
Hampir setiap hari sibuk di perusahaan sama ngurus anak, Bagas ngerti Dara kayaknya lagi butuh refresh otak. Biarpun gak pernah ngeluh tapi Bagas paham gimana rasanya otak kalo udah mumet. Sudah lama pula keduanya tidak melakukan dinner romantis. Sore hari ketika mereka udah di rumah dengan Dara yang udah telentang tepar di atas ranjang sambil membuka kacamata tipisnya, Bagas mendekati.
Sambil membelai pipi istrinya lembut terus belaian yang makin turun dan berhenti di atas gunung favorit sejuta umat, Dara membuka matanya terus kasih kode buat segera balikin itu tangan ke pipi dia aja.
Bagas cengar cengir ketahuan belang. Dia ikut berbaring di samping Dara. Keduanya sama-sama telentang. Hubungan mereka yang gak pake pacaran alias langsung menikah itu memang membuat keduanya gak punya kenangan nostalgia apapun selain tentang perdebatan-perdebatan dulu selama Dara dan Bagas masih hanya sebatas sekretaris dan atasan.
Beda sama Bagas yang lulusan playboy, kenangan akan mantan teramat banyak tapi beneran gak ada yang spesial. Bagas menoleh, menatap istrinya yang lagi termenung. Dia jadi menebak-nebak, kira-kira istrinya itu lagi mikirin apa ya.
"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Bagas.
"Gak ada kok Mas."
"Tapi, kamu kayak orang lagi ketimpa beban."
"Ih, emangnya harus ada alasan dulu baru boleh ngelamun?"
Diam lagi.Tapi beneran loh, mukanya Dara itu beneran kayak lagi susah banget. Bagas kan jadi ketar ketir. Dia paling cepat paham kalau istrinya lagi pengen nakal, otaknya langsung konek, tapi dia paling gak ngerti bahasa hati perempuan yang lagi pengen sesuatu yang lain tapi enggak tahu gimana cara bilangnya. Dan Bagas yakin, istrinya memang lagi pengen sesuatu.
"Kamu lagi pengen sesuatu?"
"Hmmmmm." Tuh kan!
__ADS_1
"Bilang aja loh Mami, kok diem-dieman Aku mana ngerti kalo gak dikasih tahu."
Dara menoleh sebentar terus balikin lagi mukanya ke langit-langit.
"Mandi deh Yang, abis ini aku ajak kamu jalan-jalan keluar."
Mendengar itu Dara langsung semangat. Bagas mengangkat satu alisnya. Dia senyum sendiri lihat Dara udah buka baju terus masuk kamar mandi. Bagas sendiri masih asyik telentang sambil menatap langit-langit kamarnya.
Dipikir-pikir hidupnya terlampau unik. Gak pernah kepikiran sama sekali bakal dapet istri dari kalangan biasa, karena dulu ekspetasi Bagas tentang istri itu wah banget. Tapi lihat alur hidupnya sekarang, punya istri karena pernikahan dadakan. Makin kesini dia sadar cara Tuhan buat menghentikan aksi keplayboyan dia tuh ya lewat Dara. Itu loh Bagas jodoh elu, si Dara gadis berkacamata jelmaan Betty lapea, dari kalangan biasa tapi rasanya luar biasa.
Bagas mesem-mesem sendiri. Apalagi kalau ingat dia sekarang sudah punya tiga anak hasil perkawinannya dengan Dara. Anak-anaknya ganteng dan cantik. Hidupnya semakin tertata, mami juga semakin di depan. Benar kata orang, cewek yang tadinya biasa aja sekalinya udah menikah dan dirawat dengan baik akan jadi Cinderella juga. Cinderella yang punya semangka ulala biapun tanpa sepatu kaca.
"Mas, kita kemana?" Dara keluar dari kamar mandi dengan rambut dililiti handuk. Bagas yang lagi asyik nostalgia jadi balik lagi ke alam sadarnya.
Dara segera menuju meja rias, menarik satu dress polos berwarna hitam lalu mulai menata rambutnya. Perasaan Dara bilang kalau suaminya bakal ngajak dia ke tempat yang istimewa. Dara sekarang sibuk mengeringkan rambut terus mengambil hair stylist untuk membuat tampilan rambut panjang dan lebatnya jadi lebih bagus.
"Duh, cantiknya." Bagas keluar dari kamar mandi. Dengan bertelanjang dada Bagas menghampiri istrinya yang udah cantik banget.
"Mas Bagas cepetan ganti baju." seru Dara sambil tepuk tangan kayak dede Apem kalau lagi kesenangan. Bagas tertawa kecil melihat antusias istrinya itu.
"Tunggu ya."
__ADS_1
Sambil memperhatikan suaminya yang lagi ganti pakaian, Dara tersenyum. Gak menyangka dan masih gak percaya bahwa buaya gondrong idola para perempuan itu adalah suaminya.
"Sini Mas, aku kuncir rambutnya."
Bagas duduk di atas meja rias dengan Dara yang sudah sibuk mengeringkan rambut gondrong suaminya itu. Ia mulai menguncir rambut Bagas yang udah kering dengan rapi.
Setelah selesai, Bagas berdiri terus berbalik kemudian memeluk Dara mesra. Ini pelukan benar-benar pelukan buat bilang aku sayang kamu bukan pelukan buat bilang aku pengen malam hebat sama kamu. Bukan ya, beneran itu pelukan penuh kasih sayang.
"Kamu bahagia gak jadi istri Bagas Gumilang?" bisik Bagas pelan.
"Kalau gak bahagia, mungkin aku gak di sini lagi Mas. Gak ada anak-anak di antara kita. Gak ada aku yang cemburu kalau lihat kamu digodain perempuan lain. Aku bahagia banget."
"Makasih ya. Aku juga bahagia kita bisa sampai tahap ini, semoga sampai akhir hayat ya."
Romantis banget kata-kata itu di telinga Dara. Jadi semakin sayang dan cinta Dara sama buaya gondrong.
"Yuk jalan, aku mau ajak Cinderella tanpa sepatu kaca ini dinner romantis ala anak muda yang lagi mabuk asmara."
Mesem-mesem Dara dengarnya. Mereka mulai melangkah, masuk ke dalam mobil dan melesat menuju malam bahagia. Mesem-mesemnya masih berlanjut di dalam mobil dengan mereka yang masih saling saling pandang. Bagas udah bahagia banget lihat Cinderella dia cantik dengan tampilan sederhana tapi tetap elegan dan menggoda. Sampai kemudian senyum bahagia berubah jadi senyum kecut gak jelas waktu dia gak sengaja lihat ke bawah.
"Sayang, kamu memang betulan Cinderella aku walaupun tanpa sepatu kaca, tapi jangan pake sendal jepit juga dong gak matching sama dress nya." Bagas menepuk jidat, Dara segera menunduk. Beneran aja, sendal jepit rumahan bulu-bulu lagi nangkring manja di kaki indahnya.
__ADS_1
"Puter balik Mas." Dara meraung sambil memukul dashboard dengan kesal. Keasyikan mesem-mesem malah bikin dia lupa ganti ala kaki.
Bagas segera putar balik sebelum Cinderella tanpa sepatu kaca berubah jadi Misae Nohara, emaknya sinchan yang suka teriak dan marah sambil bawa gagang sapu.