
Sudah lima bulan kandungan Dara saat ini. Jalannya Dara udah kayak itik serati, lenggak sana lenggok sini. Bikin Bagas gemas sekali dan jadi sering tangannya mas Bagas kesayangan Dara menoel-noel bagian belakangnya.
Dara sendiri kadang merasa lucu melihat dirinya di cermin. Perutnya sudah besar sekali, mau pakai sepatu kerja aja mesti dibantu sama Bagas. Kadang Dara kalau berdiri jadi susah lihat kakinya sendiri.
Bagas sendiri sudah meminta agar Dara gak perlu masuk kerja lagi. Tapi Dara gak mau, di rumah juga dia gak punya kerjaan jadi pasti bosan. Pernah sesekali Dara mencoba masa cuti kerja ternyata dia gak sanggup berdiam diri aja di apartement. Dara malah turun ke bawah, melihat para satpam lagi heboh nonton film jadul yang ceritanya Benjamin jadi Samsons, dia jadi tertarik buat gabung.
Jadilah sampai sore dia di sana bikin Bagas jadi gak enak hati sebab Dara juga udah ngabisin cemilan pak satpam hampir satu toples buat dia doang. Jadi daripada Dara bete di apartemen sendirian dan ujung-ujungnya keluyuran, mending dia tetap ikut Bagas ke kantor.
"Kamu beneran mau ikut aku terus ke kantor?" tanya Bagas saat keduanya sedang makan siang di kantin.
"Kenapa? gak boleh ya?"
"Bukan. Aku cuma takut kamu kecapean. Kamu jalan dikit aja udah ngos-ngosan sekarang. Aku takut kamu pingsan nanti."
Gak kuat aku ngangkat kamu lagi. Badan udah setengah gentong begitu. Bagas melanjutkan dalam hati sambil terkekeh geli.
"Gak segitunya, Mas. Aku pokoknya mau ikut. Bila perlu aku melahirkan di sini nanti." sahut Dara keras kepala.
"Ntar yang bantuin ngeluarin dede gondrong siapa? Bu Tukiyem?" tanya Bagas lagi sambil memandang tidak rela pada telor goreng yang udah pindah ke piring Dara.
"Pokoknya aku bakal berhenti kerja kalau aku udah benar-benar gak kuat."
"Ya udahlah. Oh iya semalem Mama telepon, mereka minta nanti kita tinggal di rumah aja kalau kamu udah dekat hari melahirkan."
Dara manggut-manggut. Lebih baik begitu, biar nanti ada yang bantuin ngurusin dua anak yang akan lahir dari rahimnya. Bagas dan Dara sengaja tidak memberi tahu Papa juga Mama tentang kehamilan kembarnya, biar nanti menjadi kejutan untuk mereka.
"Mas, nanti pulang ke supermarket dulu ya. Aku pengen buah semangka." kata Dara yang langsung membuat mata Bagas membulat sempurna.
"Semangka kok makan semangka, Yang." godanya pada Dara. Dara segera mengambil tisu lalu melemparnya ke wajah suaminya itu.
__ADS_1
"Mesum banget sih. Ini nih kepengennya dede gondrong pasti, nurun banget sama papanya."
Kalau yang ini Dara gak lagi fitnah, soalnya dua dede gondrong di dalam udah ngangguk-ngangguk tanda setuju.
"Kan mesum sama kamu doang." Bagas mengecup pipi Dara lembut dan moment itu disaksikan banyak pasang mata yang lagi makan di sana. Bikin baper para jomblo ngenes yang lagi makan sambil berkhayal seperti Bagas dan Dara saat ini.
Keduanya segera kembali ke ruangan setelah selesai makan, gak enak sama para jomblo yang udah baper dari tadi. Daripada menambah beban mental mereka lebih baik Dara dan Bagas segera menghilang. Gak baik menari-nari di atas penderitaan para jomblo. Begitu bisik Bagas pada Dara.
Pulang dari perusahaan, sesuai keinginan Dara, mereka singgah dulu ke supermarket untuk membeli semangka merah. Dara emang beneran lagi pengen banget makan itu.
"Udah yuk." Dara tersenyum sumringah setelah Bagas selesai membayar belanjaan. Sepanjang jalan menuju parkir Bagas tidak melepaskan genggaman tangannya.
Malam hari ketika keduanya sedang bersantai di balkon, Dara merasa ada gerakan cukup kuat di dalam perutnya. Ia tidak sabar menunggu Bagas kembali karena suaminya itu sedang membuat susu hamil untuknya di dapur.
"Mas sini cepetan." ujar Dara semangat setelah Bagas terlihat kembali dengan segelas susu hamil di tangannya.
Dara meraih satu telapak tangan Bagas lalu meletakkannya di atas perutnya. Awalnya Bagas tidak mengerti tapi kemudian ia tampak berbinar mendapati sesuatu terasa bergerak di permukaan perut Dara.
"Kerasa gak?" tanya Dara antusias.
"Iya. Mereka berantem." sahut Bagas.
"Bukan berantem, Sayang. Mereka lagi bergerak, lagi menunjukkan eksistensinya." sahut Dara sambil tertawa.
"Eksistensi. Hantu kali, Yang." timpal Bagas dengan tawa lepas.
"Coba rasain lagi." kata Dara.
"Mereka nendang-nendang. Pasti mereka lagi main di dalam. Aku udah gak sabar mau mereka cepat lahir." ujar Bagas penuh semangat. Kata Bagas, ternyata perasaan seorang lelaki yang akan menjadi ayah itu seperti seseorang yang sedang jatuh cinta lagi pada istrinya.
__ADS_1
Bagas memandang istrinya lekat, menjulurkan satu jari untuk mengusap sedikit susu yang masih membekas di bibir Dara. Lalu dengan gerakan perlahan ia mencium bibir Dara lembut.
"Makasih ya, udah kasih anak buat aku." ujar Bagas setelah selesai mencium Dara barusan.
"Makasih sama Tuhan dulu, baru sama aku." balas Dara lembut.
Bagas mengangguk sambil tersenyum menatap istrinya. Ia membawa Dara ke dalam rengkuhannya di sofa balkon sebelum kembali ke dalam kamar.
"Gak nyangka ya, aku beneran bakal jatuh cinta sama kamu." ujar Bagas sambil menerawang, menatap langit malam yang penuh bintang-bintang.
Dara hanya tersenyum manis mendengar ungkapan suaminya itu. Sama seperti Bagas, Dara juga tidak menyangka kalau dia juga bakalan jatuh cinta pada lelaki menyebalkan itu. Lelaki yang dulunya sempat membuat dia ogah karena reputasinya yang suka sekali gonta ganti pasangan.
Tapi kalau udah cinta mau gimana lagi. Seperti yang Kevin pernah bilang, bila cinta telah melekat, tai kucing rasanya cokelat. Gak jelas Kevin udah pernah makan eek kucing atau belum.
"Kalau udah punya istri, apalagi sekarang udah mau punya anak, gak boleh kegatelan lagi sama perempuan." Dara mengingatkan Bagas yang suka tebar pesona. Yang diingetin cuma senyum-senyum malu ketahuan belangnya.
"Kan aku gatel sama kamu doang gitu, Yang." kilah Bagas
"Gatel ya? sini aku garukin." Bagas yang tidak menduga akan mendapat penyerangan di pinggangnya tidak bisa mengelak hingga membuatnya tertawa terpingkal-pingkal di atas sofa dengan Dara yang sudah kelelahan menggelitik Bagas.
Keduanya kembali berpelukan di atas sofa balkon sambil mengatur nafas yang masih ngos-ngosan. Bagas sendiri sudah lemas sekali. Kalau disuruh memilih dia lebih baik memompa Dara sampai pagi di atas ranjang daripada harus dikelitiki begitu. Bagas gak sanggup.
"Besok kepengen makan apa lagi, Mamanya anak-anak?" tanya Baga penuh perhatian setelah kembali mendapatkan nafas normalnya.
Dara yang ditanyain makan tentu aja langsung menjawab dengan antusias.
"Mau somay kang botak, cilok kang gondrong, mie ayam bu lele ... " Dan sederet makanan lain yang bikin Bagas jadi puyeng sekarang. Tapi ya begitu si Bagas, walaupun suka puyeng dengan permintaan istrinya, ia tetap saja tidak kapok menawari istrinya ini itu. Permintaan Dara juga seputar itu-itu doang gak pernah mau minta dibeliin barang mewah yang akhirnya membuat Bagas inisiatif sendiri buat membelikan.
Namanya juga sayang istri, ya gak sih bapak-bapak?
__ADS_1