CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
Pertanyaan Tak Terduga


__ADS_3

Berita kehamilan mami akhirnya sampai juga di telinga kedua putra ganteng mereka. Di usia mereka yang baru lima tahun itu, keingintahuan mereka masih besar-besarnya. Apa saja bisa menjadi pertanyaan. Apalagi Aariz, jiwa paparazi bocah yang sekarang rambutnya udah mulai lebat itu sudah mulai terlihat sejak dini.


Aariz ini termasuk anak yang cukup bawel juga rasa ingin tahunya lebih besar daripada Aarash yang lebih suka menghabiskan waktu dengan bermain. Kayak siang gini nih, Dara sama Bagas dibuat pusing tujuh keliling akan pertanyaan Aariz yang gak bisa Bagas jawab.


Anaknya terus saja mendesak. Bagas jadi nyesel ngasih tahu berita bahagia ini. kalo gitu mending mereka rahasiakan saja tentang cikal bakal kehadiran adik. Karena sekarang Aariz itu ngekor kemana pun Bagas melangkah. Emang Aariz nanya apa sih sampe segitu pusingnya Bagas?


"Babeh, jadi kenapa ada dede lagi di dalam perut Nyak?" Bagas udah garuk-garuk kepala.


"Ehmmmmm, karena udah takdir." sahut Bagas berusaha meyakinkan anaknya.


"Kenapa nanti mami perutnya gede?"


"Karena dede juga tambah gede."


"Nanti dede tinggal dimana? kenapa belum keluar?"


"Karena perut mami belum gede."


Aariz jadi menghampiri mami, dia pegang perut Mami sambil berjinjit.


"Nyak, dede botak juga?"


Dara serasa mau kejengkang mendapat pertanyaan itu. Perutnya belum juga gede jangankan rambut, bentuknya aja belum sempurna. Dede sedang ngumpet di dalam perut mami jadi belom ketahuan rambutnya botak atau enggak. Dara sih jelasinnya begitu.


Sampe makan malam, Aariz masih aja sering nanya yang macem-macem.


"Abang Ondrong, kita mau punya dede."


"Ondrong udah tau." jawab Aarash sambil makan ayam goreng. Kesukaan dia bagian paha kayak punya upin dan ipin.


"Ondrong, coba tanya Babeh, dede kenapa belum keluar ya?"


"Sayang, makan aja dulu. Gak baik loh bisik-bisik di depan makanan." kata Mami mencoba membuyarkan acara bisik-bisik tetangga di antara kedua anaknya.


"Tapi Neon masih penasaran."


"Nanti Mami jelasin ya. Tapi kalian habiskan dulu makanannya."

__ADS_1


"Asyiiik, gitu dong Nyak. Ondrong sama Neon kan jadi lega." ujar Aariz sambil tertawa renyah.


"Neon aja, Ondrong enggak." celetuk Aarash masih dengan mengunyah paha ayam yang udah hampir habis. Aarash ini cool banget, Dara jadi sering melihat perbedaan keduanya melalui sifat. Selain karena rambut mereka, sifat keduanya pun berbeda. Aariz lebih bawel sedangkan Aarash lebih cool.


Saat malam tiba ketika Dara sedang mendongeng untuk mengantar tidur kedua anaknya, lagi-lagi Aariz nanya hal yang sama. Tadi Dara pikir Aariz udah lupa.


"Ehmmmmm, jadi nanti dede bakal lahir sama kayak abang-abang. Kejadiannya begitu aja gitu, lahir karena ada Mami sama Papi."


Kedua anaknya tampak melongo. Gak ngerti tapi ngangguk juga. Tapi setelah itu keduanya jadi ketawa.


"Nanti kalau kalian udah pada gede, Mami jelasin lagi ya. Sekarang cukup tahunya begitu aja dulu Sayang." ujar Dara saat ia melihat anaknya yang masih nampak penasaran.


Jadilah kembar hanya mengangguk-ngangguk lucu. Ketiganya sedang bersila di atas ranjang kembar.


"Sekarang tidur ya."


Kembar mulai berbaring. Dara menarik selimut, menutup kedua anaknya agar terhalau oleh udara dingin, kemudian mematikan lampu utama dan menghidupkan lampu untuk tidur.


Selepas dari kamar kembar, Dara akhirnya bisa menghembuskan nafas lega. Tapi setidaknya Dara bisa memberi jawaban lebih baik dari yang Bagas beri siang tadi.


Bagas udah ngumpet dari balik selimut. Penampakannya udah mirip Dara kalo lagi sumpah pocong. Pura-pura tidur karena kabur waktu anak-anak masih nanyain hal itu dan melimpahkan semuanya kepada Dara.


Dara udah berkacak pinggang, kesal setengah mati dengar suara ngorok suaminya yang jelas lagi dibuat-buat. Lagian sejak kapan papi ngorok? udah lari dari tanggungjawab sekarang malah mau ngibul.


Dara menggelitik perut suaminya itu hingga Bagas jadi terkejut dan terjengkang seketika. Sambil mesem-mesem dia menatap istrinya.


"Maaf Sayang, aku ketiduran." sahut Bagas kalem.


"Kamu ngacir pas kembar nanyain itu!" sahut Dara sambil mencak-mencak.


"Eh- enggak loh Yang, aku beneran ngantuk." kilah Bagas sambil naik pelan-pelan ke atas ranjang.


"Aku bingung loh, Mas mesti jawab apa tadi. Masa aku mesti jawab karena Jeki ketemu Nyai gitu?"


"Eh- jangan Yang, salah itu."


"Terus jawabannya apa?"

__ADS_1


"Kamu jawab apa?"


Akhirnya Dara menceritakan apa yang sudah ia jelaskan tadi kepada kembar. Bagas tersenyum lalu memeluk Dara yang masih duduk bersila di atas ranjang.


"Jawab begitu aja udah bagus kok. Pinter banget istri aku."


Dara jad mendongak, menatap suaminya sesaat lalu melengos. Dia nampak masih kesal.


"Kalo nanti mereka nanya lagi gimana ya Mas?"


"Kamu jawab gitu lagi. Diulang aja terus Yang, nanti mereka bosan sendiri."


Dara mengangguk-angguk pelan. Ia menguap kemudian, menutup mulutnya yang terbuka dengan satu tangan.


"Tidur yuk, aku capek."


"Yah, masa udah capek?" tanya Bagas.


Bagas ya tau sendiri. Kalo udah dekat mami tangannya gak sah kalo gak senam jari.


"Kamu bobo aja, aku yang gerak." bisik Bagas.


Dara mengangguk, suaminya memang gak mau rugi. Gak sah ya kalo gak absen. Dara sendiri masih terngiang-ngiang pertanyaan dari kedua anaknya seharian ini.


Besok dia mesti ngasih tahu Tuti sama Keke biar jawaban mereka bisa sama. Karena kalo beda lagi pasti kedua anaknya tidak akan berhenti bertanya masalah sensitif itu.


Sedang di dalam kamar mereka, kembar sudah terbuai dalam alam mimpi. Mimpi indah mereka karena sudah punya adik, apalagi kata papi adiknya nanti adalah perempuan. Tentu mereka senang sekali sampai akhirnya malah terbawa mimpi.


Bagas sendiri belum tidur. Ia sudah menyelimuti tubuhnya dan Dara. Istrinya sudah terlelap dan tidur dengan tenang. Bagas memperhatikan Dara yang sedikit lebih berisi saat ini.


Kehamilan kedua ini sama istimewanya dengan kehamilan pertama kemarin. Bedanya, bayi mereka sekarang cuma satu dan jenis kelaminnya adalah perempuan. Sesuai sekali dengan keinginan Bagas dan Dara.


"Aku bakal jaga kamu dan anak-anak kita dengan baik. Semoga selalu berbahagia ya, istriku." kecup Bagas pada kening Dara.


Setelah itu ia ikut memejamkan mata, akun sosmed Bagas sekarang banyak dipenuhi foto-fotonya bersama Dara dan juga kedua anaknya. Banyak fansnya histeris setiap kali dia upload foto baru. Belum lagi barisan para mantan yang suka stalking pake akun palsu.


Kalau di akun khusus trio bengek, banyak diisi photo mereka juga, tapi ya sama postingannya banyak bercerita tentang kehidupan rumah tangga masing-masing. Sejauh ini baik-baik aja. Prinsip no main hati no poligami masih jadi caption yang kerap mereka pakai. So sweet banget gak sih?

__ADS_1


__ADS_2