CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
Mau Lampu Neon


__ADS_3

Hari ini malam terakhir Bagas dan Dara di Bali. Mereka sudah cukup berbulan madu. Sesi foto-foto juga sudah selesai mereka lakukan. Hasilnya keren bikin Dara dan Bagas senang sekali. Ada foto Bagas sedang mencium perut istrinya di bawah sunset. Bagas sangat menikmati liburan bulan madu ini bersama Dara.


Nanti kalau duo gondrong sudah lahir dan sudah bisa diajak berlibur, ia juga akan mengajak mereka. Rasanya Bagas udah gak sabar pengen duo gondrong segera lahir. Dara sekarang sering banget geregetan pengen garukin perut. Tapi, kata ibuk gak boleh nanti perutnya jelek bergurat, teori itu ia dapatkan saat menelepon ibuk kemarin.


"Masa iya gak boleh di garuk gitu, Mas?" tanya Dara sama Bagas yang juga gak tahu mesti jawab boleh atau enggak. Mana Bagas ngerti masalah gituan.


"Ikutin aja deh, Yang. Kan kalau itu udah menurut orangtua, berarti ya bener." sahut Bagas. Habis dia gak tahu mesti jawab apa.


"Tapi gatel, Mas. Rambutnya dede dua ini pasti beneran gondrong kayak kamu. Aku jadi gatel gini." Dara mengusap-ngusap perutnya gregetan.


"Aku elus aja ya biar cepat reda gatelnya."


Bagas akhirnya mengelus perut Dara yang masih aja terasa gatal. Tapi Dara jadi lebih tenang karena perhatian suaminya itu.


"Udah enakkan belum?" tanya Bagas.


Dara mengangguk.


"Mas Bagas, jalan-jalan yuk." ajak Dara kemudian.


"Ayo, pake jaket ya." Bagas segera mengambil jaket yang dulu sempat ia sematkan pada Dara saat dulu mereka belum menikah. Saat pertama ia melihat duo semangka dengan paksa. Ingat itu, Bagas jadi malu sendiri.


"Kenapa sih kok jadi malu-malu gitu?" tanya Dara.


"Gak papa. Sini deh." Bagas memeluk Dara lembut sambil mengusap rambut istrinya.


"Kenapa sih, Sayang?" tanya Dara lagi.


"Maaf ya, dulu aku udah jahat sama kamu." bisik Bagas. Dara tersenyum, kenapa suaminya so sweet begini sih? kan yang baca jadi pada ngiri.

__ADS_1


"Aku udah maafin kamu kok. Aku sayang sama Mas Bagas." sahut Dara bikin Bagas semakin erat memeluk istrinya.


"Dah yuk, jalan. Mau jalan kemana sih? kamu gak capek?" tanya Bagas, Dara hanya menggeleng. Ia juga heran, meski perutnya benar-benar sudah membengkak sempurna, tapi dia gak pake capek. Dara malah makin aktif biarpun dia sering ngos-ngosan setelah itu.


Keduanya berjalan menyusuri taman di sekitar villa. Suara debur ombak terdengar meski kini mereka berada di tempat yang lumayan tinggi. Dinginnya Bali malam ini menambah kesan romantis untuk mereka berdua.


"Tuh, lihat bintangnya Mas." Bagas mengernyitkan dahi. Apaan sih, jalan-jalan cuma buat nengok bintang doang. Di balkon juga bisa padahal, dasar Betty. Batin Bagas. Gak berani diungkapin, karena bisa menyebabkan serangan jantung mendadak.


"Iya Sayang. Bagus ya. Kayak kamu." Bagas malah jadi ngegombal. Tolong maafkan jika sedikit lebay, orang kesemsem memang begitu, sedikit norak tapi punya banyak cinta. eaaaaaa


Mereka duduk di bangku taman. Menatap hamparan bintang sambil saling bersender. Bagas memperhatikan istrinya yang nampak cantik dengan perut bulat berukuran jumbo itu.


"Kamu tuh gak kepengen aku beliin apa gitu Yang?" tanya Bagas. Dara menggeleng. Entahlah, Dara memang tidak punya keinginan untuk minta dibelikan ini itu. Seperti saat Bagas membelikannya barang mewah, ia jadi bingung mau memakainya kapan dan kemana.


Dara sendiri gak terlalu suka keluar rumah. Kecuali sama Bagas ya oke lah. Tapi kalau nongkrong gak jelas, dia sama sekali gak pernah.


"Aku gak tahu, Mas. Kayaknya semua yang udah kamu beliin itu udah cukup kok." Dara menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya udah gak papa, nanti kalo kamu pengen sesuatu, kamu gak boleh pendam. Aku bisa kok beliin." kata Bagas lagi. Dara hanya mengangguk.


"Aku makan cilok berdua bareng kamu aja udah senang kok." Lagi-lagi cilok. Bagas udah akrab banget sama kepala botak kenyal itu karena Dara setiap hari sering membelinya kalau sedang kerja.


"Aku pengen beli rumah. Biar kamu enak tinggalnya. Apalagi nanti kita gak berdua lagi, kamu butuh asisten rumah tangga dan pengasuh buat bantu ngurus anak-anak kita." ujar Bagas serius.


"Apartemen kamu kan gede juga, Mas."


"Gak lah, lebih enak kita punya rumah beneran. Nanti, Apartemennya buat kita gituan aja." Bagas mengerling nakal. Dara segera memukul lengan suaminya gemas.


"Mas, aku pengen itu." Dara menunjuk deretan lampu taman warna warni yang berjejer di depan mereka.

__ADS_1


Bagas gak ngerti apa yang Dara pengen.


"Lampu neon, Mas." bisik Dara berbinar. Bagas makin gak ngerti. Kenapa lampu taman jelmaan lampu neon itu begitu menarik minat istrinya.


"Terus mau gimana, Sayang? aku gak ngerti loh."


"Mau di pasang di rumah kita, Mas. Di apartemen. Bisa kan?" tanya Dara cepat. Matanya tampak berbinar-binar membayangkan deretan lampu taman bundar itu berada di apartemen mereka.


"Buat apa, Sayang?" Bagas udah garuk-garuk kepala aja. Ada-ada aja permintaan Dara ini. Kesal author jadinya.


"Pasang aja Mas, di balkon biar jordi sama kimung ada temennya."


Bagas sudah pusing tujuh keliling. Kemarin cilok, hari ini Dara minta lampu neon di pasang di balkon apartementnya. Kalau Jordi diletakin di atas lampu neon itu, udah pasti bakal dia berakin.


Kimung lagi, badan udah obesitas begitu. Jalan udah gak kuat, mau di suruh naek ke atas lampu neon kayak hewan lagi latihan sirkus, belom sempat loncat kimung udah terjun bebas dari ketinggian.


Please Dara! jangan aneh-aneh. Pusing kepala buaya gondrong sekarang.


Bagas jadi menelepon orang yang punya toko lampu juga akhirnya.


"Gimana juga tolong gitu, Pak, dibisain pasang lampu tamannya yang warna warni kelilingin balkon apartemen saya besok."


Bagas kembali mematikan sambungan telepon. Dara memeluk suaminya. Ia sudah membayangkan apartemennya akan indah dengan adanya lampu neon.


"Pasti bagus ya Mas, kayak kepala keponakannya Mas Doni yang botak itu." kenang Dara pada bocah lampu neon.


Bagas hanya mengangguk saja. Ia senang asalkan istrinya juga bahagia. Apapun aku lakukan demi Nyai. Ku jual baju celana, itu semua demi Nyai, aku kerja jadi kuli, demi Nyai ... Bagas jadi nyanyi lagunya Eyang Jaja Miharja dalam hati.


"Udah malem yuk, jangan kelamaan liat lampu neonnya, nanti kamu mimpi kepala aku berubah jadi lampu taman itu ntar." Bagas segera mengajak Dara kembali ke villa. Gak mau dia mimpi basah sampe hipotermia lagi malam ini.

__ADS_1


__ADS_2