
Setelah selesai melakukan ritual mulia dengan skor dua sama, cukuplah untuk siang yang penuh dahaga ini, Dara dan Bagas segera membersihkan diri di kamar mandi. Lalu keduanya kembali ke tampilan awal, menjadi sekretaris anggun juga atasan ganteng.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Bagas pada Dara yang sudah berpakaian rapi. Dara mengangguk. Ia antusias sekali untuk pergi tamasya dadakan sore ini.
Jadi keduanya melangkah bersama keluar dari ruangan diikuti tatapan curiga dari Tina dan rekan-rekan satu profesinya. Bagas yang menyadari arti tatapan curiga itu langsung menunjuk kedua mata dengan kedua jarinya juga lalu mengarahkan jarinya itu untuk menunjuk mata Tina dari kejauhan sambil menyeringai.
Dara sudah terkekeh geli melihat Tina yang tiba-tiba langsung kalem sambil mamerin gigi barunya.
"Ya, baterai hape aku aku habis, Yang." ujar Bagas setelah mereka berada di dalam perjalanan.
"Mas mau telepon?" tanya Dara
"Enggak sih, cuma takut ada yang hubungi aja."
Keduanya kemudian diam, tapi Bagas seperti teringat suatu hal.
"Ya ampun, aku lupa loh hari ini jadwal Ratih terapi." Bagas menepuk jidatnya.
"Lho, bukannya besok ya?" tanya Dara sambil berkerut kening.
"Harusnya memang besok, cuma jadwalnya sekarang udah berubah, jadi maju satu hari." sahut Bagas.
"Ya udahlah gak papa, Mas. Pikniknya lain hari aja. Aku gak papa kok."
"Enggak lah, ini kita udah mau sampe. Bentar aku pikirin dulu."
Bagas terdiam sesaat mencoba mencari solusi dan jalan keluar.
"Kamu punya nomor telepon Doni atau Kevin?" tanya Bagas pada Dara yang memang sedang bermain dengan ponselnya.
"Kalau gak salah nomornya Mas Kevin masih ada di riwayat panggilan, walaupun belum aku simpan. Nih coba kamu cek aja." Dara segera memberikan ponselnya pada Bagas.
__ADS_1
Bagas segera mencari nomor yang pernah ia hubungi saat meminjam ponsel Dara sewaktu ponselnya mati kemarin.
"Ah ini dia."
Bagas segera menelepon nomor yang segera tersambung itu.
"Kev, lo di mana?" tanya Bagas setelah Kevin mengangkat telepon.
"Baru mau pulang dari kantor. Kenapa?"
"Lo bisa bantuin gue gak, tolong banget soalnya sekarang gue sama Dara udah jauh banget dari pusat kota."
"Iya apaan?"
"Lo ke alamat panti asuhan yang sering gue datengin. Tolong lo antar Ratih ke rumah sakit buat terapi ya. Sumpah gue beneran lupa hari ini jadwal dia."
"Boleh aja sih, kebetulan gue lagi gak ada kerjaan lagi abis ini. Lo kirim alamatnya ya, gue langsung ke sana."
"Beneran gak papa kalo Mas Kevin yang nemenin Ratih?" tanya Dara tak enak hati.
"Iya, Yang, gak papa. Aku pengen ngajak kamu ke pantai. Tapi kita berhenti di rumah makan dulu ya, buat kita makan di pantai nanti."
Dara mengangguk antusias. Mereka kemudian berhenti di salah satu rumah makan khas Minang. Bagas membeli dua bungkus nasi untuk nanti mereka nikmati di pantai. Tak lupa ia juga membeli makanan ringan untuk istrinya yang hobby banget ngemil tapi sangat menolak keras tubuhnya jadi gendut.
Sampainya di pantai, Dara jadi kayak anak kecil yang baru ketemu air laut. Ia sangat bahagia. Ia segera berlari-lari kecil, bermain air laut di tepi pantai. Bagas melihat itu dengan senyum sudah terkembang di bibirnya.
ia ikut bergabung bersama Dara yang sedang asyik mengumpulkan kerang dan siput laut. Keduanya tertawa riang, menghabiskan waktu di pantai yang sudah sangat indah dengan semburat sinar mentari yang memantul di atas permukaan air laut.
"Kita makan dulu yuk, aku udah laper nih." ajak Bagas yang segera diangguki Dara cepat.
Bagas sudah membentangkan tikar piknik yang tadi juga sempat ia beli sebelum mereka benar-benar sampai di pantai itu.
__ADS_1
Dara makan dengan lahap membuat Bagas tersenyum. Selama dulu berpacaran dan dekat dengan perempuan lain, Bagas tidak pernah seperti ini. Ke pantai berdua, makan nasi bungkus, main air sambil ngumpulin kerang dan siput seperti yang sedang ia lakukan bersama Dara saat ini.
Perempuan lain yang dekat dengannya dulu, tidak pernah jauh dari club malam atau restoran mewah juga mall untuk minta dibelanjakan ini itu. Berbeda dengan Betty Lapea ini, hal seperti ini saja sudah membuatnya senang sampe pengen cium pipi Bagas berkali-kali.
"Kamu suka ke tempat beginian?" tanya Bagas setelah mereka selesai makan.
Dara segera mengangguk antusias. Mereka sekarang sedang duduk bersisian diatas tikar dengan kaki bersila. Sekilas dari belakang mirip orang lagi mau betapa minta petunjuk biar jadi cepat kaya.
"Kalau di kampung, aku malah suka temenin Bapak ke Empang." jawab Dara yang mulai mengantuk efek nasi padang yang bikin kenyang juga karena kekuatan angin yang bisa menghipnotis dirinya untuk memejamkan mata.
"Ngapain ke Empang?" tanya Bagas oon.
"Ya mancing ikan lah, Mas Bagas. Gini nih kalo orang kaya gak pernah jalan-jalan ke kampung." sahut Dara sambil tertawa.
"Kamu mau pergi mancing begitu sama Bapak? sekarang aja hobby mancing para suami tuh adalah musuh terbesar buat para istri di rumah." ujar Bagas mengingat salah satu berita pancingan suami habis dijual istri karena kesal sering ditinggal pergi. Judulnya mirip sinetron azab di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia.
"Ya mau gimana lagi, Mas Bagas. Bapak sama Ibuk gak punya anak cowok. Jadi aku harus bisa ngimbangin Bapak, nemenin dia mancing, nemenin dia nonton bola, kalau sama Ibuk ya palingan aku nemenin berkebun sama nemenin masak aja. Apalagi, Bapak itu suka ketiduran, dulu Bapak pernah nyungsep ke empang karena ngantuk. Mana ikannya gak dapet, bapaknya udah nyungsep." Dara dan Bagas ketawa cekikikan terkenang nasib ngenes Bapak waktu itu.
Keduanya kini saling senderan,angin sepoi-sepoi bikin mata emang beneran ngantuk. Bagas jadi pengen mindahin ranjang ke sini biar bisa dibawa bobo bareng istri, pake musik klasik yang bikin suasana romantis wah asyik banget gak tuh.
Bagas sudah mengkhayal jauh, bikin gak sadar rambut gondrongnya udah diberakin burung yang kebetulan terbang di atas kepalanya. Mungkin niatnya burung mau cari WC terdekat tapi karena perut udah mules banget jadi gak sengaja lihat rambut Bagas yang mirip sama sarang burung. Sudahlah, burungnya tanpa rasa bersalah langsung main buang hajat aja.
Bagas yang ngerasa kepalanya jadi sedikit anget lantas curiga, dengan jarinya ia meraba. Lalu terperanjat kaget saat ia sadar ternyata itu adalah hasil pencernaan burung nemplok di kepala.
"Sialan, kepala gue lu kata kamar mandi main buang hajat seenaknya!" Bagas mendongak pada barisan burung di atas langit yang lagi terbang bebas. Ia sudah mencak-mencak tak karuan sementara Dara sibuk nyari air buat bersihin kotoran burung yang gak tahu diri.
"Mas, nyebur ajalah ke laut biar bersih beneran." usul Dara karena air yang ia pakai tak cukup untuk membersihkan rambut suaminya. Ia sudah ketawa sendiri melihat nasib sial yang menimpa buaya gondrong.
Bagas tanpa ba bi bu langsung buka baju dan menyisakan kolor motif monokorobo berwarna merah hati, menuju air laut dan segera membenamkan diri di sana.
Dara sudah tidak bisa lagi menahan tawanya. Matanya sampai berair. Akhirnya buaya gondrong ketemu habitatnya juga.
__ADS_1