CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
Jago Merayu


__ADS_3

Dara berjalan hendak keluar dari kamar mandi sambil memandang kesal suaminya yang lagi bersiul-siul di bawah pancaran air. Yang lagi dipandangi dengan sebegitu kesal hanya tersenyum pura-pura gak lihat. Dengan kesal Dara membetulkan lilitan handuk agar tak melorot yang nanti akan membuatnya kalap terus ngasih sengatan listrik lagi. Ya listrik, kena aer, kesetrum itu Nyai.


"Duh, sinisnya." goda Bagas dengan senyum terkulum sambil ikutan pake handuk juga terus keluar kamar mandi.


Dara yang lagi berusaha pake bra jadi sedikit kesulitan mengaitkan benda itu di belakang tubuhnya. Bagas yang melihat itu, mendekat terus mengambil alih. Dara hendak menghindar tapi Bagas menahan tubuhnya.


"Masih mau ngambek juga?" tanya Bagas sambil mengaitkan pengait bra dengan lembut. Gak ada jawaban, Bagas jadi gemas terus tepuk bagian belakang istrinya jahil.


"Aw! sakit tau!" kesal Dara sambil menatap tajam Bagas yang cuma mesem-mesem gak ngerasa bersalah.


"Sakit tapi tadi teriak keenakan." balas Bagas terus melihat Dara yang mukanya udah merah kayak kepiting rebus.


"Kamu yang paksa aku! kebiasaan!" desis Dara yang sudah meloloskan dress rumahan di tubuhnya.


Bagas juga sudah memakai pakaian santainya. Papi gondrong tampak seksi dengan kaus ketat yang mencetak otot-otot perutnya. Melihat itu gantian Dara yang jadi menelan ludah. Suaminya keren banget, pantes banget kan jadi banyak yang suka.


"Kalo gak gitu, kamu marahnya mau sampe kapan?" Bagas mendekati Dara yang lagi keringkan rambutnya. Pemandangan rambut yang melayang-layang mengingatkan Bagas pada tragedi bra berumbai yang nyangkut di kipas angin, bikin Bagas jadi bergidik sendiri.


"Gini loh Mas Bagas, istri mana gitu ya g gak kesal dituduh yang macem-macem terus dibentak-bentak sesukanya." sahut Dara mengeluarkan uneg-uneg terdalamnya. Dalem banget sampe nyungsep ke sudut paling mentok di dasar hati Dara yang tiba-tiba kembali nyeri teringat kata-kata tuduhan yang sempat Bagas lontarkan waktu itu.

__ADS_1


Bagas menarik nafas panjang kemudian mengambil sisir dan mulai menyisir rambut panjang istrinya dengan pelan.


"Aku minta maaf ya. Aku sadar aku udah egois banget." ujar Bagas akhirnya. Dara menatap suaminya yang tampak bersungguh-sungguh itu dari cermin di depan mereka. Bagas sendiri masih menyisir rambut Dara yang udah rapi.


"Aku gak suka kamu begitu Mas. Harusnya kamu paham, aku dandan bukan sengaja buat nyari perhatian orang lain. Buat apa sih aku nyari perhatian orang kalau suami aku sendiri udah sekeren ini."


Bagas menatap istrinya lama, perasaan bersalah menggelayut di hatinya. Ia meletakkan kembali sisir lalu memeluk istrinya dari belakang, menyeruak di antara perpotongan leher Dara yang jenjang dan selalu sukses bikin dia jadi kayak vampir yang suka gigit. Gigit-gigit manja terus tinggalin stempel merah mirip bekas kerokan di punggungnya waktu itu.


"Makanya, aku minta maaf. Kamu mau maafin aku kan?"


"Hmmmmm."


Dara diem lagi. Bagas jadi gemas sendiri, masa mesti dikasih kejut sekali lagi. Kalau masih gak mau baikan juga terpaksa Bagas keluarin jurus ular cobra lagi matuk singa betina. Biar itu singa mengaum karena gak tahan pengen dikasih gerakan melilit sampai keluar airmata. Mau bilang air yang lain takut kena sensor.


"Iya aku maafin kamu deh."


"Idih, kok pake deh. Gak enak banget."


"Iya iya, aku maafin. Tapi ..."

__ADS_1


"Apalagi Yang? mau apa sebutin aja aku turutin. Asal jangan minta aku tidur di luar, gak mau aku!"


Dara tertawa kecil kemudian membalikkan tubuhnya.


"Mau makan nasi goreng kambing." ujar Dara sambil menenggak salivanya sendiri tanda dia lagi kepengen berat.


"Ayo. Mau sekarang?" Dara mengangguk.


Eh baru aja Dara mau keluar dan melangkah, Bagas malah meraih tubuhnya lalu menghempaskannya ke atas ranjang.


"Mas ... udah aku udah laper." seru Dara sambil memukul-mukul pelan dada suaminya itu.


"Cium aja gitu Yang."


Dara mengalihkan wajah terus menggelitik Bagas. Bagas yang gak siap dapat serangan mendadak langsung terjengkang ke belakang.


Gak dia duga terus terasa ada bantal menutup mukanya. Bagas jadi bengek. Dara sudah terpingkal-pingkal melihat dede Apem yang datang tiba-tiba sambil bawa badan dia yang berat terus ngamvil bantal dan memukul-mukul gemas perut papi. Belum lagi abis itu dede apem nutupin bantal ke mukanya Bagas. Kemarin kena geplak pake sendok eskrim hari ini dibikin bengek ketutup bantal.


Bagas meraih anak bungsunya itu lalu menggelitik gemas perut gendutnya, membuat dede Apem terguling-guling diatas lantai.

__ADS_1


"Ma.. mi..." Dede Apem nangis kejer abis itu sementara Bagas udah kabur takut mami ngambek lagi karena udah bikin anak gembulnya merajuk. Dasar papi gak mau tanggungjawab, anaknya udah nangis sampe terkentut-kentut.


__ADS_2