
Maya terburu-buru meninggalkan Marco di kelas, bahkan dia belum sempat membalas pesan dari Bayu. Ia berjalan menuju motornya di parkiran yang sudah cukup sepi. "Huhh! Kenapa juga mesti teringat kehidupan lalu yang begitu kelam? Tapi nggak apa-apa lah, aku jadi ingat ternyata Kak Marco menyukai ku dan ingin melindungi ku juga."
"Tapi, aku jadi terlambat ke perguruan Macan Emas, kira-kira ada apa ya? Tumben sekali Mas Bayu menelepon berkali-kali. Kok jadi cemas gini!" Maya teringat untuk segera membalas pesan Bayu, ia pun segera mengambil ponsel di sakunya.
"Aku akan segera ke sana, Mas. Kalau boleh tahu ada masalah apa ya, Mas?" Ketik-ketik langsung kirim.
Maya penasaran dengan avatar atau profile picture kontak Bayu di chat application (CA), ia pun membuka profile picture Bayu.
"Aduh, ganteng banget sih! Bikin nggak kuat iman." Canda Maya, ia segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya karena sudah 5 menit berlalu tapi Bayu belum membalas pesannya.
Maya hendak memakai helm, tapi dia seperti mendengar suara di balik tembok ruangan gudang di samping parkiran. Maya ingat di situ juga dia pernah mencium Randy. Maya tiba-tiba merasa penasaran dan ingin mengintip suara siapakah itu. Maya men-silent ponselnya dan segera membuka kamera video untuk jaga-jaga. Entah mengapa jiwa usilnya mulai muncul.
"Whaaat?"
Maya membungkam mulutnya sendiri agar tidak bersuara. Ia melihat Priska sedang berciuman dengan Bobby, bahkan tangan Bobby sudah tenggelam di balik seragam Priska mencari-cari susu murni. Mereka berdua terlalu asyik hingga tidak tahu ada yang mengintip.
"Ini gila...! Ini gila...!" Batin Maya, ia perlahan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Yang penting aku sudah dapat videonya, sudah dipastikan Priska bukan orang baik-baik, mungkin percuma saja aku percaya dan khawatir padanya." Gumam Maya.
"Tapi ini benar-benar gila nggak sih?Malah dengan sengaja jadi pemain cinta, dia perempuan loh!"
"Kalau dia seperti itu, bukannya mendapatkan cinta, tapi dia hanya pemuas saja. Padahal dia cantik, kenapa sampai segitunya!" Maya tak habis pikir dengan apa yang Priska lakukan.
Maya buru-buru memakai helm dan men-starter motornya dan segera berangkat ke padepokan, meskipun masih diselimuti berbagai pertanyaan sedang ada apa di perguruan Macan Emas sampai Bayu menghubunginya berkali-kali.
Sepanjang perjalanan Maya terus menebak-nebak apa yang terjadi, ia bingung kenapa tiba-tiba ada masalah penting, padahal 2 minggu ini semua berjalan lancar. Pikirannya jadi melanglang buana gara-gara habis melihat drama perselingkuhan seorang selingkuhan.
"Kalau dijadikan film judulnya jadi Selingkuhan Pacarku Selingkuh alias SPS. Hahaha...." Maya tertawa sendiri di atas motornya.
Zwiiiiiing… Zwiiiiiing…
Terlihat Maya memasuki gerbang perguruan Macan Emas dengan motornya, semua mata langsung tertuju kepadanya, mengawasi setiap gerakannya.
"Kok jadi horror? Seakan ada banyak pasang mata sedang mengawasi aku. Sebenarnya ada apa ini? Aku tidak merasa bikin salah." Maya bergumam sendiri sambil mematikan motor lalu melepaskan helmnya. Ia pun segera melangkah menuju halaman padepokan dan disambut dengan tatapan dan kata-kata tajam dari murid-murid yang lain.
"Nggak nyangka murid baru sok jagoan berani datang setelah bikin masalah!" Teriak seorang murid.
__ADS_1
"Masih punya muka buat datang ke sini? Kalau aku sih pasti malu. Mentang-mentang murid khusus terus semena-mena, udah merasa hebat?" Fira mulai memprovokasi dan menatap sinis pada Maya.
"Iya nih! Nggak pantes jadi murid khusus, kalau kelakuannya sok jagoan dan bikin permusuhan dengan perguruan Mawar Hitam!" Murid lain menimpali dan mereka ikut menatap sinis ke arah Maya.
"Mentang-mentang sering dibela Mas Bayu nih! Makanya jadi sok cantik dan sok hebat."
"Huuuuuu…" Beberapa murid yang tidak menyukai Maya bersorak mengintimidasi.
"Hei…! Diam kalian!" Teriak Angga memperingatkan, namun beberapa murid masih kasak-kusuk.
"Wah, wah, nggak cuma Mas Bayu, Mas Angga juga ikut membelanya. Pantas saja jadi sombong!" Siswa yang lain makin panas.
"Haduh, ada apa lagi ini? Kenapa hidupku nggak tenang dan banyak musuh begini?" Ucap Maya dalam hati.
"Ini sebenarnya ada apa sih, Mas? Kok tiba-tiba aku diserang begini!" Maya bingung dan bertanya pada Angga.
"Biar Mas Bayu aja yang ngejelasin. Dew, Mas Bayu malah ke mana sih?" Angga merasa tidak sanggup membungkam para murid yang percaya bahwa Maya benar-benar melakukan penyerangan pada murid perguruan Mawar Hitam.
Sebagian murid perempuan memang ada yang tidak menyukai Maya karena merasa cemburu dengan posisi Maya sebagai murid khusus, apalagi ia dapat menjadi murid khusus hanya dalam hitungan minggu. Maya diangkat jadi murid khusus Nyi Yanti hanya dalam waktu 2 minggu dan 1 minggu kemudian diangkat menjadi murid khusus Ki Sopo. Para murid perempuan tentu semakin tambah iri karena Maya juga mendapatkan perhatian dari Bayu.
Bayu berlari dari arah padepokan karena mendengar suara di luar yang gaduh, tadi dia sempat masuk ke dalam padepokan untuk melihat kondisi di dalam. Bayu sedikit khawatir kalau kondisi di dalam akan menyudutkan Maya dan Ki Sopo pasti akan marah besar. Pahit-pahitnya Maya akan dikeluarkan secara tidak hormat dan tidak akan diterima lagi di perguruan manapun.
"Maya…!" Panggil Bayu. Sejenak ia terpesona melihat Maya yang masih mengenakan seragam sekolah. Murid yang lain diam karena melihat Bayu datang.
"Iya, Mas. Maaf tadi aku ketiduran di kelas, jadi telepon dari Mas Bayu tidak terjawab." Maya minta maaf terlebih dahulu.
"Langsung to the point saja. Tolong jawablah dengan jujur agar aku bisa bantu selesaikan masalah ini. Apa kamu menyerang atau berkelahi dengan murid dari perguruan Mawar Hitam?" Bayu sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban dari Maya.
"Semoga kamu tidak melakukannya, Maya." Bayu berharap dalam hatinya.
"Berkelahi?" Maya heran.
"Aku tidak pernah berkelahi atau menyerang orang sembarangan, Mas. Aku baru bertanding 1 kali waktu dengan Fira. Apalagi perguruan Mawar Hitam, aku tidak tahu itu dimana dan seperti apa. Satu-satunya perguruan yang ku ketahui di dekat sini cuma perguruan Macan Emas, itupun baru tahu semenjak masuk SMA." Maya menjawab dengan sangat yakin.
"Mana ada maling mau ngaku!" Fira hendak memprovokasi lagi, dia sangat emosi apalagi setelah ucapan Bayu tadi, dia sangat malu ditolak terang-terangan sebelum sukses pendekatan dan menyatakan cintanya.
__ADS_1
"Betul, mana ada maling mau ngaku. Pura-pura nggak berkelahi, padahal sudah jelas ketua perguruan Mawar Hitam sampai datang ke sini marah-marah." Teman Fira menimpali.
"Huuuuuu… " Teriak para murid yang mudah terprovokasi.
Maya hendak menjawab namun Bayu mencegahnya. Bayu langsung menarik tangan Maya dan hendak membawanya ke dalam padepokan.
"Tapi aku beneran nggak nyerang murid perguruan Mawar Hitam, Mas! Aku nggak mau dituduh seperti itu. Apa Mas Bayu nggak percaya padaku?" Maya nampak kecewa karena Bayu diam setelah mendengar provokasi dari murid-murid lain.
"Kenapa di keadaan seperti ini kamu malah diam dan nggak membelaku lagi sih, Mas? Nyebelin!" Ucap Maya dalam hati.
"Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan." Jawab Bayu enteng.
"Aku peringatkan pada kalian semua. Jangan sampai ada murid yang pulang sebelum masalah ini selesai dibicarakan! Aku tidak mau kalau kalian pulang dan membawa berita buruk hingga menyebar di luar sana. Salah-salah malah akan memicu perselisihan antar murid perguruan Macan Emas dan Mawar Hitam." Bayu memberi instruksi dengan tegas.
"Kalau kalian sampai membuat onar gara-gara masalah yang belum jelas ini dan kalian memprovokasi sana-sini, aku pastikan kalian akan dikeluarkan dari sini dan tidak akan diterima dimana pun! Ingat itu baik-baik!" Bayu melirik ke arah Fira karena Bayu tahu provokasi muncul darinya.
"Dewi, Angga, tolong urus yang di sini ya!" Bayu menyuruh Angga dan Dewi lanjut latihan seperti biasa, tumben sekali banyak yang datang latihan kali ini.
"Siap laksanakan, Mas." Jawab Dewi.
Bayu mengandeng Maya menuju ke dalam padepokan, Maya justru terpesona karena tangannya terus dipegangi oleh Bayu. "Kamu jangan melamun, ini masalah besar!"
Maya tersadar akan lamunannya. "Tapi aku beneran nggak menyerangnya, Mas! Masa Mas Bayu nggak percaya sama aku?"
"Aku percaya, tapi orang lain perlu bukti. Kamu juga murid baru di sini, aku belum mengenalmu sejauh itu hingga aku langsung 100 % percaya padamu begitu saja."
"Aku senang, setidaknya Mas Bayu sudah percaya walaupun cuma sedikit." Tidak ada rasa takut bagi Maya, apalagi setelah mendengar bahwa Bayu percaya padanya.
"Jangan GR! Aku ingin menyelesaikan masalah ini karena ini menyangkut nama baik perguruan Macan Emas. Kalau kamu terbukti bersalah, aku tidak akan membelamu! Bahkan aku yang akan mengusir mu pertama kali dari perguruan ini!" Bayu menutupi kegelisahannya, sebenarnya dia takut jika Maya benar-benar melakukan penyerangan itu.
"Iya, iya. Aku pasti berusaha membuktikan kalau aku tidak bersalah."
...***...
Apa yang akan dilakukan Bayu untuk membuktikan bahwa Maya tidak bersalah?
Jangan lupa ikuti update cerita selanjutnya ya…
__ADS_1
Jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕