
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕
...***...
Peserta selanjutnya telah dipanggil, kini giliran Maya bertanding dengan lawan yang berasal dari perguruan silat lain. Ada 5 juri atau dewan hakim yang menilai pertandingan pencak silat, mereka bertugas membantu 1 orang wasit. Wasit telah memeriksa kesiapan gelanggang dan kedua pesilat di sudut masing-masing. Setelah semuanya terlihat siap, wasit segera memberi isyarat untuk memulai pertandingan. Kedua pesilat memasuki gelanggang dari sudut masing-masing, kemudian memberi hormat kepada pendamping, wasit dan ketua pertandingan.
"Go Maya go Maya go Maya go… Go Maya go Maya go Maya go… Go Maya go Maya go Maya go…"
Teriak teman-teman Maya memberikan semangat dari tribun penonton.
Giliran pertama pihak lawan melakukan rangkaian gerak jurus perguruan antara 5 sampai 10 gerakan kemudian balik ke sudutnya. Maya pun melakukan rangkaian gerak jurus Perguruan Macan Emas, setelah itu kembali ke sudutnya juga, di sudut Maya ada Nyi Yanti memberikan supportnya bertindak sebagai guru atau pelatih Maya.
Wasit memanggil kedua pesilat untuk memulai pertandingan. Maya dan pihak lawan berjabat tangan lalu saling membungkuk memberi hormat, kemudian wasit memberi peringatan tentang peraturan dan siap untuk memulai pertandingan. Wasit memeriksa kesiapan semua petugas dengan isyarat tangan kanan, setelah semua terlihat siap, wasit segera memberi aba-aba kepada kedua pesilat untuk memulai pertandingan. Selain Wasit dan kedua pesilat, tidak seorangpun berada dalam gelanggang.
Round pertama dimulai, Maya sedikit tampak ragu karena ini kali pertamanya bertanding di ajang resmi dan ditonton banyak orang, apalagi dia membawa nama baik Perguruan Macan Emas dan kedua gurunya serta nama baik Bayu.
Sepuluh detik pertama mereka masih melakukan ancang-ancang untuk menyerang, sedikit memperagakan jurus perguruan masing-masing. Pihak lawan lebih dulu menyerang Maya dan mengarahkan tendangan ke bagian pinggang kanan, Maya mampu menangkisnya dengan baik. Namun setelah saling tending akhirnya pihak lawan mampu menumbangkan Maya dengan gerakan sapuan guntingan, kedua kaki lawan mengunci kaki Maya lalu membuat Maya terjatuh.
"Huuuuuuuu…" Teriak beberapa penonton dari pihak lawan dan beberapa penonton yang sebelumnya merendahkan Maya.
"Lihat kan sekarang! Maya hanya mengandalkan kecantikannya untuk merebut perhatian Bayu Soponyono, pasti setelah kekalahannya nanti, Bayu akan meninggalkan Maya dan pindah ke perempuan yang lebih berbakat di pencak silat." Nyinyir salah seorang perempuan di tribun penonton, sebut aja Mawar.
"Baru juga round 1, sudah men-judge Maya bakal kalah. Ati-ati entar kamu malu sendiri!" Sahut penonton lain, sebut aja Melati.
"Dibayar berapa sih loe dari tadi belain Maya?" Mawar menanggapi dengan judes.
"Hello…! Gue bicara pakai logika, bukan pakai rasa iri dan benci! Kita loh nggak kenal Maya, ngapain ikut membencinya karena gossip yang belum tentu bener?" Melati menjawab dengan tak kalah tegas.
Dua menit berlalu, round pertama telah usai dan nilai Maya tertinggal dari lawannya. Satu menit istirahat dan para pesilat harus kembali ke sudut masing-masing. Nyi Yanti sendiri yang menyeka keringat di wajah Maya menggunakan handuk.
"Semangat, Maya. Kalah menang itu biasa, kamu tetap nomor satu buatku." Teriak Bayu memberi semangat dari sisi lapangan.
Para penonton sontak melihat ke arah Bayu yang berada di sisi lapangan, mereka tidak menyangka Bayu sampai berani mengatakan hal seperti itu terang-terangan di depan umum. Bayu tidak peduli jika orang-orang akan menilai dia terlalu narsis, bahkan dia begitu berani berteriak seperti itu padahal bapaknya berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Tidak disangka-sangka, bukannya marah karena mendengar teriakan Bayu, Ki Sopo justru ikut berteriak.
"Semangat calon mantu!"
Deg… Deg… Deg…
Hati Maya deg-degan tidak karuan mendengar semangat dari Ki Sopo dan Bayu, pasalnya Ki Sopo dan Bayu terkenal dingin dan berwibawa di luar sana, tidak menyangka mereka berdua jadi senarsis itu untuk mensupport dirinya.
"Wuuuuuu… " Para penonton berteriak dan bertepuk tangan memberi semangat pada Maya setelah mendegar teriakan dari Bayu dan Ki Sopo.
"Bapak dan anak sama saja bucinnya. Jangan dengarkan gossip atau gunjingan orang lain, May! Kalah menang itu biasa, kamu tetaplah perempuan yang Bayu cintai dan calon mantuku yang paling cantik." Nyi Yanti memberi semangat.
Nyi Yanti memegang kedua pundak Maya. "Fokuslah untuk menyerang sekaligus bertahan. Ingatlah! Kamu harus menunjukkan pada mantan pacarmu itu, bahwa kamu adalah perempuan hebat yang tidak pantas untuk disakiti dan disia-siakan. Kamu harus buktikan pada teman pengkhianatmu itu, bahwa kamu adalah perempuan tangguh yang mampu melawan semua ancaman dan bahaya. Mimi percaya padamu, sayang."
Semangat dari calon ibu mertua memang sangat ampuh, Maya wajib bersyukur karena mendapatkan calon mertua yang baik dan sangat mencintainya.
Wasit memberi aba-aba agar kedua pesilat segera kembali ke gelanggang. Semua telah siap, lalu wasit memberi aba-aba untuk memulai pertandingan round 2.
(Anggap itu Maya pakai baju silat dan siap bertanding ya guys.)
Pihak lawan mengarahkan tendangan ke dada Maya, namun Maya mundur satu langkah ke belakang untuk menghindar. Pihak lawan lansung melancarkan serangan kedua dengan mengarahkan tendangan sapuan ke arah kaki Maya untuk menjegal atau menumbangkan Maya, namun dengan sigap Maya loncat ke atas untuk menghindari tendangan sapuan itu.
Maya balik menyerang, awalnya dia mengarahkan tendangan tipuan ke arah lawan namun setelah itu menendang dengan lebih agresif. Mereka berdua saling menendang hingga akhirnya Maya bisa menangkap satu kaki kiri lawan, lalu kaki kanan Maya melangkah ke depan dan menjegal kaki kanan lawan hingga membuat lawannya itu tidak seimbang dan jatuh terjengkang.
"Go Maya go Maya go Maya go… Go Maya go Maya go Maya go… Go Maya go Maya go Maya go…"
Teriak teman-teman Maya memberikan semangat dari tribun penonton.
"Maya, Maya, Maya…"
__ADS_1
Mendengar banyak orang meneriakkan namanya, semangat Maya kembali berkobar mengingat pertandingan pertamanya bersama Fira tempo dulu. Pihak lawan menyerang Maya dengan tendangan lalu mengarahkan tendangan sapuan lagi, kali ini Maya belum sempat menghindar sehingga kedua kaki pihak lawan dapat mengunci kedua kaki Maya, namun sayangnya pihak lawan tidak mampu menumbangkan Maya.
Maya balik menyerang dengan agresif, Maya mengarahkan tendangan yang bertubi-tubi hingga akhirnya tendangannya mengenai dada lawan. Sorak sorai kian bergemuruh melihat Maya yang semakin beringas dan agresif menyerang, mereka sangat penasaran dengan hasil pertandingan peringkat 6 di tahun lalu versus pendatang baru.
Round ke-dua dimenangkan oleh Maya, round ke-tiga juga dimenangkan oleh Maya. Pertandingan berakhir, wasit memanggil kedua pesilat untuk mengumumkan pemenang. Wasit memegang kedua tangan pesilat lalu mengangkat tangan Maya sebagai tanda bahwa Maya lah pemenangnya, kemudian kedua pesilat membungkuk memberi hormat kepada Ketua Pertandingan.
Maya berjabat tangan dengan lawannya. "Terima kasih, kamu hebat sekali, kak. Ini mungkin hanya keberuntunganku bisa menang melawanmu, semoga kita akan bertemu lagi dipertandingan yang lain."
"Kamu juga hebat, ini pengalaman berharga sekali bagiku. Tidak semua pendatang baru lemah dan tidak semua senior selalu menang." Mereka berdua saling merendah dan mengagumi satu sama lain, lalu mereka kembali ke sudut masing-masing.
Bayu datang menyongsong Maya yang telah selesai bertanding. Maya yang masih capek karena selesai bertanding kembali bersemangat setelah melihat senyuman sang Bayu.
"Kamu hebat sekali, aku bangga padamu." Bayu memberi pujian.
"Sapa dulu gurunya?" Ki Sopo ikut nimbrung.
"Gurunya kan aku!" Sahut Mimi sambil ekor matanya melirik sang suami.
"Ki Sopo dan Nyi Yanti yang hebat, tanpa beliau berdua saya cuma pendatang baru yang bertanding dengan emosi dan mungkin saja itu akan menyebabkan kekalahan." Maya memuji kedua gurunya, bukan karena ingin menengahi tapi itulah kenyataannya.
"Terima kasih, Ki, Nyi." Ucap Maya.
"Panggil Pak sama Mimi aja! Bentar lagi juga tunangan kan!" Sahut Ki Sopo.
Mereka berempat senyum-senyum bahagia seakan-akan dunia milik mereka berempat. Bu Parmi senyum-senyum sendiri melihat mereka dari tribun penonton.
"Sial! Apa Maya tidak meminum minuman yang Ratih bawa? Kenapa dia baik-baik saja? Harusnya dia tidak bisa mengikuti pertandingan karena sakit perut." Gerutu seseorang di sudut tribun penonton.
"Aku harus melakukannya lagi nanti, saat Maya akan bertanding untuk babak selanjutnya, semoga saja nanti Maya meminumnya hingga dia didiskualifikasi meskipun sudah menang."
...***...
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕
__ADS_1