
Masih dengan pandangan tenang, Dara memberanikan diri menatap Ratih yang masih tidak mau menatapnya. Ratih dan Dara kini berada di dekat gazebo. Dara duduk di sebuah bangku yang menghadap langsung pada pepohonan akasia tinggi dengan daun lebat menaungi. Sementara Ratih duduk dengan tenang bersandar di atas kursi roda.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Ratih tanpa menoleh.
"Banyak." sahut Dara singkat.
"Aku gak butuh ditemani orang lain selain Abang, termasuk kamu."
Ratih menoleh, menatap dingin Dara yang tersenyum tipis balas menatap dirinya.
"Kenapa?" tanya Dara lagi.
"Aku gak kenal kamu. Lagipula, siapapun kamu, aku yang lebih dulu ada di dalam hidup Abang."
Dara tersenyum lagi, orang kalau jatuh cinta memang bisa melakukan apapun, termasuk menggunakan segala cara, kalau boleh kejam Dara berpikir, termasuk cara yang sedang dipakai oelh Ratih ini.
Tapi, Dara mengerti. Ia juga perempuan, ia tahu bagaimana rasanya sekian lama memendam perasaan tapi orang yang kita sukai ternyata sudah memiliki pasangan. Tapi mau tidak mau, Dara akan tetap meluruskan ini. Ratih tidak boleh salah menafsirkan kedekatan Bagas dengan dirinya. Jiwa labil ini harus segera disadarkan, tekad Dara sudah bulat.
"Kamu memang lebih dulu ada di dalam hidup Mas Bagas. Tapi kamu boleh tanya, siapa yang sekarang ada di hati dia."
Mendengar kalimat itu membuat Ratih refleks menolehkan pandangannya.
"Kenapa kamu yakin Mas Bagas mencintai kamu? kamu lupa dia sangat memperhatikan aku selama ini. Apa yang aku inginkan, Abang selalu bisa penuhi. Setiap aku minta dia ke sini dia selalu sanggupin. Dia sering ninggalin kamu sendiri demi aku."
Dara berdecak sesaat. Memang susah menyadarkan perempuan jika sudah memiliki gejala jatuh cinta kronis.
"Ratih, kamu bukan anak kecil lagi. Kita seusia bukan? kamu cukup ngerti kalo Mas Bagas ngelakuin itu karena memang rasa tanggungjawab dan empati dia sama kamu. Tanggungjawab dan rasa cinta itu berbeda. Bagas kepada siapa saja ramah, apalagi kepada kamu yang sudah dia anggap adiknya sendiri." jelas Dara dengan lembut berusaha memberi pengertian kepada rivalnya ini.
"Bagaimana kalau aku meminta dia menikahiku?" ujar Ratih sambil tertawa kecil, nampaknya ia hanya punya ini sebagai jurus terakhir.
Dara terdiam cukup lama. Lalu ia menatap pandangannya ke depan.
__ADS_1
"Apa kamu akan menggunakan rasa bersalah Mas Bagas untuk memenuhi semua keinginan kamu? termasuk memaksakan hati yang memang enggak ada buat kamu? Apa kamu gak bakal sakit kalau dia menikahi kamu tapi cintanya hanya untuk orang lain? kami tega menyiksa diri kamu sendiri dan juga Mas Bagas?" tanya Dara tajam, ia rasa sudah cukup rasanya berbicara cukup lembut pada Ratih.
"Sudahlah, aku tidak butuh ultimatum kamu itu, Dara. Kau tidak perlu kemari jika Mas Bagas ke sini dan menemaniku terapi." Ratih berbalik dengan kursi rodanya, hendak berjalan meninggalkan Dara.
"Mas Bagas gak akan pernah menginjakkan kakinya ke tempat ini lagi, kecuali aku mengizinkannya menemui mu. Dan aku akan mengizinkannya ke tempat ini kapan pun dengan aku yang menemaninya. Menemani kalian."
Mendengar nada tegas dari Dara, Ratih tidak mengatakan apapun lagi. Ia tahu Bagas benar-benar sudah memiliki seseorang yang berhak penuh atas dirinya.
Ratih tidak kembali ke tempat dimana Bagas dan Kedua orangtua nya sedang berbincang. Ia memilih masuk kamar dari pintu belakang.
Dara kembali ke tempat semula dengan senyum sumringah. Ia hanya ingin mempertahankan keutuhan rumah tangganya. Ia tidak akan melarang Bagas untuk pergi ke tempat ini lagi kapan pun ia mau, juga tidak akan melarang Bagas menemani Ratih untuk terapi. Tapi sekarang Bagas tidak akan sendiri, ia akan menemani suaminya itu kemana pun melangkah.
"Gimana, Ratih gak papa kan?" tanya Ibu khawatir.
"Ratih baik kok, Bu. Malah dia setuju nanti kalau Mas Bagas temenin dia ke rumah sakit, aku juga ikut."
Mendengar itu Ayah dan Ibu jadi tersenyum lega. Bagas segera menggenggam jemari Dara lembut. Nampak binar cinta seolah keluar dari bola matanya.
Saat mereka sudah dalam perjalanan, Bagas menatap Dara lekat, mulutnya sudah megap-megap pengen nanyain hasil konferensi pers sama Ratih tadi.
"Apaan sih Mas kayak Jordi lagi kekurangan cairan aja." desis Dara sebal.
Bagas menarik nafas panjang lalu kembali membuka mulut, kali ini suara dari sana keluar dengan lancar jaya.
"Gimana, Yang?" tanya Bagas.
"Gimana apanya, Mas?"
"Yang kamu omongin sama Ratih tadi."
"Oh itu, aman kok. Aku bakal ikut kamu dan Ratih waktu kalian mau ke rumah sakit nanti."
__ADS_1
"Ratih gak kenapa-napa?"
"Maksud kamu?"
"Ya mungkin dia shock atau semacamnya." tebak Bagas.
"Dia keukeh gak mau ada aku. Ya tapi aku masa bodo. Kamu kan tahu aku paling jago debat." Dara berkata dengan santainya.
"Aku takut tadi kamu bakal jambak-jambakan kayak kamu sama Angel dulu."
"Kamu pikir aku sebodoh itu? ngadepin Ratih beda kasus sama Angel kemarin, Mas. Kalo Ratih mesti pake otak, kalo Angel emang mesti diajak adu jotos." sahut Dara kesal karena teringat kejadian menyebalkan beberapa waktu yang lalu.
"Sehebat itu istri aku. Pantesan kamu dianugerahi sesuatu yang besar semua, Yang. Karena nyali sama otak kamu juga besar."
Dara terkekeh geli mendengar suaminya yang ngegombal tapi gak banget itu. Pake bawa-bawa aset berharganya lagi.
"Btw aku lupa beliin makanan Kimung, Jordi juga kayaknya udah habis deh makanannya." Dara mengingatkan Bagas yang seketika menepuk jidatnya. Ia lupa dua makhluk beda kasta itu memang sudah kehabisan bahan makanan sejak kemarin.
Keduanya jadi ketar ketir sendiri. Bagas secepat mungkin mengarahkan mobilnya menuju kedai yang menjual makanan hewan.
Setelah itu mereka juga dengan cepat kembali ke apartement. Ada dua spesies yang lagi megap-megap nungguin Tuannya ngasih makan.
Jordi udah putus asa aja, ia berusaha keras mematuk-matuk sangkar sebagai bentuk protes. Sementara Kimung sudah membenturkan kepalanya dengan putus asa ke kandangnya.
"Eh Neng Dara sama Mas Bagas. Dari mana? pulang liburan ya?" tanya Security berbadan gendut yang lagi asyik makan semangka.
"Liburan apaan, Pak. ini kita mau nyelamatin dua spesies beda kasta yang udah mau sekarat di atas sana."
Dara dan Bagas setengah berlari menyusuri koridor dan naik ke atas menggunakan lift. Dara jadi kelelahan berlari sambil membawa beban berat di tubuhnya.
Nafasnya udah ngos-ngosan kayak abis lari maraton. Bagas segera membuka apartement dan menuju ke tempat dimana kedua spesies itu sedang telentang menunggu kedatangan Tuan mereka yang udah lupa kewajiban ngasih makan.
__ADS_1
Beruntung, mereka akan segera terselamatkan.