
Kecentilan para mahasiswi magang nampaknya semakin berlanjut kala siang yang panas itu entah ada angin apa, salah satu dari mereka yang bernama Reni kayaknya sengaja pura-pura terkilir ketika Bagas lewat. Dengan gerakan yang bikin kecoa yang kebetulan lagi lewat di bawah laci meja pada muntah, itu ulat bulu mengaduh kesakitan.
Bagas menatapnya sambil berkerut kening, dia mulai berjalan mendekati si ulat bulu yang lagi pura-pura terkilir. Mau ditinggalin gak enak ntar dibilang atasan kejam, tapi mau bantu berdiri dia tahu itu hukumnya haram karena akan mengakibatkan percik-percik api salah paham di antara dia sama Dara.
"Kenapa?" tanya Bagas masih belum tahu apa yang harus ia lakukan, dengan mengambil jarak dia sedikit menunduk melihat ulat bulu lagi ngurut-ngurut kaki jenjangnya.
"Reni kayaknya terkilir deh Pak Bagas." Suara mendesis-desis mirip ular kejepit ekor terdengar mengesalkan telinga para istri sah.
"Bisa terkilir ya?" Bagas terkekeh.
"Iya nih, kecapen kayaknya. Jadi gak kuat jalan sendiri." sahut ulat bulu mulai cari kesempatan.
Bagas melihat ke sekeliling, kebetulan ada salah satu security nya yang lagi patroli. Pak security yang perutnya udah buncit kayak Dara waktu hamil tiga bulan langsung menghampiri Bagas saat CEO gondrong itu memanggil dirinya setengah berteriak.
Ngapain pake acara manggil security sih?! ulat bulu udah ngedumel dalam hati.
"Yon, bantuin nih mahasiswi magang kakinya terkilir. Lo bawa ke ruangan dia magang ya. Atau kalo perlu lo gendong sampe ke dalem kayaknya dia lagi gak bisa jalan." ujar Bagas sama pak satpam yang langsung manggut-manggut. Kesempatan nih bisa gendong anak magang bening. Pak satpam udah jingkrak-jingkrak dalam hati.
"Eeh gak usah Pak Bagas, udah enakan, udah bisa jalan kok."
Ulat bulu segera berdiri dan berjalan cepat meninggalkan keduanya. Pak satpam udah kecewa aja gak bisa gendong ulat bulu sampe ke dalem. Kan keren banget kalo dia bisa gendong itu anak magang ala bridal style sampe ke dalam ruangannya. Sementara ulat bulu udah kesal setengah mati karena bos gondrong sama sekali gak peduli sama dia.
Ealah gak peduli apaan sih? Bagas udah panggil pak satpam buat kasih pertolongan pertama, dasar lo aja yang kegatelan pengennya papi yang gendong.
Masuk ke dalam ruangan, si ulat bulu mukanya udah ditekuk bikin tampilan dia jadi gak enak dipandang. Kedua temannya yang lagi sibuk ngerjain setumpuk laporan dari Tina pada lihat dia dengan pandangan bertanya.
"Gak banget muka lo, Ren. Baru hari pertama udah badmood aja."
"Gak papa. Sebel aja gue!"
"Ren, jangan mimpi bisa godain bos gondrong ganteng itu. Lo lihat gimana dia sama istrinya."
__ADS_1
"Alah, awalnya aja laki-laki begitu. Sok cool sok setia tar dikasih belahan dada juga langsung nempel." Ulat bulu udah ketawa ngakak.
"Jangan ngomongin dada. Dada lo kalah jauh sama bininya."
"Ehmmmmm." Suara dehaman membuat ketiganya seketika diam. Mereka melihat Tina yang lagi jalan ke arah mereka dengan langkah anggun bak model, lenggak kiri lenggok kanan dengan tangan dan rambut sengaja dibuat terayun-ayun manja.
"Di sini dilarang bergosip! mau gosip tunggu waktunya istirahat. Laporan ini mesti selesai tiga jam dari sekarang. Jangan banyak tingkah, banyakin duit mendingan. Ini laporannya nanti langsung antar ke Bu Dara ya. Ingat, jangan ada kesalahan sedikit pun, karena di sini semuanya serba perfeksionis. Gue masih ada kerjaan, kalo lo bertiga ada yang gak ngerti bisa tanya gue." Tina berbalik dengan gerakan mengibas rambut yang kemudian malah menampar wajahnya sendiri, bikin matanya jadi pedih banget. Dengan gerakan gemulai dia mulai jalan meninggalkan ketiga anak magang yang sudah menatapnya dengan pandangan tidak suka.
"Rese banget tuh kaki tangannya Bu Dara." ujar si ulat Keket.
"Udahlah, kerjain aja cepetan, daripada tar nilai magang kita dikasih D. Mau lo pada?" sergah si cacing pita tapi dia sendiri malah sibuk ngecat kukunya yang lentik. Bikin kedua temannya kesal terus ngebekap mukanya pake kertas laporan.
"Bantuin woi, sialan lo." desis ulat Keket kesal.
Setelah selesai berkutat dengan komputer juga print, mereka bertiga segera pergi ke ruangannya Bagas. Ngarep banget bisa lihat bos gondrong yang gantengnya bikin mereka berdenyut atas bawah.
Eh pas masuk malah lihat pemandangan bos gondrong lagi pangku istri tercintanya. Dara turun dari pangkuan Bagas terus menghampiri mereka.
"Ada dua laporan yang masih salah, nanti aja dikerjain abis istirahat." kata Dara sambil menyimpan rapi berkas hasil kerja keras anak magang itu ke dalam map khusus.
"Makasih ya Bu Dara. Jadi kita udah bisa istirahat ya?" tanya cacing pita yang emang udah laper banget.
"Udah, kantin ada di bawah. Kalian bisa istirahat di sana, gabung sama staff yang lain."
"Kita juga istirahat yuk Sayang." kata Bagas sambil menghampiri istrinya.
Harum maskulin tubuh bos gondrong bikin mereka jadi mabuk kepayang. Udah mirip iklan parfum di tivi yang bikin para bidadari jadi lupa diri.
"Kalian boleh keluar ya." Bagas menghentikan aksi ngefly sesaat ketiga manusia pengobral paha itu bikin mereka semua gelagapan karena kedapatan lagi berkhayal nakal.
Dengan enggan ketiganya keluar dari ruangan disusul Dara sama Bagas yang udah gandengan tangan menuju luar ruangan.
__ADS_1
"Tin, makan dulu." tegur Dara waktu dia lewat di depan Tina yang lagi asyik sama ponselnya setelah ia menyelesaikan beberapa berkas penting.
"Duluan aja Bu, aku lagi diet."
"Sok-sokan diet kamu, nanti pulang malah mampir makan ketoprak sebakul."
Bagas membawa Dara menuju lift dengan ketiga anak magang yang udah duluan masuk.
"Nanti malem ke apartemen yuk." bisik Bagas sambil memeluk pinggang istrinya sama sekali gak peduli sama ketiga anak magang juga beberapa karyawan yang ada di belakang mereka.
Bagi para karyawan itu udah pemandangan biasa, menyaksikan kemesraan atasan mereka. Beda dengan ketiga spesies di belakang mereka itu, yang udah mau pingsan tiap kali lihat CEO gondrong pujaan begitu bucin sama istri sekaligus sekretaris pribadinya itu.
"Ih sok mesra banget." desis ulat Keket sebal.
Sampai di kantin, tempat itu udah rame tapi tetap rapi dan teratur. Ada Mila sama Doni juga ternyata, karena Mila masih sering bantuin ibu kantin di perusahaan Bagas.
Mata ketiga anak magang seketika membulat sempurna melihat Doni sama Bagas yang udah ngobrol, itu gak ada Kevin ya. Kalo lengkap trio bengek, bisa kejang-kejang tiga anak magang kecentilan itu.
"Anak magang Gas?" tanya Doni saat melihat mereka sekilas.
"Iya. Baru hari ini."
"Mereka mau magang atau mau mandu karoke?" Doni terkekeh.
"Mau gue pinjemin daster Bu Tukiyem rencananya buat mereka."
"Ide bagus tuh." Keduanya terpingkal, semakin terpingkal waktu cacing pita gak sengaja kebentur kaca kantin yang bikin die terpental.
Sambil gosok pantat busanya dia mencoba berdiri dengan menarik kedua tangan temannya tapi malah mereka kembali jatuh bersamaan. Udah jadi tontonan satu perusahaan dan diketawain kecoa. Belum juga sebulan mereka udah malu duluan. Makanya mau tebar pesona mesti lihat situasi dulu. Gak jadi mereka ke kantin malah balik secepatnya kabur ke lift. Mana itu rok ulat bulu udah robek karena ulah cacing pita barusan. Bingung mau pulang pake apa ntar. Masa mesti pinjem taplak meja kantin? mana perut laper terpaksa mereka pesan makanan online. Udah, makan daun sana, barengan sama kambing yang lagi jemuran abis dimandiin, nampak seksi dengan perut buncit yang kekenyangan abis makan rumput.
Apes memang nasib ulat bulu, ulat keket sama cacing pita. Azab karena udah niat pengen godain bos gondrong memang pedih. Kapok dah, besok jadi anak baek aja ya. Jangan keganjenan atau kecentilan, inget kalian anak magang bukan anak j*lang. Cadassssss
__ADS_1