CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
Hamil Kebo


__ADS_3

Sudah tiga bulan semenjak resepsi pernikahan Dara dan Bagas. Sekarang gak ada lagi paparazi dadakan, mereka udah bahagia karena atasan dan sekretaris sudah mau jujur dan mengakui status mereka yang sebenarnya.


Perutnya Dara juga udah gede banget untuk ukuran perut wanita hamil dengan usia kandungan segitu. Dara juga ngerasa kayak balon berjalan. Nafsu makan Dara juga jadi ekstra kuat. Bagas sampe takjub sama istrinya yang gak kelihatan capek sama sekali.


Pernah Bagas nanya sama orang, iseng-iseng nanya sama orang yang udah pengalaman hamil. Karena setahu dia, orang yang lagi hamil kebanyakan kalah dan suka mual muntah juga kehilangan nafsu makan dan nafsu lainnya. Tapi kalau Dara beda banget, dia malah jadi lebih bernafsu baik nafsu makan sama nafsu yang itu.


"Itu mah bunting kebo kalo di kampung saya namanya Pak Bagas." ujar ibu kantin pada Bagas yang iseng nanyain pengalaman hamil ibu kantin dulunya.


Jadi ketika Bagas bilang informasi itu sama Dara, Dara malah salah paham. Ia salah tanggap sama sebutan hamil kebo yang Bagas bilang barusan.


"Hamil Kebo?! kamu mau bilang aku gendut kan maksudnya?" Dara segera ngaca, melihat tampilan perut yang udah besar banget.


"Bukan, Yang. Emang sebutannya kamu tuh hamil kebo."


"Mentang-mentang aku udah bulat begini kamu samain aku sama kebo!" Dara udah pasang mode ngambek.


Di saat-saat seperti ini Bagas rasanya pengen berenang aja sama buaya biar bisa menghilang daripada diajak debat sama Dara yang gak mau kalah.


"Bukan loh Yang, maksud aku kamu itu kan gak ada mual muntah, kerja masih kuat, nganu masih kuat, bersihin rumah apalagi, jadi kamu tuh super, biar hamil tapi gak kalah. Orang nyebutnya hamil kebo." jelas Bagas yang udah senewen sendiri.


"Nah kan, aku hamil anak kamu, Mas. Bukan anaknya kebo!" protes Dara lagi.


Bagas udah ngerasa ada asap di telinga sama kedua lubang hidungnya. Mirip kebo waktu ekornya keinjek kaki gajah. Ngadepin Dara emang kudu sabar, apalagi sekarang istri tercintanya itu lagi hamil anak dia, bukan anak kebo.

__ADS_1


"Coba deh kamu buka internet, kamu cari arti hamil kebo itu apa." ujar Bagas mengalah. Percuma mau debat, meski benar tetap saja Bagas bakal kalah sama Dara.


Jadi Dara dengan gerakan cepat langsung buka internet dan cari artikel tentang bayi kebo. Gak mau lah dia disamain sama kebo. Padahal memang kenyataannya, Bagas sama sekali gak nyamain dia sama Kebo.


"Gimana? bener kan kamu itu hamil kebo." ujar Bagas ketika melihat Dara udah malu sendiri karena ternyata ia salah tanggap. Tapi tetap aja dia gengsi gak mau ngakuin dia salah. Jadi dia cuma senyum-senyum gak jelas bikin Bagas jadi keki.


"Udah ah aku gak mau bahas hamil kebo, aku mau makan ketoprak gerobak di depan." Dara segera menarik tangan suaminya itu menuju depan perusahaan dimana para pedagang makanan sudah terlihat berjejer.


Para staff pada geleng-geleng karena mereka pasti akan mendengar pasangan itu berdebat lagi. Kali ini Dara pengen makan ketoprak. Ketopraknya gak pake lontong, cuma pake bihun dan kecambah yang banyak juga cabe yang banyak juga plus kerupuknya yang banyak juga.


Baru saja Bagas mau pesan, tapi istrinya itu minta sesuatu yang bikin dia mau kejang-kejang saat itu juga.


"Aku yang bikin?!" pekik Bagas tidak percaya. Ia menatap kang ketoprak dan Dara bergantian.


"Yang percaya deh aku tuh gak bisa ngulek. Ngulek pake cobek, jangan kan ngulek, ngupas kulit bawang aja aku gak lulus." Bagas angkat tangan berharap Dara segera mencabut keinginannya itu.


"Udah Pak Bos, daripada yang di dalam liuran, mending turutin aja." timpal kang ketoprak langsung disetujui oleh para pedagang lain termasuk kang cilok yang sama gondrong juga.


Bagas jadi garuk-garuk kepalanya yang gak gatal. Tapi akhirnya dengan menarik nafas sangat panjang sampai ia mau kelelep dengan udara yang terlalu banyak masuk paru-paru, Bagas mengangguk juga. Dara langsung menyambutnya dengan binar bahagia.


Bagas sudah menyingsingkan lengan kemeja hingga ke siku. Rambut gondrongnya sudah diikat rapi. Dia mulai ngulek cabe sesuai arahan dari kang ketoprak. Dara udah gak sabar pengen makan ketoprak buatan suaminya.


Bagas sendiri ngedumel dalam hati, kenapa Dara mesti ngidam kayak gini. Mending Dara minta dibeliin barang mewah aja. Tapi ya kebahagiaan Dara cuma sebatas begitu aja.

__ADS_1


"Udah jadi nih Yang." Bagas berseru senang melihat hasil ketopraknya yang kalau di nilai dapet angka 8. Lumayan keren buat dia yang gak pernah nyentuh cobekan.


Dara segera mengambil ketoprak itu disambut senyum bangga Bagas. Tapi kemudian senyum itu mendadak hilang saat dilihatnya antrian di belakang Dara udah panjang kayak kereta api. Para perempuan dari berbagai usia sudah menunggu giliran ketoprak mereka.


"Waah, jarang-jarang ada penjual ketoprak ganteng begini." Ibu-ibu pake behel tersenyum sumringah sambil memandang wajah Bagas yang udah kesal setengah mati. Ya bayangin aja dia mesti ngulek cabe lagi buat para pembeli yang udah salah sangka.


"Maaf Ibu-Ibu dan adek-adek, saya bukan yang punya dagangan ini, saya cuma pengen turutin istri saya yang lagi ngidam itu loh." Bagas menunjuk Dara yang udah asyik makan ketoprak sambil kepedasan.


Terlihat raut kecewa dari para pembeli yang udah pada ngantri. Bikin kang ketoprak ketar ketir takut mereka gak jadi beli.


"Gak jadi beli lah kalau bukan Mas gondrong itu yang bikin." ujar mereka kompak.


Kang ketoprak yang sesungguhnya udah masang muka memelas sama Bagas. Bikin bagas akhirnya gak tega juga.


"Ya udah Bu Ibu saya yang bakal bikin. Pedes-pedeskan?" tanya Bagas dengan semangat karena dia udah kasih cabe yang super banyak buat mereka semua.


"Asyik, akhirnya bisa ngerasaian ketopraknya Mas ganteng ini." ujar Ibu berbadan bongsor yang pasti porsi ketopraknya pasti minta dilebihin tapi minta harga disamain. Gak ada akhlak.


Bagas udah seperti kang ketoprak beneran. Dara hanya tertawa melihat suaminya yang udah kerepotan melayani para pembeli yang modus beli padahal pengen poto bareng sama colek-colek.


Jadilah hari ini Kang ketoprak pulang lebih cepat dari para pedagang lain. Pedagang lain udah pada berdoa semoga besok-besok Dara ngidam makanan mereka juga.


"Neng Dara besok usahain ngidam es cendol saya ya." kata kang cendol penuh harap. Bagas udah melotot, ini aja tangannya udah pegel kebanyakan ngulek. Tapi ia yakin para pembeli nanti pada bolak balik kamar mandi, cabenya aja dia kasih banyak banget karena kata ibu-ibu yang beli tadi kalo gak pedas mampus, bukan ketoprak namanya. Pedas mampus tuh bool pastinya setelah mereka menyantap ketoprak hasil karya Bagas tadi.

__ADS_1


__ADS_2