CEO Tampanku Ahli Silat

CEO Tampanku Ahli Silat
Milik Ku Seutuhnya


__ADS_3

Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih πŸ˜˜πŸ’•


Happy reading awas banjir😁😊🀭.


...***...


Ki Sopo mengirim pesan pada Bayu. "Tidak perlu ambil pusing dengan gossip murahan itu! Biar bapak yang menanganinya. Kamu fokus bikinin cucu buat bapak dan Mimi, ya! 😁😊🀭"


Bayu hanya bisa geleng-geleng kepala membaca pesan dari bapaknya.


"Jangan sampai Maya mencari ponselnya dan tahu berita ini, atau... Kamu akan gagal malam pertama lagi, hahaha πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Kemarin habis resepsi di rumah Maya, sudah gagal malam pertama kan? 🀭🀭🀭" Ki Sopo mengirim pesan lagi.


Bayu tak habis pikir, kenapa bapaknya begitu suka meledeknya. Keakraban bapak dan anak itu memang tidak bisa dipungkiri, tapi Bayu juga masih punya sopan santun dan rasa hormat pada bapaknya. Dia tidak bercanda dengan bapaknya di sembarang tempat yang bisa menurunkan wibawa bapaknya.


Maya deg-degan karena akan melewati malam pertama dengan Bayu, hingga ia tidak sadar dengan gelagat Bayu dan Ki Sopo yang sedikit aneh karena gossip itu.


Bayu menggenggam tangan Maya dan berjalan menuju kamarnya. Sambil jalan Bayu mematikan ponsel milik Maya, beruntung kamar Bayu terletak agak jauh dari ruang keluarga hingga suasana di sana tidak terlalu bising.


Bayu membukakan pintu, Maya pun masuk duluan tapi tangan Bayu tidak melepaskan genggamannya. Dengan satu tangan Bayu mengunci pintu dan menaruh ponsel mereka berdua di rak dekat pintu. Beruntung sekali Maya tidak menanyakan ponselnya untuk sekedar melihat chat ataupun social media.


Begitu ponsel sudah disimpan, Bayu langsung menghim-pit Maya ke pintu, memegangi belakang kepala Maya lalu mulai menci-umnya. Ci-uman yang awalnya lembut perlahan-lahan menjadi mengganas, li-dah saling membelit dan mengabsen setiap inchi bi-bir sang kekasih. Beberapa saat mereka berci-uman hingga membuat mereka tereng4h-eng4h karena berebut oksigen.


Bayu menuntun Maya ke tepi ran-jang lalu meni-durkannya, badannya sedikit condong dan menghim-pit Maya. Mereka saling menatap penuh cinta dan juga g4irah, terlihat mata mereka yang sayu menahan gejo-lak di dada yang sudah menggebu-gebu. Apalagi kamar itu sekarang temaram diterangi lilin-lilin aroma terapi dan ran-jang bertabur bunga. Mimi sendiri yang menyiapkannya sebagai hadiah untuk Bayu.



"Sayang, apakah aku bisa meminta hak ku malam ini?" Bayu meminta izin sebelum melanjutkan serangannya.

__ADS_1


Maya diam tak bersuara dan hanya menganggukkan kepala saja.


"Kalau kamu tidak suka dan belum siap, kamu boleh menghentikan aku kapan saja. Jangan takut! Aku tidak akan marah atau pun berhenti mencintaimu." Tutur Bayu.


"Aku percaya sama kamu, Pa." Jawab Maya lirih.


"Apa sayang? Kamu memanggilku apa?"


"Papa.." Sahut Maya cepat.


Bayu begitu bahagia mulai menyerang Maya kembali. Mereka berdua berci-uman kembali, ci-uman yang semakin memba-ra. Tangan Bayu sudah mulai berani menyerang secara begerilya di kedua su-su murn1 yang masih terbungkus rapi. Tidak ada penolakan dari Maya, malah Maya begitu menik-matinya kali ini. Bayu terus meme-ras su-su murn1 itu dari balik k4os.


Suasana kian menghangat cenderung panas, Bayu telah berhasil menang-galkan k4os yang Maya kenakan. Menatap su-su murn1 yang menyem-bul dari balik kemasannya yang kekecilan lalu membukanya. Dengan ra-kus Bayu menye-dot su-su murn1 rasa pink strawberry itu, satu dihi-sap dan satunya lagi direm4s-rem4s dengan lembut dan terkadang dipi-lin ujungnya.


Suara-suara kecil lolos dari bi-bir Maya, dia tidak mampu menahan serangan-serangan dari bi-bir, li-dah dan tangan Bayu. Maya kem-bang kem-pis menahan gejo-lak yang belum pernah dia rasakan, rasanya dia menginginkan lebih. Sepertinya Maya sudah terhanyut dan lupa dengan bayangan masa depannya yang suram bila bersama Randy.


Perlahan Bayu membuka tabir segi-3 bermuda itu, sesaat Bayu menatapnya. Maya merasa sedikit malu dan menutupinya. Bayu membukanya kembali dan secara reflek menge-cupnya hingga membuat sang pemilik bunga pink itu mege-linjang. Bayu terus menge-cup dan menci-umi bunga pink milik Maya yang sudah ba-sah. Bayu sudah tak bisa menahan diri untuk tidak menyerang, akhirnya dia membuka seluruh penutupnya.


Bayu memegang tangan Maya dan menuntunnya untuk menyentuh senjatanya. Maya teramat kaget kerena selama ini di dunia nyata dia belum pernah memegang senjata seperti itu. Senjata itu sudah mengembang dan siap menyerang, kira-kira panjangnya 10 sd 15 c-m, tidak bisa dipastikan karena tidak mungkin diukur saat itu.


Setelah sejenak salam perkenalan, Bayu membuka jalan lebar-lebar. Bayu mulai mengges-ekkan senjatanya di bunga pink pintu gerbang ke lembah gelap nan licin itu. dan kini Maya semakin merasakan nik-mat, perlahan Bayu sedikit memasukkan ujung senjatanya ke lembah yang sudah banjir itu. Maya merasakan nye-ri karena serangan dari ujung senjata Bayu yang berusaha menyerang pertahanannya.


"Sayang, sa-kiiit! Agak pe-rih." Tutur Maya.


"Tahan sebentar sakitnya, sayang. Nanti pasti sembuh." Jawab Bayu.


Bayu menghentikan serangannya, ia mulai menci-um bi-bir Maya lagi. Lalu tangannya mulai mempermainkan su-su murn1 itu lagi untuk mengalihkan rasa sakit. Bayu mem4ju mundurkan ujung senjatanya di lembah gelap nan licin itu hingga Maya merasakan g3li nik-mat bercampur jadi satu.

__ADS_1


Bayu terus merem4s-rem4s su-su murn1 itu sembari mencoba menu-sukkan senjatanya dengan sempurna ke dalam lembah gelap nan licin itu. Perlahan tapi pasti, senjata itu berusaha menyerang dan meruntuhkan pertahan, berkali-kali ujung senjatanya berhasil menyerang masuk.


Karena jalannya yang sudah licin dan banjir, setelah ditu-sukkan sekuat tenaga, akhirnya senjata itu berhasil meruntuhkan pertahanan dan tengelam sepenuhnya di lembah sem-pit itu.


"Sakit, sayang."


Maya sedikit menitikkan air mata dan Bayu berhenti sebentar agar Maya tidak terlalu kesakitan. Memberi jeda agar lembah se-mpit itu terbiasa dengan keberadaan senjatanya. Perlahan Bayu mulai menge-luar ma-sukkan senjatanya, pelan tapi pasti Maya mulai merasakan kenik-matan.


"Maaf kalau aku menyakiti mu, sayang." Bisik Bayu.


"Sudah tidak sakit lagi, Pa. Aku suka, akhirnya aku bisa memberikan yang terbaik untuk mu di waktu yang tepat." Jujur Maya, sambil tereng4h-eng4h.


"Terima kasih, Mama sayang." Bayu menci-um bi-bir Maya.


Serangan demi serangan terus dilancarkan, senjata itu dengan giat berhasil menghu-jam hu-jam, yang awalnya perlahan lama kelamaan senjata itu menghu-jam dengan ker4s dan cepat.


Tujuh menit berlalu, senjata itu mulai menyerang dengan lebih ker4s dan lebih cep4t lagi, hingga akhirnya mereka berdua melayang ke langit ke tujuh karena sensa-si yang luar biasa. Bayu ambruk ke samping lalu meme-luk Maya dengan tereng4h-eng4h.


"Terima kasih, Mama sayang." Menge-cup puncak kepala Maya.


"Akhirnya kamu jadi milik ku seutuhnya." Imbuh Bayu.


...***...


Mohon reader menyikapi dengan bijak πŸ™πŸΌ


Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih πŸ˜˜πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2