
Kembalinya Dara ke perusahaan memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Bagas juga para karyawan. Sosok istri sekaligus CEO yang ramah itu tak pelak membuat siapapun rindu.
Dara telah kembali, sebagai sekretaris ia juga mengerjakan tugas sebagaimana mestinya. Di perusahaan ia berusaha tetap profesional meski ia adalah istri dari orang nomor satu di perusahaan raksasa itu.
Bagas juga senang banget, sekarang kalau meeting, dia jadi ditemenin lagi sama istri tercinta. Makin hari istrinya makin cantik bikin siapa aja betah memandangnya lama-lama. Walaupun Bagas udah sering bilang ke staffnya apalagi yang laki-laki, memandang Dara gak boleh lebih dari lima detik.
Jadi demi gaji yang tetap utuh dan gak dapet surat peringatan karena ketahuan melanggar perjanjian sepihak itu, mereka lebih baik cari aman. Gak mandang mami lebih dari lima detik kecuali papi lagi lengah dan gak di samping mami, puas deh mereka melihat sekretaris cantik jelmaan Betty Lapea lebih lama.
Hari ini ceritanya bakal ada perusahaan baru yang bakal jalin kerjasama dengan perusahaan mereka. Usut punya usut, itu persetujuan udah Bagas tanda tangani, karena lihat profil perusahaan itu kayaknya bagus dan lumayan bakal menguntungkan kedua belah pihak.
Masalahnya adalah pemimpin perusahaan itu ternyata cowok yang dulu waktu SMA naksir berat sama mami. Gak tahu gimana ceritanya, mereka kembali dipertemukan dalam meeting siang ini.
Bagas curiga dong kenapa itu pimpinan perusahaan yang bakal kerjasama jadi lebih sering mandang istrinya daripada melihat Bagas yang lagi asyik nerangin sesuatu yang penting di depan ruangan.
Dara yang belum ngeh kalo itu lelaki tampan adalah teman SMA dia yang dulu naksir berat ya gak nyadar dia diperhatikan.
"Pak Rafi?" Bagas sampai menegur, yang ditegur malah makin asyik memandang istrinya CEO gondrong. "Hallo!" Bagas tiba-tiba berdiri di depan Dara hingga membuat lelaki itu jadi gelagapan karena sosok cantik Dara berganti jadi sosok Bagas yang udah mandang dia gak suka.
"Sorry Pak Bagas, silahkan lanjutkan." ujar lelaki itu sembari mengalihkan pandangannya ke depan lagi.
Bagas mencoba tenang dan meneruskan kegiatannya tadi yang sempat tertunda. Sesekali ia masih sering melihat lelaki itu mencuri pandang ke arah Dara. Dara sendiri mencoba tidak menggubris pandangan pemimpin perusahaan lain itu. Sementara Bagas sudah kesal setengah mati tapi tetap bisa mengendalikan diri dengan senyumnya yang ramah. Udah lama nih Bagas gak bikin bonyok muka orang. Kayaknya cerita lama dia waktu sekolah dulu bakal terulang.
"Kamu kenal Pak Rafi, Yang?" tanya Bagas setelah meeting berakhir. Mereka sudah di dalam ruangan pribadi Bagas. Dara berusaha mengingat terus menggeleng.
"Tapi dia orang Malang loh. Kayaknya kalian saling kenal deh." desak Bagas lagi. Mukanya udah gak santai banget.
"Aku coba inget ya."
Sambil memejamkan mata, Dara mencoba menggali kenangan masa lalunya. Siapa tahu dia memang kenal lelaki itu tapi lupa karena sudah lama.
"Aku lupa deh Mas."
"Udahlah. Gak usah diinget." ujar Bagas kesal sendiri.
Dara jadi serba salah, tadi bukannya Bagas sendiri yang memintanya mengingat lelaki itu?
"Kamu sensi banget sih, kayak aku kalo lagi dapet." ujar Dara mendekat.
Bagas diam, dia masih ingat bagaimana lelaki bernama Rafi itu memandang istrinya dengan tatapan begitu memuja. Pengen rasanya Bagas ajak adu tinju saat itu juga.
"Mau jus?" tawar Dara, siapa tahu kalo minum yang dingin-dingin, emosi suaminya yang lagi naik turun bisa mereda.
__ADS_1
"Boleh, jus mangga ya."
Dara mengangguk lalu keluar dari ruangan. Semua karyawan memandang dirinya dengan senyum merekah. Saat selangkah lagi akan sampai menuju kantin, seseorang menghentikan langkah Dara.
"Dara!"
"Pak Rafi?"
"Iya, kamu gak inget sama aku?"
"Pak Rafi pimpinan perusahaan yang bakal kerja sama dengan perusahaan ini kan?"
"Iya, ada lagi. Coba ingat-ingat." Tampak Dara sedang mengingat lagi. Gak Bagas gak Rafi kenapa mereka pada nyuruh Dara buat mengingat-ngingat yang jelas-jelas gak perlu diingat dan memang Dara enggak ingat.
"SMA Harapan, aku Rafi, ketua osis."
Dengar itu baru deh Bara ngeh. Ia membulatkan matanya sempurna.
"Ya ampun, Kak Rafi! aku sampe gak ngeh, berubah banget." Dara ketawa riang.
Perbincangan sambil berdiri dan mengenang masa lalu sambil ketawa ketiwi itu akhirnya membuat jus mangga belum juga sampai di meja Bagas.
Dengan tangan terkepal Bagas mundur, dia menuju ruangannya lagi. Dara gak lama kemudian masuk ke dalam ruangan sambil senyum dia hidangkan itu jus mangga buat suami tercinta.
"Lama banget kamu. Ngapain aja di kantin?" tanya Bagas ketus. Dara jadi terkejut dong. Seumur hidup bersama Bagas, baru kali ini Bagas tampak begitu serius dengan raut wajah merah menahan marah.
"E-eng, aku tadi pesan jus mangga terus aku ngobrol ..."
"Sama siapa?!" tanya Bagas cepat.
"Kamu ngobrol dulu atau pesan dulu jusnya?" tanya Bagas tajam. Dara jadi takut, kenapa suaminya jadi kesal begitu.
"E-eng, aku ngobrol dulu Mas tapi enggak lama kok. Terus aku langsung pesan jusnya. Maaf ya Mas aku buat kamu nunggu."
"Ngobrol sama siapa?" tanya Bagas lagi.
"Sama Pak ..."
"Rafi?! tadi kamu bilang gak kenal. Tapi bisa ya orang gak kenal ketawa lepas begitu." sambar Bagas cepat.
Dara sampai mundur sangking kagetnya.
__ADS_1
"Mas, Pak Rafi itu memang kakak kelas aku dulu di sekolah terus dia juga ketua osis. Aku juga tadinya beneran gak tahu dia siapa sampai dia sendiri yang akhirnya bilang kalo aku ..."
"Udahlah! aku gak suka kamu ngobrol lama sama laki-laki lain!" dengus Bagas sebal.
Dara cuma bisa menunduk, lihat pemandangan itu Bagas jadi menyesal tapi dia benar-benar cemburu jika Dara sampai ngobrol asik sama orang lain selain dirinya.
"Ayo pulang, aku lagi gak enak badan." ujar Bagas akhirnya dengan suara pelan.
"Mas ..."
"Aku bilang pulang loh Yang." tegas Bagas lagi.
Dara akhirnya ikut kata-kata suaminya. Ia meraih tas lalu ikut keluar dari ruangan.
"Kamu bilang gak kamu istri aku?" tanya Bagas lagi ketika mereka sudah di mobil.
"Kami tadi cuma basa basi sebentar ngomongin soal ..."
"Aku tanya kamu bilang gak aku suami kamu?!" desak Bagas lagi.
Dara jadi menggigit bibirnya sendiri. Beneran tadi dia gak ngomong apapun selain basa basi karena gak enak sama orang yang ternyata kenal dia. Masa dia mesti abaikan.
Dan memang tadi dia gak bilang dia istri Bagas. Lha orangnya juga gak nanya kok.
"Dia gak nanya tadi Mas jadi aku ..."
"Harusnya kamu bilang kamu istri aku! gimana sih kamu?!"
Sampai di rumah Bagas langsung naik ke atas. Dara sendiri masih gak ngerti kenapa suaminya sampai semarah itu padahal dia gak ngapa-ngapain sama Pak Rafi yang ternyata orang yang ia ken saat sekolah dulu.
"Kamu kenapa Mas? Aku gak ngerti."
Bagas memandang Dara tajam bikin Dara deg-degan.
"Aku cemburu!" jawab Bagas lalu dia berjalan ke arah jendela. Jordi yang gak sengaja lihat Bagas langsung nunduk, sebab muka Bagas lagi angker. Gak pas waktunya pengen diajak ngobrol santai.
Dara tarik nafas panjang terus keluar dari kamar. Belum waktunya ngobrol santai sebab papi lagi gak santai. Cemburunya Bagas bikin Dara jadi ngeri.
Tapi Dara jadi senyum sendiri ketika turun dari lantai atas. Dicemburuin ternyata enak ya. Selama ini kan dia terus yang suka nahan cemburu tiap mereka gak sengaja pas-pasan sama perempuan yang mengenal Bagas. Sekarang berbalik, jadi Bagas yang suka ketar ketir sendiri.
Rasain tuh papi!
__ADS_1