
Berita kehamilan Pratiwi akhirnya menyebar dengan cepat. Para karyawan pada kasih ucapan selamat waktu bang Aarash dan Tiwi masuk ke perusahaan. Selamat pagi, selamat datang, dan selamat udah hamil.
Kalau kemarin-kemarin Tiwi insecure sekarang dia bisa melangkah dengan percaya diri. Gak takut lagi kalau ada yang nanyain udah hamil atau belum.
Dia juga jadi lebih bahagia, wajahnya berseri-seri sepanjang hari. Cheryl dan Neon juga sudah menghubunginya pagi sekali, mengucapkan selamat atas kehamilannya.
"Aku jadi punya rencana nanti mau foto shoot bareng kamu sama Neon." kata Tiwi sambil memandangi komputernya yang sudah berisikan file-file yang akan ia periksa hari ini.
"Boleh aja kok, nanti kalau perut kalian udah sama-sama gede, baru tuh kita foto bareng."
"Aku seneng banget deh akhirnya bisa hamil juga."
"Kan aku bilang apa, aku tokcer juga cuma emang kemarin belum waktunya aja."
Pintu ruangan mereka diketuk, papi sama mami terlihat masuk. Mereka menyambut keduanya dengan suka cita. Apalagi sekarang mami bawa banyak buah dan beberapa kotak susu buat ibu hamil.
"Nah, ini buat bumil."
"Wah, makasih loh Mi. Jadi ngerepotin."
"Tadi Mami dari kantor polisi juga, nganterin buat Cheryl sama Neon."
"Ya udah kita ke ruangan dulu ya. Bang, Papi minta tolong nanti kamu ke bawah, ada masalah di sana, kamu handle ya."
"Oh oke Pi, tar lagi aku ke bawah."
Mami dan Papi keluar dari ruangan itu sambil bergandengan tangan. Udah pada mau punya cucu keduanya jadi tambah mesra.
"Papi sama Mami kamu tuh romantisnya kebangetan ya." ujar Tiwi.
"Iya, soalnya Mami pinter nyenengin hati Papi."
__ADS_1
"Aku pinter gak nyenengin hati kamu?"
"Pinter dong, biar kadang kamu galak, kayak macan."
Tiwi membenamkan wajah Aarash ke bantal sofa seketika. Nah kan, baru aja dibilang bang Aarash galak.
"Tapi biar galak aku suka, soalnya kalo di kasur ganas." goda Aarash lagi.
Tiwi gak mau nanggepin. Kalau ditanggepin nanti bang Ondrong bisa ngajak dia ke kamar mandi lagi.
"Kamu sana gih, tadi kan Papi minta ke bawah."
"Oh iya. Aku turun ya."
Baru aja mau keluar, bersamaan dengan itu Neon sama Cheryl masuk ke ruangan.
"Mau kemana lo, kita baru dateng lo mau pergi." semprot bang Neon gak terima.
"Gue temenin dah."
"Boleh dah yok." Keduanya berangkulan lalu menghilang, tinggal lah Cheryl sama Tiwi di dalam.
"Selamat ya, seneng deh dengar kamu udah hamil juga. Kan nanti kita bisa barengan beli baju dede bayi."
Mereka saling bercerita mengenai gejala awal pas hamil. Kalau Cheryl dia masih suka muntah tiap pagi walaupun sekarang frekuensinya jauh sudah berkurang.
Kalau Tiwi dia cuma sering lemas aja kayak kemarin. Selebihnya dia masih kuat semuanya.
"Ke bawah mau gak? Aku pengen makan bakso."
"Boleh deh, lagian kayaknya mereka lagi lama." sahut Cheryl.
__ADS_1
Setelah turun ke lantai paling bawah mereka segera ke luar lobby. Ada banyak sekali para pedagang tapi mereka udah siap pulang karena dagangan udah mau habis mau pindak lapak maksudnya cari pembeli di tempat laen. Tinggal lah mas bakso sama mbak gado-gado.
Pesan bakso mereka berdua, terus tuang cabe gak ingat azab cabe yang begitu pedih. Awalnya, mereka masih biasa aja tapi makin lama makin pedaslah keduanya.
"Air mang air." Tiwi udah manggil-manggil tukang bakso yang lagi asyik ngerumpi bareng janda jualan gado-gado.
"Wah, maaf neng, ini air galonnya habis. Bentar saya terbang dulu beli aer."
Gak ada rasa bersalah sama sekali itu tukang bakso.
"Mbak, gak punya aer? ini kita udah mau lemes."
"Gak ada mbaknya, lah wong saya gabung kok air galonnya sama mang bakso."
"Astaga!" Cheryl sudah mengipas-ngipas bibirnya yang mau dower.
"Lah itu kenapa bini kita?" bang Ondrong sama Neon langsung gerak cepat menuju kedua bumil yang lagi keringetan.
"Seksi juga mereka ya kalau lagi begitu."
Dasar suami-suami gak ada akhlak. Istri-istrinya lagi kepedasan, udah keringetan pada sat sut sat sut mulutnya bukannya cepetan dicariin aer malah sibuk mengomentari sambil memegang dagu.
"Air mana?!" Tiwi bakal berubah jadi macan bunting beneran ini gak ada yang kasih aer.
"Iya-iya bentar." Baru deh dua suami tersadar kalau kedua istrinya lagi kena azab cabe yang maha pedas. Salah sendiri kenapa makan cabe gak ingat dunia lagi. Tuang aja teros cabenya bila perlu sampe pantat jadi merah.
Udah bahagia Tiwi sama Cheryl lihat mas bakso bawa air galon pake motornya. Eh ada adegan galonnya keguling kesana kemari.
Mas bakso sama abang kembar sibuk ngejar galon. Demi dewa cabe, Tiwi sama Cheryl pengen gantung diri di pohon cabe aja jadinya. Lah salah kalian sendiri Munaroh! ngapain makan cabe sampe lupa diri, diketawain kan sama galon yang lagi dikejar sama pria-pria itu akhirnya.
Kalau tahu mami pasti dimarahin juga, udah bagus dua-duanya dibeliin buah malah makan bakso sampe kepedasan. Mata udah berair, lidah udah penuh air liur yang mengental, kekuatan cabe plus lada mas bakso memang mengguncang dunia sekaligus mengguncang perut kedua bumil itu.
__ADS_1
Buru-buru mereka ngacir ke kamar mandi terdekat sebelum mereka bocor di tengah jalan. Lupakan air galon yang masih betah guling-guling, lupakan juga para suami dan mas bakso yang udah ketawa ketiwi karena galon yang menggelinding. Malam ini dipastikan kedua manusia tampan itu gak bakalan dapat jatah!