya itu.


Dara cuma ketawa. Bagas jadi senang melihat tawa istrinya yang udah tiga hari ini hilang. Ada rindu setiap kali mereka jauh. Besok Bagas juga mau kasih kejutan buat Dara, dia udah beli rumah baru dengan fasilitas lengkap juga kamar yang lumayan banyak lengkap juga dengan kolam renang dan dengan taman beserta lampu neon yang di susun berjajar.


Dara pasti jingkrak-jingkrak lihat itu nantinya. Jadi gak sabar buat ngasih surprise itu besok. Pasti Bagas bakalan dapat peluk cium bertubi-tubi dari Nyai. Asek, Jeki kembali menjelajahi goa lagi.

__ADS_1


__ADS_2