
Sebulan setelah tragedi serangan air di tengah malam buta, Bagas jadi trauma mau pake kolor kesukaannya, apalagi makainya kalau sebelum ritual, mendingan gak usah. Daripada kejadian Dara mimpi buruk yaitu Bagas berubah jadi monokorobo kembali terulang. Yang bikin dia harus jatuh sampe kejang-kejang dan berakhir di kamar mandi dengan posisi telentang.
Sekarang, sebulan semenjak kejadian itu, Dara jadi lebih aktif minta ini itu. Memang bukan sesuatu yang mahal, tapi hanya berupa makanan-makanan sederhana cuma kalo Dara yang minta udah dipastikan repotnya bakal sampai ke tulang-tulang.
Kemarin Dara merengek minta dibelikan martabak yang warnanya hitam pekat, harus pakai coklat, kacang, keju dan ditaburi cerres warna warni. Masalahnya si tukang martabak gak punya cerres warna warni adanya cokelat doang. Jadi lah Bagas habis itu langsung ke supermarket, beli cerres warna warni terus langsung ditaburin diatas martabak yang sudah dipotong jadi tiga belas bagian, sesuai permintaan Dara.
Dia bisa lihat bagaimana bahagianya istri tercinta waktu Bagas datang bawa martabak disambut tepuk tangan oleh Dara. Berasa Bagas lagi menang piala citra karena dapat sambutan berharga dari istrinya yang udah sumringah lihat martabak dengan cerres warna warni itu. Martabak doang, udah bikin si Betty Lapea kegirangan.
Nah kali ini masalahnya ada di tukang cilok yang biasa mangkal di depan perusahaan. Hari ini Dara kepengen banget makan cilok kang gondrong kembaran Bagas. Tapi entah ada angin apa, kang cilok yang biasanya mangkal di seberang perusahaan sambil joget-joget dengan radio kecilnya, gak kelihatan sama sekali batang hidungnya hari ini.
Sepanjang hari, Dara jadi lesu. Habis ngerjain laporan dia udah pasang muka sedih sambil bertopang dagu. Bagas jadi gak tega lihatnya. Berapa kali juga, Dara pergi ke jendela, bikin Bagas jadi was-was, takut Dara mau bunuh diri karena kang cilok gak pake mangkal juga sampai sekarang. Padahal, Dara kesana karena pengen lihat Kang cilok udah dateng atau belum.
Ditunggu udah hampir enam jam, kang cilok gondrong belum datang juga. Bikin Dara jadi kehilangan arah dan kehilangan semangat makannya. Bagas jadi khawatir karena istrinya jadi lebih banyak diam. Segitunya pengaruh kang cilok bagi Betty Lapea.
"Aku beliin cilok di tempat lain aja, Yang. Mau gak?" tawar Bagas mencoba nego biar Dara bisa makan cilok dan dia jadi gak salah tingkah karena didiemin terus.
Dara menggeleng sambil tetap bertopang dagu. Pokoknya Dara cuma mau cilok kang gondrong. Katanya kalau beli di orang lain, kenyalnya beda. Bikin Bagas pengen salto dengar alasan Dara yang langsung bikin dia bengek akut. Masalah kenyal aja dibikin repot sama istrinya ini. Bagas jadi kehilangan akal.
__ADS_1
"Pokoknya mau cilok kang gondrong." sahut Dara keras kepala.
Tapi mau gimana lagi coba, itu kang cilok bukan cuma batang hidungnya yang gak ada, bayangannya aja hilang gak berjejak hari ini. Kalau ada jangankan sebungkus, segerobak Bagas borong semua biar Dara puas. Mau sampe bool jebol juga Bagas beliin yang penting Dara gak lesu begini, udah kayak kehilangan semangat hidup.
"Aku cari keluar dulu deh, siapa tahu kang ciloknya mangkal di tempat lain." putus Bagas akhirnya disambut anggukan cepat dari Dara.
Bagas sudah di bawah, dari jendela Dara bisa lihat bagaimana suaminya itu bekerja keras nyariin jejak kang cilok sampai nanyain sama para penjual makanan lain yang juga mangkal di sana.
Dara juga jadi ketawa, para penjual lain malah aktif nawarin dagangannya sama Bagas yang malah langsung diborong dan pas balik dibagiin sama paparazi dadakan yang lagi adem ayem dari gosip beberapa hari ini.
Bagas balik tanpa bawa cilok kang gondrong, tapi dia malah langsung bawa Dara turun dan masuk mobil. Senyumnya penuh misteri dan teka teki, bikin harapan Dara makan cilok kang gondrong kayaknya akan segera terpenuhi.
Dara yang masih belum ngerti kenapa diajak ke tempat itu langsung berbinar ketika melihat kang cilok lagi sibuk nyalamin orang. Ternyata kang cilok lagi ada hajatan di rumahnya, makanya gak bisa mangkal di depan perusahaan Bagas. Tadi waktu Bagas nanyain sama para pedagang lain, mereka kasih alamatnya kang cilok gondrong yang akhirnya bikin Bagas borong semua dagangan mereka sebagai ucapan terima kasih.
Kang cilok yang lihat bos besar datang ke acaranya jadi nervous banget. Bagas dan Dara disambut dengan baik di sana. Sebelumnya ia bingung kenapa kedua orang itu bisa datang, bukan gak suka atau sengaja gak ngundang, tapi ia gak percaya aja sekelas Bagas mau mampir di tempatnya yang sederhana itu.
"Kang, istri saya kepengen banget makan cilok akang." kata Bagas setelah mereka bersalaman. Barulah kang cilok paham mengapa Bagas sampai belain datang ke rumahnya.
__ADS_1
"Wah, suatu kehormatan loh Pak Bagas dan Istri mau datang ke tempat saya. Mari masuk, pak. Kebetulan hari ini anak saya ulang tahun, makanya saya gak jualan. Tapi tenang, saya tetap bikin cilok buat cemilan di acara hari ini." jelas kang gondrong ramah. Istrinya langsung pasang senyum terbaik demi menyambut kedatangan tamu istimewa hari ini.
Dara dan Bagas sendiri tercengang melihat anak-anaknya kang gondrong. Ada enam dan masih kecil-kecil, kepalanya botak semua kalau disusun udah sah jadi lampu neon di malam hari.
"Saya bikin cilok karena terinspirasi dari kepalanya anak-anak saya yang pada botak." jelas kang cilok sambil memperhatikan anak-anaknya yang bersusun rapi udah kayak susun panci.
Dara udah tenggelam bersama seporsi gede cilok kacang pedas aneka isi. Terus tanpa malu-malu mau minta nambah, yang dengan senang hati dilayani dengan baik oleh istri kang cilok.
"Wah, Neng Dara kayak orang ngidam aja loh." ujar Istrinya kang cilok yang tanpa sadar langsung bikin Bagas dan Dara menoleh bersama. Ngidam?
Bagas udah sumringah, matanya berbinar-binar. Jangan-jangan memang beneran istrinya ngidam yang artinya di perut doi udah ada isi. Bagas jadi semangat banget mau ngajak Dara ke dokter kandungan besok, tapi kata Dara mending di tespack aja dulu biar gak terlalu malu kalo hasilnya gak sesuai harapan.
Bagas setuju aja, jadi dengan langkah pasti waktu ke apotik mereka langsung borong tiga tespack sekaligus. Mereka gak sadar, ada satu orang yang baru keluar dari poli gigi yang ada di samping apotik dan langsung kepo lihat atasan sama sekretaris beli tespack.
Jiwa paparazinya mulai terpanggil, ia jadi bikin voice note di grup geng paparazi yang bikin mereka semua jadi gempar sampe pada mau kesurupan.
"Gosip!" ujar ketua paparazi dengan semangat sambil ngirimin foto Dara dan Bagas yang lagi masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Gajian udah lewat, saatnya para paparazi dadakan kembali beraksi.