
Serombongan pria berpakaian seragam silat dengan tergesa-gesa memasuki halaman perguruan Macan Emas hingga membuat para murid yang sedang berlatih kaget dibuatnya. Para murid kasak-kusuk membicarakan ada apakah gerangan, pasalnya saat ini tidak ada latih tanding atau pertandingan dengan perguruan lain.
"Cepat panggil guru kalian!" Teriak salah satu anggota rombongan yang terdiri dari 10 orang itu.
Dewi menyadari ada yang tidak beres, kenapa orang itu seperti marah. Ia pun segera bergegas melapor pada Ki Sopo. Dewi berlari ke depan rumah Ki Sopo di samping padepokan dengan tergesa-gesa.
Tok... Tok... Tok...
"Ki, Ki Sopo." Dewi memanggil sang guru.
Krieeet... Suara pintu terbuka, "Ada apa?" Ki Sopo heran melihat wajah Dewi yang sedikit panik.
"Maaf kalau saya berteriak dan mengganggu anda, Ki. Itu ada segerombolan pria dari perguruan Mawar Hitam datang, mereka berteriak mencari Ki Sopo, sepertinya mereka marah sekali."
"Baiklah, ayo kita ke sana. Jangan takut di rumah sendiri, meskipun tandang pun juga jangan takut? Tunjukkan kehebatan dan keberanian Macan Emas." Ki Sopo berjalan menuju ke halaman padepokan diikuti dengan Dewi. Nyi Yanti yang sejak tadi di belakang Ki Sopo dan ikut mendengarkan laporan Dewi, langsung ikut menuju halaman, dari arah lain Bayu pun datang karena mendengarkan keributan di halaman.
"Ada perlu apa ki sanak datang kemari?" Sapa Ki Sopo pada segerombolan orang dari perguruan Mawar Hitam itu.
"Kami ke sini karena tidak terima dan ingin minta penjelasan! Kenapa murid kami di serang oleh murid dari perguruan mu, Ki?" Jawab Ki Narto yang ternyata ketua dari perguruan Mawar Hitam.
"Mana mungkin? Murid kami tahu etika dan tidak akan menyerang sembarangan!" Ki Sopo tidak bisa percaya begitu saja.
"Mungkin murid baru, tapi dia terlalu kuat kalau disebut murid baru. Kami tidak mengada-ada, murid kami diserang bahkan makanan yang dia bawa sampai tumpah semua dan tidak diganti." Ki Narto menjelaskan dengan menggebu-gebu.
Para murid Macan Emas mulai kasak-kusuk dan menebak-nebak. Salah satu murid berbisik pada temannya, "Apa mungkin si Maya ya? Kan dia murid baru tapi kuat, bisa mengalahkan Fira yang murid lama juga."
"Bisa jadi betul si Maya nih!" Murid lain menimpali.
"Kalian bisa diam nggak!" Bayu memperingatkan para murid yang mulai ber-gossip dan menebak-nebak.
"Kalian tidak bisa menuduh tanpa bukti!" Ki Sopo berucap tegas.
__ADS_1
"Tapi dia sendiri yang mengatakan kalau dia murid perguruan Macan Emas. Dia langsung menyerang dan tidak mau minta maaf, padahal dia yang menabrak murid dari perguruan ku." Ki Narto tidak terima jika dianggap berbohong.
"Mana murid mu yang diserang? Aku ingin mendengar pernyataannya." Ki Sopo meminta saksi.
"Dia murid perempuan, dia tidak ikut ke sini tapi dia sudah katakan kalau yang menyerangnya adalah Maya murid perguruan Macan Emas." Ki Narto mulai emosi.
"Benar kan Maya pelakunya!" Beberapa murid perguruan Macan Emas mulai saling berbisik.
"Wah ternyata benar-benar Maya, nggak nyangka tebakan kita tadi benar." Mereka saling kasak-kusuk dengan murid lain yang berdiri di dekat mereka.
"Wah mentang-mentang jadi murid khusus dia jadi bertindak semena-mena dan menimbulkan citra buruk untuk perguruan."
"Iya, mentang-mentang menang lawan Fira terus jadi sok jagoan, kelihatan aslinya kan kalau dia cewek nggak bener." Murid-murid mulai heboh membicarakan Maya dan menghujat Maya.
"Diam kalian semua!" Bayu memarahi murid-murid yang mulai heboh.
"Saya tidak percaya jika Maya yang melakukannya! Pasti ada orang lain yang membawa-bawa namanya. Mana mungkin orang berbuat jahat tapi menyebutkan namanya!" Bayu menyangkal dengan keras.
"Jadi kalian pikir murid kami berbohong! Mana mungkin dia berbohong dan mempertaruhkan hubungan perguruan Mawar Hitam dan Macan Emas yang mulai membaik!" Raut wajah Ki Narto menunjukkan rasa kesal yang memuncak karena dianggap berbohong dan mengada-ada.
"Kami juga tidak tahu menahu jika ada murid yang bernama Maya, kami tidak dengan sengaja ingin membuat keributan atau permusuhan!" Tegas Ki Narto. Ki Sopo hendak menyahut ucapan Ki Narto, tapi Nyi Yanti mencegahnya.
"Sabarlah, Ki! Kita tidak punya dendam atau permasalahan sebelumnya, hanya murid-murid kita yang terkadang berselisih. Sebagai Ketua perguruan tidak sepantasnya kita tersulut dan ikut berselisih juga. Mari masuk ke dalam padepokan, kita bicarakan baik-baik dan mengusut masalah ini sampai tuntas." Ucap Nyi Yanti lembut.
"Jika benar Maya yang melakukannya, aku akan tanggung jawab karena dia murid khusus yang baru saja aku angkat menjadi murid 1 bulan yang lalu." Para murid heran mengapa Nyi Yanti bisa menghadapi emosi Ki Narto dengan sabar dan penuh kelembutan, padahal biasanya beliau selalu kelihatan tegas dan selalu menjadi ratunya Ki Sopo.
"Jadi Maya murid Nyi Yanti?" Ki Narto heran karena beliau tahu selama ini Nyi Yanti tidak pernah mengangkat murid khusus. Ki Narto juga tahu kehebatan dan sepak terjang Nyi Yanti sebagai atlet bela diri dan sebagai bodyguard khusus dari PT Andrepati.
"Benar, Maya adalah murid ku satu-satunya dan juga satu-satunya perempuan yang diangkat sebagai murid khusus Ki Sopo. Kalau benar dia salah pasti kami akan menyuruhnya minta maaf dan mengganti rugi kerugian yang diderita oleh murid Ki Narto. Tentu kami juga akan menghukumnya sesuai peraturan perguruan atau mungkin mengeluarkannya dari perguruan Macan Emas." Nyi Yanti memberikan solusi agar bisa meredam emosi Ki Narto.
"Baiklah, aku menghormati mu, Nyi. Kami akan ikut ke dalam dan bicarakan masalah ini dengan tuntas. Daripada di luar suasananya sangat gaduh." Ki Narto menyetujui usulan Nyi Yanti.
__ADS_1
"Bayu, kamu tunggu di luar. Kamu harus menunggu Maya di sini, jangan sampai muncul keributan saat dia datang. Kalau dia tidak segera datang, kamu telepon dia suruh ke sini dan menjelaskan apa yang terjadi." Nyi Yanti berpesan pada Bayu.
"Baik, Mi. Aku akan mengurus para murid dan menunggu Maya. Nanti aku akan membawa Maya ke dalam kalau dia sudah datang." Bayu menerima perintah ibunya.
Serombongan anggota perguruan Mawar Hitam mengikuti Ki Narto yang masuk ke dalam padepokan bersama Nyi Yanti dan Ki Sopo.
Para murid mulai heboh lagi setelah Ki Sopo dan yang lainnya masuk ke padepokan. "Gila nggak sih! Kenapa Nyi Yanti berani ambil resiko untuk mempertanggungjawabkan perbuatan Maya."
"Aku juga maulah dianakemaskan begitu." Sahut murid yang kain.
"Apa kalian merasa sudah paling benar?" Bayu sangat marah namun masih ditahan.
"Apa kalian melihat sendiri Maya yang menyerang murid perguruan Mawar Hitam?"
"Kenapa rasa kekeluargaan kalian menguap begitu saja karena rasa iri pada Maya?"
"Apa kalian tidak ingin membela teman seperguruan kalian sendiri?"
"Kita tidak diajarkan membela yang salah, tapi apakah sudah terbukti Maya yang bersalah?" Kata-kata Bayu membuat semuanya terdiam.
"Mas Bayu jangan dibutakan oleh Maya! Kenapa seolah-olah Mas Bayu sangat membela Maya dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ki Narto?" Fira yang sedari tadi diam jadi ikut bicara.
"Aku tidak mengijinkan kamu berbicara denganku lagi! Berhentilah mencoba menarik perhatianku dengan menjelekkan perempuan lain di depanku! Aku masih ingat perbuatan mu yang ingin menjatuhkan Maya. Aku tidak tertarik memiliki hubungan lebih denganmu, berhentilah berusaha dan ketahuilah batasannya! Perasaan tidak bisa dipaksa." Jleb... Kata-kata Bayu sukses membuat Fira malu dan tidak berkutik, ditolak mentah-mentah di depan murid-murid yang lain.
...***...
Benarkah Maya adalah pelakunya?
Jangan lupa ikuti update cerita selanjutnya ya…
Jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕
__ADS_1