CEO Gondrong Itu, Suamiku.

CEO Gondrong Itu, Suamiku.
CGIS S2 - My Poor Secretary


__ADS_3

"Good Job, Bang. Papi bangga kamu bisa memimpin meeting dengan baik hari ini." Bagas merangkul anaknya, bersama Dara ia kembali membawa Ondrong ke ruangan. Dua pria gondrong yang terdiri dari anak dan ayah itu sukses membuat para staff gigit jari.


"Duh, makin kompak aja nih pak Bagas sama bos muda." goda Tina yang sekarang udah bohay kayak balon udara. Tina semenjak melahirkan tiga anak jadi kelebihan berat badan. Tapi gak mengurangi kecerdasan dia dalam membantu Dara menghandle setiap laporan yang gak semua staff bisa kerjakan.


Makanya Dara gak pernah mau posisi Tina digantikan sama orang lain. Otaknya encer, seencer susu buat diet yang baru aja dia minum. Udah hampir sepuluh kotak susu, Tina gak kurus juga. Kasihan itu susu serasa gak berguna. Padahal merknya terkenal, kalo lihat model iklan itu susu, Tina optimis dia bisa balik kayak dulu lagi, tapi sayang enggak ngefek. Gimana mau ngefek, tiap malem Tina makan mulu.


Sekarang, bang Ondrong lagi di ruangan papi sama maminya. Niatnya mereka mau makan bareng. Bentar lagi, bang Neon ke situ juga. Tapi Dara tiba-tiba ingat sesuatu.


"Bang, tadi Mami dikasih tau resepsionist, sekretaris buat abang udah dateng. Dia mami terima kok, cuma tinggal perkenalan sama kamu aja. Sekarang dia lagi di ruangan. Coba dilihat dulu ya."


"Ya elah Mi, buat apaan sekretaris? gak usahlah. Ondrong lebih suka sendiri di ruangan."


"Gak bisa Sayang, nanti kamu bakal repot ngatur skedul, kalo kamu punya sekretaris, kamu bisa enak ada yang ingetin ini itu terus bantu nyusun laporan, pekerjaan kamu bisa lebih ringan."


"Mami benar loh, papi juga dulu punya banyak sekretaris ..."


Lihat Dara yang udah melotot karena dia bakal ngasih racun ke otak anaknya, segera menutup mulutnya dengan tangan. Gimana sih papi kok malah jadi buka aib? kesel mami lihatnya.


"Enggak, maksud papi ya kalau kamu punya sekretaris, kayak papi nih yang punya mami kamu, pekerjaan kamu gak bakal berantakan."


"Tapi masa Ondrong gak boleh pilih sendiri Pi?"


"Udah, mami udah kasih sekretaris yang paling bagus buat kamu. Dia bukan orang sembarangan, dia lulusan terbaik di Universitas-nya, otaknya encer, anaknya sopan juga sederhana. Mami suka."


"Ya udahlah, aku coba lihat anaknya."


Mami mengangguk-angguk cepat. Bang Ondrong segera pergi ke ruangannya sendiri. Di sana para staff menyapanya dengan hangat. Ondrong membalas sapaan itu sama hangatnya.


"Pak Aarash, ada yang menunggu di dalam."


"Iya, udah tahu kok gue. Anaknya cantik?"


"Yeee Bapak, katanya udah tahu, kok masih nanya sama saya juga."


"Gue udah dibilangin Mami kalo calon sekretaris gue udah ada. Tapi gue kan belom lihat bentuknya."


"Bentuknya sama kok Pak kayak perempuan pada umumnya, punya muka, punya rambut, punya tangan, punya kaki."


"Kalo bentukan gitu juga gue tahu. Maksud gue istimewa gak?"


"Bapak lihat sendiri deh, lumayan kok anaknya."


Bang Ondrong masuk ke dalam ruangannya. Dia surprise menemukan sosok galak di lift yang tadi sempat memakinya, sekarang lagi duduk tenang di sofa. Otak jahilnya mulai bekerja.


"Ngapain lo di sini?" tanya Ondrong sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.

__ADS_1


"Ya mau interview lah. Kamu ngapain? mau interview juga?"


Ondrong diam lagi, dia malah nyalain rokok, membuka sedikit jendela kaca di ruangannya lalu duduk di seberang sofa.


"Kamu gak sopan banget. Gimana mau lolos interview kalo begini?" Gadis itu mulai terbatuk-batuk sambil mengibaskan asap rokok dengan kesal. "Aku sumpahin kamu gak lolos interview hari ini ya. Mana bisa orang gak punya atittude baik jadi karyawan di sini?!" desis gadis itu panjang lebar. Ondrong cuma tersenyum lebar. Dia menatap gadis itu lekat.


Si gadis yang ditatap sedemikian intens jadi kesal sekaligus salah tingkah sendiri.


"Kamu mesum! kamu lihat apa?!" Dia segera menutup dirinya dengan majalah.


"Duh elo tuh kepedean banget sih! lagian kalo elo nerd begini, bentukan lo kuno begini, gimana lo bisa jadi sekretaris disini?" Ondrong tertawa terbahak-bahak. Gadis itu kesal bukan main, udah dikatain bentuknya kuno Ondrong juga menyebutnya cupu. Ya walaupun dia gak seseksi sekretaris lain tapi kan pakaiannya masih normal aja. Rapi dan juga sopan. Tapi, tunggu-tunggu, kok cowok sengak di depannya itu tahu posisi yang dia lamar adalah sekretaris?


"Kamu kok tahu aku mau jadi sekretaris di sini?"


"Siniin berkas lamaran lo."


"Ih siapa kamu? cuma calon atasan aku yang berhak lihat ini." Dia menunjuk berkas lamarannya penuh kebanggaan.


"Wah lo belom tahu siapa calon atasan lo itu ternyata." Ondrong beranjak, melenggang menuju meja kerjanya, membuat gadis itu semakin bingung. Lalu Ondrong duduk di meja kerja sendiri.


"Sini lo, duduk di depan gue." perintah Ondrong lagi.


"Eh, kamu gak boleh gitu. Kamu beneran gak bakal lolos interview kalo kurang ajar begitu. Itu kursi calon atasan aku." Gadis cupu masih gak ngeh juga.


Pintu terbuka, masuklah mami dengan tubuh aduhai yang bikin gadis manis itu segera menunduk hormat. Dia jadi mengagumi istri dari pemilik perusahaan itu, sudah cantik, seksi, sekretaris pribadi pula.


"Siang Bu Dara." Dia menunduk hormat.


"Hallo siang juga. Udah selesai interviewnya ya?"


"Belum Bu, masih nungguin Pak Aarash." Sambil tersenyum sopan, gadis itu menjawab.


Dara jadi melihat bang Ondrong yang sudah mengulum senyum. Persis papinta, anaknya itu juga suka menggoda dan menjahili perempuan. Ia menggeleng.


"Abang! kan Mami bilang langsung diajak ngobrol aja sekretaris barunya." Dara berdecak kesal, Ondrong tersenyum jahil sedang gadis itu jadi sesal nafas. Tuhan tolong, dia kayaknya lagi dalam bahaya. Pak Aarash sudah mendengar semua makiannya sedari tadi. Dan harapannya nampaknya bakal segera sirna.


"Duduk lo!" Perintah Ondrong lagi. Gadis itu jadi gak tahu mesti ngapain. Mau maju, dia udah malu, mau pulang dia udah rindu eh salah dia masih ngarep maksudnya.


Mami keluar lagi terus ngasih kode ke bang Ondrong buat jangan galak-galak ke calon mantu eh calon sekretaris baru.


"Mana berkasnya, siniin gue lihat dulu." Gadis itu menyerahkan berkasnya dengan terdiam seribu bahasa. Ondrong memperhatikannya dalam diam.


"Kartu identitas lo mana? mau gue panggil Maemunah?"


"Enggak Pak, ada kok ada." sahut gadis itu cepat.

__ADS_1


"Mana?" Ondrong mendorong lagi berkas lamarannya. "Lo gak diterima!" Dia masih pengen jahil. Terlihat wajah kecewa itu nampak memelas.


"Maafin saya Pak, saya gak maksud kok tadi bilang gitu. Tolong deh Pak, kasih kesempatan gitu."


Ondrong nampak menatapnya lagi, dengan punggung bersandar di kursi kebesarannya lalu ia mengeluarkan sesuatu dari balik saku celana. Gadis itu nampak membelalakkan matanya, sejak kapan kartu identitas itu ada di tangan calon bosnya yang sengak itu.


"Gue gak suka lo ceroboh lagi. Jadi sekretaris gue gak boleh telat gak boleh ceroboh gak boleh lambat gak boleh gak nurutin apa yang gue mau, bisa lo?" tanya Aarash.


"Bisa Pak bisa!" sahut gadis itu yakin.


"Oke, waktu lo dua bulan. Kalo kerjaan lo bagus, selamanya lo bakal jadi sekretaris gue."


"Saya bisa Pak, Bapak gak akan kecewa sama pelayanan saya."


"Pelayanan?" Aarash memajukan tubuhnya. Alisnya terangkat satu.


Ia beranjak dari kursi lalu mendekat ke arah gadis itu yang sudah menatapnya kesal plus takut. Kesal karena gak bisa marah sama atasan sama takut karena sepertinya bosnya ini punya aura mesum.


"Maksud saya pelayanan saya ke Bapak dalam hal pekerjaan, begitu Pak." sahut gadis itu mundur beberapa langkah.


"Besok jam tujuh lo udah harus ada di sini. Telat semenit, gue cari sekretaris lain." desis Ondrong tepat di depan wajah gadis itu. Aroma maskulin menguar dari tubuhnya, si gadis jadi merinding disko jadinya.


"Ba-baik Pak Aarash." Ia segera duduk kembali saat Aarash juga sudah kembali ke kursinya.


"Balik lo." ujar Aarash.


"Jadi saya udah diterima Pak?" tanya gadis itu penuh harap.


"Mau gue tarik lagi?"


"Makasih pak. Makasih." Dia segera membungkukkan sedikit badan lalu berbalik.


"Pratiwi." panggil Aarash menghentikan langkah gadis itu.


"Rambut lo urai aja besok."


Tiwi mengangguk juga akhirnya setelah itu ia melangkah riang menuju keluar. Besok dia sudah memiliki pekerjaan baru. Dia senang banget sampe enggak sadar dia salah ambil jalan, harusnya dia belok ke kanan nanti ketemu lift, tapi si cupu malah belok kiri, dia jadi masuk lorong menuju tangga darurat. Mana udah jauh banget dia jadi putar balik lagi.


Tiba-tiba dia kebelet pipis, ngacir lagi cari toilet yang ternyata lagi penuh sama karyawan perempuan yang lagi pada dandan. Toiletnya juga pada dipake semua, dia jadi gak tahan lagi. Gedor-gedor pintu dia malah dimarahin. Keluar lagi si cupu, balik lagi ke ruangan bos barunya yang galak. Dia udah kebelet banget.


"Pak, pinjem toiletnya sumpah air saya udah mau keluar."


Aarash jadi mengerutkan dahi tapi dia mengangguk aja. Air? Abang mulai traveling dah apalagi dia dengar si cupu udah mendesah lega ngeluarin airnya di dalam kamar mandi. Juniornya jadi bangun perlahan.


Kacau ini sekretaris belom kerja udah bikin bang Ondrong gak bisa santai. Cup cup kembang kuncup itu Jojo dijinakin dulu bang, belum waktunya nyemprot sembarangan!

__ADS_1


__ADS_2