CEO Tampanku Ahli Silat

CEO Tampanku Ahli Silat
Part 45 Mata-Mata


__ADS_3

Please jangan jadi silent reader ya kak🙏🏼


Jangan lupa like komen favorit dan votenya. Terima kasih 😘💕


...***...


"Aku ingin merubah sikapku yang terlalu emosian dan tidak sabaran sesuai yang kamu bilang. Apa mungkin aku masih bisa mengejar Mas Bayu lagi?"


Deg... Deg... Deg...


"Kenapa aku tidak suka mendengarnya ingin mengejar Mas Bayu lagi." Ucap Maya dalam hati, dia takut dan khawatir kalau saja Fira mengejar Bayu dan berhasil.


"Apa Mbak Fira yakin ingin mengejar Mas Bayu lagi? Maaf niih… ‘Kan Mbak Fira sudah tidak di perguruan Macan Emas?"


"Bisa saja aku nanti ambil kuliah di tempat Mas Bayu kuliah." Sahut Fira semangat.


"Apa Mbak Fira nggak tahu kalau Mas Bayu sedang menyusun skripsi? Sepertinya bentar lagi juga beres dan lulus, secara Mas Bayu pinter banget." Maya masih was-was.


"Aduh, aku egois nggak ya? Ya Tuhan jangan sampai Mbak Fira ngejar Mas Bayu lagi, aku nggak suka. Kasian Mas Bayu direcokin Mbak Fira terus." Dalam hati Maya malah meminta pada Tuhan agar Fira tidak mendekati Bayu lagi.


"Kok kamu malah lebih tahu sih? Kamu suka sama Mas Bayu ya? Sampai mencari-cari tahu tentang Mas Bayu." Fira kaget karena Maya lebih tahu tentang apa yang Bayu lakukan, sedangkan dia tidak tahu.


"Aku nggak mencari-cari info, Mbak! Mas Bayu dan Mimi yang cerita sendiri saat sedang istirahat latihan." Maya memberi penjelasan agar Fira tidak salah paham.


"Kita memang tidak boleh putus asa dalam berusaha, Mbak. Tapi kita juga harus tahu kapan kita harus berhenti. Jika ada kemungkinan sedikit saja Mas Bayu suka pada Mbak Fira, ya lanjut aja PDKT. Tapi kalau kelihatannya sudah tidak ada kesempatan, jangan memaksakan diri atau nanti malah malu sendiri dan makin terluka." Omongan Maya memang ada benarnya, meskipun sebenarnya Maya berharap Fira tidak mendekati Bayu lagi.


"Pikirkan dengan baik-baik dulu, Mbak!" Maya menghabiskan cappucino-nya.


"Aku tahu Mas Bayu tidak pernah ada rasa padaku, aku saja yang nekat lanjut PDKT meskipun sudah ada red flag dari Mas Bayu." Fira tertegun memikirkan dirinya yang terlalu memaksa ingin dekat dengan Bayu dan ingin memilikinya.


"Apa Kak Marco punya pacar?" Tanya Fira berubah haluan.


"Mbak, sebelum memulai sebaiknya pastikan dulu perasaanmu. Tapi Kak Marco memang nggak punya pacar." Maya mulai berkemas berniat menyudahi pertemuannya dengan Fira.


"Kamu sudah mau pergi? Aku masih punya 1 pertanyaan." Fira mencegah.


"Apa lagi, Mbak? Kalau mau PDKT sama Kak Marco, lakukan sendiri ya. Aku tidak mau ikut campur." Maya langsung memagari dirinya agar tidak terlibat, tidak mungkin dia menyakiti Marco yang sudah baik dan perhatian padanya meskipun Maya tidak ada niat membalas perasaan Marco.


"Kenapa kamu pelit sekali?" Fira sewot.


"Kak Marco tahu masalah Mbak Fira yang sudah memfitnahku, aku tidak mungkin membantumu mendekatinya." Ucap Maya tegas.

__ADS_1


"Jadi kamu menganggap aku tidak pantas buat Kak Marco?" Fira mulai emosi lagi.


"Coba Mbak Fira pikir sendiri! Coba instrospeksi diri dulu. Jangan mental korban dan terus-terusan menyalahkan orang lain. Ku harap Mbak Fira bisa mencerna dengan baik setiap kata yang ku ucap sedari tadi." Maya mulai enggan menanggapi Fira, rasanya sudah cukup dia bersabar.


"Kenapa kamu memaafkan aku dengan mudah?" Akhirnya pertanyaan itu muncul juga.


"Aku hanya tidak ingin menghabiskan energi ku untuk membenci ataupun mendendam. Ada banyak hal yang harus ku lakukan, sekolahku lebih penting. Lagipula Nyi Yanti dan Ki Sopo selalu mengingatkanku bahwa tidak baik untuk mendendam atau membalas dendam, karena pembalasan dendam hanya akan menimbulkan dendam yang lain dan tidak akan pernah ada habisnya. Hidupku terlalu berharga jika hanya digunakan untuk mendendam atau membenci."


"Kenapa hati mu sungguh lapang hingga kamu bisa begitu saja memaafkan?" Fira masih belum puas dengan jawaban Maya.


"Kesalahanmu belum bisa dilaporkan sebagai tindakan kriminal, lagi pula masalahnya sudah selesai dan sudah terungkap. Aku serahkan pada Tuhan karena hanya Tuhan 'lah yang berhak menghakimi dan menghukum kesalahan hambanya." Jawab Maya mantap, hingga membuat Fira merasa takut.


Maya hendak berdiri namun Fira mencegahnya lagi dengan menarik tangannya. Marco yang melihat dari jauh sudah beranjak berdiri karena takut Fira menyerang Maya. Marco duduk kembali setelah melihat Maya juga duduk lagi dan tidak terjadi pertarungan.


"Aku mohon maafkan aku. Aku mengaku salah, Maya. Kalau bisa tolong maafkan aku dengan ikhlas, aku tidak akan mengulangi kesalahan ku lagi." Fira masih memegangi tangan Maya dan Marco terus mengawasinya dengan tatapan tajam.


"Aku tahu pasti Tuhan akan membalas perbuatan ku. Tapi ku harap kamu benar-benar memaafkan aku. Aku akan memperbaiki sikapku, aku akan menebus kesalahanku. Semoga dengan begitu Tuhan juga akan memaafkan kesalahanku." Terlihat Fira meminta maaf dengan tulus.


"Mbak Fira ingin menebusnya dengan apa?"


"Sepertinya aku bisa minta tolong untuk mengungkap kelakuan Priska." Dalam hati Maya kegirangan.


"Aku tidak merasakan hawa jahat seperti saat baru datang tadi. Apa mungkin Mbak Fira sungguh-sungguh? Sepertinya aku harus bertanya pada Ki Sopo, kenapa aku bisa merasakan hal semacam ini." Ucap Maya dalam hati.


"Baiklah, aku akan mempertimbangkannya setelah Mbak Fira membuktikan omongan Mbak Fira. Udah seperti mata-mata aja ya, Mbak?" Maya meminta bukti.


"Hahaha... Iya, nggak apa-apa seperti mata-mata, yang penting untuk hal baik, untuk mencegah kejahatan. Aku akan membuktikannya nanti." Janji Fira.


"Baiklah, apa aku sudah boleh pulang?" Maya tidak enak karena Marco sudah cukup lama menunggu.


"Apa aku bisa mendekati Kak Marco?" Fira masih bertanya lagi.


"Fokus perbaiki diri dulu, Mbak! Sapa tahu dengan begitu kamu akan menemukan cinta yang tepat." Maya tidak bisa memberikan jawaban pasti, karena dia tahu Marco menyukainya.


"Yang jelas jangan salahkan aku, jika Kak Marco tidak menyukai Mbak Fira. Karena perasaan orang tidak bisa dipaksa." Tegas Maya.


"Baik, pulang 'lah! Biar aku yang bayar. Terima kasih atas niat baikmu yang mencoba menyadarkan aku yang sangat keras kepala ini. Aku sangat berharap kamu benar-benar memaafkan aku nantinya." Fira tersenyum, aura positif mulai muncul dari Fira.


"Lagi, aku merasakan hal baik pada Mbak Fira. Aku sudah tidak merasa was-was, tagu ataupun takut akan kehadirannya." Batin Maya.


"Okay, Mbak. Aku pamit ya." Mereka berdua berjabat tangan.

__ADS_1


Maya berjalan menghampiri Marco dan ia langsung disambut dengan senyum manis. "Sudah selesai, May?"


"Sudah, Kak. Maaf ya, jadi nunggu lama." Maya sungkan membuat Marco lama menunggu.


"Biasa aja, jangan bawel lagi deh!" Ucap Marco, ia pun segera beranjak berdiri dan hendak mengantar Maya.


Bugh...


Maya menepuk lengan Marco dengan kekuatan sedang.


"Auuuu... Tidak sakit." Ledek Marco dan tersenyum jahil.


"Awas entar lama-lama kangen loh!" Marco malah kegirangan dan senyum-senyum nggak jelas.


"Iihhhh... " Maya mencubit lengan Marco.


"Rasain nih! Kalau nggak dicubit pasti nggak mempan nih!"


Maya gemas dan mencubit Marco berulang kali hingga Marco berhasil megenggam tangan Maya. Sesaat Maya terdiam lalu Marco melepaskan tangannya lalu menggandeng Maya.


"Udah, ayok aku antar. Kamu mau ke perguruan Macan Emas kan?" Ajak Marco menghilangkan rasa canggung.


"Memangnya motorku belum beres, Kak?" Maya menatap Marco dengan tampang imutnya hingga membuat Marco jadi gemas, namun ia harus menahan diri.


"Belum beres. Nggak apa-apa aku antar! Nggak usah sungkan! Aku juga nggak sibuk." Marco memang benar-benar modus, jelas-jelas barusan karyawan bengkelnya mengirim pesan dan memberitahu bahwa motor Maya sudah selesai diganti ban baru. Jelas Marco tidak tanggung-tanggung memberikan yang terbaik buat Maya, takutnya bakal bocor lagi.


"Tapi aku pengennya ke suatu tempat yang agak tenang, aku tidak mau ke perguruan dulu. Perasaanku sedang kacau sekali." Mata Maya mulai berkaca-kaca.


"Jangan sedih! Ada aku!" Tanpa banyak bicara lagi Marco langsung menggandeng Maya ke parkiran dan mamakaikan helmnya. Maya yang sedang tidak fokus hanya nurut-nurut saja.


Fira melihat semua itu dengan jelas. Fira melihat Maya yang hampir menangis. "Pasti Maya sakit hati karena Priska. Sejak tadi dia hanya menahannya di depan ku. Kenapa aku jadi ikut sedih melihat Maya sedih. Tidak terbayang betapa sakitnya dikhianati teman sendiri."


Fira menuju kasir dan ingin membayar tagihan, namun ternyata semuanya sudah dibayar oleh Marco.


"Sepertinya Kak Marco mencintai Maya secara sepihak. Tapi herannya yang terlihat hanya Kak Marco yang setulus hati perhatian terhadap Maya. Harusnya aku juga mencintai dengan setulus hati, bukan sekedar obsesi, mungkin dengan begitu aku juga akan bertemu dengan pasangan yang tepat." Gumam Fira.


...***...


Jangan lupa ikuti update cerita selanjutnya ya…


Jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕

__ADS_1


__ADS_2