
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕
...***...
Memang pantas jika Ki Sopo diberi julukan tangan dingin, setiap murid khusus yang dilatih oleh beliau pasti setidaknya masuk sepuluh besar peringkat teratas setiap tahunnya.
Kini Maya telah sampai di babak final melawan pesilat dari Mawar Hitam milik Ki Narto. Jelas dari pihak Mawar Hitam pasti ingin menunjukkan bahwa mereka lebih unggul, meskipun mereka akur-akur saja selama ini.
Di ruang ganti Maya sibuk mempersiapkan diri untuk pertandingan final, ia ditemani oleh Ratih. Sedangkan Bayu bersiap di ruang ganti lain ditemani oleh Angga. Kali ini 2 perwakilan dari Perguruan Macan Emas masuk final yaitu pasangan kekasih Bayu dan Maya. Berita sudah tersebar di seantero provinsi, mereka berdua digadang-gadang menjadi juaranya.
"May, ini minumnya." Ratih memberikan botol minuman dingin ke Maya. Ratih memang menawarkan diri untuk selalu menemani Maya di setiap pertandingan.
"Okay, makasih. Aku minum, ya." Jawab Maya.
Maya melihat bayangan seperti ada orang di balik pintu yang bergegas pergi.
"Yes, akhirnya dia minum minuman yang Ratih bawa. Kali ini di babak final kamu akan malu semalu-malunya. Kalaupun dia memaksakan diri datang ke gelanggang, dia pasti akan sakit perut dan kentut-kentut, pasti dia akan malu sekali. Kalaupun final diundur, setidaknya aku berhasil membuatnya malu di depan umum."
"Hihihi... Hihihi... " Tertawa cekikikan sendiri.
Di dalam ruang ganti Maya belum jadi minum. Ia langsung mengirim pesan pada Bayu tentang kecurigaannya. Tak lama kemudian Bayu pun membalas pesan Maya.
"Ratih ini minumnya buat kamu aja, aku takut beser pas lagi tanding." Maya memberikan minumnya pada Ratih.
"Nggak diminum habis tanding?" Tanya Ratih.
"Habis tanding biasanya dikasih Mas Bayu." Maya senyum-senyum malu.
"Ah... Bucin, bikin iri nih." Ratih menutup wajah dengan 10 jari.
"Hahaha... Kemarin aku lihat ada yang ngasih minum ke perguruan sebelah nih! Kamu nggak berubah menjadi pendukung lawan kan?" Maya bercanda sekaligus memojokkan.
"Ya ampun, Maya! Kamu tahu aja sih! Aku cuma ngefans sama Kak Marco aja, nggak lebih." Sikap Ratih masih biasa-biasa saja.
"Ya udah minumnya buat aku aja. Tahu deh yang lebih suka minuman dari si pacar." Ratih membuka tutup botol itu dan hendak meminum minuman yang tadi ia berikan pada Maya.
"Eit... Nggak jadi. Kan bisa buat nanti pas pulang." Maya mencegah, tadi Maya hanya berniat mengetest dan ternyata Ratih sepertinya tidak tahu menahu mengenai minuman itu.
"Aduh, May. Lagian udah dibuka nih botol, sayang kalau nggak diminum sekarang."
"Bukannya kamu yang buka tadi?" Tanya Maya.
__ADS_1
"Nggak! Perasaan belum aku buka tadi, ku kira kamu yang buka, tapi nggak jadi minum." Ratih heran.
"Ya udah mana! Kamu nggak cuma beli 1 doang 'kan?" Maya mengambil minumannya lagi dari tangan Ratih.
"Kamu nervous ya, May?" Ratih mengira kalau Maya cuma nervous.
"Sedikit sih!"
"Ya udah, aku harus segera bersiap menuju ke lapangan, sebentar lagi pertandingan dimulai." Maya dan Ratih keluar dari ruang ganti. Tanpa sepengetahuan Ratih, Maya sengaja meninggalkan minuman tadi di ruang ganti.
Maya dan Ratih sudah pergi ke arena, bodyguard Andrepati yang tadi berjaga di luar segera menyelinap masuk dan mengambil sebotol minuman yang Maya tinggalkan. Ia langsung bergegas menjalankan misi dari sang CEO.
Di depan pintu masuk atlit/pesilat, Bayu sudah menunggu kedatangan Maya. Setelah melihat Bayu yang menjemput Maya, Ratih segera pamit untuk duduk bersama Bu Parmi di tribun penonton.
"Sayang..."
"May, udah siap?" Bayu menyambut Maya.
"Udah, Mas."
Tampak jelas di mata Bayu kalau Maya sedang nervous. Mereka berjalan ke tepi lapangan dimana sudah ada Ki Sopo dan Nyi Yanti yang sudah menunggu. Bayu berjalan sambil mengenggam tangan Maya.
"Jadi peringkat 2 pun tak masalah, kamu tetap peringkat 1 di hatiku." Bayu sedikit menunduk dan berbisik ke telinga Maya.
"Justru itu, biar mereka semua tahu, kamu pemilik hatiku." Bayu berbisik di telinga Maya lagi.
"Bayu!" Nyi Yanti menegur.
"Awas ya! Kalau sampai Maya nggak fokus bertanding, itu gara-gara kamu!" Menuding Bayu.
"Ayo bersiap, May! Jangan dengerin para bucin ini!" Nyi Yanti hendak menggandeng Maya.
"Hey... Mimi...! Jangan lupa kalau Maya juga muridku. Kamu jangan serakah dong!" Ki Sopo protes, beliau ingin mengatakan sesuatu pada Maya.
"Bapak sama Mimi jangan rebutin Maya-ku, malu diliatin orang tuh!" Bayu becanda nggak tahu tempat.
"Dasar bucin nggak tahu diri ya! Ini Maya kita, bukan cuma Maya-mu aja!" Semprot Ki Sopo.
"Maya, Bapak mau ngomong serius, jadi dengerin dulu!" Ki Sopo berubah menjadi mode serius dan Maya menganggukkan kepala menurut.
"Silat bukan hanya menang dan kalah, tapi juga tentang sportivitas. Kamu harus lebih hati-hati karena lawan bisa saja berbuat curang di gelanggang atau lewat orang terdekat kita sebelum pertandingan." Tutur Ki Sopo.
__ADS_1
Maya jadi mengingat minuman yang dari kemarin Ratih beli tidak pernah ia minum, tapi hanya dibuang di tempat sampah tanpa sepengetahuan Ratih.
"Semoga kecurigaan ku pada Ratih salah. Tapi sepertinya Ratih tidak tahu apa-apa karena dia mau meminum minuman tadi." Batin Maya.
"Ingatlah, May! Kalah menang dalam bertanding itu biasa, di atas langit masih ada langit, jadi jangan terlalu membebani dirimu sendiri. Bapak sudah bangga kamu bisa masuk final."
"Kamu mewarisi pelindung dari kakekmu, kalau kamu tetap berjalan di jalan yang benar, maka dia akan melindungi mu. Tapi kalau kamu berjalan di jalan yang salah, dia akan balik menyerangmu. Macan Emas adalah khodam yang kakek mu turunkan padamu. Aku tahu Ki Haryo memang memiliki khodam Macan Emas, makanya aku mendirikan Perguruan Silat Macan Emas."
"Jangan emosi! Kamu harus sabar menghadapi lawanmu. Kalau kamu emosi, khodammu akan ikut mengamuk dan kamu akan menyerang dengan membabi buta sampai lawanmu benar-benar terkapar tak berdaya." Ki Sopo panjang lebar menjelaskan.
"Kenapa Ki... Bapak baru menjelaskan sekarang?" Sahut Maya.
"Karena sekarang adalah pertandingan puncak yang mungkin saja akan membuat mu menguras emosi. Apalagi pikiran mu terganggu dengan hal lain."
"Sementara hilangkan kecurigaanmu! Percayakan saja masalah itu pada Bayu dan teamnya, kamu hanya perlu fokus bertanding!" Tegas Ki Sopo.
"Yu, lepasin tangan Maya! Dia mau bertanding jangan diiket terus!" Ki Sopo memukul pelan mengenai tangan Bayu yang sejak tadi mengenggam tangan Maya.
"Bapak pegang tangan Mimi aja kalau ngiri!" Sahut Bayu.
"Bocah ini!" Ki Sopo geleng-geleng kepala, tapi beliau juga tidak bisa marah pada Bayu. Ki Sopo mengingat dirinya dulu juga bucin pada Nyi Yanti.
"Mas?" Maya menoleh ke arah Bayu dengan wajah penuh tanya dan gelisah.
"Tenanglah! Yang pasti bukan Ratih, kamu harus fokus bertanding, nanti aku kasih cerita lucu kalau rencana ku berjalan lancar." Bayu menenangkan Maya.
"Serius?" Maya masih belum percaya.
"Kapan aku pernah bohong sama kamu, sayang?" Bayu benar-benar tidak malu meskipun kata-katanya akan terdengar oleh orang lain.
"Okay, aku akan fokus bertanding. Mas Bayu juga semangat ya! Semoga jadi juara 1 lagi." Maya memberikan kode saranghae.
Bayu girang sekali karena Maya memberinya kode cinta dengan jarinya.
Bayu sebenarnya masih ingin ngomong dengan Maya, tapi Nyi Yanti langsung menariknya utk bersiap di dekat gelanggang tempat final putri digelar.
"Sana bersiap untuk finalmu sendiri! Sama bapak sana!" Ucap Nyi Yanti.
Bayu masih sempat memberikan kode saranghae pada Maya yang menoleh padanya meskipun sudah digandeng pergi oleh Nyi Yanti.
Sontak kelakuan Maya dan Bayu menjadi sasaran kamera dan menjadi viral lagi.
__ADS_1
...***...
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕