CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
CGIS S2 - Insecure


__ADS_3

Pulang ke rumah masing-masing, para anak dan menantu itu membawa kisah tersendiri untuk mereka. Bang Neon dan Cheryl udah pasti lagi bahagia, mereka jadi semakin mesra dan so sweet.


Bang Neon mengusap perut Cheryl yang masih rata, belum membuncit layaknya orang hamil. Tapi bang Neon pokoknya bahagia aja sampai gak berhenti uyel-uyel perut istrinya. Calon dede yang masih belum berbentuk tapi udah ada itu pasti kesel banget ditekan begitu perut emaknya. Woi Babeh! bengek gue, belom juga jadi debay udah sesek napas keteken! Teriak calon dede sambil berenang dalam rahim.


Sedangkan abang botak sama dede Apem masih santai aja. Mereka gak musingin soal anak dulu, selain karena keduanya memang sedang menikmati masa pacaran setelah menikah, dede Apem juga masih pengen kuliah.


Lain mereka lain lagi abang Ondrong. Dia kerap melihat istrinya jadi termenung. Mungkin dia masih suka kepikiran karena sampai sekarang dia masih aja belum hamil.


Aarash mengerti, istrinya memang lagi galau. Perkara anak memang sering bikin kaum perempuan jadi insecure. Seperti yang Tiwi rasakan saat ini.


"Udah malem, tutup jendelanya." kata Aarash menegur istrinya yang lagi betah bertopang dagu di pinggir jendela.


"Bentar lagi." sahut Tiwi pelan.


"Kok masih sedih aja?"


Aarash mendekat, ia mengambil kursi satu lagi terus ikutan bertopang dagu. Keduanya jadi memandang bintang-bintang.


"Aku gak sedih loh." elak Tiwi, padahal matanya udah berkaca-kaca.


"Ada yang lain disenyummu, yang membuat lidahku, gugup tak bergerak. Ada pelangi, di bola matamu. Yang memaksa aku tuk bilang aku sayang padamu."


Cieeee dinyanyiin tuh sama bang Aarash. Tiwi tersenyum, dia merebahkan kepalanya di bahu suaminya yang kokoh.


"Aku takut nanti beneran gak bisa hamil."


"Kok ngomong gitu lagi sih? Kamu gak boleh pesimis gitu. Kalau kamu pesimis, nanti malah jadi kenyataan loh."


Tiwi menunduk lagi, sedih banget jadi pengen nangis. Dia jadi gak pede mau kemana-mana. Di kantor juga dia selalu mendapat pertanyaan yang sama.


"Aku yakin, gak lama lagi kamu bakal hamil."


"Amin. Aku pengen banget kasih kamu anak."

__ADS_1


"Aku tahu kok, udah gak papa Sayang. Jangan khawatir ya."


Tiwi mengangguk tapi matanya masih mengisyaratkan kesedihan yang mendalam.


Setelah itu minggu ke minggu berlalu, Tiwi merasa pening di minggu ketiga ketika ia baru saja bangun tidur.


"Kenapa Yang?" Aarash jadi panik lihat Tiwi sudah pingsan setelah pandangannya berkunang-kunang. Aarash sesegera mungkin menggendong istrinya menuju mobil.


Dia juga gak sempat mengganti lingerie Tiwi dan alhasil ia hanya menutup tipisnya lingeri dengan jaket kulit miliknya sendiri.


"Masa kamu sampe pingsan begini karena kita semalem sih?" Aarash malah nyalahin diri sendiri. Dia mengira sudah terlalu kuat menggagahi istrinya jadi istrinya yang memang sudah sering lemas dari kemarin hari ini KO.


Sampai di rumah sakit Tiwi langsung dibawa menuju ruang pemeriksaan. Aarash menunggu dengan harap-harap cemas.


"Pak Aarash, bisa saya bicara?"


Dokter bikin bang Aarash semakin dilanda ketakutan saat ini. Tapi, ekspresi dokter tenang juga terlihat menebar senyum.


"Tidak apa-apa, hanya kecapean."


Tuh kan, beneran kecapean. Capek gituan. Abang Aarash jadi ngerasa bersalah. Dia jadi sedih istrinya sakit karena dia.


"Segitunya ya Dok?" Tanpa sadar bang Aarash malah mengeluarkan pertanyaan itu membuat dokter tidak mengerti.


"Iya Pak Aarash. Wajar kok, ibu hamil memang sering mengalami hal seperti ini. Kecapean, lemas ..."


Tunggu! Tadi dokter bilang hamil kan? bang Aarash gak salah dengar kan?


"Apa Dok?"


Dokter mengangguk lalu mengulurkan jemarinya.


"Benar, Pak. Istrinya lagi hamil sekarang."

__ADS_1


Aarash langsung memekik senang, ia mendekati ranjang istrinya dengan Tiwi yang baru saja terbangun.


"Dimana? Kok kita di sini Yang?" tanya Tiwi sambil menekan pelipisnya.


"Ayo, cepetan!"


Tiwi yang masih lemas membuat Aarash nekat menggendong istrinya itu. Mereka pindah ke sebuah ruangan lain, setelah menunggu sesaat mereka masuk ruangan itu.


Tiwi masih bingung tapi membiarkan perutnya diperiksa oleh dokter lagi. Dokter tersenyum dan meminta Tiwi turun.


"Selamat ya, istrinya sudah hamil. Satu bulan."


Tiwi menatap dokter dan bang Aarash bergantian lalu menunjuk mukanya sendiri.


"Aku hamil?!"


Bang Aarash dan dokter mengangguk.


"Aku hamil!" pekik Tiwi riang. Ia memeluk Aarash yang segera membalas pelukannya erat.


Keduanya merasa sangat bahagia. Bang Aarash sampai menggendong istrinya lagi, bikin dokter dan perawat jadi geleng-geleng kepala sambil ketawa.


"Pak Aarash, salah. Itu pintu kamar mandi bukan pintu keluar." kata dokter masih dengan geleng-geleng kepala.


Aarash melongok, memang salah. Dia sampai gak sadar kalau itu pintu kamar mandi ruangan dokter bukannya pintu keluar.


"Maaf, Dok, sangking senangnya saya."


"Iya Pak Aarash saya maklum, tapi sendalnya juga salah sebelah itu, Pak." tunjuk dokter sama dua benda melekat yang beda aliran itu. Sebelah sendal jepit sebelah sendal selop.


Ya ampun, abang cuma bisa ketawa sekaligus keki, pantesan tadi waktu dia dateng banyak orang lihat dia sambil ketawa. Dia benar-benar gak sadar sudah memakai dua alas kaki yang berbeda aliran.


Giliran bang Aarash yang insecure. Masa dia udah ganteng gini pakai celana training ketat, baju kaus yang njeplak perut roti sobeknya, biar kata belom mandi tapi harusnya dia tetap mempesona. Apalagi sekarang dia lagi gendong ratu pake lingerie berenda pula, tapi malah salah sendal, kan gagal maning ini ceritanya!

__ADS_1


__ADS_2