
Meski dalam keadaan hamil besar, dengan beberapa anggota tubuh yang ikutan membesar pula, Dara tetap tidak kehilangan pesonanya. Malah dengan keadaan hamil, auranya jadi lebih terpancar.
Seperti hari ini, Dara tampak cantik dengan setelan dress hitam hamil yang sedikit longgar dilengkapi blezer biru salur.
"Pagi Ibu Dara. Makin cantik aja, Bu." puji seorang karyawan perempuan yang sedang sibuk dengan mesin fotokopi.
"Pagi juga. Jangan panggil Ibu ah, Dara aja gitu." kata Dara seperti biasa saat ada yang memanggilnya dengan sebutan resmi itu.
Dara memang jadi lebih dihormati pasca satu fakta tentang statusnya yang ternyata lebih dari sekedar sekretaris Bagas Gumilang itu terungkap.
Tapi Dara tidak mau mereka menganggapnya berbeda. Ia ingin dianggap sama saja dengan dulu, saat para mantan paparazi dadakan itu mengenalnya sebagai karyawan juga di perusahaan itu.
"Dara, ada paket lagi dari kurir sebelum kamu datang." Suara Tina membuat langkah Dara terhenti.
Ia segera menerima paket yang berlabel hadiah itu dari tangan Tina yang kukunya udah di cat warna warni dan ada motif hello Kitty. Kukunya aja hello kitty kalo hatinya, Tina lebih mirip kucing garong karena suka banget bikin gaduh satu perusahaan.
Dara memandang ngeri paket hadiah itu. Keseringan Dara belanja online memang membuat ia sering pula mendapat hadiah dari toko langganannya. Kenangan dress bunga-bunga yang satu spesies dengan gorden tirainya Doni langsung terbayang.
"Ambil buat kamu aja lah." ujar Dara sambil menyerahkan lagi benda itu pada Tina.
Tina jadi bingung sendiri, itu gak buat dia langsung mengambil paket hadiah tersebut karena masih belum percaya Dara memberikan benda itu kepadanya.
"Loh kenapa? sayang loh, Ra, hadiah ini." kata Tina yang udah mupeng.
"Makanya kalo sayang buat kamu aja, atau aku kasih bu Tukiyem ya kalo kamu gak mau."
Tina langsung merebut lagi benda itu dari tangan Dara. Berarti beneran Dara emang gak mau hadiah itu.
"Ya udah, makasih ya. Tau aja kamu aku jarang dikasih hadiah sama doi."
"Makanya Tin, jangan jomblo terus. Pacaran noh sama tukang parkir. "
"Ogah." Tina bergidik ngeri lalu segera berlari menuju meja kerja dan dengan semangat mulai membuka paket yang ternyata isinya baju aerobik.
Tina jadi senang sekali. Pas pula baju senamnya udah pada bolong dan sering kena jahit. Dara memang pengertian buat dia yang cuma anak kos dan sering kehabisan ongkos.
Dara masuk ke ruangan dimana Bagas telah menunggu. Dilihatnya Bagas sedikit pucat. Dara meletakkan tasnya lalu mendekat ke arah suaminya.
__ADS_1
"Kamu pucat loh, Mas."
"Iya, Yang. Badanku gak enak banget." sahut Bagas lemes kayak ayam gak dikasih pelet dua hari.
"Istirahat aja kalo gitu ya. Bentar lagi aku bawain obat."
Dara segera pergi ke nakas yang berisi obat. Ia mencari obat penurun panas, karena waktu ia meletakkan punggung telapak tangannya di kening Bagas, terasa sedikit panas.
"Minum dulu, ya."
Bagas mengangguk, ia memang nampak lesu. Tidak seperti biasanya yang penuh semangat dan sering banget ngajak karyawan adu debat konyol.
"Mau tidur aja, Mas?"
"Temenin ya." Bagas menatap Dara yang akhirnya diangguki oleh istrinya.
"Ayo, biar cepat sehat, istirahat aja dulu ya."
Bagas mengangguk, menurut begitu saja saat Dara membawanya menuju kamar yang ada di ruangan itu. Dara sendiri hanya menemani Bagas di dalam. Tidak tega rasanya membiarkan suami yang sedang sakit sendirian.
"Kamu bisa sakit juga ternyata." kata Dara sambil menjawil hidung Bagas.
Dara duduk di tepi ranjang. Bagas mengulurkan tangannya mengusap perut istrinya yang besar itu dengan sayang.
"Aku gendut banget sekarang ya?" tanya Dara sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Iya .... " sahut Bagas yang langsung disambut pelototan dari Dara.
"Tuh kan ... aku gendut!" sahut Dara tidak terima. Dia yang nanya, Bagas udah jawab jujur tetap aja yang salah Bagas.
"Tapi kamu tetap cantik. Malah jadi tambah cantik sekarang."
Dara melengos, memalingkan wajahnya yang mulai bersemu merah. Bagas memeluk pinggang bulat itu dengan mata terpejam. Badannya memang lagi lesu, tapi tidak membuatnya kehilangan kata-kata untuk menggoda Dara.
"Gombal."
"Beneran loh. Kamu tambah cantik semenjak hamil, auranya jadi tambah keluar." goda dan puji Bagas bersamaan. Dara jadi malu-malu menatap suaminya itu. "Apalagi kalau lagi nganu. Bikin aku gimana gitu." sambung Bagas yang semakin membuat Dara jadi kesemsem.
__ADS_1
"Denger kamu muji, aku jadi laper." kata Dara yang memang sudah keroncongan dari tadi.
Bagas udah pasang mode siaga. Jangan sampai Dara minta yang aneh-aneh. Jangan sampai Dara minta Bagas ngulek cabe sama kacang di gerobaknya kang ketoprak lagi.
"Mau makan apa?" tanya Bagas akhirnya meski dengan alarm waspada yang sudah berbunyi sedari tadi.
"Hmmmmmmm, kamu kepengennya apa?" tanya Dara balik.
"Kalo aku gak ada yang bikin nafsu selain makan kamu." sahut Bagas so sweet sekaligus songong secara bersamaan.
"Ih kamu tuh, gak di sini, gak di rumah, di mana aja." Dara ngedumel bikin Bagas jadi ketawa sendiri.
"Ya udah mau makan apa? jangan minta aneh-aneh ya, aku beneran lagi lesu banget loh, Sayang." pinta Bagas memelas.
Dara jadi gak tega pengen minta yang aneh-aneh. Akhirnya ia malah meminta Bagas sendiri yang memesan makanan untuk mereka berdua.
"Beneran terserah aku?" tanya Bagas, Dara mengangguk.
Akhirnya Bagas memesan makanan restoran langganannya yang akan di antar kurang lebih lima belas menit lagi.
Bagas membiarkan Dara merapikan ruangan kamarnya yang sedikit berantakan karena sering mereka pakai buat olahraga kalo lagi kepepet.
Sambil berbaring ia memperhatikan Dara yang mondar mandir dengan perutnya yang besar. Ia tersenyum sendiri, membayangkan nanti duo gondrong lahir lalu beranjak besar dan yang pasti akan sangat merepotkan ibu mereka itu.
Bagas melihat Dara dengan binar bahagia. Rasanya punya istri yang langka kayak Dara bikin Bagas jadi ada kebahagiaan tersendiri.
"Ngapain sih liatin mulu?" tanya Dara tanpa menoleh. Karena tanpa melihat pun ia tahu suaminya itu memang sedang memperhatikannya diam-diam.
"Karena aku suka aja lihat kamu."
Dara mendekati Bagas lalu duduk lagi di tepi ranjang.
"Ih yang dulu gak suka sama aku, sekarang udah sayang." goda Dara.
Bagas hanya tertawa lalu kembali memeluk balon udara itu sambil berbaring. Begini saja sudah membuatnya merasa tenang sekali.
Entah apa kabar dua sahabat kentalnya. Semoga mereka bisa secepatnya menyusul Bagas. Yang jelas siapapun perempuan yang berhasil menjadi istri trio bengek, berarti mereka adalah perempuan-perempuan hebat. Sebab dulu mereka pernah saling berjanji akan terus berkelana sampai menemukan yang benar-benar pas di hati.
__ADS_1
Seperti Bagas ini, ceo gondrong yang suka main perempuan dan akhirnya takluk oleh perempuan yang sering ia panggil Betty Lapea. Jodoh itu unik. Dan ingat, jangan benci sebab beda benci dan cinta itu tipis sekali. Setipis gaun malam Dara hadiah ulang tahun ke 23nya bulan kemarin dari Bagas. Sudah tipis warna putih pula. Pas ditanya harganya sama Dara, Bagas dengan enteng bilang harganya hampir lima juta.
Bikin Dara sesak nafas. Uang segitu bisa buat beli ketoprak sama gerobak-gerobaknya lengkap dengan serbet sama ember buat cuci piringnya juga.