
"Yang, kamu aku turunin depan lobby ya. Aku ada perlu sebentar, paling lama dua jam aku udah balik." Bagas menepikan mobil lalu mencondongkan wajahnya untuk mengecup kening Dara.
"Mau kemana, Mas? ke rumah Mama ya?" tanya Dara penasaran.
"Enggak, aku ada perlu pokoknya. Nanti pulang aku bawain oleh-oleh ya."
"Mas Bagas kayak mau pergi jauh aja. Ya udah, hati-hati ya. Aku sekalian titip makanan Kimung ya Mas." ujar Dara sebelum turun dengan Oren yang lagi tidur di atas pangkuannya.
Bagas mengangguk dan Dara melepas kepergian suaminya itu lagi. Sambil berjalan menuju lift ia membalas sapaan para security yang lagi patroli.
"Wah, Neng Dara, udah ada saingan nih si Jordi." sapa Pak satpam berperut buncit.
"Iya Pak, kenalin namanya Kimung Pak. Nanti bakal jadi temennya Jordi." sahut Dara sambil tersenyum manis.
Pak satpam hanya tertawa kecil, sebab ia tahu Jordi pasti akan menghasut Bagas untuk mencoret Kimung dari daftar keluarga. Jordi dan kelicikannya memang sudah terkenal di dunia nyata dan dunia goib.
Dara melanjutkan perjalanan menuju lift dengan langkah riang. Setelah sampai ia segera menekan kode akses lalu masuk dengan Kimung yang udah norak bin kampungan karena langsung mengitari semua wilayah apartement dengan berlari-lari seolah lagi ngejar ikan asin.
Jordi yang melihat sesosok spesies beda jenis juga beda kasta itu, langsung mematuk-matuk sangkar. Ia ingin mengintrogasi kucing bar-bar itu secepatnya. Ini gawat bagi Jordi, sebab nanti posisinya sebagai salah satu anggota keluarga CEO gondrong akan terancam karena kehadiran Kimung yang sedari tadi sudah mengeong ke arah dirinya.
Sudah dipastikan, akun sosmed Bagas yang dipenuhi pengikut dari spesies cabe-cabean sampe cabe giling yang udah tua, akan dibanjiri foto si Oren bar bar itu. Jordi jadi sesak nafas membayangkan popularitasnya sebagai hewan peliharaan dengan banyak fans akan berganti dengan foto Kimung yang punya muka lebih imut dari dirinya.
Jordi sudah telentang pasrah membayangkan dirinya yang akan segera meredup seiring kehadiran Kimung. Mana sekarang Doni lagi gak bertamu, ia jadi gak bisa kongkalikong untuk mengusir Kimung secepatnya.
__ADS_1
...****************...
Di sebuah tempat tepatnya sebuah tempat penampungan anak-anak terlantar juga anak tanpa kedua orangtua, terlihat seorang lelaki gondrong sedang berbincang hangat bersama dua orang paruh baya.
"Ratih mana, Yah?"
"Ratih lagi ngajarin anak-anak panti, Nak Bagas. Biasa, kegiatan rutin yang harus Ratih berikan sejak dulu." sahut lelaki yang Bagas panggil ayah itu.
"Aku minta maaf ya, Yah, Bu, gara-gara aku, Ratih jadi kehilangan kebebasannya. Gara-gara aku Ratih jadi melakukan semua hal dengan terbatas." Bagas menunduk, ayah dan Ibu segera menghampiri pemuda gondrong itu.
"Jangan bicara begitu, Nak Bagas. Semua yang terjadi, sudah menjadi ketetapan Allah. Ayah dan Ibu, juga Ratih, tidak pernah menyalahkan Nak Bagas atas semua hal yang sudah terjadi satu tahun lalu." Lelaki bijak itu menepuk-nepuk pundak Bagas pelan.
"Makasih ya Yah, Bu. Bagas janji, akan terus memberi yang terbaik bagi anak-anak panti di sini. Aku gak akan pernah berhenti untuk menjadi donatur juga menyekolahkan anak-anak."
Panti asuhan ini sudah berdiri sejak tujuh tahun yang lalu. Pasangan suami istri yang baik hati itu sangat tidak bisa membiarkan anak-anak tanpa orangtua terlantar di jalanan. Jadilah dengan uang tabungan mereka, panti asuhan itu berdiri.
Sudah banyak anak yang ditampung di sana. Pak Sukardi juga Ibu Rahmi punya seorang putri berusia dua puluh dua tahun. Seperti kedua orangtuanya, Ratih juga sangat mencintai anak-anak panti. Kesehariannya dihabiskan untuk bekerja mengajar disebuah sekolah dasar, Namun karena kecelakaan satu tahun yang lalu tepatnya ketika Ratih ingin menyebrang, sebuah mobil tanpa sengaja menyambar tubuhnya, membuat ia terpental jauh dan mengakibatkan lumpuh pada kedua kaki.
Lelaki dalam mobil itu adalah Bagas. Seorang lelaki yang akhirnya merasa bersalah hingga saat ini. Meski, kedua orangtua juga Ratih sendiri telah menerima hal itu sebagai musibah dan takdir dari Tuhan. Sejak saat itulah, Bagas berjanji akan terus mempertahankan panti asuhan itu dari banyaknya orang yang ingin mengambil lahan juga terus berusaha memberi yang terbaik bagi Ratih dan anak-anak panti termasuk menyekolahkan mereka sampai sekarang.
"Yah, hari ini jadwal Ratih check up dan terapi lagi. Aku minta izin ya bawa dia ke rumah sakit lagi." Bagas menatap kedua orang yang sudah ia anggap sebagai orangtua sendiri itu.
Keduanya mengangguk dan bersamaan dengan itu, terdengar suara kursi roda mendekat. Bagas tersenyum hangat menyambut Ratih yang nampak cantik dengan balutan kemeja panjang dan rok semata kaki.
__ADS_1
"Abang, udah lama datang ya?" tanya Ratih sambil mencium punggung tangan Bagas.
"Baru aja, tadi mau samperin kamu ke sana, eh dia udah nyampe duluan. Kalah cepat deh Abang." sahut Bagas yang langsung disambut tawa oleh Ratih dan kedua orang tuanya.
Keduanya kemudian berpamitan. Ayah sigap melipat kursi roda dan meletakkannya di bagian belakang mobil. Sementara Bagas mengangkat tubuh Ratih dan meletakkannya di dalam mobil.
Keduanya berpamitan lalu segera melesat menuju rumah sakit dimana Ratih akan mendapat terapi seperti biasanya. Besar sekali harapan Bagas, Ratih akan segera sembuh.
Ia tidak ingin selamanya dihinggapi rasa bersalah. Kejadian yang mengakibatkan cacat pada Ratih, tak satupun orang yang tahu, baik kedua orangtua Bagas, duo Tarzan juga... Dara.
Bagas menyimpannya rapat, hanya ia dan keluarga Ratih saja yang tahu. Saat Bagas sedang mengobrol bersama dokter yang menangani Ratih, dari kejauhan Ratih memandang lelaki itu.
Ia membidik kamera, lalu memposting foto Bagas dengan ditutupi stiker di bagian kepala. Setelah selesai beristirahat, ia kembali memulai latihan berjalan dengan tongkat penyanggah dibantu perawat yang sedang bertugas.
"Apa ada kemungkinan, adik saya sembuh, Dok?" tanya Bagas penuh harap.
"Pada beberapa kasus seperti yang menimpa Ratih, kesembuhan bisa saja terjadi, Pak Bagas. Hanya kita tidak pernah tahu, tingkat keberhasilan itu berapa persen dan akan memakan waktu yang tidak bisa diprediksi. Tapi, kami akan berusaha untuk membantu Ratih sebisa dan semampu kami." Dokter berkata dengan sungguh-sungguh, Bagas mengangguk berusaha menerima semua yang dokter katakan. Ia senang setidaknya, harapan Ratih untuk sembuh masih ada meski sedikit.
Sementara di ranjang, Dara tampak menatap foto yang ditempeli stiker oleh akun yang baru saja menerima ia sebagai pengikut. Dara sangat hafal dan tahu siapa dibalik stiker itu meski sang pemilik akun tidak menyertakan nama di captionnya yang sungguh membuat Dara bergetar hebat saat membacanya.
Bang, senyummu adalah semangatku. Terima kasih sudah menemaniku selama ini.
Luruh rasanya hati Dara saat itu juga.
__ADS_1