
Pagi ini Bagas dan Dara pergi ke Bandung ditemani hujan. Jakarta dan sekitarnya lagi adem gak panas karena hujan kerap turun ke bumi akhir-akhir ini. Tapi syukurnya gak sampe bikin banjir, cuma bikin tanah jadi basah dan pakaian gak pakai kering.
Kalau pakaiannya horang kaya kering ya, kan alatnya udah canggih. Beda sama kasus sarung gatelnya pak Mamat, yang dijemur pagi ini terus lupa diangkat. Belum sempat kering udah basah lagi. Lagian sarung udah usang masih aja dipake.
Tapi kata pak Mamat itu sarung peninggalan bapaknya. Ada kekuatan tersendiri dan ada daya pikatnya. Kalau yang ini kayaknya pak Mamat ngarang bebas, buktinya yang Tuti rasain waktu itu cuma gatel doang gak ada getar-getar asmara.
Ngomong-ngomong soal asmara, Dara dan Bagas sekarang udah nyampe di Bandung, mereka menginap di penginapan dulu tempat Jeki dan Nyai dipertemukan. Ada semacam nostalgia begitu mereka menjejakkan kaki di dalam kamar penginapan itu. Seprainya pun masih sama, putih-putih melati dan baunya wangi, nampak baru selesai dicuci dan dipakein pewangi.
Ada sedikit drama waktu mereka nyampe di penginapan itu. Mas-mas bertulang lunak yang sekarang kebetulan naik pangkat jadi resepsionist, masih gak percaya kalau Bagas dan Dara itu suami istri.
"Maaf Pak, pasangan bukan muhrim dilarang tidur satu kamar apalagi satu kasur." cerocos mas bertulang lunak membuat Bagas keki.
"Saya sama dia suami istri, Mas eh Mbak." kata Bagas sambil mengeluarkan kartu tanda pengenal.
Mas bertulang lunak yang pake pita di leher langsung ambil kaca pembesar mau lihat itu status beneran suami atau enggak. Terus dia senyum, ternyata benar.
"Oke Pak Bagas, ternyata kali ini Anda tidak berdusta. Jadi penginapan ini sudah sah untuk kalian pake bobo bareng."
Mas bertulang lunak terus ngasih kunci dua. Bikin Bagas mengernyitkan dahi.
"Buat apaan dua kunci? Gak sekalian dua kursi kayak lagunya Rita Sugiarto?" ujar Bagas kesal.
__ADS_1
Mas tulang lunak menepuk jidatnya segera tanda ia memang sedang keliru.
"Maaf pak Bagas, saya gagal fokus. Silahkan." Mas bertulang lunak akhirnya hanya memberi mereka satu kunci kamar yang di dalamnya lengkap ada satu ranjang dan dua kursi buat santai. Ada lemari juga ada AC dan ada tivi, cocok lah buat pasangan muda mudi yang pengen romantis-romantisan sambil memandang gunung dari jendela kamar penginapan.
Kalau Bagas lebih suka memandang gunung yang lain. Gunung yang Bagas suka itu kembar terus bersertifikat resmi dengan stempel hak suami. Udah sah banget buat diuyel-uyel kesana kemari.
"Duh .... Indahnya pemandangan." Dara lagi ngangkat kedua tangan, merenggangkan tubuhnya sembari menyender dekat jendela lihat gunung.
"Iya, pemandangannya memang indah. "Bagas gak lihat pemandangan lain selain pemandangan Dara yang lagi ngangkat tangan. Pengen uyel-uyel tapi masih pagi. Lagian kok gak puas-puas udah semaleman juga.
Bab kali ini romantis ya, karena Bagas dan Dara seolah dikasih ingatan balik tentang kejadian lima tahun yang lalu di sini. Kala cinta mulai bersemi dan menyadarkan mereka bahwa mereka adalah jodoh. Keduanya sama-sama belajar buat menerima satu sama lain.
Jadi Bagas sekarang udah duduk di kursi dia mandang istrinya dari belakang yang punya body indah kayak Kim Kardashian. Bikin memori pertama kali dia sentuh Dara kembali ke dalam ingatan.
Dara menoleh, wajah cantiknya dengan bibir berhias lipstick merah langsung membuat Bagas terpesona. Bagas udah rentangan tangan, meminta Dara mendekat dan duduk di pangkuannya.
"Kenapa sih?" Dara jalan sambil tersenyum, padahal dia udah tahu, suaminya lagi mesem-mesem teringat nostalgia masa lalu.
"Enggak, jadi teringat aja kejadian lima tahun yang lalu di sini." Bagas tersenyum, jemarinya menyibak anak rambut istrinya ke belakang telinga. Terasa empuk waktu bagian belakang yang padat dan bulat itu mendarat di pangkuan Bagas.
Bagas melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Dara, gak lupa dengan bonus menyentil dua benda kembar yang tak kalah bagus sama gunung di luar sana.
__ADS_1
"Gak terasa ya Mas, udah lima tahun aja." Dara tersenyum malu-malu. Lengannya melingkar di leher kokoh suaminya. Sesekali tangannya memainkan rambut gondrong suami yang lagi diikat rapi.
"Kamu mau aku beliin apa? Kamu kan udah bisa bawa mobil? Mau aku beliin mobil?" tawar Bagas pada Dara. Dara tampak berpikir sesaat. Sepertinya dia memang mesti punya kendaraan sendiri sekarang. Sebentar lagi anak-anaknya bakal masuk taman kanak-kanak. Biar dia bisa antar jemput kiddos dan gak nyusahin Bagas lagi. Walaupun Bagas sama sekali gak ngerasa disusahin.
"Boleh Mas?" tanya Dara sambil menggigit bibir bawahnya, bikin Bagas pengen gigit juga. Gigit yang lain sekalian bukan cuma gigit bibir aja. Passion mas Bagas gak berubah ya, kalau lihat Dara dia pasti langsung terbakar gairah. Lihat Dara ngobrol sama teman lama yang berjenis kelamin laki-laki dia bakal terbakar cemburu. Mas gondrong kalo udah bucin serem. Kalau cemburu Dara bisa didiemin beberapa jam.
"Nanti pulang dari Bandung kita lihat ke showroom ya." sahut Bagas menggantikan kata boleh buat yayang Dara. Dara tersenyum terus ngasih kiss ke pipi suaminya.
"Ciuman itu begini loh Yang." Bagas seperti biasa akan mencium istrinya mesra dan lama, setelah itu akan terjadi adegan yiha-yiha, kali ini suasananya berbeda, karena romansa kali ini diiringi nostalgia kisah masa lalu mereka yang indah.
Keduanya sengaja datang pagi ke Bandung karena siangnya mereka akan langsung meninjau perusahaan. Jadi pagi bisa dipakai buat bermesraan. Mesraan harus tiap hari, kata Bagas dan Dara biar hubungan mereka semakin erat dan kerap saling merindukan.
"Aku bahagia banget bisa menikah sama kamu." komentar pertama Bagas setelah pertempuran selesai mereka lakukan.
"Aku lebih bahagia, Mas Bagas. Bisa menjadi istri mas gondrong idola para wanita ini. Makasih ya udah jadi suami dan papi yang baik buat anak-anak." sahut Dara sambil memeluk suaminya lagi. Mereka masih berhias selimut putih tapi kali ini gak ada lagi bercak merah tanda kesucian Nyai sudah lepas. Udah lepas lima tahun lalu lebih tepatnya.
"Aku janji, gak akan nakal kayak dulu dan bakal setia sama kamu." bisik Bagas tulus bikin Dara jadi terharu mendengarnya. padahal sedari dulu juga Dara tahu, Bagas benar-benar sudah berubah semenjak mereka menikah.
"Aku percaya kok Sayang." balas Dara tersenyum.
Baru aja mau mulai ronde kedua, suara bel kamar mereka berbunyi gak puas menekan bel, kali ini pake ketok-ketok pintu pula.
__ADS_1
"Kentang gorengnya, Mas, Mbak." suara mas pelayan terdengar.
Bagas akhirnya membiarkan Dara turun dari ranjang dengan memakai handuk kimono. Terus dengan senyum membawa nampan berisi minuman juga beberapa snack dan kentang goreng. Udah deh kalo udah ketemu snack, maminya anak-anak gak inget lagi sama partai pertandingan selanjutnya. Malah sekarang lagi asyik nyuapin Bagas makan kentang goreng padahal Bagas masih pengen makan yang lain. Nasib mu Mas ... Mas.