CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
Kangen Ibuk Bapak


__ADS_3

Semenjak Dara hamil, dia udah jarang pulang ke kampung halaman. Rindu pada bapak dan ibuk kadang bikin Dara nangis sedih. Tapi gak pernah ditunjukkan di depan Bagas. Pernah suatu kali Dara habis nangis teringat ibuk sama bapak, matanya nampak merah buat Bagas jadi bertanya.


"Kena bawang merah, Mas Bagas. Jahat memang bawang merahnya." kilah Dara gak mau buat Bagas jadi kepikiran juga.


"Beneran? tapi kok lain ya, kayak ada sesuatu yang kamu pikirin." Bagas yang baru selesai mandi dengan rambut gondrongnya yang masih setengah basah, duduk di samping Dara yang sudah berbaring menyamping.


"Gak ada kok, Mas. Beneran deh aku gak papa."


"Ya udah kalo gitu. Kamu bobo aja ya, nanti bentar lagi aku pijitin kakinya." Dara mengangguk dan tersenyum.


Membawa beban berat di perut memang bikin Dara cepat sekali pegal-pegal. Bagas yang udah dapat nasihat dari dokter kandungan, sekarang jadi rutin mijit kaki istrinya setiap mau tidur.


"Pijitan kamu enak loh, Mas. Kamu kalo buka panti pijat pasti rame yang datang." ujar Dara sembari terkekeh geli.


"Iya yang datang perempuan semua, Yang. Mau kamu aku mijit orang lain?" sahut Bagas sambil tertawa menanggapi kelakar Dara barusan.


"Gak gak! gak jadi, kamu gak cocok jadi tukang pijit." Dara udah mencak-mencak gak setuju.


"Mancing sih, ngedumel sendiri kan jadinya." ujar Bagas lagi.


Dara pasang wajah jutek kemudian. Bagas buru-buru menetralisir keadaan dengan langsung memeluk istrinya itu sambil mengusap-usap punggungnya.


"Dih ngambek ya? aku becanda kok. Mana aku mau mijit perempuan lain. Istri aku udah seksi begini."


Mendengar itu Dara jadi mengulas senyum. Bagas paling bisa bikin dia gak marah terlalu lama.


Di kantor, Bagas juga perhatian banget sama istri. Dia juga gak segan menunjukkan romantisme di depan karyawan. Mau dikatain lebay persetanlah, yang penting Nyai dan Jeki happy, tinggal yang jomblo gigit jari, meratapi nasib ngenes mereka yang gak juga ketemu pasangan sehati.

__ADS_1


Suatu hari Bagas dibuat heran sama Dara yang sering banget lihat brosur jual beli mobil. Jelas aja Bagas heran karena Dara itu gak bisa bawa mobil, dia cuma bisa bawa motor itupun yang matic.


Dulu Bagas pernah tawarin Dara buat beli mobil tapi Dara bilang gak mau. Lagian mobil Bagas aja cukup katanya buat kemana-mana. Tapi sekarang diam-diam Dara sering banget lihat brosur mobil ngumpet di tasnya Dara, bikin Bagas curiga jangan-jangan ada yang pengen beliin mobil buat istrinya.


Bagas jadi ketar ketir. Tapi gak mau gegabah asal tuduh meskipun lidahnya udah gatel banget mau tanyain Dara. Sampai suatu hari, Bagas mergokin Dara ke showroom mobil sendirian, naek ojek pula. Niatnya Bagas mau nge gap cowok yang udah berani nawarin mobil sama istrinya sekalian pengen dia patahin juga rahangnya.


Tapi Bagas gak lihat ada laki-laki yang nyamperin Dara. Kecuali laki-laki yang memang bekerja di showroom itu, dan itu yang jenisnya tulang lunak juga kemayu, itu bisa dibuktikan dengan alisnya yang ditebalin udah mirip sinchan sama bibirnya yang pake gincu.


Tampak pula wajah Dara nampak kecewa setelah keluar dari showroom. Bagas jadi tambah curiga dong sama Dara. Tapi tetap gak bikin Bagas gegabah buat langsung nanya marah-marah sama Dara. apalagi malamnya Jeki lagi kebelet pengen minta jatah. Terpaksa hasrat marah teredam sementara berganti dengan hasrat e*a-e*a.


Besoknya, Bagas langsung pergi tuh ke showroom dengan pelayan yang sama. Pria kemayu yang sekarang pakai bando ungu bikin dia tampak unyu-unyu. Gaya jalannya nyamperin Bagas gemulai dengan lenggak lenggok mirip itik entok, bikin Bagas yang lihat jadi ngeri, takut pinggangnya abang gemulai nanti patah.


"Selamat siang Mas Bagas, rambutnya semakin gondrong, mau ngalahin Anggun bintang shampo Pantene ya?" sapa pria gemulai penjaga showroom dengan name tag Patricia namun, di akte kelahiran namanya adalah Patrick.


"Siang juga Mbak Patricia. Wah lama tak berjumpa, Mbak Patricia semakin menunjukkan eksistensinya ya." balas Bagas yang langsung disambut cubitan super gemas oleh lelaki bertulang lunak itu.


"Begini Mbak, kemarin inget gak ada perempuan hamil ke sini?"


Mas Patricia tampak mengingat lalu mengangguk.


"Oh Mbak yang susunya silikon itu ya?".


"Enak aja Mbak ini, asli itu Mbak. Anugerah yang maha kuasa, bukan buatan manusia yang isinya gel semua." Bagas langsung meralat tebakan mas Patricia karena tak terima istrinya difitnah oleh manusia setengah jenis ini.


"Lho kok Mas Bagas tahu? Jangan-jangan ... "


"Ya tahu lah Mbak, orang itu istri gue kok. Namanya Dara, lagi hamil anak gue juga kok makanya perutnya gede." potong Bagas. Sekarang giliran Mas Patricia yang bengek. Dia sama sekali gak percaya perempuan yang nanyain harga mobil itu istrinya CEO gondrong idola sejuta umat itu.

__ADS_1


"Beneran, Mas gondrong? aku sesak nafas loh ini." Mas Patricia menekan dadanya karena shock.


"Mbak Patricia nanti aja bengeknya ya. Jadi gue mau tanyain, ngapain istri gue ke sini kemarin? ada yang mau beliin dia mobil ya?" tanya Bagas tidak sabaran karena melihat Mas Patricia masih aja dengan kebengekan akutnya.


"Gak loh Mas Bagas. Jangan sudzon dulu. Jadi kemarin, Mbak cantik itu memang ke sini, terus dia nunjukin salah satu foto mobil yang paling murah harganya di sini. Saya tanyain buat siapa, ternyata buat Bapaknya di kampung. Tapi karena uangnya masih kurang, jadi beberapa bulan lagi katanya dia baru bisa ambil." jelas pria tulang lunak itu akhirnya.


Bagas terdiam sesaat. Jadi itulah alasan Dara tidak mau mengatakan yang sesungguhnya pada Bagas. Brosur-brosur mobil itu juga sengaja di sembunyikan agar Bagas tidak tahu dan tidak merasa direpotkan.


Bagas tersenyum kecil. Ia mengusap wajahnya sendiri sambil tak bisa menahan senyum yang terkembang.


Ah Nyai, jadi makin sayang aku padamu. Bagas membatin.


"Mbak Patricia, gue mau mobil yang paling mahal yang kalian jual, tapi lo mesti kasih tahu showroom kalian yang cabangnya di Malang. Nanti kalian kirim ke alamat ini." Bagas segera memberi alamat kedua orangtuanya Dara yang segera dicatat dengan cepat oleh Mas Patricia.


"Beres Mas Bagas, duh beruntungnya Mbak Dara punya suami kayak Mas Bagas. Eike jadi pengen juga deh." ujar pria gemulai itu sambil mencolek dagu Bagas.


Bagas tertawa saja melihat tingkah lelaki setengah perempuan itu. Ia segera keluar dari showroom setelah melakukan transaksi pembayaran mobil.


Bagas juga sudah berpesan kepada Mas Patricia agar pembelian mobil itu atas nama Dara jadi orangtuanya tahunya Dara lah yang telah membeli mobil tersebut.


"Sayang, makan yuk. Laper nih." ujar Bagas sekembalinya ia dari showroom. Dara yang selalu ceria dan selalu mood kalo diajak makan langsung mengiyakan.


"Kenapa sih kamu kok senyum terus dari tadi. Abis ketemu mantan ya?" tuding Dara sambil menatap suaminya curiga saat mereka sedang berjalan menuju kantin.


Bagas menggeleng.


"Bahagia karena punya istri gak neko-neko kayak kamu ini." Bagas memencet hidung Dara sesaat.

__ADS_1


Dara hanya menatap suaminya bingung tapi ia tak mau ambil pusing. Apalagi saat ini perutnya memang sudah lapar minta diisi. Tidak baik berdebat di depan makanan, nanti bisa mengakibatkan ia makan sambil kesurupan. Dara gak mau makan banyak, ia udah begah. Mau nafas aja sekarang susah. Perutnya juga suka gerak-gerak. Dara ngeri duo gondrong lagi jambak-jambakan di dalam sana. Belum juga lahir keduanya sudah aktif sekali, kebayang kan kalau udah lahir gimana hebohnya kedua pasangan suami istri itu nanti.


__ADS_2