
Bucin itu seperti apa sih? satu kata yang menggambarkan seseorang yang lagi dimabuk asmara? yang bikin pelakonnya gak mau jauh dari sang pujaan hati? Budak cinta.
Mungkin sekarang kalau mau bilang gitu ke Bagas, dia gak bakal marah. Mau dibilang lebay juga silahkan. Bagas gak pernah ngejar perempuan, selama hidup dan menyandang gelar pria gondrong dengan sejuta pesona, dia yang selalu dikejar. Mantannya beragam, dari yang pegawai bank sampai model terkenal. Cantik? jangan ditanya, kalau dijejerin bisa bikin bengek para lelaki yang melihat.
Tapi, nyatanya Bagas sekarang jatuh sejatuh-jatuhnya sama Dara. Dari awalnya gak cinta eh sekarang kasmaran gak ketulungan. Makin sering menyatu, makin besar rasa yang ada. Jatuh cinta sebenarnya mungkin seperti inilah. Lihat Dara lagi tidur mulutnya kebuka aja tetap kelihatan cantik.
"Aku gak pede, Mas, banyak bule." bisik Dara ketika ia sudah berjalan anggun menuju restoran kece yang ada di sana. Sekeliling mereka kaca, jadi bisa lihat view matahari tenggelam sebentar lagi.
"Gak papa, anggap aja cuma ada kita berdua." balas Bagas sambil berbisik. Btw, Dara sekarang cantik banget loh. Dia pakai dress cantik semata kaki berwarna bermotif lace hitam dengan aksen Glitter di beberapa bagian.
Bagas juga gak kalah ganteng, pake kemeja ketat yang ngebentuk oto-otot perutnya. Pilihan meja mereka ada tepat di samping dinding kaca. Pemandangan langit Bali sudah mulai memanjakan mata keduanya.
Bagas mengangkat gelasnya, mengajak sang istri bersulang. Gila, Dara baru kali ini diperlakukan sebegini spesial oleh lelaki. Yang selama ini dia paling kencang nongkrong di warung kopi, sekarang naik level ke tempat romantis begini, dinner manja ala putri.
"Mas ... " Dara memekik senang, menunjukkan mentari yang mulai tenggelam. Pemandangan indah yang begitu berbeda saat ia dulu melihatnya di pinggir empang.
"Indah banget kan?" tanya Bagas sambil tersenyum. Senyuman maut bikin bule di belakang Dara jadi salah tingkah. Nampaknya bentar lagi bule cantik mau cari cowok Indonesia juga, yang gondrong kayak Bagas. Produk lokal memang tiada duanya.
"Cantik banget! kenapa beda ya kayak yang waktu aku lihatnya di pinggir empang dulu. Padahal sama-sama mau terbenam." gumam Dara riang. Matanya tampak berbinar, kalau duo gondrong udah lahir mereka pasti terpesona lihat emaknya yang begitu cantik ketika sedang tersenyum.
"Karena kalau dari sini, viewnya lebih dapet, Sayang. Kelihatan lebih dekat karena kita juga lagi di tempat yang lumayan tinggi." jelas Bagas. Dara yang gak ngerti masalah gituan iyain aja, yang penting pemandangannya memang indah.
__ADS_1
Bagas berdiri, membiarkan Dara masih terkagum-kagum pada lukisan alam yang masih tersaji di depan mata. Dia gak sadar waktu Bagas udah berada di belakang kursinya, meraih sesuatu lalu mulai memasangkannya di leher sang istri.
Dara terdiam sesaat, lalu meraba lehernya yang sudah cantik dengan berlian menggantung di leher. Juga kemudian Bagas meraih jemari lentik sang istri, memasangkan cincin berlian di sana. Hampir saja Dara memekik senang, namun ia hanya bisa menutup mulutnya.
Matanya tampak berkaca-kaca. Terharu dia. Selama ini mungkin cuma bisa beli kalung berapa mata, tapi kini Bagas memanjakan dirinya begitu nyata.
Bagas ngambil ponsel lalu mengambil foto mereka berdua dengan Dara sudah memakai kalung berlian yang tampak kemilau. Foto yang kemudian diunggah itu langsung mendapat respon beragam dari para penggemarnya.
"Mas Bagas .... " Dara sampai tak bisa berkata-kata. Yang jelas saat ini dia merasa sangat dicintai.
"Special buat istri aku yang gak banyak mau." Bagas mengecup pipi Dara yang bersemu merah.
"Makasih ya, Mas Bagas." Suara Dara terdengar bergetar. Jadi bini orang kaya begini banget ya. Asik, apa aja yang dimaui bisa terwujud dengan mudah. Jadi pengen ...
Bali. Tempat yang selalu bisa menghadirkan indahnya romansa setiap pasangan. Dara mensyukuri kehadiran Bagas dalam hidupnya, meski pernikahan mereka berawal dari kesalahpahaman kedua mertuanya. Tapi, mungkin inilah cara Tuhan menunjukkan siapa jodohnya.
"Ayo, janji buat saling setia." Bagas menunjukkan kelingkingnya.
"Janji, Mas Bagas. Harusnya aku ya yang takut kamu nyeleweng." sahut Dara dengan cubitan gemas sudah mendarat di perut sang suami.
"Percaya deh, aku kalo udah sayang banget, gak bakal nakal."
__ADS_1
Dara mau tak mau tersenyum juga mendengar ungkapan suaminya itu. Ia bahagia sekali malam ini. Meskipun gak jadi makan cilok, karena di Bali apalagi di tempat mereka sekarang emang gak ada yang jualan cilok, apalagi yang rambut Masnya gondrong kayak di depan perusahaan.
Dara merasa bahagia, dicintai dan disayang sedemikian dalam oleh sesosok lelaki mantan badboy yang suka banget nyakitin perasaan perempuan dulunya.
"Aku tuh kadang masih suka gak percaya, kalo aku bisa jatuh cinta sedalam ini sama kamu." bisik Bagas lirih, tepat di telinga istrinya. Bikin Dara jadi geli dan merinding bulu roma.
"Aku juga. Ternyata, Mas Bagas laki-laki baik kok." sahut Dara.
"Ya, karena udah ketemu perempuan yang tepat dan bisa bikin aku tobat."
Dara bersandar di bahu suaminya. Bagas membelai rambut istrinya itu perlahan. Mereka masih asyik merasakan romantisme kisah cinta sambil menunggu makanan mereka tersajikan, saat sebuah panggilan telepon masuk ke ponselnya.
"Gas, woi! lo pergi gak bilang-bilang." Suara Doni terdengar memekakkan telinga saat panggilan itu Bagas angkat.
"Kan gue udah bilang semalem, lo aja udah ngantuk waktu gue telepon."
"Gue udah di apartemen elo nih. Kalo mau pergi tuh persiapan dong. Lo gak sadar apa makanan Kimung sama Jordi udah pada abis. Bengek nih mereka mau mati lo tinggalin." omel Doni yang sangat peduli pada dua peliharaan Bagas dan Dara ini.
Bagas jadi menepuk jidatnya. Ia benar-benar lupa untuk membeli makanan dua spesies beda bahasa itu.
"Tolong deh Don. Elo kan pawangnya."
__ADS_1
"Pawang pala lo peyang. Kalo gue telat ngasih dua makhluk ini makan, mereka udah pada tenggeng di sini." Doni yang memang lagi sensi karena Karmila gak juga mutusin si tukang ojek online, jadi ngelampiasin kemarahan sama Bagas. Apalagi malam ini Kevin dan Ratih udah mau lamaran. Masa dia doang yang masih jomblo.
Tapi beneran sih, Jordi sama Kimung emang udah mau teler karena gak pake makan dari pagi. Tega banget Bagas, dia sama Dara enak-enak, kedua spesies di rumah itu malah udah mau bengek karena lapar. Yang lebih kasihan sebenarnya Doni, karena sampai sekarang hubungannya masih aja gantung kayak jemuran belum kering. Nasib Doni sedikit apes mungkin karena dulu dia yang paling suka mainin perempuan, jadi karma buat dia sedikit lebih kejam. Mengharapkan cinta Karmila yang udah jadi pacar orang. Move on napa Don!