CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
CGIS S2 - Gak Mau Pulang, Maunya Disayang.


__ADS_3

Malam telah larut, suasana sekitar kost sudah sepi. Cuma terdengar beberapa gadis yang baru mau pergi kerja. Pergi Kerja? selarut ini?


Tiwi dan Aarash berjalan bersisian menuju kost. Mereka baru aja pulang dari warung yang masih buka. Bang Aarash beli sikat gigi sama beberapa cemilan buat mereka.


Lihat para cewek centil berpakaian seksi yang menyapa mereka, Aarash jadi mengerti lingkungan seperti apa yang sedang ia masuki ini.


"Kenapa sih lo gak cari kost-an lain yang lebih terjamin keamanannya?" tanya bang Aarash menoleh pada Tiwi yang sedang berjalan di sampingnya.


"Kamu ini lucu, aku bayar kost-an ini aja udah pusing, apalagi mau cari kost-an lain yang lebih terjamin kayak kata kamu itu. Lagian kenapa sih? aku suka kok tinggal di sini, orangnya baik-baik dan ramah."


"Iya, tapi lo lihat gak cewek tadi? jam segini baru mau keluyuran. Berarti tempat ini tempat ngumpulnya orang gak bener." sahut Aarash sewot.


"Mereka bukan keluyuran, Pak Aarash. Mereka kerja. Cari uang buat hidup, buat makan, buat kirim ke kampung, sama buat beli bedak."


"Kerja kok jam segini, itu nunjukin mereka orang gak bener."


"Gak semua orang terlahir beruntung seperti kamu, yang pas berojol udah hidup enak. Ada yang harus lewatin susah dan kerasnya hidup baru bisa kaya, tapi ada juga yang gak kaya-kaya. Ya kayak aku ini, dan para perempuan tadi. Lagian, kita gak berhak menghakimi pekerjaan seseorang. Kita gak pernah tahu apa yang sudah dia lewati sebelum dia seperti itu. Kalau kita bisa, ya jangan seperti mereka. Lagipula, siapa yang tahu kalau ternyata mereka lebih banyak menengadah kepada Tuhan setiap hari. Aku gak pernah memusingkan pekerjaan orang lain, karena kita tidak pernah tahu apa yang sudah dia alami sampai dia seperti itu. Bukan berarti aku membenarkan ya, cuma akan lebih baik kalau kita saling menghargai setiap pilihan yang orang lain ambil."


Pratiwi menatap Aarash yang hanya bsia terpanah dengan kata-katanya. Ia tidak bisa menjawab, hanya bisa diam karena apa yang dikatakan Tiwi adalah benar. Tiwi, ada rasa getar-getar dalam dada di hati abang waktu elo ngomong gitu. Abang speechless!


"Masuk yuk, kamu tidur di situ, aku udah bentangin kasur lipat."


"Temenin gue nonton dulu nanti lo tidurnya."


"Idih, kamu ini udah numpang, ngerepotin pula." kesal Tiwi bikin bang Ondrong ikutan kesal juga padahal dia baru saja terpesona sama kata-kata bijak Pratiwi barusan.

__ADS_1


Jadilah keduanya sibuk nonton tivi, mana acaranya komedi, bikin keduanya ngakak tengah malem buta. Keduanya sampe timpuk-timpukan pake bantal sangking gak bisa menahan tawa mereka.


Sampai suara di kost-an sebelah menbuat keduanya diam. Awalnya mereka gak ngeh suara apaan, pas didengerin lebih seksama suaranya makin jelas, desah-desah mendesis tertahan. Bang Aarash yakin di sebelah lagi ada pertunjukan ular masuk lobang!


Keduanya jadi saling pandangan. Mereka jadi salah tingkah. Suara di sebelah udah hilang berganti suara ngorok mengusik pendengaran. Tapi, bang Aarash sama Tiwi kok jadi terbawa suasana. Bang Aarash sudah menempelkan bibirnya di bibir Tiwi. Berapa lama bergelung lidah, tangan bang Ondrong makin aktif aja. Waktu lagi enak-enaknya, suara kuntilanak lagi ketawa dari tivi mengagetkan mereka berdua. Refleks Tiwi melepaskan kegiatan mereka yang udah setengah jalan.


Perasaan tadi masih film komedi, ini udah ganti film horor, selama itu mereka sudah saling menjamah. Tiwi langsung masuk kamar terus kunci pintunya. Dia jadi termenung, jantungnya berdegub kencang. Kalau gak ada suara kuntilanak, pasti mereka udah kebablasan.


"Wi, buka pintunya. Sorry gue khilaf." Bang Aarash gedor-gedor pintu kamar. Padahal dalam hati bang Aarash ngomongnya gini Wi, buka pintunya, gue udah nanggung. Tolong bantu jinakin!


"Pak Aarash udah tidur aja. Anggap aja tadi gak ada kejadian apa-apa." balas Tiwi sambil teriak.


Abang Ondrong jadi lesu tapi masih mau. Dia meremas rambutnya kuat.


"Keluar lah, tega lo sama gue."


Keduanya diam lagi. Saat lagi diam sambil nonton film horor, ponsel bang Aarash berdering. Cessie.


"Lo angkat ya, bilang aja lo calon bini gue."


"Gak mau lah Pak." tolak Tiwi cepat.


Tapi melihat Aarash yang masih menatapnya memelas akhirnya ia angkat juga telepon itu.


"Maaf Mbak, Mas Aarash lagi tidur, ini calon istrinya."

__ADS_1


Segitu aja, langsung Tiwi matiin waktu Cessie terdengar teriak di ujung telepon.


"Ngeri banget sih pacar kamu itu. Suaranya kayak kaleng rombeng."


Aarash tertawa mendengarnya.


"Iya, bagusan suara elo."


"Hah?"


"Bagusan suara elo. Lagian itu tadi mantan kok, udah gue buang ke tempatnya."


"Pak, pulang aja gih."


"Kok lo ngusir gue lagi sih? gua gak mau pulang." Maunya disayang. Sambung bang Aarash dalam hati.


"Lo gak punya pacar kan?"


Tiwi menggeleng, dia udah ngantuk berat.


"Jangan tidur dulu. Temenin gue nonton."


"Iya, bawel banget sih!"


Lama mereka terdiam, Aarash merasa pundaknya sedikit berat. Ia tersenyum, Pratiwi sudah tertidur di bahunya. Aarash menikmati pemandangan wajah gadis itu sedemikian dekat. Dia membiarkan Tiwi tidur bersandar dan akhirnya ikut tidur pula di atas sofa.

__ADS_1


Masa iya gue jatuh cinta sama sekretaris gendeng ini? tanya bang Aarash gregetan pengen senam jari lagi. Tahan dong bang, gak sabar banget pengen lepas perjaka!


__ADS_2