
Pagi hari ketika Bagas dan Dara sudah mau memasuki ruangan, seluruh karyawan sampai tukang parkir perusahaan jadi sering lihat mereka dengan tatapan curiga. Berita tentang Pak bos yang ketahuan pergi beli tespack bareng sekretaris bermata empat langsung jadi tranding topik.
Para karyawan semuanya datang lebih pagi dari biasanya, lebih cepat lima menit doang sih sebenarnya. Mereka sangat penasaran sebenarnya bos gondrong ada hubungan apa sama Betty Lapea. Yang dicurigai sih santai aja, mereka melenggang tidak peduli pada tatapan ingin tahu yang begitu membuncah.
"Gue yakin, Dara itu simpanannya bos gondrong." Tina mulai mengompori para paparazi dadakan yang lain yang segera manggut-manggut.
"Gak bisa dibiarin, kalau mereka memang ada main, kenapa mereka diam aja! dulu bos gondrong gak pernah tutupin hubungannya sama sekretaris-sekretaris yang dulu. Tapi sama Dara kayaknya ada yang beda. Apalagi nih, gue lihat sendiri mereka abis beli tespack!"
"Nanti pas jam makan siang pokoknya kita harus dengar langsung dari Dara apa yang sebenarnya udah terjadi."
Yang lain mengangguk setuju. Tina harus bisa memancing si Betty keluar dari sarangnya, karena sekarang sekretaris andalan bos gondrong udah jarang banget nimbrung di kantin. Padahal udah banyak banget yang kangen sama bakwan jagung buatan Dara yang katanya lebih gede ukurannya daripada bakwan jagung yang dijual di kantin.
Alasan aja sih mereka, bilang aja lagi pada bokek makanya ngarep dapat cemilan gratis. Apalagi yang pada ngekos, di saat bulan pertengahan gaji yang lumayan gede udah pada habis buat bayar kredit ini itu. Ada yang sampai diteror depcollector sampai ke perusahaan segala. Bikin pak satpam harus kerja ekstra buat ngusir itu para penagih janji, janji mau bayar cicilan maksudnya.
"Tin, bilang Dara kalo dia ke kantin sisain buat gue dikit ya bekalnya."
"Gak modal banget lo, pantesan lo jomblo sampe mampus." sahut Tina, terdengar kejam bagi para bokekers yang ada di sana.
"Sialan lo, emang bekalnya Dara tu enak, beda sama lo. Masak nasi aja masih mentah." timpal pria berkumis tebal yang mirip pak Raden tadi.
"Enak aja, itu nasinya ibu kantin yang belom mateng. Lo belum nyoba aja masakan gue." sanggah Tina cepat.
"Emang lo bawa apaan?" tanya pria berkumis tadi, nampaknya ia mulai tertarik.
__ADS_1
Tina lantas meraih bekal makan siangnya lalu menunjukkannya pada Pak Raden KW. Pak Raden langsung pengen menjitak jidat Tina saat lihat apa isi bekal gadis itu.
"Ya elah Tina, telor ceplok doang, sepupu gue yang masih bayi juga bisa masak ini. Sambil merem gak pake nengok. Gak cocok lo jadi calon bini, lihat tu telornya udah mendekati sakaratul maut, udah bengek sampe gosong begitu."
Si pria berkumis tebal tadi langsung lari terbirit-birit saat Tina mulai melepas sepatu yang maksudnya pengen di tampol ke pria berkumis tebal tapi sekarang sepatu pansus nya malah nemplok di kepalanya pak satpam yang lagi patroli.
"Sialan, sepatu siapa nih woi nemplok di kepala gue, mana ada bau eek kucing lagi." Pak satpam melempar kesal sepatu Tina ke sembarang arah yang sekarang malah nemplok manja di atas perut tukang parkir yang lagi tidur di atas trotoar.
Si tukang parkir yang kebetulan abis mimpi jadi pangeran di cerita Cinderella, langsung berbinar begitu melihat sepatu pansus yang bukan sepatu kaca dan sedikit berbau khas, khas Kimung kalo udah kebelet eek. Baunya sungguh terlalu. Sepatunya cuma sebelah, berarti ia harus mencari pasangan sebelahnya lagi untuk menemukan pasangan hidupnya.
Tina yang udah tahu bakal jadi inceran si tukang parkir langsung kasih sebelah sepatu yang masih melekat ke Ibu Tukiyem yang udah lama menjanda, itu lebih baik, daripada dia yang berjodoh sama si tukang parkir yang udah ilang giginya sepuluh.
Tina jadi nyeker sepanjang jalan. Di kantin sambil nungguin Dara yang gak kunjung tiba bawa bakwan juga pengakuan, akhirnya membuat konferensi pers jadi gagal total.
Keduanya lagi asyik makan bakwan sama cocolannya saus pedas yang sengaja Dara bawa dari rumah.
"Biarin aja, Yang. Biar mereka pada nyari tahu sampai nanti tahu beneran." balas Bagas dengan sudah kepedasan tapi tetap aja nekat nyocolin saus pedas ke mulutnya.
"Nih, si Tina dari tadi telepon aku mulu." Dara menunjukkan layar ponselnya dengan satu panggilan masuk.
"Nanti kita adain resepsi, biar mereka gak penasaran lagi." sahut Bagas santai yang langsung disambut tatapan berbinar oleh Dara.
"Tapi nanti kalau mereka tahu aku istri kamu, mereka pada ngiri dong, kan gak boleh satu kantor sepasang suami istri."
__ADS_1
"Ngomong apa sih? kan kamu istri aku, yang punya perusahaan ini." Bagas mencubit pipi Dara gemas, karena ternyata setelah berisi junior gondrong pun, Dara ini polosnya masih belum bisa naik level juga.
"Oh iya, ya." Dara terkekeh geli.
"Jadi kapan kita resepsi?" tanya Dara.
"Gak lama lagi, kamu terima beres aja deh. Tapi habis resepsi harus ada pengulangan first night loh." ujar Bagas tak mau rugi bikin Dara langsung mencocolkan bakwan ke mulutnya.
Keduanya tertawa ngakak dengan para paparazi yang udah nempelin kuping ke tembok sampai udah mirip cicak-cicak di dinding. Tapi tetap aja mereka gak bisa dengar apapun juga.
Akhirnya karena tidak mendapatkan berita terbaru, kisah misteri foto bos gondrong yang lagi beli tespack bareng Dara di apotik tetap menjadi tranding topik tapi belum jelas kebenarannya, gak ada perkembangan bikin mereka jadi lesu karena gak ada yang bisa jadi bahan gosip.
Tina masih aja nyeker, dia gak mau ngaku sepatu yang ada di tangan tukang parkir ompong punya dia. Lebih baik dia nyeker daripada ngebaperin mas parkir yang giginya udah pada keropos semua.
"Gue aja mati-matian pake venner, masa pangeran gue gak punya gigi." dengus Tina kesal. Manalah nyeker, terus mesti makan telor ceplok buatan dia sendiri yang udah mau sakaratul maut karena hampir gosong. Rasanya pahit bikin dia akhirnya terpaksa beli lauk ibu kantin, telor sambel yang pedasnya bikin perut dia bengek mulas banget pengen bertemu kamar mandi secepatnya.
Waktu di kamar mandi Tina kepeleset karena ibu Tukiyem belum selesai nyiramin air bersih ke lantai yang masih penuh busa dan gak kelar-kelar dibersihin.
Baju Tina jadi basah, masa dia mesti gak pake baju juga setelah gak pake sepatu seharian di kantor.
"Sialan! apes banget sih gue hari ini!" Tina memukul-mukul lantai yang penuh busa dengan kesal.
Ini nih azab staff terlalu kepo sama atasan. Sialnya sampai bikin Tina pengen resign jadi ketua paparazi dadakan.
__ADS_1
Bu Tukiyem cuma bisa geleng-geleng. Perusahaan ini penuh dengan manusia kurang beres. Termasuk dia juga sebenarnya.