
Setelah insiden mesem-mesem berujung lupa ganti alas kaki, Dara dibuat mesem-mesem lagi karena sekarang Bagas mengajaknya ke sebuah tempat romantis. Restoran indah dengan masakan khas italia yang menggugah selera menjadi tempat dinner mereka malam ini.
Dara senang sekali bisa berada di tempat itu, suasananya begitu romantis cocok untuk Bagas sama dia yang memang lagi terbawa perasaan juga suasana. Mereka memilih duduk di pertengahan. Pelayan mulai datang dan mereka mulai memilih makanan.
"Wah, tempatnya bagus ya Mas." Dara tersenyum.
"Iya, aku udah lama pengen ajak kamu ke sini sebenernya. Cuma baru sekarang aja bisa kesampaian. Kamu suka?"
"Suka Mas." Dara mengangguk cepat, matanya memandang sekeliling dengan tenang.
Hampir semua kursi di tempat itu sudah terisi, gak ada yang Dara kenal. Pelayan kemudian datang membawakan minuman untuk mereka selagi mereka menunggu hidangan menu utama.
"Kamu udah pernah ke sini Mas?" tanya Dara sambil menyesap minumannya.
Bagas tampak mengingat, berusaha mengenang apa memang ia sudah pernah datang ke tempat istimewa itu.
"Belum Yang." jawabnya singkat. Lalu Bagas coba mengenang lagi. Kayaknya memang gak ada deh.
"Wah, berarti aku beruntung dong." Dara udah berbinar-binar.
Semakin berbinar ketika makanan mereka datang. Baunya menggugah selera, setelah satu suapan dari sendoknya, rasa nikmat semakin terasa.
Bagas tersenyum senang melihat Dara udah nampak bahagia. Mereka menghabiskan waktu dengan saling bertukar cerita, senyum Dara menghiasi bibirnya setiap saat membuat Bagas semakin mengagumi kecantikan sang istri.
"Oh iya, aku belum dengar cerita tentang kembar. "
Dara memejamkan mata. Benar, ia lupa menceritakan tentang apa yang menyebabkan bu guru meneleponnya pagi tadi kepada Bagas.
"Kembar berantem Mas sama temannya."
"Lho kok bisa? Nanti aku nasehatin juga kalo gitu. Gak baik berantem."
Bagas meneruskan makannya.
"Temannya jahil Mas, rambutnya Aarasg mau dipotong pake gunting makanya ..."
"Apa?! mau digunting?! wah gak salah kalo gitu diajak berantem! berani-beraninya mau potong rambut anak gue!"
"Mas!" Dara menenangkan suaminya segera.
__ADS_1
"Gimana aku gak kesal coba? itu rambut mau dipotong sembarangan! gak salah kembar ajak gulat itu anak." Masih dengan mode kesal, Bagas memasukkan makanannya dengan cepat tanda ia sedang marah.
Bagas memang akan sangat marah pada siapa saja yang mau memangkas rambutnya ataupun rambut anak-anaknya. Bayangin kalau bos gondrong rambutnya dipotong, bisa punah manusia ganteng dengan rambut gondrong yang udah semakin langka di muka bumi ini.
Selama ini image cowok gondrong itu kan gak bagus ya, tapi coba kalo gondrongnya kayak Bagas, yang udah ganteng, perut kotak-kotak, tinggi, baik hati, juga sayang istri dan keluarga. Kan perlu dilestarikan yang model beginian.
"Aku ngerti kamu marah. Tapi gak baik loh kalau anak dibiarin suka berantem sejak kecil."
Bagas masih diam, udah mulai badmood karena pembahasan masalah rambut barusan.
"Mas."
"Iya, nanti aku nasehatin juga." sahut Bagas akhirnya meskipun ia masih sedikit kesal.
Balik udah romantis lagi karena udah saling merayu dan menggombal. Bagas dan Dara dikejutkan sama perempua cantik berambut pirang yang tiba-tiba berhenti di meja mereka. Dara gak kenal itu perempuan, jelas aja, orang itu perempuan pernah dekat sama Bagas dulunya.
"Bagas! ya ampun, gak nyangka ketemu lagi di sini!" seru perempuan yang punya tato di kakinya itu.
Dara sontak langsung terkejut sebab tadi Bagas bilang dia belum pernah ke tempat ini apalagi sama perempuan. Bagas sendiri setelah melihat dan berusaha mengingat baru ia sadar dia memang sudah pernah ke tempat ini tapi itu sudah sangat lama. Dia juga udah lupa. Apalagi perempuan itu belum sempat jadi pacarnya dahulu. Mereka pernah dekat dan pernah kecup-kecup manja dahulu kala.
"Apa kabar kamu? aku surprise bisa ketemu kamu lagi di sini. Duh, kalo jodoh gak kemana."
"Aku sering ingat kita dulu pas dekat loh. Duh ternyata kamu masih romantis ya."
Bagas udah kehilangan kata-kata. Dia udah ngeri lihat Mami mukanya jadi angker. Mami juga gak lagi nafsu makan. Bagas udah megap-megap mau ngomong tapi si perempuan bertato tetap aja nyerocos kayak Kimung kalo gak dikasih makan, berisik banget bikin pengen ambil lakban terus bekap mulutnya sampe lemes.
"Gue gak inget lo siapa sih?" Bagas berseru membuat perempuan itu jadi diam seketika. Bagas beneran loh gak inget itu namanya siapa walau dia ingat dia memang pernah kenal dengan perempuan ini.
"Duh segitunya kamu ganteng. Gak papa gak ingat nama tapi rasanya masih ingat kan?"
Dara mau pingsan, Bagas pengen nyungsep aja bareng cacing. Dia semakin gemetaran melihat istrinya udah cemberut.
"Kamu gak lihat laki-laki ini duduk sama perempuan?" Dara tiba-tiba ngomong. Perempuan itu menoleh terus menatap Bagas.
"Istri gue."
"Oh ... aduh, maaf ya Mbak. Gak tahu tadi kalo Bagas udah punya istri. Aku Neli. Oh iya aku pamit ya. Duh maaf ya bikin kacau suasana. Aku ke sana dulu ya."
Dara menatap perempuan yang sudah menjauh itu dengan kesal terus gantian menatap Bagas.
__ADS_1
"Sumpah Yang, aku lupa beneran udah pernah kesini. Mungkin karena waktu itu aku agak mabuk jadi gak ngeh ini tempat yang sama dan aku bahkan beneran lupa namanya tadi."
"Iya, lupa nama ingat rasa!" balas Dara kesal.
"Sayang, maafin aku ya. Dia ngomongnya asal beneran."
"Pulang." dengus Dara masih dengan mode ngambek. Dia udah jalan duluan sementara Bagas segera memanggil pelayan dan membayar makanan.
"Ada-ada aja sih yang ngerusak suasana." keluh Bagas sebelum sampai ke dalam mobil dimana di dalamnya sudah ada Dara.
"Mami ... " panggil Bagas pelan.
Gak ada sahutan.
"Sayang ..." Mami buang muka.
"Yang ...." panggil Bagas sekali lagi.
Dara noleh terus mewek. Bagas buru-buru tenangin istrinya itu.
"Aku kesal, baru aja aku ngerasa tersanjung ada aja kera lepas yang bikin kacau suasana. Mana kamu bohong."
"Aku gak bohong Yang, aku lupa beneran deh suer." Bagas memeluk istrinya yang masih menangis kencang itu.
"Lupa nama ingat rasa!" Raung Dara lagi. Sakit hati udah dia kan jadinya.
"Iya aku minta maaf, jangan nangis lagi dong mami."
Dara menghapus airmatanya terus menatap Bagas. Dia cemburu sama orang-orang dari masa lalu Bagas yang kadang selalu datang bikin moodnya yang udah baik jadi ambyar.
"Janji loh Mas gak nakal lagi, aku gak mau berantem. Aku maunya kita adem ayem. Biarpun aku tahu mantan kamu banyak, yang suka kamu juga gak sedikit tapi aku gak mau mereka bikin iman kamu goyah lagi."
"Enggak loh Sayang. Aku udah tobat nakal. Jadi kamu juga mesti sabar ya setiap ada yang seperti Neli tadi. Kalau bisa mengulang waktu, aku pengen ketemu kamu aja sebelum ketemu mereka biar aku gak punya jejak-jejak cerita yang bikin kamu sedih begini.
Sambil menangkupkan tangannya ke pipi Dara, Bagas menatapnya lekat. Dara mengangguk lagi, membiarkan Bagas menghapus airmata kekesalannya barusan.
"Jangan marah lagi ya."
Dara mengangguk. Dia percaya Bagas gak akan nakal seperti dulu. Dia cuma kesal sama makhluk-makhluk yang masih suka gangguin suaminya.
__ADS_1
Gara-gara Neli nih Dinner mereka jadi gak romantis lagi. Dasar Neli, Nenek lincah!