CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
CGIS S2 - Berita Kepada Abang


__ADS_3

Bang Neon lagi berbunga-bunga. Dia bahagia bentar lagi bakal punya anak. Cheryl juga tak kalah bahagianya apalagi saat ia mengabarkannya kepada Ayah dan Bunda.


Masih bisa ia dengar bagaimana ayahnya, Kevin, berteriak bahagia. Udah persis lagi menang lotre dia jingkrak-jingkrak depan istrinya. Dia juga sudah menyusun rencana untuk mengadakan acara syukuran. Gak perlu nunggu tujuh bulanan, yang penting syukuran.


"Kamu udah bilang papi sama mami belum?"


"Belom, rencananya malam ini aku mau ajak kamu kesana."


"Kalau sama Ondrong?" tanya Cheryl lagi.


Bentar lagi aku telepon.


Tapi belum sempat Aarash menelpon, ponselnya udah keduluan bunyi. Dia menatap Cheryl terus menunjuk nama Ondrong yang tertera di layar.


"Neon kok gue kepikiran elo ya." Suara bang Aarash terdengar panik.


Ya namanya kembaran, ikatan batinnya cukup kuat. Jadi mau salah satu di antara mereka sakit atau lagi bahagia yang satunya lagi bisa merasakan hal yang sama bahkan sebelum dia mendengar dari mulut kembarannya sendiri.


"Ini nih, Ndrong. Pucuk dicinta ulam pun tiba." sahut bang Neon semangat.


"Emang ada apaan sih? Gue deg-degan loh."


"Cheryl udah hamil. Lo bakal jadi uncle." ujar bang Neon semangat.

__ADS_1


Bang Ondrong menatap Tiwi yang sedang bersandar di bahunya. Ia pun memekik senang, bikin Tiwi terlonjak kaget.


"Selamat ya! Gue ikutan seneng. Tokcer ya lo." Bang Ondrong meraih kembali kepala Tiwi terus letakin lagi di bahunya. Dia gak tahu itu Tiwi jantungnya terasa mau copot karena kaget.


Bang Ondrong terus memandang Tiwi yang menunggu dia buat ngomong.


"Cheryl udah hamil." Ia mengusap kepala istrinya lembut.


Cheryl jadi menunduk.


"Kok sedih sih?" Bang Ondrong meraih dagu Tiwi lalu menghadapkannya ke wajahnya sendiri.


"Aku belum hamil juga." Tiwi jadi insinyur eh insecure.


"Gak papa Sayang. Nanti juga Tuhan kasih kok."


"Loh kok nanya gitu sih. Rejeki itu udah diatur loh. Sama kayak kehadiran anak. Jangan sedih, kita banyakin doa sama usaha aja ya."


"Usahanya udah tiap malem." Tiwi mencubit perut Aarash gemas, sedang suaminya hanya tertawa.


"Harus lebih ekstra. Mungkin kita mesti banyak variasi gaya."


"Itu emang maunya kamu!" Kali ini Tiwi menempelkan bantal ke wajah suaminya itu.

__ADS_1


"Beneran kok. Aku gak papa. Mungkin Tuhan pengen kita puas-puasin pacaran dulu."


Mendengar nada dan kata-kata menghiburr itu, akhirnya Tiwi bisa tersenyum manis juga. Tadinya ia pikir suaminya itu akan sedih juga. Lagian ini bukan lomba-lombaan kok. Rejeki itu beneran udah diatur sama Tuhan, anak juga rejeki dan dia juga terserah Tuhan mau kasih kapan hadir dalam rahim para ibu.


Tiwi memandang suaminya teduh. Di saat begini, bang Ondrong bisa banget membuat hatinya tenang dan lega. Mereka percaya suatu saat pasti bakal dikasih nikmat rejeki kehadiran anak juga.


Lihat dong dede Apem sama abang botak, yang lagi basah-basahan di kolam renang, udah persis berang-berang mereka pada berenang. Mereka santai banget soal kehadiran anak. Sambil berenang sekalian keluar masuk lobang, jadilah itu gaya berang-berang nempel ketemu sarang.


Lagi asyik keluar masuk sarang ponselnya di tepi kolam berdering. Bang botak terpaksa melepas dua bongkahan padat yang tadi menempel pakai gaya belakang.


"Apa?! Iya sorry aku lupa! aku ke sana sekarang." pekik dede Apem mengejutkan abang botak. Dia lagi ngobrol serius sama temannya yang udah teriak cempreng di ujung telepon.


"Kenapa sih?" bang botak jadi gak rela karena roman-romannya dia harus merelakan dede Apem pergi.


"Bang, aku lupa hari ini ada latihan paduan suara. Aku yang pimpin pula. Teman-teman pada nungguin."


Abang botak jadi lesu. Udah di ujung gitu de, gak kasihan apa? Bantu keluarin dulu napa. Paduan suara berdua dulu napa? Batin bang Neon ngenes. Tapi gak digubris karena sekarang dede Apem udah ngacir ke kamar mereka buat ganti baju. Abang botak akhirnya naik juga, resiko ya bang nikah sama anak sekolahan. Gak papa, namanya juga cinta. Ngalah bang ngalah!


Sementara Ondrong sama Tiwi masih dengan pembahasan tentang anak. Tiwi menatap bang Ondrong dengan tatapan cinta.


"Makasih ya. Aku pasti bakal jadi istri yang baik."


"Kamu udah lebih dari sekitar baik."

__ADS_1


Kesemsem gak tuh si Tiwi. Terasa mengembang telinga sama rok kerjanya dipuji begitu sama bang Ondrong. Jadi makin sayang, makin cinta makin menggila juga. Mulai.


Kelapa gading kelapa muda, Si kuda lumping lagi pasang gaya.


__ADS_2