CEO Tampanku Ahli Silat

CEO Tampanku Ahli Silat
Part 11 MADU CINTA +++ Priska 1


__ADS_3

Sabtu pulang sekolah Randy mengirim pesan pada Maya, namun belum ada balasan dari Maya, bahkan panggilan darinya juga tidak dijawab. Jelas saja Maya tidak menjawab karena dia sibuk bertanding dengan Fira saat itu.


Sudah dua minggu ini, sepulang sekolah Maya langsung menghilang dan membuat Randy kesal. Maya memberikan alasan bahwa dia ikut ekskul bela diri dan lain sebagainya, namun Randy tidak menaruh curiga buat apa Maya belajar silat.


"Gila, gue Randy Prasetyo Wibowo udah dicuekin selama dua minggu oleh seorang Maya, gadis kampung sok kecakepan, sok jual mahal." Randy mulai tidak sabar menghadapi Maya yang ilang-ilangan tanpa pamit.


"Mas Randy, kok belum pulang?" Tanpa sengaja Randy bertemu dengan Priska di parkiran.


"Kamu juga belum pulang?" Di sekolah Randy selalu jaga jarak dengan Priska.


"Apa Mas Randy masih nunggu atau nyari Maya? Sepertinya dia sudah pulang dari tadi." Priska memberi penjelasan tanpa diminta. Randy malah memikirkan hal lain saat melihat Priska, apalagi seragam Priska yang cukup slim fit dengan rok yang sedikit mini hingga membuat pikiran Randy menjadi liar.


"Apa kamu membawa motor sendiri? Atau dijemput?" Randy malah bertanya hal lain.


"Dijemput, emangnya kenapa, Mas?" Priska heran, tumbrn sekali Randy menanyakan dia pulang dengan siapa.


"Bilang aja nggak usah dijemput. Kamu pulang bareng aku aja! Sekalian malam mingguan." Tawar Randy.


"Tapi aku tidak bawa baju ganti kalau mau keluar malam mingguan, masa pakai seragam ini?" Priska menatap ke arah seragam yang dia pakai.


"Apa orang tuamu akan marah kalau kamu pulang malam?" Randy malah bertanya hal lain lagi.


"Nggak sih, Mas. Aku bisa buat alasan, lagi pula di rumah cuma ada pembantu dan satpam, mama dan papa kebetulan sedang pergi tugas ke luar kota." Penjelasan Priska membuka peluang untuk mereka berdua malam mingguan tanpa ada yang mengganggu.


"Kamu mau nggak malam mingguan di rumahku? Aku juga di rumah sendiri."


"Eeem… Ini kali pertama aku mengajak pacarku ke rumah, sebelumnya aku belum pernah mengajak cewek mana pun." Don Juan mulai beraksi menjerat mangsanya.


"Mas Randy, nggak ngajak Maya?" Tanya Priska penuh selidik.


"Kalau kamu nggak mau nggak apa-apa kok, kenapa mesti bilang gitu?" Play boy memang pintar sekali bicara.


"Mau kok, Mas. Jangan marah dong! Aku cuma kepikiran Maya aja. Sepertinya akhir-akhir ini Maya seperti banyak kegiatan dan semakin jauh dari Mas Randy." Antara senang dan kesal, jika Maya makin jauh dari Randy, mungkin saja Priska tidak bisa segera memberi pelajaran pada Maya.

__ADS_1


"Kita bicarakan itu nanti, ayo sekarang pulang ke rumahku! Mumpung sudah sepi dan tidak ada yang lihat jika kita pulang berdua." Randy buru-buru menstarter motor gedenya dan menyuruh Priska segera naik. Priska merasa senang karena dibonceng oleh Randy, biasanya dia selalu diam-diam ketemu Randy.


"Pegangan dong, Priska sayang!" Titah Randy. Sudah ketebak apa yang Randy inginkan bukan? Dan Priska pun menuruti ucapan Randy karena dia juga ingin merasakan hangatnya bersandar pada punggung sang pacar, hingga membuat Randy sangat senang merasakan sensasi lembut dan kenyal di punggungnya.


Rumah Randy mewah dan luas namun sepi. Setelah pak satpam membukakan pintu gerbang, Randy meminta untuk tidak menerima tamu karena papa dan mama Randy tidak ada di rumah. Kalaupun yang datang teman Randy,  pak satpam harus bilang kalau Randy juga tidak ada di rumah.


Randy membawa masuk Priska ke ruang tengah untuk duduk-duduk santai sembari melihat televisi atau DVD. Randy menyuruh asisten rumah tangganya untuk ke paviliun samping dan tidak perlu mengganggunya di rumah utama. Randy membawa minuman dan camilan yang sudah disiapkan oleh ARTnya, namun Randy memberikan sedikit obat pada minuman yang dia berikan pada Priska.


"Sayang, ini aku bawakan minuman dan camilan." Randy segera memberikan minuman yang sudah dia campur dengan sedikit obat pada Priska agar tidak salah ambil nantinya. Priska minum tanpa curiga sedikitpun hingga dia merasa gerah dan membuka kancing seragamnya yang paling atas.


"Sayang, di sini panas, gimana kalau ngobrol di kamar ku aja? Di kamarku ada AC-nya." Randy mulai melancarkan rencananya.


"Iya, Mas, gerah di sini." Priska merasa gerah dan merasa gejolak lain di tubuhnya.


Randy pun mengajak Priska ke kamarnya, sejenak Priska mengagumi kamar Randy lalu duduk di tepi kasur king size itu. Randy pun mulai menci - um bibir Priska dengan lembut dan lama-lama berubah saling melu - mat. Tangan nakalnya berusaha menyusup ke balik seragam yang Priska kenakan. Ia membuka penutup susu murni itu dan menariknya ke atas hingga terpampang jelas kedua susu murni yang kenyal menggoda, sepertinya rasa strowberry karena puncaknya berwarna pink. Je - marinya yang nakal mulai bermain-main di sana, memi - jitnya dan membe - lainnya dengan lembut.


Ciu - man Randy pindah menyusuri leher putih Priska, lalu turun ke ujung dia susu murni itu. Ia meminum susu murni itu dengan rakus bagaikan orang yang kehausan.


"Sayang, susu murninya nikmat sekali, bikin nagih. Apa kamu senang kalau aku meminum susu murni ini tiap hari?" Randy terus menye - sap dan terkadang menggigit kecil kedua susu murni itu.


"Apa kamu ingin yang lebih nikmat dari ini?" Je - mari Randy menyusup ke balik skirt yang Priska pakai, ia menggeser kain segitiga itu ke samping lalu mempermainkan bunga pink milik Priska dengan je - marinya.


"Hmmm... " Priska terbuai dan mengharap lebih.


"Jika aku menolak, apa kamu akan melakukannya dengan Maya, Mas?" Priska cemburu karena Randy masih berstatus pacarnya Maya, sedangkan dia pacarnya yang asli justru disembunyikan.


"Sayang, aku hanya mencintaimu. Aku hanya ingin melakukannya dengan orang yang aku cintai. Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" Keluarlah rayuan maut Randy.


"Iyaaa, Mas, aku ingin. Lakukan saja, asalkan itu bisa membuatmu menjadi milikku seorang." Priska pasrah karena terlanjur cinta dan takut kehilangan Randy, selain itu dia juga sudah tidak mampu menahan jiwanya yang bergejolak.


"Apa aku yang pertama bagimu?" Randy menghentikan aktifitasnya dan membuat Priska kecewa.


"Apa kamu meragukan aku, Mas? Aku juga hanya mencintaimu." Jawab Priska dengan nafas memburu dan mata yang sayu.

__ADS_1


"Tadi kamu juga meragukan aku, kamu pikir aku akan melakukan ini pada Maya jika kamu tidak mau melakukannya." Randy mulai playing victim untuk mempengaruhi pikiran Priska, dia berbicara seolah-olah Priska lah yang salah, padahal jelas-jelas dia yang seorang Don Juan.


"Maaf, Mas. Aku tidak akan meragukan mu lagi." Priska menatap sayu pada Randy, dia ingin sekali meminta Randy melanjutkan aktifitasnya, namun dia malu.


"Buktikan dengan tindakan, sayang!" Randy tahu bahwa Priska telah terjebak dalam permainannya, dia tahu jika Priska menginginkan lebih. Priska pun menuruti perkataan Randy hingga dia mau menjamah senjata milik Randy.


"Apa kali ini kamu akan mengijinkan senjata ku menerobos pertahanan mu, sayang? Dia sudah tidak tahan, dia sudah menunggu sejak lama." Randy sudah tidak sabar ingin segera menuntaskan keinginannya. Priska pun hanya mengangguk setuju karena dia juga sangat ingin merasakannya.


Randy segera menanggalkan semua seragamnya, begitu juga dengan Priska. Randy menyuruh Priska berbaring dan membuka kedua kaki itu dengan lebar. Randy tidak ingin berlama-lama daripada Priska berubah pikiran. Randy langsung mencoba membenamkan senjatanya ke dalam lembah yang lembah dan licin itu. Baru sedikit senjatanya yang masuk tapi Priska kesakitan.


"Mas, sakit. Sepertinya tidak muat karena senjata mu terlalu besar." Priska merengek.


"Tenang sayang! Pasti muat dan sebentar lagi kamu pasti menyukainya." Randy membujuk Priska sembari meminum susu murni itu agar rasa sakit yang di bawah terlupakan.


Priska pun mengikuti permainan Randy hingga pertahanannya akhirnya runtuh, senjata Randy akhirnya bisa terbenam sempurna. Beberapa saat ia menyesuaikan diri, lalu menyerang lembah yang licin itu dengan bertubi-tubi. Priska mulai menikmatinya, meski awalnya terasa sakit namun berubah menjadi nikmat. "Hmmm... Nikmat rasanya, Mas."


"Sebentar lagi lebih nikmat, sayang. Aku tidak sabar menembakkan madu cintaku padamu dan merasakan siraman madu cintamu di senjataku." Randy dengan gencar membombardir pertahanan Priska hingga akhirnya mereka saling menembakkan madu cinta. Randy dan Priska melakukannya beberapa kali hingga lelah.


Remaja yang dimabuk cinta memang sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Orang tua Randy salah dalam mendidik anak kesayangannya itu, mereka hanya menghujani Randy dengan kemewahan saja, selalu mentolerir kesalahan-kesalahan Randy dan selalu membela anaknya meskipun salah. Orang tua Priska pun sama saja, karena sibuk bekerja mereka lengah dalam memperhatikan Priska, sedangkan nenek dan kakek Priska selalu memanjakan cucu perempuannya itu.


"Terima kasih, sayang, tidak salah aku lebih mencintaimu dari pada Maya, memang hanya kamu yang bisa membahagiakan aku." Randy masih melontarkan pujian, melontarkan rayuan, tentu Randy masih menginginkannya lagi lain kali. Sedangkan Priska hanya terdiam, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam sebenarnya dia tidak ingin melakukan hal itu, namun hasrat telah menguasainya hingga dia terlena. Hati kecilnya mengatakan kalau perbuatan yang dia lakukan salah, tapi dia terus membohongi dirinya sendiri dengan dalih cinta dan tidak mau kehilangan Randy.


"Tenanglah, sayang! Di mata orang lain aku memanglah pacar Maya, tapi bagiku kamulah pacarku satu-satunya. Aku akan memikirkan cara untuk menghancurkan kesombongan Maya. Dia terlalu sok jual mahal." Jawab Randy enteng.


"Tapi, bagaimana kamu akan memberinya pelajaran, Mas?" Priska penasaran.


"Tenang saja! Serahkan padaku dan gengku, mereka berempat siap membantu. Aku sudah punya kamu, sedangkan mereka berempat jomblo." Randy membohongi Priska, padahal dalam hatinya dia berencana menaklukkan Maya terlebih dahulu, mencicipi kehangatannya lalu setelah itu dia akan menyerahkan Maya pada teman-temannya. Namun saat ini Randy enggan membagi Maya pada teman-temannya itu.


"Apa aku mulai menyukai Maya? Kenapa Maya berbeda?" Batin Randy.


...***...


Jangan lupa ikuti update cerita selanjutnya ya…

__ADS_1


Jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕


__ADS_2