
Karena Bagas sudah menambah dua orang lagi yang tahu tentang Ratih selain Dara, ia jadi lebih lega sekarang. Yang kemarin makan dan tidur tak tenang, sekarang sudah jauh lebih santai.
Bagas juga sempat menunjukkan foto Ratih pada kedua temannya. Masih ia ingat betapa antusiasnya kedua makhluk itu saat melihat foto gadis cantik dengan lesung pipi yang sedang tersenyum.
"Cakep gini, Gas." Komentar pertama dari Kevin langsung disetujui Doni dengan cepat. Sebab kalau bahas masalah cewek cantik kedua orang ini memang paling cepat tanggap.
"Terus kenapa lo gak bilang sama bokap lo tentang kejadian ini. Bokap lo pasti gak bakal mikir kalo elo tuh cuma mau hartanya dia doang. Kalo udah kayak gini, ya elo udah terlanjur minus di mata bokap. Belom lagi reputasi lo yang sering gonta ganti cewek dulunya." protes Doni yang masih tidak terima karena Bagas sudah menyembunyikan hal sepenting ini dari mereka berdua.
"Lo kan tahu jiwa bertanggungjawab bokap gue gimana. Kalau aja dia tahu gue udah bikin cacat anak orang sampe kehilangan laki-laki yang dia cinta karena gue, bukan gak mungkin bokap gue bakal nikahi gue sama dia nanti. Gue gak mau. Lagian waktu itu gue udah serius sama Angel, sebelum ketemu Dara maksudnya."
Dari apa yang dijelaskan Bagas, jelas kedua sahabatnya itu tahu bahwa Bagas memang tidak mau menikah dengan perempuan lain walaupun waktu kejadian itu ia belum bertemu dengan Dara.
"Gue mau menikah dengan Dara dan semudah itu mutusin Angel, kayaknya jiwa-jiwa petualang cinta kalian ngerti kan arti lain dari kata-kata ini?"
"Iya paham gue, logikanya sama Dara yang nyebelin kata lo waktu itu lo mau nikah, tapi sama Ratih, maaf yang udah lo bikin cacat, malah gak bisa walaupun itu atas dasar tanggungjawab. Gue ngerti, Gas." Kevin menyahut sambil manggut-manggut.
"Nah tuh lo pinter. Jadi maksud gue, kalau seandainya Ratih minta gue nikahin dia karena kondisi dia sekarang, gue berhak nolak kan? walaupun kecelakaan itu karena gue. Jujur, gua gak bisa kalau harus nikahin dia. Gak bisa. Sumpah mati gue mending kehilangan harta daripada kehilangan Dara."
"Alah bucin banget lo sekarang. Geli gue dengernya." sahut Doni sambil melempar tisu ke wajah Bagas.
"Gue setuju sama lo, Gas. Tanggung jawab sama perasaan itu jelas dua hal yang berbeda. Di sini elo udah lakuin yang terbaik buat Ratih sampai bela-belain jadi donatur tetap buat panti asuhan orangtuanya. Lo juga tetap bawa dia terapi. Itu udah lebih dari cukup. Lagian, sorry ya, Gas. Gue gak dukung segala bentuk poligami. Walaupun gue bre*ngs*k, tetap aja gue gak mau punya istri lebih dari satu apalagi atas nama tanggungjawab dan rasa empati." Kevin menimpali dengan wajah serius.
"Pernikahan itu komitmen seumur hidup." lanjut Kevin lagi.
__ADS_1
Ketiganya terdiam cukup lama. Pembahasan pagi ini sensitif sekali. Makanan mereka saja sampai tak habis. Membahas hal seperti ini ternyata mampu membuat mereka kehilangan selera makan.
"Apa yang bakal lo lakuin kalau bokap lo tahu dan minta elo nikahin Ratih?" tanya Doni.
"Gue gak akan bisa. Gue akan nolak semua itu."
"Termasuk dengan resiko kehilangan semua harta bokap lo?"
Bagas terdiam, akhir-akhir ini ia sering sekali di hadapkan pada pertanyaan berat yang membuat beban otaknya jadi semakin banyak.
"Iya, gue pilih Dara. Gue gak mau berbagi cinta. Kalau itu memang terjadi, gue bakal mundur dari daftar ahli waris. Biarlah gue dianggap gak baik." putus Bagas akhirnya.
"Lo udah baik kok. Lo udah tanggungjawab. Gue cuma berharap, Ratih gak naruh harapan lebih dari lo selama ini." timpal Kevin memberi dukungan pada Bagas.
Tapi ia bersyukur, di tengah otak mereka yang sedikit eror, ternyata masih terselip pikiran bijak yang bisa membuat Bagas tidak merasa bersalah terlalu dalam.
Betul kata Kevin dan Doni, tanggungjawab dan perasaan adalah dua hal yang berbeda. Keduanya tidak bisa di tempatkan pada satu situasi yang sama.
Bagas bukannya tak tahu, bahwa Ratih menyimpan perasaan padanya. Tapi Bagas tidak mau menyinggung hal itu. Ia selalu menegaskan bahwa Ratih tak lebih dari seseorang yang sudah ia anggap adik sendiri terlepas dari kejadian setahun yang lalu yang berujung dengan kondisi terbatas Ratih sekarang.
"Gas, semuanya bakal baik-baik aja lagi. Nyantai aja lo." Doni menepuk-nepuk pundak Bagas.
"Kalo pun lo bakal jadi gembel karena dicoret dari daftar ahli waris, kita bisa kok bantuin lo."
__ADS_1
Mendengar kalimat blak-blakan itu tak urung buat Bagas tertawa lebar.
"Kalo gue jadi gembel, gue cuma minta satu hal sama kalian."
Doni memandang Bagas dengan kening berkerut.
"Gue minta elo ya, Don, ngurusin si Jordi dan elo Kev, urusin si Kimung. Gue cukup ngurusin Dara."
"Ogah gue Jordi mulutnya ember begitu, bisa ketahuan sepak terjang gue kalo cewek-cewek gue pada ke rumah."
"Alah, lo juga kok yang sering ngajarin dia ngomong gak bener. Tanggung jawab lo, Don." ujar Bagas menuntut.
"Udah-udah, kayak bakal jadi gembel beneran lo, Gas. Bokap lo pasti gak setega itu juga sama lo." Kevin berusaha menengahi keduanya dari perdebatan tentang Jordi, Beo yang suka bikin ulah.
"Lo gak tahu aja gimana bokap gue." Bagas tertawa kecut.
"Saran gue nih, lo ajak tuh si Dara nyamperin Ratih dan keluarganya. Biar mereka semua pada tahu kalo elo udah punya istri dan akan memperkecil kemungkinan Ratih jadi menaruh harapan bakal lo kawinin. Mungkin emang terdengar kejam ya, tapi kalo gue jadi lo, gue bakal tetap lakuin itu. Lagian lo udah bertanggung jawab selama ini. Itu lebih dari cukup. Ya, namanya musibah gitu, Gas. Siapa yang bakal bisa ngehindar sih?"
Lagi-lagi saran dari Kevin bikin Bagas semakin tenang dan lebih punya semangat untuk menghadapi masalahnya selama ini.
Doni? jangan ditanya. Biarpun tetap mendukung penuh apa yang dikatakan Kevin, tapi ia tidak bisa memberi nasihat atau saran sebaik yang Kevin berikan. Lihat saja sekarang dia malah sibuk godain anak gadis ibu kantin yang kebetulan punya muka cakep.
Tapi kalau urusan ngajarin Jordi ngomong jorok juga ngejek Bagas, Nah itu gurunya. Jordi aja udah nganggep Doni suhunya. Makanya Jordi setia banget jadi murid Doni sampe sekarang.
__ADS_1