
Hari sudah malam, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh, Bagas belum juga kembali ke rumah. Bikin Dara yang lagi keki jadi tambah emosi. Janjinya keluar cuma dua jam, ini sudah lebih dari empat jam.
Dara dan jam dinding seperti sedang bermusuhan saat ini. Jordi dan Kimung sudah meringkuk di tempat teraman sebab Dara lagi badmood parah karena kelakuan buaya gondrong yang ingkar janji.
Dara memotong-motong buah pisang kayak lagi mutilasi Jeki. Semua kemarahan juga kekesalan bercampur aduk jadi satu. Dara gak akan sumpah pocong malam ini sebagai bentuk kekesalan seperti malam-malam sebelumnya, ia akan menjadi paparazi dadakan ngikutin jejak para karyawan Bagas untuk mengintrogasi suaminya pulang nanti.
Pucuk tak dicinta ulam pun tiba, suara pintu apartemen bagai suara mesin ATM lagi ngeluarin duit yang bikin mata langsung besar dan berbinar-binar. Dara yang memang lagi kangen plus keki refleks langsung loncat dari dapur ke ruang tamu. Gayanya udah mirip Catwoman bikin Kimung langsung tegang, sebab dikira Kimung itu junjungan mereka yang telah lama hilang.
Lihat Bagas bawa tentengan yang rupanya makanan Kimung bikin jiwa paparazi yang sejak tadi sudah terpatri, sejenak jadi hilang diganti Dara yang ketawa ketiwi mirip Mbak Kunti.
Sambil ngasih makan Kimung makan, Dara coba mengingat lagi mengapa suaminya itu pulang telat. Oh iya, kenapa cuma karena makanan kucing ia jadi lupa diri untuk melakukan misi penting yaitu mengintrogasi suami.
Dara melepaskan meninggalkan Kimung yang lagi asyik makan diikuti tatapan nanar Jordi yang udah kelaperan sedari tadi. Mondar mandir Dara di depan pintu kamar mandi, menunggu suami gondrong selesai membersihkan diri.
Lalu secepat mungkin duduk di atas ranjang setelah bunyi pintu hendak dibuka terdengar. Dara udah pasang gaya cool sambil memainkan jari yang warna kuteknya udah pada hilang, mirip banget sama kucing tetangga yang bulunya belang-belang.
"Kamu gak ngerasa ada hutang sama aku?" tanya Dara sambil menatap tajam buaya gondrong yang lagi make baju. Padahal Dara lebih suka Bagas gak pake baju biar bulu dadanya yang udah mulai tumbuh itu bisa ia mainkan sesuka hati.
__ADS_1
Entah sejak kapan pula itu buaya bisa punya bulu dada. Sebab waktu Dara ditanya tipe lelaki yang ia suka seperti apa dan Dara menjawab yakin yaitu yang punya bulu dada, beberapa minggu kemudian, Bagas udah punya bulu dada juga. Entah bulu siapa yang ditempel di sana. Dara curiga itu bulu punya monyet peliharaannya pak satpam yang kemarin hilang.
Apalagi bulu dada Bagas tumbuhnya gak beraturan, mencang mencong kesana kemari ga jelas arah dan tujuan. Jadi balik lagi sama kekian Dara karena suami pulang telat, Bagas yang seolah sadar telah melakukan kesalahan berat dan akan segera mendapat sangsi langsung menghampiri istrinya dengan semangka yang terpampang sebab belahan lingerie yang rendah.
"Maafin aku ya, tadi aku ke rumah sakit." Dara manggut-manggut, yang ini suaminya gak bohong, sebab di postingan perempuan cantik yang fotonya ada lesung pipi, Bagas memang seperti sedang ngobrol sama orang pake jas putih. Jangan mikir itu pengantin pria, mentang-mentang pake jas putih, itu dokter!
"Ngapain di rumah sakit, Mas?" tanya Dara memancing. Ia tidak mau langsung bertanya dengan emosi.
"Ehmmmmmmm, nemenin adik sepupu aku." sahut Bagas sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.
Yang ini jelas bohong. Dara tahu Bagas gak punya sepupu perempuan. Apalagi keluarga Bagas kebanyakan tinggalnya di luar negeri. Dan lagi, postingan perempuan itu tidak mencerminkan Bagas itu kakak sepupunya. Dara gak mau bilang itu perempuan suka sama Bagas, tapi instingnya sebagai istri bisa menyimpulkan ada rasa yang juga di letakkan di postingan itu dengan sangat kentara.
Bagas beranjak lalu meraih handphonenya yang sudah mati total. Lalu menunjukkannya pada Dara yang gak bisa protes padahal mulutnya udah megap-megap mirip Kimung kalo lagi berendam di dalam bath up.
"Maafin deh, Sayang. Kita keluar aja yuk. Aku ajak kamu ke mall." Bagas membujuk Dara yang mukanya udah masam kayak asem jawa.
"Gak mau! aku ngambek!" Dara menelungkupkan wajahnya ke bantal dan menunjuk jendela kamar mirip aksi Bagas waktu ngusir Angel kemarin.
__ADS_1
"Jangan masuk kamar sebelum jam sepuluh." titah Dara sambil membenamkan airmatanya ke bantal. Ia lagi sedih tapi belum sanggup nanya lebih jauh tentang perempuan bernama Ratih dan punya lesung pipi.
Bagas beranjak lagi, sebelum keluar, ia membetulkan arah tunjuk Dara menjadi ke arah pintu kamar. Setelah Bagas keluar kamar, Dara segera melihat arah tunjuknya. Ternyata ia salah tadi menunjuk jendela kamar. Tapi Bagas sudah membetulkan arah tunjuk istrinya itu, biar gak salah arti. Masa Bagas bakal loncat dari gedung apartemen malam ini.
Bagas yang masih belum ngeh mengapa istrinya sengambek itu langsung kembali menghampiri Jordi. Melihat wajah Jordi yang lesu semakin meyakinkan Bagas bahwa burung itulah penyebab kemarahan Dara malam ini. Padahal mah enggak, Jordi begitu karena udah nahan lapar dan hampir mati kehausan.
Tatapan Jordi seolah mengatakan bahwa hari ini dia gak fitnah Bagas. Tapi Bagas gak mau tahu, pokoknya tetap salah Jordi.
Jadilah Jordi merana makan cuma sekali pagi tadi, sekarang belum makan lagi. Ia menatap kesal pada Kimung yang sudah telentang kekenyangan dan sudah berak entah berapa kali.
Pukul sepuluh lewat lima belas menit, Bagas masuk ke kamar. Di lihatnya si pemilik Nyai udah tidur tanpa sumpah pocong. Istrinya nampak cantik sekali dengan rambut tergerai juga lingerie seksi yang bikin Jeki meronta-ronta penuh arti.
Tapi, Bagas gak mau bikin kacau tidur Dara. Jadi ia hanya naik ke atas tempat tidur, menarik selimut lalu menyelimuti istrinya yang cantik itu agar tak kedinginan. Sebab kalo mau kasih yang anget-anget kayaknya sekarang bukan waktu yang pas.
"Selamat ngorok bini gue yang paling cantik. Besok jangan ngambek lagi ya." ujar Bagas lalu dikecupnya kening Dara sesaat.
Bagas mematikan lampu lalu ikut tidur pulas di samping sang istri. Jordi masih aja meratapi nasibnya malam ini. Sudahlah gak dikasih makan malam, dituduh pula jadi penyebab istri CEO gondrong ngambek.
__ADS_1
Kimung yang kasihan melihat Jordi punya inisiatif ngambil makanan kucing lalu naik dan bawain ke sangkarnya Jordi. Awalnya Jordi nolak dikasih pelet begitu, sebab biasanya Bagas kasih makan ia nasi padang, tapi demi perut yang udah keroncongan, di makan juga pelet kucing itu sampai habis. Kimung bisa bernafas dengan lega sebab Jordi udah ngabisin makanan yang sempat terkena air kencingnya sedikit tadi.
Gak papa ya Jor, buat tambahan vitamin untuk menghadapi Bagas yang masih suka nuduh sembarangan.