
Kehidupan rumah tangga Bagas dan Dara bisa dikatakan cukup menyenangkan, apalagi dengan adanya kehadiran ketiga buah hati mereka. Dede Apem sama kembar sekarang lagi di rumah oma. Tadi pagi waktu mami lagi ikut kelas senam pagi, oma dateng terus bawa anak-anak pergi ke rumah mereka.
Dara pulang dari zumba pagi udah pukul sepuluh. Turun dari mobil dia heran lihat mobil opa udah nangkring di halaman luas rumah mereka. Kan katanya tadi Oma udah bawa cucu-cucu ke rumah. Masa iya opa ketinggalan. Kali aja ya kan oma udah fokus sama ketiga cucu, apalagi sama dede Apem yang gak berenti dia cium, sampe gak sadar opa belum keangkut mobil.
Tapi ternyata enggak. Di dalam rumah udah ada Bagas juga. Masih pake baju kemeja kerja dan nampak gagah, dua laki tampan satu aliran darah itu lagi serius bahas sesuatu sambil pegang beberapa berkas.
"Sayang." Bagas yang sadar Dara baru aja masuk langsung mencium pipi istrinya terus Dara menuju mertua, mencium punggung tangan Tuan Ben penuh hormat seperti biasa.
"Tumben Mas? Pa?" tanya Dara berkerut kening.
"Iya, adalah masalah sama perusahaan kita di Singapore dan Prancis." sahut Bagas.
Dara tampak mengangguk. Meski ia belum terlalu paham, tapi ia mencoba tidak banyak bertanya dulu. Dara memang belum kembali ke perusahaan, jadi nampaknya memang banyak hal yang ia lewatkan selama ini.
"Aku ke atas dulu ya, mau mandi."
"Iya, nanti aku nyusul." Bagas melepas Dara menuju tangga.
Dara masih bisa lihat, opa tampak memijit pelipisnya sambil memandang serius berkas-berkas yang sekarang memenuhi meja.
"Kamu bisa atasi ini kan?" tanya opa.
__ADS_1
"Aku usaha Pa, aku yakin bisa kok."
"Ini gak gampang loh Gas, masalah ini pernah terjadi tujuh tahun yang lalu."
"Bagas yakin bisa, Pa."
"Ya udah nanti kasih pengertian ke Dara pelan-pelan. Kalau perlu kamu ajak dia."
"Gak Pa, Bagas pergi sendiri aja. Biar lebih fokus dan Dara bisa tetap tenang temenin anak-anak."
"Ya udah, mana yang terbaik aja. Papa balik ya, mau main sama cucu."
Bagas mengangguk, memeluk papanya menguatkan. Ia menarik nafas panjang. Ia harus bisa memberi pengertian kepada Dara tentang rencana ini. Mau gak mau, perusahaan mereka di luar memang lebih butuh Bagas. Walaupun sebenarnya Bagas juga pasti bakal butuh mami nantinya. Secara kan cukup lama bakal gak ketemu.
Handuk, tolong jangan ada adegan gak sengaja kebuka! papi lagi bahas serius soalnya. Jangan sampai pembahasan mengenai rencana mau keluar negeri berubah jadi rencana mau bikin dedek lagi.
"Iya, aku harus beresin masalah itu sampe kelar."
"Artinya kamu bakal lama tinggalin aku?" tanya Dara dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu bisa ngerti kan? Aku bukannya gak mau ajak kamu, tapi Apem masih kecil gak baik langsung dibawa keluar negeri. Aku gak mau kamu ikut karena Aalisha belum waktunya bisa ditinggal jauh dan lama." Bagas memeluk Dara dari belakang. Berusaha memberi pengertian agar mami paham.
__ADS_1
Lama Dara terdiam, gak bisa ikut Bagas berarti dia bakalan gak ketemu suaminya cukup lama. Biar kata gak sampe satu bulan, tetap aja lama. Sehari aja gak ketemu Dara udah uring-uringan. Ayo ... coba inget-inget siapa dulu yang pernah ninggalin papi ke Malang berhari-hari.
Dara mingkem, dia jadi percaya kalo karma itu ada, apalagi pas mau bulan puasa. Banyak banget jualnya dimana-mana. Salah, itu kurma! Yang bisa dijus bareng susu terus ditambah sedikit madu pakein juga es batu, maka nikmat mana lagi yang kamu dustakan? moon maap ngelantur. Serius, jadi pengen susu kurma madu.
"Aku bakal usahain cepat pulang." bisik Bagas.
"Kapan emangnya mau berangkat?" tanya Dara sedih.
"Besok, jam sepuluh pagi."
Dara balik badan, peluk suaminya yang bakal pergi lama dalam misi mulia demi perusahaan tetap jaya.
"Kamu jangan nakal loh."
"Mau nakal sama siapa sih?"
"Sama cewek-cewek bule."
"Aku suka kamu, produk lokal asli Indonesia."
Dara cubit gemas Bagas atas bawah, Bagas pengen bales dong. Tapi Dara menahan suaminya yang mulai gemas-gemas manja.
__ADS_1
"Gak bisa, aku lagi dapet. Baru aja tadi."
Bagas lemas, alamat puasanya jadi lebih lama. Gak ada adegan persiapan sebelum terpisah jauh nih ceritanya.