
Sekali lagi author ingatkan ini tidak untuk ditiru ya guys!!! Imajinasi author terlalu liar.
Happy Reading, jangan lupa like, komentar, favorit, vote dan kasih hadiah biar author semakin semangat nulis ya. Terima kasih 😘💕
...***...
"Jangan khawatir! Aku juga sudah menambahkan obat pada jus yang kamu minum tadi. Jadi nikmati saja permainannya, pasti kamu akan puas dengan empat senjata sekaligus. Bahkan kamu akan lupa berhenti dan menginginkannya terus dan terus." Kata-kata Randy menghujam bagai pedang. Maya menangis dan menjerit minta tolong, namun Randy tidak peduli dan meninggalkan dia bersama teman-teman gengnya.
"Dari pada kamu menangis, lebih baik kamu nikmati saja, sayang. Tidak akan ada yang mendengar teriakkan mu! Jadi percuma saja kalau kamu berteriak sampai tenggorokan mu kering." Bobby mendekap Maya dari belakang dan mulai meme - ras kedua susu murni yang sudah tak berbungkus itu. Tangan satunya pun dengan kasar mencoba masuk ke dalam lembah yang begitu lembab itu. Maya menangis karena perlakuan Bobby dan hatinya sakit saat melihat Randy justru hanya menoleh dan menontonnya.
"Kalian lakukan saja sepuas kalian! Nanti sore aku akan mengantarnya pulang." Randy meninggalkan Maya bersama tiga orang temannya, sedangkan dia menuju salah satu kamar di vila itu.
Di kamar itu sudah ada salah satu selingkuhan Randy yang sedang menunggunya. Wanita yang cukup cantik dengan penampilan yang sangat menggoda, dia tahu Randy masih belum puas. Entah apa yang ada dalam hati dan pikiran wanita itu, mengapa dia mau dengan Randy, apakah dia tidak takut jika dia akan bernasib sama dengan Maya. Padahal wanita itu tidak lebih cantik dari Maya, dari segi body pun Maya lebih unggul. Namun Randy tetap saja menikmati setiap wanita yang mau membukakan kaki untuknya, dengan parasnya yang tampan Randy tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan kehangatan secara cuma-cuma.
Maya menangis dan menangis lagi setelah melihat punggung Randy yang menjauh meninggalkannya menjadi piala bergilir untuk ketiga teman geng Randy. Maya meronta, namun kekuatan Bobby lebih kuat, je - mari Bobby terus menyerbu masuk dan mengorek-ngorek lembah yang begitu lembab itu. Bobby membuka lebar-lebar kedua kaki pacar ketuanya itu. "Ferdy, Vino, apa kalian akan diam saja? Serang saja dari depan!"
Vino dan Ferdy pun ikut bergabung karena sudah tidak tahan, sedari tadi hanya menjadi penonton saja. Ferdy ikut menjamah, mere - mas dan menye - sap kedua susu murni itu hingga sang empunya kewalahan. Vino pun mulai menci - um dan melu - mat bibir Maya dengan rakus, membungkam Maya agar tidak berteriak lagi.
Ferdy membuka lebar-lebar akses jalan menuju lembah nan lembab itu. Dua je - mari Ferdy dan dua je - mari Bobby terus bergantian keluar masuk menyerang lembah yang sudah banjir itu. Maya bagaikan ikan tanpa air hanya mampu mende - sah, kepalanya bergerak liar mencari oksigen. Kaki dan tangannya terikat, tertahan oleh Bobby dan Ferdy hingga ia tidak bisa lepas. Ferdy pun semangat untuk mencu - mbu bunga pink itu sambil menyerangnya dengan kedua je - marinya hingga bunga itu menembakkan madu cinta lagi. Ferdy melakukan hal sama seperti Randy, menye - sap madu cinta itu sampai habis.
Ferdy sudah tidak tahan dan lebih dulu menyerang lembah nan dalam dan sempit itu dengan senjatanya. Ia menyerang dengan ganas. Pengaruh obat yang Randy berikan sungguh besar, hingga Maya tidak meronta lagi dan justru ikut menikmati kelakuan mereka bertiga.
"Aah... Terus di sana, lebih dalam lagi, Mas!" Teriak Maya tanpa sadar, ia mengerakkan ping - gulnya ke depan menyambut serangan dari senjata Ferdy. Bobby yang memegangi kedua kaki itu pun tidak tinggal diam dan je -marinya sibuk mempermainkan biji bunga milik Maya karena Maya tak lagi meronta. Vino pun dengan lahap meminum kedua susu murni itu dengan rakus. Desa - han demi desa - han bersahut-sahutan memenuhi ruangan itu. Mereka bertiga semakin semangat saat Maya berteriak tak berdaya.
Mereka bertiga terlalu fokus dengan Maya hingga tidak menyadari bahwa anggota mereka kurang satu. Marco hanya melihat mereka dari kejauhan dengan hati teriris-iris dan menahan air matanya agar tidak jatuh.
__ADS_1
Seakan tidak ada puasnya mereka terus bergantian membombardir lembah yang lembab dan licin itu dengan serangan senjata mereka bertiga. Mereka menye - sap madu cinta Maya hingga kering dan mungkin saja bunga pinknya sudah membengkak dan lecet. Mereka baru berhenti menikmati madu cinta pacar ketua gengnya itu, saat Maya telah terkapar tak berdaya.
Mereka kelelahan dan tidak menyadari apa yang terjadi selanjutnya. Marco mengendong Maya ke kamar mandi dan segera membersihkan Maya dan memakaikan penutup pada Maya.
Marco menangis, "Maafkan aku. Aku mencintaimu tapi tidak bisa melindungi mu. Bahkan aku tidak mampu mencegah mereka melakukan ini padamu. Maafkan aku, Maya. Jika ada kesempatan kedua aku akan melindungi mu dan mengambil resiko apapun demi keselamatan mu." Maya yang sedikit sadar mendengar ucapan Marco.
Randy keluar dan melihat Maya sudah rapi kembali. Ia pun langsung membawa Maya ke mobil untuk diantarkan pulang. Sepanjang perjalanan Maya hanya menangis dan Randy hanya terdiam. Dalam hati Randy merasa kasian pada Maya, namun dia terlanjur terhasut oleh Ferdy dan Bobby yang memberikan ide gila itu.
Flash back of.
(Author tidak mengada-ada ya guys, real life banyak banget siswa-siswi SMP SMA yang kebablasan. Harus lebih hati-hati, bagi para orang tua harus memberikan edukasi tentang begituan sejak anak SMP, agar anak-anak tidak sembarangan atau terjebak dalam hal semacam itu di usia sekolah.)
Ponsel Maya terus berdering namun Maya masih tenggelam dalam lamunannya. Tangannya masih terlipat di atas meja sebagai alas kepalanya.
"Maya, Maya. Kenapa kamu tertidur di sini? ponselmu berdering sejak tadi." Marco mencoba membangunkan Maya yang seperti orang tertidur lelap. Tadi tanpa sengaja ia lewat di depan kelas Maya dan melihatnya seperti tertidur pulas di mejanya.
Maya terbangun dan melihat Marco di depannya, sontak Maya berdiri memeluk Marco. "Kak Marco."
Marco pun heran kenapa Maya tiba-tiba memeluknya, bisa kacau kalau ada orang lain yang melihatnya, namun dia tetap membalas pelukan dari Maya. "Kamu kenapa, Maya? Kenapa kamu tidur di kelas?"
Maya tersadar dan melepaskan pelukannya. "Maaf, Kak. Sepertinya aku mimpi buruk. Untung kakak segera membangunkan aku." Maya beralasan.
"Ponselmu berdering sejak tadi." Marco menunjuk ponsel Maya yang masih di atas meja.
__ADS_1
Ponsel Maya berbunyi lagi dan terlihat pop up pesan dari Bayu. "Maya, kamu dimana? Kenapa telepon ku tidak dijawab? Segeralah datang ke perguruan Macan Emas, ada masalah yang menyangkut namamu di sini."
Maya diam dan berpikir, "Masalah? Sepertinya aku tidak melakukan kesalahan, kenapa ada masalah?"
"Maya, kenapa malah melamun?" Marco menyentuh pundak Maya dan ia tidak menolak seperti sebelumnya, sepertinya dia lupa telah mengajukan syarat untuk tidak menyentuh sedikit pun.
"Nggak apa-apa kok, Kak. Aku sudah telat latihan, jadi aku harus bergegas." Sahut Maya.
"Apa kamu yakin? Kamu beneran nggak apa-apa?" Tanya Marco khawatir.
"Nggak usah khawatir, Kak. Aku beneran nggak apa-apa. Aku duluan ya, Kak! Makasih karena sudah membangunkan aku." Maya berjalan keluar kelas dengan buru-buru meninggalkan Marco dengan berbagai pertanyaan yang menggangu pikirannya.
"Kok aneh sih? Kenapa tiba-tiba dia memeluk ku?" Marco tersenyum.
"Dengan begini saja, aku sudah bahagia. Sepertinya dia tidak membenciku. Aku akan berusaha melindunginya dari jauh." Marco berjanji pada dirinya sendiri.
...***...
Apakah mungkin Maya akan memilih Marco setelah berhasil putus dengan Randy?
Sekali lagi maaf kalau ceritanya bikin otak travelling, tidak pantas ditiru ya guys!
Jangan lupa ikuti update cerita selanjutnya ya…
Jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕
__ADS_1