
Demi menghormati pihak sekolah, akhirnya acara pernikahan dede Apem ditunda sampai dia selesai ujian. Pihak sekolah sengaja meminta kedua orangtua Dara datang hari itu untuk membicarakan hal penting tersebut. Berita pernikahan dede Apem sudah menyebar kemana-mana. Di sekolahnya juga sampai ke sekolah lain. Sangking populernya dede Apem, semua cowok pada bersedih waktu berita tentang pernikahan dini itu dikonfirmasi benar adanya.
Saat ini papi gondrong sama mami bohay lagi di ruangan pak kepala sekolah. Mereka juga sudah menghubungi abang botak buat datang juga ke sekolahan. Abang botak datang kurang lebih dua puluh menit kemudian. Dengan setelan kerja, pakai kemeja ketat dia melangkah menuju ruangan dede Apem.
"Permisi Pak." Abang botak menyapa bapak guru botak yang lagi nerangin materi pelajaran.
"Silahkan masuk."
"Saya mau jemput Aalisha buat ke kantor kepala sekolah."
"Oh, silahkan Pak." Bapak botak melepas kepergian dua orang itu lalu kembali melanjutkan sesi mengajar. Ia sempat mengetuk spidol dengan cukup keras karena semua murid udah pada gaduh.
"Ayo fokus! Emangnya kalian mau kawin semua?!" kata bapak guru botak galak. Ya kawin siapa juga yang gak mau, Bapak! lagian bapak botak Sensi banget mentang-mentang belum kawin juga sampai sekarang.
Kedua pasangan yang akan segera menikah itu melenggang sambil bergandengan tangan menuju ruang kepala sekolah. Pemandangan itu mencuri perhatian setiap murid yang masih berada di dalam kelas.
Para cowok udah nyiapin sederet protes sama dede Apem lewat coretan-coretan mereka di antaranya, mereka kecewa karena dede Apem melanggar kriteria dimana harusnya calon suami dede Apem adalah pria gondrong sedangkan abang botak gak ada gondrong-gondrongnya sama sekali.
Terus, abang botak juga di prediksi sudah berusia di atas dua puluh yang artinya dede Apem bakal kawin sama cowok yang usianya jauh di atas dia. Dan banyak lagi sederet bentuk protes lainnya. Tapi, dede Apem gak peduli. Cintanya udah melekat kayak tai kambing, gak jelas itu eek kambing rasa cokelat atau enggak. Mau abang botak kayak dulu juga dia bakalan tetap cinta.
"Nah, jadi berhubung tidak lama lagi Aalisha akan ujian, kami mohon dengan sangat agar acara pernikahan bisa diundur minimal sampai Aalisha ini selesai ujian. Begitu Pak Bagas, Bu Dara sama Mas Wisnu." jelas pak kepala sekolah yang juga didampingi oleh guru lain.
"Nah jadi dede sama bang botak udah dengar kan, setuju ya kalau acara pernikahan kalian kita tunda dulu. Ini demi kenyamanan semua pihak." Papi menoleh pada anak dan calon mantunya bergantian.
Abang botak manggut-manggut. Dia sebenarnya juga sempat memikirkan hal ini. Cuma kayaknya dede Apem gak rela aja acara pernikahan mereka di undur. Tapi dia gak protes, cuma mukanya manyun kayak plastik kesiram bensin.
__ADS_1
"Aalisha?" Bapak kepsek meminta pendapat gadis itu karena melihat roman wajah anak papi jadi kayak mau nangis. Dede ngambek, mami, papi sama abang botak tahu itu.
"Iya Bapak Kepala sekolah, gak papa." Akhirnya dede tersenyum, biarpun kecut gak papa, yang penting keep smile.
"Gak papa ya Nak, bang botak juga gak bakal kemana-mana kok." Mami berusaha menghibur putri bontotnya itu.
"Iya gak papa Mami, Papi."
Semua yang ada di dalam ruangan itu menarik nafas lega. Kalau para cowok yang memuja dede Apem tahu, mereka juga pasti bakal sama leganya. Minimal mereka tetap bisa menikmati keindahan dede Apem tanpa ngerasa berdosa karena dede belum resmi jadi istri orang.
Keluar dari ruangan papi sama mami menyedot perhatian para murid dan guru. Papi gondrong bikin guru magang jadi kesemsem.
"Itu Orangtuanya Aalisha ya?" tanya salah satu guru pada guru lain sambil menunjuk
ke arah papi yang lagi merangkul mami mesra.
"Pengen apanya Bu?"
"Punya suami gondrong juga."
"Inget suami di rumah Bu, biarpun gak gondrong tapi tetap yang terbaik suami sendiri."
"Beneran ya Bu." Akhirnya sambil mengusap dada ibu guru jadi sadar. Kalo gak sadar juga rencananya mau disiram pake kembang tujuh bau. Biar hilang jin gatel yang kebetulan lagi nemplok manja.
Sementara mami tetap menjadi perhatian para murid yang mulai keluar kelas buat istirahat.
__ADS_1
"Aalisha, salam buat mami ya. Cantik banget sih." puji salah satu cowok playboy di kelasnya itu.
Aalisha, nyokap lo bohai banget sih." Yang lain menimpali.
"Aalisha ..."
"Apaan sih, berisik tahu gak! gak tahu apa gue lagi patah hati kawinnya ditunda."
Semua pada mingkem. Gak berani lagi menggoda dede Apem yang lagi sensi berat. Dia masih belum rela acara pernikahannya diundur. Terus dede jadi mewek sepanjang istirahat.
"Aalisha, gue mau protes kata lo calon laki lo harus cowok gondrong! buktinya enggak! gue ..."
"Diem! lo patah hati gue lebih patah hati! gue kawin diundur! jangan protes lagi, atau lo bakal kehilangan rambut sama kepala-kepalanya sekalian." dede Apem udah mengacungkan mistar panjang punya bapak guru botak yang ketinggalan.
Tu cowok tengil akhirnya ngacir sebelum mistar panjang punya bapak guru ngegeplak kepalanya. Masih sambil memegang mistar itu dede Apem menatap siapa saja dengan pandangan sebal.
"Aalisha ..."
"Apa? mau gue botakin beneran?!" semprot Aalisha sambil mengacungkan mistar panjang itu kehabisan sabar setelah ia mendengar ada yang coba mengusiknya lagi.
"Apa yang mesti dibotakin, kepala saya memang sudah botak!"
Aalisha langsung noleh terus syok berat lihat dia sedang mengacungkan mistar dan di depannya sekarang berdiri bapak botak yang sudah berkacak pinggang menatap dirinya.
Nah kalau yang ini dede Apem gak berani. Berurusan panjang sama yang ini bukan cuma bakal dapet nilai jelek tapi juga terancam dicukur sampe botak juga sebagai hukuman
__ADS_1
Dede gak siap kembaran sama bapak jadi botak beneran. Jadi lebih baik ambil langkah kaki seribu sebelum bapak makin sensi terus hilang kendali.
"Eh, Bapak. Maafin yak maafin. Dede keluar dulu, laper, pengen makan cilok." Dede buru-buru ngacir sebelum kepalanya dibotakin beneran sama bapak botak. Enak aja, emangnya dede Apem tuyul dan mbak yul!