
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕
...***...
"Sebaiknya biarkan anak-anak yang memutuskan, Mbak. Bukankah Nak Bayu sendiri yang bilang akan menerima apapun keputusan Maya! Kenapa sekarang Nak Bayu terkesan buru-buru?"
Nyi Yanti langsung angkat bicara. "Bukan maksud buru-buru tanpa perhitungan, Mi. Memang aku yang berniat ke sini ingin menjodohkan Bayu dan Maya, apalagi mereka 'kan sebenarnya saling suka satu sama lain. Aku nggak mau Bayu sekedar memacari Maya. Kapan lagi Bayu bisa jatuh cinta dan aku dapat calon mantu yang secantik anakmu, pinter lagi."
"Bayu selama ini tidak pernah pacaran, begitu jatuh cinta ternyata nggak salah pilih, sesuai harapanku. Bapaknya juga sudah setuju kalau Bayu memilih Maya. Kalau bisa sih jangan sekedar pacaran, Mi. Kami menghormati putrimu, dia sudah ku anggap seperti putriku sendiri juga. Akan lebih baik kalau statusnya jelas, bukankah lebih baik kita jodohkan atau kita tunang'kan mereka berdua." Nyi Yanti langsung gerak cepat merayu calon besan'nya.
Bu Parmi terdiam, mencerna apa yang diusulkan oleh Nyi Yanti.
"Maaf nih, Mi. Kamu juga tahu 'kan kalau akhir-akhir ini keselamatan Maya terancam gara-gara mantan pacar dan temannya!" Nyi Yanti bersiap merayu calon besan'nya lagi.
"Iya, aku tahu, Mbak. Aku dan bapaknya Maya sangat berterima kasih sekali pada Perguruan Macan Emas terutama pada Nak Bayu yang telah melindungi dan menolong Maya." Jawab Bu Parmi.
"Kalau status Maya jelas menjadi tunangan Bayu, pasti Maya bisa lepas dari mantannya itu. Yang anaknya Prasetyo Wibowo, dia 'kan terkenal play boy dan nakal sebenarnya, Mi!"
"Bayu-ku mencintai anakmu, jadi aku harus turun tangan menjodohkan mereka agar bisa melindungi calon mantuku. Aku dan bapaknya Bayu tidak mau kalau Maya kenapa-kenapa. Apalagi dia juga murid khusus kami."
"Kalau status Maya jelas sebagai tunangan Bayu, kita 'kan tidak perlu mikir omongan orang-orang lagi. Biar aman kalau Bayu antar jemput dan sering ngapel ke sini. Iya 'kan?" Nyi Yanti panjang lebar mengeluarkan berbagai alasan, sungguh pandai sekali merayu Bu Parmi.
"Iya juga sih, Mbak! Kalau jelas sebagai tunangan, orang-orang tidak akan terlalu bergunjing. Tapi apa Bayu yakin bisa setia menunggu? Aku tidak mau akhirnya Maya-ku kecewa karena ditinggalkan oleh Bayu, bisa saja Bayu pergi karena terlalu lama menunggu. Apalagi mereka berdua belum lama kenal, pasti mereka belum tahu seluk-beluk sifat masing-masing." Jelas saja sebagai orang tua pihak perempuan, Bu Parmi sangat khawatir putrinya yang masih kecil sudah mau diambil orang.
"Bu, saya benar-benar mencintai Maya. Saya tidak akan berjanji tapi saya akan berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk Maya. Sulit bagi saya untuk jatuh cinta atau mencintai, saya pasti akan melakukan yang terbaik untuk wanita yang saya cintai. Saya membawa ibu saya ke sini untuk menunjukkan kesungguhan saya." Bayu berusaha meyakinkan calon ibu mertuanya.
"Saya ingin bertunangan dengan Maya agar semua orang tahu kalau saya sudah memilih Maya. Reputasi Perguruan Macan Emas dan PT Andrepati jaminannya, saya tidak akan berbuat yang akan merugikan ataupun menyakiti kedua orang tua saya dan Maya sekeluarga."
"Saya hanya ingin melindungi calon istri masa depan saya. Saya juga takut kehilangan Maya, kalau saya tidak segera mengikatnya dengan perjodohan atau pertunangan. Banyak pria di luar sana yang menginginkan cintanya Maya." Bayu terus berusaha meyakinkan Bu Parmi.
__ADS_1
"Nak Bayu tahu 'kan Maya baru saja putus? Diakui atau tidak pasti di hati Maya masih tersisa sedikit rasa pada mantan pacarnya itu, dia masih menata hatinya. Apa Nak Bayu terima dengan hal itu?"
"Dan yang paling penting, apa Nak Bayu sudah memberi tahu Maya kalau mau ke sini beserta ibu? Apa Maya tahu kalau Nak Bayu mengajaknya bertunangan? Kok Maya belum cerita sama ibu?" Menatap penuh tanya pada Bayu.
Nyi Yanti pun menatap penuh tanya pada Bayu, namun Nyi Yanti dapat membaca suasana dengan cepat.
"Bayu pasti ingin memberikan kejutan pada Maya, Mi." Sahut Nyi Yanti.
"Maaf, Bu. Memang saya belum memberitahu Maya tentang rencana ini. Tapi saya berani datang ke sini bersama ibu saya karena saya sudah memastikan perasaan kami satu sama lain bagaimana. Kedatangan saya ke sini untuk menunjukkan keseriusan saya." Tegas Bayu.
"Kemarin Maya juga telah mengakui kalau dia masih ada sedikit rasa dengan Randy, tapi itu tidak akan membuat saya mundur. Saya yakin saya mampu memperlakukan Maya lebih baik daripada yang Randy lakukan." Bayu bicara dengan tenang dan penuh keyakinan.
"Menghadapi pertanyaan dari calon ibu mertua memang lebih menakutkan daripada menghadapi para dosen penguji sidang skripsi." Keluh Bayu dalam hati.
"Lagipula maksud Bayu 'kan baik, Mi! Emang kamu mau kalau Bayu cuma sekedar memacari Maya? Bukan 'kah lebih baik dan terhormat kalau kita menjodohkan mereka dan mereka bisa tunangan dulu sampai Maya lulus SMA!" Nyi Yanti mulai melancarkan serangan untuk merayu Bu Parmi, bahkan beliau sengaja pindah duduk di samping Bu Parmi.
"Kalau Bayu hanya niat main-main, pasti dia hanya akan memacari Maya seperti yang dilakukan anaknya Prasetyo Wibowo itu."
"Masa kamu lebih suka anakmu cuma dipacarin, Mi?" Nyi Yanti sengaja memberikan pertanyaan yang sebenarnya tak butuh jawaban. Sudah pasti Bu Parmi tidak suka kalau anaknya pacaran.
"Apa yang dikatakan Mbk Miya memang benar adanya." Ucap Bu Parmi dalam hati.
"Wah kuenya enak ya, Yu." Nyi Yanti mencicipi kue kering yang dihidangkan oleh Bu Parmi.
"Buatan, Bu Parmi sendiri, Mi." Sahut Bayu.
"Wah! Kamu udah tahu kalau ini buatan calon ibu mertua. Kalau Maya calon mantuku bisa bikin kaya gini juga nggak, Mi?" Nyi Yanti menikmati kue kering itu dengan lahap.
"Kalau yang ini yang bikin Maya sendiri. Kemarin iseng katanya lagi bahagia. Setelah pulang sekolah bikin kue sambil senyum-senyum sendiri, bahkan nggak berangkat latihan katanya capek." Bu Parmi mulai berpikir, mungkin saja Maya terlihat bahagia karena Bayu.
__ADS_1
Tanpa sengaja kedua pasang mata Bu Parmi dan Nyi Yanti secara bersamaan menatap ke arah Bayu yang duduk di depan mereka berdua. Bayu tersenyum sendiri sambil memandangi kue kering yang berbentuk hati. Beberapa saat Bayu memandangi kue itu lalu tersenyum dan memakan kue itu dengan senyuman yang sangat lucu, manis dan membahagiakan. Nyi Yanti dan Bu Parmi saling pandang karena melihat tingkah konyol Bayu.
"Yu... " Panggil Nyi Yanti.
"Eh, iya Mi." Bayu kaget melihat ibunya dan calon ibu mertuanya yang tiba-tiba tertawa.
"Hahaha... Kamu lihat 'kan, Mi?" Nyi Yanti menepuk pundak Bu Parmi sambil terus tertawa.
"Mi...!" Bayu malu sendiri setelah menyadari kalau kedua ibu-ibu itu memperhatikan dia yang senyum-senyum sendiri sambil makan kue buatan Maya.
"Nanti aku bicarakan dulu sama bapaknya Maya ya, Mbak. Kalau bapaknya Maya setuju aku juga langsung setuju. Sepertinya pilihan bagus agar mereka tunangan terlebih dahulu." Akhirnya Bu Parmi setuju begitu saja gara-gara melihat tingkah konyol Bayu yang membuatnya gemas.
Di rumah Maya, Bayu masih menunggui dua ibu-ibu yang masih terus nostalgia dengan masa SD-SMP mereka di desa yang sama. Bu Parmi dan Nyi Yanti ternyata terpaut 5 tahun. Kalau Bayu dan Maya terpaut 7 tahun.
Maya di sekolah masih terus memikirkan kenapa ada bayangan dirinya dan Bayu yang sedang pakai baju pengantin.
"Sepertinya aku harus bertanya pada bapak mengenai cincin ini." Pikir Maya.
"Ratih, coba lihat cincinku ini! Bagus nggak? Ini cincin dari kakek sih, kaya jadul ya modelnya?" Memperlihatkan cincinnya pada Ratih.
Ratih memegang cincin Maya, "Bagus kok, May, nggak kelihatan jadul kok!"
"Loh, kok Ratih berduaan sama..." Ucap Maya dalam hati.
...***...
Ratih sama siapa hayooo?
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕
__ADS_1