
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕
...***...
"Perguruan Macan Emas akan dipimpin oleh Maya Hadi Suwarno, yang ternyata adalah cucu dari guruku Ki Haryo Kamandanu yang nama aslinya adalah Haryo Hadi Suwarno." Papar Ki Sopo.
Maya kaget bukan main, kenapa justru dia yang disuruh menjadi ketua.
"Tapi, Ki. Saya ini perempuan, sebaiknya Perguruan Macan Emas tetap dipimpin oleh Mas Bayu." Maya menolak, Ki Sopo memang belum membicarakannya pada Maya, tapi langsung memberi pengumuman atau keputusan seperti itu.
Para tamu juga heran mengapa Ki Sopo justru menyerahkan posisi ketua pada seorang perempuan.
"Tidak masalah jika pemimpinnya perempuan, yang penting adalah kompeten atau tidak. Menurut penilaian ku, kamu kompeten atau memiliki kemampuan untuk kelak menjadi pemimpin Macan Emas."
"Hadirin yang terhormat, perlu anda ketahui sekalian bahwa Perguruan Macan Emas ini berawal dari Perguruan Macan Langit milik Ki Haryo Kamandanu, saya hanya berusaha melestarikannya saja agar tidak hilang, jadi sudah sewajarnya saya mengembalikan pada yang lebih berhak yaitu keturunan langsung dari Ki Haryo Kamandanu."
"Dulu Ki Haryo harus mengasingkan diri dan pindah beserta keluarganya karena telah difitnah dan membuat beliau harus kehilangan padepokannya. Saya dulu bukanlah siapa-siapa tanpa didikkan Ki Haryo. Sekarang saya ingin mengembalikan kehormatan Ki Haryo pada cucu beliau. Semoga Ki Haryo tenang dan bahagia di alam penantian sana."
Ucapan Ki Sopo membuat semua orang ikut terbawa perasaan. Mereka yang semula kasak kusuk tidak setuju karena calon ketua perguruan silat adalah seorang perempuan muda, mereka langsung terdiam dan berubah pikiran. Mereka setuju jika kelak Maya yang menjadi ketua Perguruan Macan Emas. Apalagi mendengar pengumuman selanjutnya dari Ki Sopo.
"Dan pengumuman yang paling penting adalah…" Ki Sopo tersenyum penuh bahagia sembari menatap Bayu yang sudah siap dengan kode dari bapaknya.
Bayu langsung berlutut di hadapan Maya, tangannya mengulurkan kotak yang berisi cicin pada Maya.
"Hari ini adalah hari special pertunangan Bayu Soponyono dengan Maya Sari Hadi Suwarno." Lanjut Ki Sopo.
Melihat Bayu berlutut di hadapannya, Maya langsung memegang kedua lengan Bayu dan memintanya untuk berdiri kembali. Perbuatan Maya membuat semua orang senam jantung karena mengira Maya menolok pertunangannya dengan Bayu. Raut wajah Bayu terlihat panic karena takut jika Maya tidak bersedia bertunang dengannya dalam waktu yang secepat itu.
"Mas, cepat berdiri!" Pinta Maya.
"Kamu…" Bayu hendak bertanya namun langsung Maya potong.
"Jangan berlutut, Mas! Karena tempat mu bukan di bawah. Kamu calon imam ku, kamu tidak perlu memohon sampai seperti itu." Maya buru-buru memberi penjelasan karena tidak ingin mempermalukan Bayu.
Bayu pun beranjak berdiri, dia lega dengan jawaban dari Maya. Para hadirin yang sempat kaget pun ikut merasa lega, ternyata Maya tidak bermaksud untuk menolak pertunangan.
"Maaf, Mas. Aku akan menerima pertunangan ini, tapi dengan syarat." Maya mengajukan persyaratan.
"Apa syaratnya? Pasti akan aku penuhi, asalkan syaratnya masuk akal." Janji Bayu.
__ADS_1
"Mintalah sama Bapak…"
"Maksudku mintalah pada Ki Sopo untuk tidak menyerahkan posisi ketua Perguruan Macan Emas pada diriku. Aku tidak mau menjadi ketua perguruan, Mas Bayu yang harusnya menjadi ketua perguruan." Maya menjelaskan persyaratan yang dia minta.
"Itu berarti kamu melawan gurumu!" Sahut Ki Sopo.
"Maafkan saya, Ki. Bukan maksud saya untuk melawan guru, tapi saya lebih memprioritaskan calon suami masa depan saya." Maya tersenyum manis.
"Saya lebih bangga dan lebih senang jika suami saya yang menjadi ketua Perguruan Macan Emas. Saya cukup mendampingi dan mendukungnya saja, Mas Bayu lebih layak untuk menjadi ketua Perguruan Macan Emas." Jawab Maya penuh percaya diri.
"Bukan begitu, bapak-bapak dan ibu-ibu semua? Sudah sewajarnya yang menjadi ketua adalah sang suami bukan sang istri kan?" Maya mencari pembelaan dari para tamu yang datang.
"Betul itu…" Jawab beberapa hadirin.
"Benar-benar menantu idaman, masih muda tapi tidak serakah akan kekuasaan." Tutur salah satu tamu.
"Iya, ya. Lebih mementingkan suaminya dan menghormati suaminya. Istri idaman banget." Sahut tamu undangan yang lain.
"Iya, Ki. Kami setuju dengan pendapat Nak Maya." Salah seorang tamu mengutarakan pendapatnya.
"Iya, Ki." Sahut tamu yang lain.
"Iya, Ki. Benar apa yang Nak Maya katakan." Sahut tamu lain ikut meyetujui.
"Bayu, apa kamu setuju dengan syarat yang Maya ajukan?" Tanya Ki Sopo.
"Saya serahkan keputusan pada, Bapak. Tapi jika boleh meminta, saya harap bapak mengabulkan syarat yang Maya ajukan. Lagi pula, saya 'lah yang harus bertanggung-jawab terhadap Maya. Seperti Bapak yang bertanggung-jawab terhadap Mimi. Saya juga tidak ingin membebani Maya dengan memikul tanggung jawab menjadi ketua perguruan." Bayu memohon pada Ki Sopo dengan sopan.
Maya diam-diam menyembunyikan tangan kanannya ke samping lalu memberikan tanda cinta dengan jarinya pada Bayu.
"Saranghae, Mas Bayu." Bisik Maya.
Bayu tersenyum bahagia karena mendapat tanda cinta dari Maya, itu menandakan Maya sebenarnya tidak ingin menolak bertunangan dengannya.
"Atau mungkin Maya bisa sebagai wakil ketua saja, Pak." Tiba-tiba muncul ide di kepala Bayu.
"Emmm... " Ki Sopo masih menimbang-nimbang, meskipun sebenarnya dia sangat setuju.
"Bagaimanapun juga, memang lebih baik kalau ketua itu seorang laki-laki. Kasian juga kalau nanti Maya mengurus rumah tapi masih harus mengurus perguruan, pasti akan ribet sekali. Entar malah aku nggak cepet-cepet dapat cucu dong!" Ucap Ki Sopo dalam hati.
__ADS_1
"Bapak setuju 'kan?" Nyi Yanti angkat bicara.
"Baiklah, aku akan menyetujuinya. Bayu tetap akan menjadi calon ketua Perguruan Macan Emas dan Maya yang akan menjadi wakilnya." Akhirnya Ki Sopo menyetujuinya.
Semua hadirin langsung bertepuk tangan tanda ikut bahagia dan menyetujui keputusan Ki Sopo. Maya langsung mengulurkan tangannya pada Bayu.
"Tunggu apa lagi, Mas? Buruan pakai-in cincinnya!" Pinta Maya.
Tanpa pikir panjang Bayu langsung menyematkan cincin pertunangan di jari manis tangan kanan Maya. Bukannya menyuruh Maya menyematkan cicin ke jarinya, Bayu justru langsung memeluk Maya karena sangking bahagianya.
"Ehheem.. Ehheem..." Ki Sopo berdehem memberi kode pada Bayu.
"Belum sah, Yu!" Ledek Nyi Yanti.
Bayu buru-buru melepaskan pelukannya, lalu ia menyerahkan kotak cincin satunya pada Maya. Tanpa sepengetahuan Maya, Bayu memang sudah menyiapkan kejutan itu dengan bapak-ibunya dan juga bapak-ibu Maya.
Maya mengambil cincin yang Bayu berikan, meski tangannya sedikit bergetar, akhirnya dia berhasil juga menyematkan cincin pertunangan itu ke jari manis tangan kanan Bayu.
Semua yang hadir bertepuk tangan lagi ikut bahagia dengan pertunangan Bayu dan Maya. Bayu langsung salim pada kedua calon mertuanya, begitu pula dengan Maya.
Hari itu penuh dengan kebahagiaan, satu tahap telah terlewati untuk menuju SAH, meskipun penantian masih cukup panjang sampai Maya lulus sekolah.
Bayu mengenggam tangan Maya, mereka berdua sedang di depan rumah Maya. Setelah acara selesai, Bayu mengantar sendiri Maya dan calon mertuanya.
"Aku berjanji akan selalu membahagiakan mu dan menjagamu, perempuan yang aku paling aku cintai setelah ibuku. Aku tidak bermaksud menebar janji, tapi aku akan berusaha mewujudkannya. Jika suatu saat kita ada masalah, ku harap kamu tidak pergi meninggalkan ku. Dalam mengarungi hidup sebagai pasangan, pastilah akan ada masalah, aku harap kita bisa menyelesaikan bersama." Tutur Bayu.
"Aku masih anak kecil, Mas. Mungkin suatu saat kamu akan lelah karena harus membimbingku, atau kamu lelah dengan sikap manjaku. Aku berharap kamu juga tidak akan berhenti mencintai ku dan tetaplah bersabar menghadapi ku. Aku juga akan berusaha menjadi yang terbaik untuk mu. Kita hanya perlu saling komunikasi dengan baik agar tidak ada kesalahan pahaman." Jawab Maya.
"I love you, Mas Bayu sayang." Ucap Maya malu-malu.
"I love you more." Jawab Bayu.
"Ya udah, aku pulang dulu. Kalau lama-lama di sini, takutnya malah nggak mau pulang." Tersenyum genit.
"Ihhh... Inget Mas Bayu harus jagain aku. Inget masih sekolah!" Ledek Maya.
"Iya, sayang." Mengusap puncak kepala Maya dengan lembut.
Akhirnya Bayu pulang juga, meskipun masih enggan berpisah.
__ADS_1
...***...
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕