CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
Sembilan bulan deg-degan.


__ADS_3

Tiga bulan berlalu kini usia kandungan Dara udah sembilan bulan. Kisah romansa trio bengek akhirnya berakhir bahagia. (Tapi tenang pemirsah, cerita ini belum akan tamat, masih banyak kebengekan mereka yang akan aku ceritakan pada kalian semua ). Mereka semua mendapatkan perempuan baik-baik, sederhana juga gak banyak tingkah. Jeki udah ketemu Nyai, Cecep bakal ketemu Pumpum, Doni masih bersabar karena dia baru tahap bakal lamaran dulu, yang artinya Dino masih sedikit lama bakal ketemu Minny.


Para fans fanatik mereka di sosmed udah heboh lagi karena Kevin udah posting fotonya lagi lamaran sama Ratih terus malam ini Doni posting foto lagi cium pipi Karmila. Udah banyak yang kesurupan karena ulah mereka.


Malam ini, Dara lagi betah duduk di tengah taman, sambil bertopang dagu natap lampu neon yang di susun berjajar. Rumah Bagas sama Dara gede banget, ada dua security yang menjaga rumah besar itu. Besok asisten rumah tangga akan datang juga.


"Sayang, minum susu dulu ya." Bagas menyodorkan segelas susu ibu hamil untuk istrinya.


"Makasih ya, Sayang." Dara segera menenggak susu itu perlahan.


Bagas mengusap kepala istrinya lembut terus ikut duduk di samping Dara, ikutan mandang lampu taman yang lagi berjajar. Gak ada makhluk botak itu lagi, sebab sekarang dia lagi sakit karena kebanyakan maen air di kolam renang. Mungkin itu azab juga karena dia sering gangguin Doni sama Karmila yang lagi dimabuk kepayang.


"Mas Bagas, gak lama lagi anak-anak kita lahir." ujar Dara.


"Iya Sayang, rumah ini bakal rame banget." Bagas terkekeh membayangkan ia yang akan kerepotan karena anak-anaknya.


"Kalau mereka udah lahir terus gede, kamu mau punya anak lagi?" tanya Dara sambil menatap suaminya.


"Mau dong. Aku mau punya banyak anak. Kalau perlu lima." sahut Bagas semangat.


"Aku bakal bengek tiap tahun." Dara segera menepuk jidatnya membayangkan dirinya yang akan hamil sepanjang tahun.


"Gak papa, aku senang kalo kita punya banyak anak." kata Bagas lagi.


Dara udah ngos-ngosan sendiri ngebayangin perutnya yang akan membulat terus-terusan nanti. Ia jadi garuk-garuk kepala, merasa khayalan mereka kelewat jauh saat ini, duo gondrong aja belum lahir.


"Minggu depan Kevin sama Ratih menikah. Kita cari baju yuk besok, sekalian lengkapin peralatan baby." ajak Bagas yang segera disahuti Dara dengan anggukan.


"Kamar yuk, Mas. Aku ngantuk."


Bagas setuju lalu segera merangkul istrinya masuk ke dalam kamar. Mereka naik melalui lift yang ada di tengah-tengah tangga melingkar rumah besar itu. Bagas sengaja membuat lift di rumah itu sebab tangga rumahnya cukup tinggi dengan banyak anak tangga.


Ia takut Dara nanti kecapean kalau sering naik turun tangga. Desain rumah Bagas mewah tapi klasik membuat mata betah memandangnya berlama-lama.


"Tidur ya." Bagas mengecup kening Dara lembut lalu mencium perutnya juga.


Sepanjang malam menjelang subuh Dara jadi gelisah. Perutnya tiba-tiba mulas.

__ADS_1


"Mas ... " Dara membangunkan Bagas yang masih tertidur.


"Kenapa?" Bagas mengucek-ngucek matanya.


"Aku sakit perut, mau ke wc tapi gak kuat jalan." ujar Dara sambil meringis.


"Aku bantuin yuk." Bagas segera turun, membantu istrinya turun dari ranjang. Tapi baru saja mereka turun, sesuatu terasa mengalir dari sela paha Dara.


"Yang ... " Dara menghentikan langkah. Ia menunjuk kakinya yang sudah mengalir air.


"Sayang, kamu gak tahan ya sampe pipis sebelum nyampe ja*ban." kata Bagas yang segera mempercepat langkah menuju kamar mandi.


"Ini kayaknya bukan aku pipis, Mas." desis Dara pelan.


"Gak papa Sayang, gak usah malu. Aku kan udah lihat dari sekedar air pipis." racau Bagas lagi.


"Enggak loh, Mas. Ini keluar sendiri tanpa ada hasrat aku pengen pipis. Ini ketuban aku pecah kayaknya." gumam Dara lagi.


"Oh ...." sahut Bagas singkat. Tapi detik berikutnya ia malah memekik. " Apa?! ketuban?" Bagas segera menyingkap dress istrinya melihat dengan seksama air itu lalu secepat mungkin membawa Dara turun.


"Aduh ... Bisa cepat dikit, Mas." Dara udah gak kuat, ia mencengkram kursi mobil yang sedang didudukinya dengan kuat.


"Iya, Sayang sabar ya." Bagas menyetir dengan fokus sambil sesekali mengelus perut istrinya dan mengusap keringat yang mulai keluar dari kening Dara.


"Mas, anak kamu pasti lagi rebutan mau keluar duluan." Dara udah pasrah, sambil nahan sakit perut ia meraih air mineral yang ada di dashboard dan minum dengan perlahan.


Sampai di rumah sakit, Dara segera di sambut oleh perawat UGD yang bertugas dan langsung di antar menuju ruang persalinan.


"Pak Bagas ... "


"Bagas Gumilang, Bu Dok." Bagas segera menyambut tangan dokter yang kebetulan dinas malam juga malam itu. Sebelum dokter salah kira lagi.


"Wah udah mau lahiran aja dede." Dokter segera mempersiapkan diri sementara perawat mulai memeriksa pembukaan.


"Udah buka delapan, Dok." ujar perawat. Dara hanya bisa meringis sementara Bagas berusaha tetap menenangkan istrinya.


"Tahan ya, Sayang. Bentar lagi anak kita lahir." Bagas jadi cemas banget lihat Dara udah pucat juga meringis kesakitan. Dara sendiri serasa mau jatuh dari ranjang setiap kali kontraksi semakin sering datang menyerang.

__ADS_1


"Ibuk ... " Dara memanggil ibuk yang lagi cemas juga dalam tidurnya. Ia gelisah, dan terbangun terpikirkan Dara.


"Sayang, aku disini. Nanti aku telepon Ibuk sama Bapak, Ya. Kamu harus berjuang." Bagas mencium kening istrinya berulang kali.


"Mas Bagas, aku mau eek rasanya. Mau ngeden gitu." Suster yang mendengar segera melakukan pengecekan lagi.


"Dok, pembukaan lengkap!"


Dokter langsung memberikan aba-aba pada Dara. Juga meminta bantuan Bagas untuk membantu menahan kaki Dara, mengingat ada dua nyawa yang harus segera lahir dari rahim istrinya.


"Dokter, saya udah gak kuat." keluh Dara.


"Bu Dara ikuti instruksi saya ya, tarik nafas, hembuskan. Kalau capek katakan, istirahat dulu."


Dara mengangguk lalu segera mengejan. Melahirkan pertama ini membuat Dara hampir kehabisan tenaga. Rambut anaknya yang hitam terlihat tapi masuk lagi, bikin Dara frustasi berat.


"Dok, kenapa anak saya keluar masuk begitu, dede gondrong keluar ayok, kasihan Mami udah ngeden terus." Bagas ngomong sama anaknya yang udah kelihatan rambutnya terus masuk lagi.


"Sakit Mas Bagas, Sakit." Dara udah nangis, Bagas yang gak tega ikutan nangis juga.


"Dokter mau diapain?" Bagas udah was-was lihat dokter pegang gunting medis.


"Kita lakukan episiotomi ya Pak, untuk memudahkan jalan lahirnya."


Bagas akhirnya mengangguk. Dara menjerit tertahan sambil gigi tangannya Bagas sewaktu gunting itu menyayat dirinya. Bagas gak papa, mau dikasih Dara bogem mentah juga gak papa, kalau itu bisa meredakan sakitnya.


"Arrrrrggghh!" teriakan Dara membahana saat satu bayi gembul keluar dari sana. Putih dan rambutnya lebat sekali, positif gondrong. Bagas udah haru banget lihatnya.


"Satu lagi, bu dara, mumpung jalan lahirnya masih terbuka lebar."


Dara yang sudah kehabisan tenaga menatap Bagas, dia lemas. Tapi masih ada lagi bayinya yang belum keluar.


"Satu gondrong lagi, Sayang." bisik Bagas sambil mencium bibir Dara lembut. Para perawat jadi baper kan lihat adegan itu. Jadi pengen hamil terus ngelahirin juga kan mereka.


Dan satu teriakan terakhir Dara akhirnya mengiringi kelahiran kembaran putra pertama yang telah lahir duluan. Tapi Bagas surprise lihat bayi tampannya yah satu lagi ini.


"Sayang ... kamu kebanyakan ngidam cilok, cimol sama lampu neon, dede botak." Bagas menatap anaknya melongo. Sementara bayi botak menangis lihat Bagas. Mungkin dia ngerasa beda, bapaknya gondrong dia botak kayak lampu neon.

__ADS_1


__ADS_2