
Menempuh kurang lebih satu jam perjalanan dari Jakarta, Akhirnya Bagas dan Dara tiba di Bali dengan selamat. Keduanya nampak bahagia. Bagas terlihat tampan dengan kaus juga celana jeans yang bikin dia kayak anak muda. Rambut gondrongnya udah diikat rapi. Pagi tadi sebelum berangkat, Dara yang ngikat dipakein karet rambut warna hitam bikin yayang gondrong makin macho abis.
Dara juga cantik, pake dress dengan bahan lembut berwarna jingga yang menangkup tubuhnya dengan sempurna. Paket babymoon yang Bagas pilih sebuah villa yang memiliki dapur juga kolam renang pribadi. Juga ada paket sesi foto mama pregnant yang akan mereka dapatkan nantinya.
Setiba di villa, Dara langsung menghempaskan diri di ranjang berseprei putih, mengingatkan ia saat dirinya melepas kesucian Nyai dahulu. Terkenang itu Dara jadi malu sendiri, ia ingat tatapan lembut Bagas yang meminta izin untuk menyatu bersama dirinya malam itu di Bandung.
View di kamar mereka langsung menghadap laut. Mata Dara yang minus terasa dimanjakan. Bagas pintar sekali memilih tempat untuk mengukir kisah romansa untuk mereka berdua. Jangan lupa Bagas memang diciptakan untuk itu, memanjakan wanita yang menjadi istrinya.
"Wah, aku tuh baru kali ini ke Bali." ujar Dara berbunga-bunga. Ia berjalan menuju dinding kaca yang langsung menghadap pemandangan laut.
"Aku udah sering kemana-mana, tapi yang paling spesial cuma sekarang. Sama kamu." Bagas sudah melingkarkan lengannya di sepanjang perut Dara yang besar. Bagas gak tahu, meluk Dara dari belakang begini enak banget. Depan belakang kena katanya, empuk semua rasanya.
"Kamu pasti sering gombalin cewek-cewek begini ya dulunya. Huh!" cubit Dara pada perut Bagas.
"Ah enggak. Sama kamu aku segalanya, jadi romantis sampe aku geli sendiri. Cuma Miya Andara yang bisa bikin aku begini."
Dara udah terbang ke langit paling tinggi mendengar ungkapan suaminya itu, bersama burung yang kemarin berakin kepalanya Bagas. Perasaan cintanya makin bersemi, Bagas pria pertama dan terakhir yang berhasil menyentuh hati juga menyentuh Nyai. Istimewa bukan?
__ADS_1
"Kamu itu istimewa, makanya aku mau kasih semua yang terbaik buat kamu." Bagas yang sadar diri karena udah banyak ganti-ganti, jadi berjanji sama dirinya sendiri buat gak nyakitin Dara lahir sama batin.
Bagas ini penganut lelaki yang kalo udah sayang apapun maunya bini pasti diturutin, sampe ngulek bumbu ketoprak pun dia jabanin. Terus, mas gondrong ini juga pantang main tangan, maksudnya dia gak mau nyakitin fisik istrinya, kecuali waktu lagi e*a-e*a, tangannya bergerak aktif bund. Sedikit kasar biar ada sensasi tapi tetap pake cinta, eaaaa eaaaaaaa. Ibu-ibu yang baca ini pasti mesem-mesem lagi, ingat malam indah bersama suami tercinta. Yang lagi datang bulan sabar ya, belum waktunya merajut kemesraan panjang bersama pak suami.
"Kita ke sana yuk, Mas." ajak Dara untuk keluar dari kamar.
Bagas mengiyakan, mengajak Dara untuk melihat view air laut yang membentang dari balkon. Mereka bersantai di dekat kolam renang. Bagas udah buka baju, menyisakan celana ketat yang membungkus Jeki dengan tidak sempurna. Kembali, ada yang menonjol tapi bukan bakat.
"Aku pengen berenang juga." Bagas membantu istrinya membuka dress, menyisakan Bra dan celana dalam berwarna merah. Kenapa Dara suka banget pake warna merah, lihat sang mentari menyorot sempurna dirinya yang hanya berbikini. Bikin view Bali yang udah indah jadi semakin sempurna dengan adanya Dara berbikini merah. Mata Bagas udah ketimpa lope-lope lihat pemandangan itu. Istrinya, so sexy meski perutnya udah kayak balon udara.
"Sini, Yang. Cepetan turun." Bagas yang udah turun duluan semangat menyambut kedatangan istrinya dengan rambut terurai dan sesuatu yang bisa bikin Jeki tegang. Tuhan, ampuni hamba yang suka ngiler setiap kali lihat dia. Bagas memohon ampun sambil fokus menatap Dara yang lagi turun, bukannya apa dia takut Dara kepeleset terus langsung tenggelam, eh dia lupa Dara udah punya tiga pelampung yang gak bakal bisa bikin dia tenggelam, duo semangka feat perutnya yang gede itu. Bikin Dara pasti jadi ngambang.
"Kalo udah malem airnya udah dingin, Sayang. Kamu bisa beku dan aku bisa repot." sahut Bagas yang sedang mendengar alarm bahaya di kepala.
Iya kalau nyeret Dara keluar dari kolam waktu badannya kayak dulu, masih langsing dan hanya berisi di titik-titik tertentu. Lah ini, semuanya udah pada berisi. Bisa bengek Bagas kalau harus membawa Dara keluar dari kolam dengan keadaan begitu, Samson aja gak sanggup apalagi cuma Abang. Yayang Dara tolong jangan aneh-aneh ya. Lagian ngapain pula gak pake keluar kolam renang? mau jadi putri duyung? celoteh Bagas hanya di dalam hati.
"Nanti kita dinner romantis ya, aku mau ajak kamu lihat view mentari terbenam. Kamu pasti belum pernah kan?" tanya Bagas sambil menyibak rambut istrinya yang sudah basah, mereka sedang berdiri di pinggir kolam dengan tubuh masih setengah terendam air. Kalau difoto pasti keren banget.
__ADS_1
"Mas Bagas ngeremehin, aku udah sering kok lihat matahari terbenam yang warnanya jingga."
"Dimana emang?" tanya Bagas sambil. berkerut kening.
"Di pinggir empang, sama Bapak." Dara terkekeh dengan Bagas yang sudah ketawa.
Masa kecil dimanja bapak meski dengan hal yang sederhana tapi gak bikin Dara lupa bersyukur. Sekarang ketika sudah menikah, ia dimanjakan oleh suaminya. Dara bersyukur banget.
"Dulu sama bapak di empang, sekarang sama aku di sini." ujar Bagas berbisik di telinga Dara mesra. Dara berbalik, menatap suaminya intens. Suami gondrongnya yang jadi idola banyak wanita dari berbagai usia sampai bermacam rupa, dari dunia nyata sampai dunia maya gak ketinggalan dunia gaib. Kalau yang terakhir kemungkinan sih, sebab Bagas belum punya riwayat ketemu mbak kunti lagi ngejar-ngejar dia karena mau minta cium. Amit-amit.
"Aku juga punya kejutan lain buat kamu, nanti aku kasih ya." ujar Bagas, Dara mengangguk. Ia sudah waspada. Takutnya kejutan itu nanti lingerie tipis lagi yang harganya mau lima juta. Dara mendingan dikasih cilok segerobak daripada itu. Ngomong-ngomong cilok, Dara kok jadi kepengen ya.
Sebentar lagi duo gondrong di dalam pasti bakal kena fitnah mamaknya lagi. Mereka udah mukul-mukul perut mamaknya, mau ngasih tau babe gondrong emak bakal fitnah mereka lagi.
Tapi gak mempan, gak ngaruh karena emak sama babe gondrong lagi bermesraan dengan wajah udah saling menyatu. Mau kalian salto dalam perut juga gak bakal ngaruh.
Bagas melepas ciumannya, lalu menatap Dara lagi.
__ADS_1
"Mas, aku pengen cilok."
Babe gondrong udah pusing. Kepala bawah sama kepala atas udah puyeng tujuh keliling. Mau cari cilok dimana coba?