
Kehamilan Dara sudah memasuki tujuh bulan. Pergerakannya jadi sedikit melambat. Tapi ia sudah tidak mudah lemas lagi. Semakin aktif bergerak kesana kemari. Kadang Bagas takut istrinya itu jatuh kalau terlalu aktif begini. Tolong mami urusan dapur biarkan jadi urusan Tuti.
Tapi mami kadang bandel gak dengar kata suami. Bagas bukan lagi keki tapi sering rusing sendiri. Ninggalin mami di rumah rasanya berat, seberat Dara yang sekarang bikin Bagas gak kuat buat ngangkat. Di kehamilan kedua istrinya malah lebih berisi dibanding pas hamil kembar yang mana perutnya aja yang lebih besar.
Kalau sekarang penampakan pipi mami jadi chubby. Betis dan tubuhnya jadi berisi, tapi ya dimata mas gondrong, yayang Dara tetap aja seksi. Masih asyik diajak duel di atas ranjangnya yang ukurannya besar sekali.
Diajak guling-guling udah gak bisa, mami keberatan malah sering kejengkang. Bagas sekarang gak ditemenin Dara lagi di perusahaan. Seperti biasa tugas sekretaris beralih kepada Tina.
Siang ini gelas yang Bagas pegang berisi air putih itu jatuh terlepas, lolos begitu saja. Jantungnya juga terasa berdebar-debar keras sama rasanya kayak waktu dia lagi jatuh cinta sama mami dahulu. Enggak ini beda, perasaannya lagi gak tenang. Kenapa ya?
Sampai akhirnya satu panggilan telepon dari Tuti membuat Bagas tersentak dan buru-buru angkat itu panggilan telepon.
"Tuan, cepat ke rumah sakit, Nyonya tadi kepeleset, sekarang perutnya sakit." Kata-kata Tuti yang cepat itu bikin Bagas segera mematikan sambungan telepon.
Bagas segera melajukan diri ke rumah sakit. Dara sendiri sedang menjalani pemeriksaan serius oleh dokter yang menangani.
"Papi!" kembar menghampiri Bagas dengan sesegukan menangis.
"Tenang ya, mami gak papa."
"Dede sama mami kepeleset."
"Tuti udah larang nyonya ke dapur, Tuan. Nyonya gak sengaja jatuhin minyak goreng, terus nyonya jadi kepeleset." Tuti menjelaskan sementara Keke sedang menenangkan kembar.
"Iya, iya semua tenang ya. Tunggu dokter dulu." Bagas mencoba tenang.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruangan.
"Gimana istri saya, Dok?" tanya Bagas cepat.
"Tenang, Pak Bagas. Kondisi Ibu Dara sudah stabil. Cuma terjadi syok ringan. Benturan keras saat terjatuh, syukurnya tidak sampai membahayakan keadaan bayi."
Mereka semua menarik nafas lega. Tapi kembar masih menangis. Bagas mendekat lalu memeluk kedua anaknya di kiri dan kanan.
"Udah ya, Mami gak papa. Mami cuma perlu istirahat."
"Dede?" tanya Ondrong dan Neon bersamaan.
"Dede juga gak papa."
__ADS_1
Mereka segera menghapus airmata. Bagas lalu mengajak kedua anaknya juga Tuti dan Keke masuk ke dalam ruang rawat inap.
Tampak istrinya tengah terpejam. Pasti masih sakit tubuh istrinya itu setelah jatuh terhempas. Papi jadi sedih lihat permata hatinya sedang terbaring tak berdaya.
"Sayang ... " desah Bagas sambil mengecup kening Dara yang matanya masih terpejam itu.
"Mas ... " Suara serak Dara bikin Bagas segera mengangkat kepalanya. Ia memeluk Dara yang masih terbaring dengan erat.
"Iya, kamu jangan banyak gerak ya. Harus istirahat dulu." sahut Bagas lembut.
"Apem gimana Mas?!" Dara memekik mengusap perutnya ketika ia teringat peristiwa terpeleset beberapa waktu yang lalu di dapur licin.
"Gak papa, bayi apem gak papa."
"Aku salah Mas, aku hampir bikin anak kita celaka." Dara udah nangis. Kembar yang lihat maminya nangis jadi ikutan nangis juga.
"Mami, sakit ya?" Ondrong mendekati Dara yang segera menggeleng.
"Jangan nangis ya, maafin Mami." Dara ikutan sedih lihat kedua anaknya yang udah nangis juga.
"Gak papa, sini yuk." Bagas memeluk lagi kedua anaknya itu.
"Gak papa, Mami gak sakit. Neon sama Ondrong gak boleh nangis. Gak boleh cengeng." Dara menghapus airmata kedua anaknya itu.
"Yang, yok beli cimol. Neon lihat di depan rumah sakit tadi." Aariz berkata sambil menghapus airmatanya. Dara jadi ketawa gemas mendengar anaknya itu.
"Mami nitip ya." Dara mau juga. Papi cuma geleng-geleng lihat kelakuan emak sama anak gak ada beda.
"Abang Ondrong mau apa?" tanya Keke sayup-sayup terdengar setelah mereka menjauh dan keluar dari ruang perawatan.
Bagas menatap Dara lalu menjawil gemas hidung istrinya itu. Dia mau marah sebenarnya, tapi lihat Dara lagi terbaring lemah malah jadi gak tega aja.
"Lain kali gak boleh gini ya. Biarin Tuti yang masak."
"Maaf ya Mas. Aku tadi cuma pengen masakin makanan kesukaan kamu. Aku ceroboh malah jatuh."
Bagas mengelus kepala istrinya lembut.
"Gak papa, aku pengen kamu sehat. Dede apem sehat, maminya sehat, abang-abang gak sedih. Kalo gini lagi nanti, aku jadi gak tenang loh." ujar Bagas lembut.
__ADS_1
Ditatap sedemikian tegas sekaligus lembut begitu, akhirnya Dara menunduk. Dia menyesal gak dengar kata suami.
"Maafin aku lagi ya Mas." Dara mencium tangan suaminya berkali-kali. Bagas hanya tersenyum kecil. Istrinya nampak menyesal sekali.
"Udah, gak papa. Asal jangan begini lagi ya."
Dara mengangguk lalu membiarkan Bagas memeluknya. Tuti mau keluar ruangan aja. Dia gak sanggup, sumpah. Dia bukannya gak sanggup lihat Dara yang udah terbaring lemah, tapi gak sanggup lihat pemandangan romantis yang menyesakkan dada seperti ini.
Keke dan kembar juga belum kembali. Menyesal dia gak ikut tadi beli cimol. Tuti beneran keluar ruangan akhirnya karena sesi romantis antara tuan dan nyonya semakin menyesakkan dada.
"Anak-anak kok belum balik ya Mas?" tanya Dara sambil mengangkat kepalanya dari bahu Bagas.
"Paling lagi ngerepotin Keke pengen beli ini itu." Bagas terkekeh.
Beneran saja, sekarang kembar lagi rusuh pengen beli balon upin dan ipin yang lagi dipompa mas yang jualan. Tuti yang lihat kembar lagi sibuk lihat balon, jadi celingukan mencari keberadaan Keke.
Ternyata eh ternyata, Keke lagi makan bakso dan lagi kepedasan. Perut Tuti yang tadinya masih kenyang sekarang mendadak laper setelah lihat kemesraan tuan dan nyonya.
"Makan apa Ke?"
"Ini makan botak."
"Mas pesen botak urat gak pake telor gak pake mie pake tauge banyakin ya."
Mas bakso segera menyiapkan pesanan Tuti. Tuti lihat cabe udah mulai kesurupan, entah berapa sendok yang jelas pasti bakal bikin dia mules.
Sementara Dara udah telepon Keke sedari tadi.
"Cimol aku mana Ke?" tanya Dara cepat setelah Keke mengangkat telepon.
"Bentaran Nyah, ini bakso botak Keke udah mau habis kok."
Suara Keke kedengeran kepedasan. Keke buru-buru pergi ke tukang cimol.
"Maaf neng, cimolnya teh habis."
Keke udah gigit jari. Gimana ini, nyonya pasti merajuk kalo cimolnya gak ada.
"Ayo, balon Neon udah jadi." Neon dan Ondrong menyeret Keke yang kebingungan karena pesanan mami udah habis, sementara Tuti udah teriak kepedasan karena cabenya udah overdosis.
__ADS_1