
Please jangan jadi silent reader ya kak🙏🏼
Jangan lupa like komen favorit dan votenya. Terima kasih 😘💕
...***...
"Lebih baik aku cari cara lain untuk menghancurkan Maya. Kalau Mas Randy tidak segera bertindak aku bisa menyuruh Kak Bobby." Rencana licik lain muncul di otak seorang rubah seperti Priska.
"Kak Bobby sepertinya lebih mudah dikendalikan dari pada Mas Randy. Kalau dikasih susu murni sama madu cinta, pasti dia akan menuruti semua permintaan ku." Priska dengan percaya diri menganggap dia akan mampu mengendalikan Bobby. Pikiran Priska terlalu picik, dia tidak sadar bahwa Bobby hanya memanfaatkannya saja.
"Sial! Pipiku masih terasa sakit karena tamparan Fira. Baru ditampar aja seperti ini, bagaimana jika bertanding? Sungguh tak ku sangka Maya bisa mengalahkan Fira." Priska mengelus pipinya yang sakit.
"Semuanya di luar rencana, entah mengapa sekarang Maya seperti lebih berhati-hati. Waktu awal pacaran dengan Mas Randy, Maya begitu lugu dan masih polos, tapi sekarang dia seperti berbeda. Dia bahkan berani terang-terangan bilang padaku kalau dia tidak ingin pacaran kelewat batas. Dulu dia selalu mendengar apa yang ku katakan, tapi sekarang seolah dia mulai menjauh dan tidak mendengarkan ku lagi. Dia sekarang makin percaya diri dan berani, semakin sulit untuk menjatuhkannya. Siapa sangka kalau dia bakal benar-benar jadi murid khusus Ki Soponyono. Ini salah Mas Randy yang tidak bisa menghentikan Maya untuk ikut bela diri silat!"
Priska mengendarai motornya untuk balik ke rumah karena hari sudah mulai petang, namun sepanjang perjalanan pikirannya terus mengembara mencari cara bagaimana dia akan menjatuhkan Maya.
...***...
Flashback On
Tiga hari setelah Randy membubarkan geng Don Juan, ia meminta orang tuanya untuk bertindak menjatuhkan orang tua Bobby dan Ferdy yang telah memanfaatkannya selama ini. Randy bertekad mengambil semua yang telah Bobby dan Ferdy ambil darinya. Bapak Andi Prasetyo Wibowo ayahnya Randy, ia adalah kepala kantor pa - jak di kota itu. Pak Andi dapat melakukan apa saja dengan uang yang didapatnya dari para klien. Dalam satu hari uang 10 juta itu terasa kecil, kadang dalam satu hari dia bisa mendapat 25 juta hingga ratusan juta. Ayah Bobby dan Ferdy jauh di bawah ayahnya Randy, sehingga Pak Andi dengan mudah dapat menjatuhkan mereka.
"Sore, Pak." Bobby menyapa pak satpam yang menjaga rumah Randy.
"Sore, Mas Bobby. Mau mencari Mas Randy ya?" Jawab pak satpam.
"Iya, Pak, kami ingin bertemu dengan Randy. Apa dia di rumah?" Bobby ternyata datang bersama Ferdy.
"Mas Randy tidak ada di rumah." Sahut pak satpam sesuai dengan instruksi Randy.
"Apa ada perempuan di dalam? Jadi Randy tidak ingin bertemu?" Ferdy ikut bicara.
"Tidak ada. Mas Randy memang tidak ada di rumah." Pak satpam masih kekeh.
"Jangan bohong, Pak! Kami tahu Randy pasti ada di rumah. Kami anggota gengnya, kami tahu kebiasaan Randy." Ferdy ngotot.
"Sudah bapak bilang kan, kalau Mas Randy tidak ada di rumah. Lagi pula Mas Randy sudah nitip pesan, anggota gengnya sekarang tinggal Mas Marco dan Mas Vino." Pak satpam masih tidak mengijinkan Ferdy dan Bobby masuk.
"Ada hal penting yang perlu kami bicarakan, pak. Jadi tolong ijinkan kami masuk. Saya yakin Randy ada di rumah 'kan, Pak!" Ferdy mendesak pak satpam agar diijinkan masuk.
"Wah…! Saya nggak berani, bisa-bisa saya yang kena marah. Mas Ferdy telepon Mas Randy aja dulu. Kalau dibolehkan masuk, bapak akan bukakan pintunya." Pak satpam menawarkan solusi yang sama-sama aman, tidak kebayang kalau dimarahi Randy dan dipecat gara-gara membukakan pintu untuk mantan anggota geng Don Juan.
Ferdy berulang kali menelepon Randy namun tidak ada jawaban, begitu pula dengan Bobby, ia juga berulang kali mencoba menelepon tapi tidak dijawab.
"Hahaha... Baru tahu rasa mereka berdua. Itu akibatnya berani melawan dan memanfaatkan Randy Prasetyo Wibowo." Randy tertawa jahat di dalam rumahnya.
__ADS_1
"Kalian itu cuma mainan ku, hanya aku yang bisa mengontrol kalian. Mimpi kalian terlalu tinggi untuk memanfaatkan aku! Go - blok!" Randy tersenyum jahat dan tiba-tiba muncul ide gila di benaknya.
Randy menelepon pak satpam melalui interkom, ia menyuruh pak satpam untuk membukakan pintu untuk kedua mantan anggota gengnya itu.
"Sial! Belagu sekali, dia tidak mau menjawab telepon kita, pasti dia tertawa di dalam sana." Gumam Ferdy.
"Kalau kamu tidak mau keluarga kita berdua hancur, kamu harusnya tidak emosi dan mencoba melawan atau memanfaatkan Randy lagi. Ayah kita berdua sudah rugi banyak karena campur tangan ayah Randy. Ingat itu!" Bobby mengingatkan Ferdy akan kekuatan keluarga Randy.
"Mas Bobby, Mas Ferdy, silakan masuk! Mas Randy sudah mengijinkan." Pak satpam membukakan pintu.
Ferdy dan Bobby pun segera mengendarai motornya masuk ke halaman rumah Randy. Setelah memarkirkan motor mereka segera bergegas masuk menemui Randy yang biasanya di ruang tengah tempat mereka biasa ngumpul-ngumpul.
"Oh ada bos Ferdy dan bos Bobby! Silakan, silakan duduk bos."
"Hahaha... Hahaha... Hahaha..." Randy tertawa puas sekali.
"Bagaimana kabarnya bos? Lama nggak mentraktir nih!"
"Hahaha... Hahaha... Hahaha..." Randy tertawa penuh hinaan.
"Loe jangan sembarangan ya, gue bisa hancurin loe! Loe itu cuma anak orang kaya yang mengandalkan harta orang tuanya saja!"
"Hahaha... Hahaha... Hahaha..." Randy terus mentertawakan Ferdy dan Bobby.
"Ampun bos, Randy takut."
Bobby menatap tajam pada Ferdy, jika kali ini Ferdy meluapkan emosinya lagi, sudah pasti sebentar lagi kedua orang tua mereka akan dilaporkan ke kantor polisi dan harta mereka bisa disita karena tidak membayar pajak sesuai aturan.
"Kami datang ke sini untuk minta maaf dan minta pertolongan, Rand." Bobby bicara terlebih dahulu, sedangkan Ferdy masih berusaha mengendalikan amarahnya.
"Untuk apa gue menolong orang-orang tidak tahu diri seperti kalian? Sudah bagus gue kemarin-kemarin baik sama kalian, tapi balasan kalian apa?"
"Bukan salah gue kalau kalian terlahir tidak lebih tampan, bukan salah gue kalau keluarga kalian broken, bukan salah gue kalau keluarga kalian tidak lebih kaya."
"Kalian dibaikin malah kayak benalu dan nggak pernah puas memanfaatkan gue." Randy duduk dengan congkak, kesombongannya sudah mencapai 100 % lebih.
"Kami minta maaf, kami yang salah." Bobby mengakui kesalahannya.
"Jadi yang salah loe doang, Bob?" Sindir Randy.
"Kami minta maaf, kami yang salah." Lirih Ferdy.
"Apa? Gue nggak denger." Randy sengaja mengerjai Bobby.
"Gue minta maaf, gue yang salah." Teriak Ferdy.
__ADS_1
"Loe ngebentak gue?" Ucap Randy penuh penekanan dan sorot mata yang tajam.
"Gue minta maaf, gue yang salah, tolong maafin gue, Rand." Akhirnya Ferdy bisa mengucapkannya dengan nada dan volume yang pas, hingga Randy tidak memintanya mengulang kembali.
"Gue akan maafin kalian, tapi dengan syarat!" Randy memberikan penawaran.
"Katakan saja apa syaratnya? Kami berdua akan berusaha memenuhinya." Ferdy berjanji.
"Maya hanya untuk ku, kalian tidak boleh menyentuhnya! Jika kalian berani menyentuh sedikit saja, aku pastikan keluarga kalian akan bangkrut dan ayah kalian membusuk di penjara."
"Baik akan kami lakukan." Ferdy tersenyum karena hanya satu syarat yang Randy sebutkan.
"Jangan bahagia dulu! Masih ada syarat yang lain." Tersenyum sinis.
"Kalian boleh ambil Priska, tapi jangan sampai kalian menuruti maunya untuk berbuat jahat pada Maya."
"Dan kalian wajib membayar pajak ke gue sebesar 10 juta per bulan! Sampai uang yang gue hamburkan untuk kalian terganti. Apa kalian terima syaratnya?"
"Maksud loe, kami berdua bisa bermain dengan Priska seperti kita bermain dengan Prita?" Ferdy antusias.
"Tentu, tapi tidak boleh sampai ketahuan kalau gue yang mengijinkan kalian! Bukan seperti Prita yang bermain terang-terangan, gue nggak mau kalau Priska tahu kalau aku menyuruh kalian menikmati madu cintanya. Kalau kalian bisa, lakukan sembunyi-sembunyi saja, sesuka kalian!"
"Yang paling penting, jangan sentuh Maya! Kalian paham 'kan? Kalau kalian tidak paham, biar ayahku yang bertindak." Randy mengancam.
"Iya, kami paham." Jawab Bobby.
"Jika kalian setuju, gue akan langsung bilang ke ayah untuk menghentikan kasus ayah kalian berdua."
"Kami paham dan kami juga menerima syaratnya." Jawab Ferdy.
"Satu lagi! Jangan sampai Vino dan Marco tahu mengenai perjanjian kita bertiga ini. Kalian juga tidak boleh menyentuh perempuan yang disukai Vino dan Marco!"
"Geng kita masih ada, hanya tidak 100 % lagi. Kalian harus jadi anak buah ku yang tidak terlihat." Sorot mata Randy masih setajam mata kucing yang sedang marah dan ingin berkelahi.
"Okay, kita sepakat." Ferdy langsung setuju.
"Gue setuju." Imbuh Bobby.
"Nggak dapat Maya, Priska pun jadi. Apalagi Priska cukup berduit, tidak seperti Maya." Batin Ferdy.
Flashback of.
...***...
Author mengucapkan "Selamat Hari Raya Idul Fitri. Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin."
__ADS_1
Jangan lupa ikuti update cerita selanjutnya ya…
Jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕