
Beneran kan balik ke ruang perawatan tanpa cimol yang udah bikin mami ngiler dan menelan ludah berkali-kali, akhirnya bikin mami jadi manyun aja sepanjang jalan kenangan. Salah, sepanjang hari maksudnya.
"Maafin Keke ya Nyah, beneran ini salah kang cimol. Keke kesitu udah abis." Keke langsung nyalahin kang cimol. Kan yang salah Keke, sibuk makan botak berkuah akhirnya botak berbumbu gak kebagian. Keke lagi cari aman, biar mami memberi pengampunan perihal cimol yang udah kehabisan itu.
"Bohong Nyah, Tuti jadi saksi Keke keasyikan makan botak sampe kepedesan makanya Keke lupa beli cimol duluan."
Tuti yang baru masuk ke ruang perawatan itu membuat mami yang udah bisa nerima penjelasan Keke, jadi melotot deh sekarang. Mami kembali mencebik. Pipinya menggelembung lucu. Keke udah kesal setengah mati sama Tuti, awas aja kalo nanti mau pinjem skincare, gak bakal Keke kasih!
"Duh, chubby banget sih." Bagas mencubit pipi istrinya terus menggerakkannya ke kiri dan ke kanan.
"Aku pengen loh Mas." adu Dara masih dengan mode merajuk.
Ondrong sama Neon udah gak peduli lagi sama cimol. Mereka lagi sibuk berlarian sambil membawa balon Upin dan Ipin mengitari ruangan luas itu.
"Nanti kita beli ya. Makan yang ada aja dulu deh Sayang. Nih, aku suapin semangka ya."
Dara yang memang sudah lapar dan pengen ngemil akhirnya menerima setiap suapan semangka yang sudah dipotong dadu dari suaminya. Kembali, ada pemandangan romantis menyesakkan dada terpampang nyata. Bikin dua jomblowati jadi baper berjamaah.
Bagas lagi fokus memperhatikan istrinya yang lagi asyik mengunyah. Dia tersenyum, diperhatikan lebih seksama, mami emang lebih padat dan berisi. Pipinya jadi chubby gak tirus lagi.
"Kenapa sih lihatin terus?" Dara udah bersemu merah ketika sadar suaminya terus memandang dirinya.
"Gak papa, suka aja lihatnya." sahut Bagas tanpa menghentikan keasyikannya memandang Dara.
"Pasti kamu mau ngeledek aku gendut ya?"
Ditanya begitu Bagas gak jawab, cuma senyum penuh arti yang berarti jawabannya bisa iya bisa tidak. Dara jadi mencubit perut Bagas gemas karena suaminya tak berhenti memperhatikan dia sedari tadi.
"Iya, kamu chubby sekarang." sahut Bagas akhirnya sambil terkekeh geli dan menghindari setiap upaya cubitan dari sang istri.
"Aku gendut banget ya Mas." Dara segera meraih ponsel, membuka menu kamera lalu memperhatikan dirinya yang memang lebih berisi sekarang. Perasaan, waktu hamil kembar gak seberisi ini loh dia, padahal anaknya waktu itu dua. Apa karena sekarang Dara suka sekali makan yang manis-manis jadi pengaruh banget ke berat badannya yang udah naik entah berapa kilogram.
__ADS_1
"Gak papa kok, gitu aja masih seksi loh." jawab Bagas santai.
Bagas gak pernah mempermasalahkan keadaan fisik istrinya saat ini. Bagi dia ya wajar aja, namanya juga lagi hamil. Apa aja jadi membengkak. Buat Dara juga ngaruh ternyata. Istrinya sekarang berisi tak langsing lagi.
"Yang penting bayi apem sehat, maminya sehat. Gendut gak papa kok kan nanti habis lahiran bisa langsing lagi. Terus kalo gini kamu jadi lucu, pipinya jadi tembem." kata Bagas lagi menghibur istrinya yang lagi gundah.
Mendengar kalimat menghibur dari suaminya itu, akhirnya mau gak mau, Mami Dara jadi senyum. Beneran kok dia emang gendutan sekarang, tapi kan nanti bisa langsing lagi.
"Besok udah bisa pulang kan?" tanya Bagas.
"Udah kok Mas, lagian aku gak mau lama di rumah sakit. Gak enak gak bisa ngapa-ngapain." keluh Dara.
"Iya gak bisa begituan ya Mi." celetuk Bagas, membuat Dara melemparkan bantal ke wajah suaminya itu dengan gemas.
"Kamu tuh pikirannya begituan aja deh."
"Ya apalagi, aku kalo lihat kamunya begituan mulu." balas Bagas gak mau kalah.
"Begitu banget sih Nyonya." sahut Tuti sewot.
"Yeee, Tuti sensitif banget. Gini nih kalo jomblo ngenes." goda Dara bikin Tuti jadi manyun.
"Keke enggak kok." timpal Keke sok kuat. Padahal dia udah sedih banget tuh karena nasibnya sama aja kayak Tuti.
Bagas biarin aja istri dan kedua pekerja rumah tangganya itu saling bersahut-sahutan. Dia udah nemenin anak kembarnya main.
"Pi, keluar yok. Ondrong lihat banyak cewek cantik." bisik Ondrong pada papi. Tapi mami bisa dengar dong. Jadi sekarang dia lagi sibuk berceloteh dengan Tuti dan Keke sambil lirik-lirikan ke arah papi dan anak-anak yang lagi serius bahas soal cewek cantik.
"Ondrong lihat dimana?" tanya papi sambil berbisik pula.
"Ada, banyak loh Pi. Tadi masuk ke ruangan mami juga."
__ADS_1
Mami udah siaga penuh dengan gerakan siap menguping lebih jauh pembicaraan sensitif yang lagi dibahas para pria tampan itu.
"Pake baju apa cewek cantiknya?" tanya papi semakin gencar. Dia sadar dari tadi Dara udah sibuk menguping dan sengaja mau bikin istrinya kepanasan.
"Pake baju putih, Pi."
"Duh, baju putih lagi. Seksi gak?"
Papi cari mati deh. Lihat mami udah pegang gunting tu.
"Seksi kok Pi. Tapi ada banyak Pi, di luar sana. Ayo lihat yok. Ondrong mau kenalan."
"Gitu ya? cantik mana sama Mami?" tanya Bagas memancing. Dara udah siaga penuh. Siap unjuk aksi hatinya yang udah cemburu.
Ondrong tampak terdiam. Neon yang dari tadi cuma dengar mendekati mereka sambil berlari membawa balon.
"Cantikan Maminya Neon. Cuma Mami yang paling cantik." kata Neon sambil berlarian bawa balon Upin dan Ipin.
Mendengar itu, Dara gak jadi ngambek, Dia senyum manja ke arah Neon yang tampak tak peduli area sekitar dan masih sibuk bermain.
"Iya, cantikan Mami." Ondrong tertawa memamerkan deretan giginya yang putih. Mami jadi makin tersenyum. Dipuji anak sendiri bikin Dara kesemsem.
"Nah kalo cantikan Mami, kita di dalam aja ya." kata Bagas akhirnya. Dara jadi makin tersenyum lebar, dipuji tiga pria hebat yang paling berarti dalam hidupnya itu.
Terlebih saat Bagas berjalan ke arah Dar terus cium pipinya mesra berulang kali. Lihat itu Ondrong dan Neon jadi ikutan naik ke atas ranjang rawat mami. Mereka bergantian cium pipi mami. Bikin Mami tergelak bersama suami dan anak-anaknya itu.
Moon maap itu bisa di cut adegannya. Kasihan beneran sama Keke dan Tuti yang lagi merenungi nasib. Kapan gitu mereka bisa begitu.
"Tuti siapa yang cium Ke?" tanya Tuti ngenes.
"Pak Mamat aja, Keke biarin jomblo seumur hidup." jawab Keke bikin nyesek.
__ADS_1
Tuti udah mandang jendela kamar rawat inap. Dia jadi pengen terjun bebas deh. Sekian tahun jomblo bikin hati merana apalagi sekarang jadi sering lihat pemandangan manis di depan mata. Gak papa Ti, loncat aja. Gak bakal mati, lah tempat perawatannya di lantai satu kok. Paling cuma patah pinggang doang.