CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
CGIS S2 - Sayang Tapi Gengsi


__ADS_3

Aarash baru saja memarkirkan mobilnya di ujung gang saat ia melihat ibu kos baru saja mau belok dan masuk ke dalam gang. Melihat cowok gondrong yang dia kira adalah pacarnya Tiwi dan sudah dia tetapkan sebagai penyewa kos ter royal tahun ini, dia segera mematikan laju motornya. Udah mau terjungkal ke depan itu ibu kosan karena ngerem mendadak.


"Mas gondrong ini pacarnya Tiwi kan?" tanya ibu kos sambil melirik ke arah kantung belanjaan Aarash.


"Iya." sahut Aarash. Dia kok suka ya waktu ibu kos bilang dia pacarnya si sekretaris sableng.


"Untung Masnya datang tepat waktu. bawa berobat deh itu Tiwi, kasihan Mas. Lagian pacarnya lagi hamil kok ditinggalin sih Mas?"


"Hamil?!" Biji matanya Aarash mau loncat waktu dengar itu dari ibu kos yang segera mengangguk.


"Iya Mas Gondrong. Tadi pagi Tiwi itu muntah-muntah, dia pucat banget. Ya mirip-mirip gejala orang lagi hamidun." jelas ibu kos asal nyablak. Padahal orang pucat sama muntah-muntah kan belum tentu hamil.


Tapi mendengar itu, Aarash malah jadi blingsatan. Dia secepat mungkin menapaki jalan yang becek gak ada ojek itu dengan kekuatan penuh. Dia gak peduli sepatu sama celana mahalnya udah basah ke genangan air.


Dia cuma pengen segera menemui Tiwi dan minta tanggungjawab atas hati yang udah mau patah karena Tiwi ternyata lagi hamil! itu fitnah! teriak kecoa buntung yang kebetulan lewat di depan Aarash setelah kena geplak pake sapu Tiwi. Salut sama kecoa, biarpun udah buntung kakinya kena geplakan maut dari Tiwi, dia tetap berusaha teriak buat bilang bahwa Tiwi beneran gak lagi hamil, itu fitnah brader, fitnah!


"Lo!" Aarash yang sudah berada di depan pintu dengan Tiwi yang lagi di jongkok di atas lemari televisi karena habis menghindari serangan kecoa, berteriak ke arah Tiwi dengan nafas sudah ngos-ngosan.


Tiwi jadi takut, kesal, gak ngerti dan sederet perasaan lainnya melihat atasannya sudah kotor celana dan sepatunya itu. Apa salahnya sampe bos Gondrong nampak semarah itu? masa cuma karena dia gak masuk kerja abang Ondrong sampai blingsatan kayak lihat musuhnya yang harus segera diberi jurus mematikan? Lagian dia gak masuk karena sakit.


Belum sempat ngomong, bang Ondrong udah melangkah cepat mendekat ke arah Tiwi terus tanpa basa basi langsung menggendong gadis itu turun dan menghempaskannya ke sofa.


"Kenapa sih Pak Aarash?!" tanya Tiwi ikutan marah dan kesal.


"Bilang sama gue, anak siapa dalam perut lo ini?!" tanya Aarash dengan wajah sudah merah delima.


"Anak apaan? siapa yang hamil?" tanya Tiwi bingung.

__ADS_1


"Kenapa lo lakuin ini sama gue? belum sempat kita kawin lo udah kawin duluan sampai hamil!" masih salah paham, bang Aarash meremas rambutnya lalu mengguncang-guncang bahu Tiwi. Makin pusing kepala Tiwi jadinya. Pengen dia lem itu mulut Aarash yang asal nyablak dan asal tuduh pake koyo biar dower.


"Pak Aarash, aku gak hamil! ini siapa yang ngasih berita begini?"


"Bohong! kata ibu kos lo muntah-muntah pagi ini! bener kan?!"


"Iya aku memang muntah aku memang sakit aku ..."


"Berarti benar lo hamil? ya ampun gue nyesel ke sini, bawain lo buah, bawain lo makanan, bawa cinta juga tapi lo malah begini!" Masih dengan berteriak abang Aarash udah terlihat frustasi.


"Ibu kos salah paham Pak Aarash! aku gak hamil. Nih lihat!"


Pratiwi menyodorkan sebuah surat keterangan sakit dari puskesmas saat dia berobat pagi tadi. Aarash segera melihat kertas itu terus gantian melihat perut Tiwi. Rata, seksi. Gak ada dede. Ya kali bang baru hamil langsung kayak balon udara!


"Jadi, lo gak hamil, masih perawan tingting?" tanya abang Ondrong cepat.


"Lo tau gak gue bisa botak kalo tahu lo udah hamil anak orang." bisik abang Ondrong. Tiwi makin bingung. Ini orang kenapa sih? gak pernah nembak, gak pernah bilang sayang tapi seolah-olah mereka punya hubungan spesial aja.


"Pak Aarash kenapa sih?" tanya Tiwi yang kemudian membuat bang Ondrong segera sadar dan melepas pelukannya. Enak ya bang nempel banget itu mangkuk dua rasanya.


"Eh- ini lo harus makan buah, makan banyak biar cepat sembuh. Biar lo masuk lagi kerja." Aarash jadi gelagapan.


"Aku ini cuma sekretaris kamu. Kamu gak boleh begini."


"Ya gue cuma gak mau aja lo sering gak masuk." elak Aarash lagi.


"Kalo gitu aku berhenti aja ya."

__ADS_1


"Apaan sih! gak ada yang minta lo berhenti jadi sekretaris gue."


"Kamu cari ajalah sekretaris baru, yang sesuai keinginan kamu."


"Gue mau elo. Ngapain gue nyari orang lain lagi?!"


"Kenapa kamu mau aku bertahan jadi sekretaris kamu?"


"Ya karena gue gak mau lo kemana-mana. Gue gak mau lo jadi sekretaris orang lain."


"Kenapa gak boleh?"


"Ya karena gue udah males cari yang baru."


"Kenapa males, kamu kan berkuasa. Kamu punya semuanya, perempuan mana yang gak mau jadi sekretaris kamu apalagi sekretaris plus-plus kamu, terus kamu juga kan ..."


"Karena gue sayang sama elo!"


Ujar Aarash setengah berteriak memotong kalimat Tiwi yang belum selesai.


"Lo tau gak, gue suka sama lo. Gue cuma gengsi mau ngasih tau." ungkap abang Aarash akhirnya.


Tiwi masih terdiam. Tapi kemudian dia merasa dagunya disentuh. Aarash menghadapkan wajah cantik yang nampak pucat itu lalu mengecup bibirnya perlahan. Saat sedang menikmati ciuman mesra itu, Tiwi mendorong pelan Aarash yang tampak tak terima.


"Kenapa bau eek kucing ya?" tanya Tiwi,ia jadi mual lagi.


Aarash jadi mengangkat sepatunya dan melihat sumber bau itu berasal dari sana. Kayaknya karena sangking marahnya mendengar kehamilan palsu tadi dia jadi gak sadar udah menginjak kotoran kucing yang abis boker sembarangan. Sialan memang, baru mau enak udah selesai aja gara-gara tai kucing. Siapa bilang kalau cinta sudah melekat tai kucing rasanya cokelat? teori Oom Kevin terbantahkan karena tai kucing di sepatunya Aarash sama sekali gak berubah jadi bau cokelat. padahal dia sama Tiwi lagi mabuk kepayang. Bila tai kucing sudah melekat, ambyar suasana! itu yang bener. Dasar teori eek kucing sesat!

__ADS_1


__ADS_2