CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
Nyai Butuh Piknik


__ADS_3

Laporan akhir bulan membuat Dara jadi lebih fokus hari ini. Sama seperti Dara, karyawan lain yang kemarin kebanyakan main daripada kerja langsung ambil tindakan seribu langkah lebih maju, urusan mencari tahu teka teki tentang atasan gondrong, sekarang dikesampingkan dulu.


Masalahnya kalau laporan bulanan pada gak beres, mereka sudah dapat surat peringatan dari Bagas yang di rasa oleh para paparazi dadakan malah mirip jadi surat balas dendam. Jadi karena sudah tahu surat peringatan itu berpotensi akan mengurangi nilai nominal angka di gaji bulan ini, lebih baik mereka menjelma jadi staff yang kalem dulu.


Pagi ini, semuanya pada pasang senyum Pepsodent sama Bagas. Biar CEO gondrong bisa melihat kalau mereka semua udah pada tobat ngegosip. Bagas jadi ngerasa giginya kering karena udah kebanyakan nyengir membalas senyum para karyawan yang pada bersinar mentang-mentang besok udah gajian.


Tina, ketua paparazi jadi lebih banyak senyum dibanding yang lain. Karena yang paling berpotensi mendapat pengurangan nilai nominal gaji adalah dirinya. Jadi demi mengambil hati sang bos gondrong yang lagi ngerasa di atas angin sekarang, ia tidak berhenti menebar senyum, selain karena pengen ngambil hati si bos, juga karena mau pamer giginya yang udah dipasang venner, jadi bikin putih bersinar sampe bikin pak satpam silau tiap kali liat Tina ngakak.


Sekilas Tina jadi mirip Soimah, komentator ajang dangdut yang kalau ngakak giginya putih banget ngalahin tembok cat belakang rumah Tuan Ben. Tapi ada juga yang gak senyum sedikit pun walaupun besok udah gajian dan harus pasang wajah manis bin tebar senyum terus-terusan biar bos gondrong enggak ngambek dan gak jadi mutilasi angka gaji besok pagi.


Rupanya pas diselidiki, si karyawan udah dua hari sakit gigi. Jangankan buat senyum, buat ngomong aja dia mesti pake bahasa isyarat. Itu bisa dimaklumi sama Bagas, malah besok gajinya bakal ditambah seratus lima puluh ribu perak buat periksa ke dokter gigi. Kurang baek apa coba?


Dara sendiri udah mual bin lapar lihat laporan yang belum juga kelar. Ia sampai harus menatap layar laptop lebih lama dari biasanya. Bikin matanya yang udah minus jadi tambah gabur. Semua huruf jadi pada gak jelas, mirip banget sama Bagas kalo lagi uring-uringan setiap Dara kedatangan tamu bulanan.


Setelah menekan tombol enter terakhir, akhirnya Dara bisa menghembuskan nafas lega, bukan cuma nafas atas, nafas bawah pun keluar dengan mudah. Syukur gak berbau, kalau bau mungkin Bagas udah pingsan di kursi kerjanya.


"Capek banget." Dara merentangkan tangan ke atas, membuat dua semangka jadi membusung indah menantang dunia juga menantang Bagas secara bersamaan.


"Aduh, masih siang juga gue udah on aja!" keluh Bagas tidak habis pikir.


Dara hanya tertawa melihat suaminya itu. Percaya deh, Bagas kalo dikasih pilihan, misalkan sekarang diatas meja dia sedang tersaji makanan super enak dia bakal lebih milih dua semangkanya Dara, biar gak ada rasa tapi ada sensasi. Kayak kata Cak Lontong di iklan minuman ternama, Nyatanya nyegerin!


"Mas, aku pengen jalan-jalan dong sore nanti." pinta Dara sambil bertopang dagu.


"Ya jalan aja, Yang. Selama ini juga kamu udah jalan-jalan gak pernah digendong." jawab Bagas asal.

__ADS_1


"Bukan jalan-jalan itu. Aku pengen ke suatu tempat. Pengen refreshing." sahut Dara.


"Oh, bilang dong."


"Jadi?"


"Apa, Ra?"


"Jadi gak entar jalan-jalannya?!" jawab Dara keki.


Bagas menghentikan kegiatannya sejenak. Ia berjalan mendekati Dara lalu duduk di tepi meja istri sekaligus sekretarisnya itu.


"Mau kemana sih?" tanya Bagas sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Ya terserah, yang penting aku butuh pemandangan yang enak di pandang."


"Apa? gak ada." sahut Dara kesal.


"Aku." Bagas terkekeh. "Kalo lagi gak pake baju. Indah kan?" sambung Bagas lagi membuat Dara tersipu malu.


"Tapi bukan pemandangan yang itu loh, Mas Bagas maksudnya." kilah Dara cepat agar tak ketahuan bahwa sekarang ia sedang membayangkan Bagas dengan sesuatu yang sudah disunat.


"Aku tahu kok. Sengaja aja mau godain kamu, biar gak terlalu tegang. Serius mulu mentang-mentang lagi sibuk bikin laporan akhir bulan."


"Jadi, kamu mau ajak aku kemana?" tanya Dara antusias.

__ADS_1


"Ada deh, yang jelas tempat yang pas banget buat kamu yang lagi butuh piknik gini." jawab Bagas dengan senyum penuh arti.


"Jadi tar sore kita berangkat?" tanya Dara lagi dengan sumringah.


Bagas mengangguk membuat Dara langsung memeluknya erat. Seerat duo semangka yang sudah nempel dengan sempurna di tubuhnya sekarang juga dengan Jeki yang sudah berdiri tegak siap menghunus.


"Tapi, main gulat dulu ya." ujar Bagas sambil mengerlingkan matanya.


"Masih siang gini, Mas." sahut Dara pelan. Takut kedengaran Tina yang kayaknya lagi nguping.


"Mau siang kek, pagi kek, tengah malem kek, subuh kek, gak peduli. Aku mau itu pokoknya." rengek Bagas mirip anak kecil minta permen loli sama emak.


"Ya udah ayo." bisik Dara yang segera disambut mata berbinar oleh Bagas.


Dengan sigap Bagas mengangkat Dara, membawanya menuju kamar yang ada di ruangan itu. Sudahlah untuk sementara waktu biarkan mereka melakukan ritual mulia tanpa rasa was-was karena fitnah Jordi juga tanpa takut ranjang akan patah jadi dua.


Ranjang yang ada di sana cukup kuat walaupun bukan dibuat dari kekuatan langit dan bumi. Cuma dibuat dari tangan pak Mimin yang emang udah ahli bikin ranjang tanpa suara derit yang bikin keki. Empuk dan cocoklah buat pengantin pasangan baru. Info pemesanan hubungi nomor yang tertera, jangan tanya Bagas, karena Bagas gak ngerti masalah gituan dia cuma tahu ranjangnya kuat buat diajak goyang.


Sementara Jeki dan Nyai lagi sibuk berantem, sibuk adu kekuatan siapa yang paling tahan lama, ponsel Bagas yang tertinggal di atas meja kerja udah berdering lebih dari sepuluh kali. Sudah menjerit minta cepetan diangkat tapi sang empunya lagi asyik terbang ke surga bersama istrinya.


Mau berdering seratus kali juga gak bakal bikin ritual berhenti, karena emang udah keenakan dan lupa dunia sekitarnya, emang itu ponsel di pakein mode silent. Jadi sampe Bagas punya rambut panjang kayak Anggun bintang iklannya Pantene, tetap aja gak bakal kedengaran.


"Abang lagi ngapain sih? apa dia lupa hari ini jadwal terapi aku?" Ratih udah bolak balik tak tenang.


Kalau ada Jordi, itu si Ratih pasti udah diketawain sampai sakit perut. Lah, Bagas lagi ritual digangguin, lo mau jungkir balik juga dia gak bakal sadar. Bagas kalau udah begitu susah sadarnya, mesti dikasih kopi pahit dulu baru melek dan buka mata.

__ADS_1


Jordi memang paling paham kebiasaan si CEO gondrong. Tolong berikan tepuk tangan paling meriah juga jangan lupa kasih uang receh lima ratus perak buat kerokin punggung Doni yang lagi masuk angin.


__ADS_2