
Kejutan update tiap hari 😊☺
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕
...***...
Setelah pertemuannya dengan Fira, Maya tidak berangkat latihan silat, Nyi Yanti pun heran karena tidak biasanya Maya melewatkan latihan. Setelah hatinya sedikit tenang, sore ini Maya datang untuk latihan silat bersama dengan murid-murid lain, jadwal latihan dengan Ki Sopo dan Nyi Yanti memang hanya hari Sabtu dan Minggu.
"May, tumben kemarin nggak berangkat latihan?" Sapa Dewi.
"Iya, Kak. Kemarin ada urusan mendadak." Maya tidak menceritakan bahwa dia bertemu dengan Fira.
"Fira nggak bikin ulah lagi 'kan?" Dewi mengira Fira masih akan berulah karena merasa sakit hati telah dikeluarkan dari perguruan Macan Emas.
"Nggak kok, Mbak! Dia sudah minta maaf dengan sungguh-sungguh dan katanya mau berubah."
"Apa kamu yakin? Dia sudah dikeluarkan dan tidak akan bisa mendekati Mas Bayu lagi. Pasti sekarang dia sangat kesal dan semakin benci padamu." Dewi tidak percaya jika Fira sungguh-sungguh minta maaf dan niat berubah.
"Yakin, Mbak. Kemarin kami sudah bicara empat mata. Semoga saja dia benar-bener berubah. Tuhan saja pemaaf, masa kita yang cuma seorang hamba tidak bisa memaafkan." Tutur Maya.
"Iya, juga sih. By the way, kemarin Mas Bayu sepertinya mencari-cari dirimu karena kamu nggak keliatan ikut latihan."
"Cie... Cuma kamu loh yang bisa merebut perhatian Mas Bayu yang anti cewek, dibelain pula. Ntar kalau jadian jangan lupa traktiran ya!" Goda Dewi.
"Hahaha... Aku nggak berani terlalu berharap, Mbak. Tahu sendiri aku sudah dan masih punya pacar." Sahut Maya.
"Randy 'kan?"
__ADS_1
"Ck... Dibanding Mas Bayu dia nggak ada apa-apanya 'lah! Putusin aja!" Dewi merangkul pundak Maya, dulu dia nggak suka pada Maya karena takut Angga tertarik pada Maya, sekarang Dewi terang-terangan mendukung Maya dan Bayu.
"Wah, entar kesannya aku yang jahat dong, Mbak!" Sanggah Maya.
"Ck... Semua orang tahu Randy gimana, kamu jangan dibutakan ketampanan dan kekayaannya!" Dewi menutup mulutnya, dia ngeri sendiri jika ingat kekuasaan orang tua Randy.
"Aku tahu apa yang aku lakukan, Mbak, jangan khawatir! Terima kasih karena peduli padaku."
"Meskipun aku tahu sebenarnya Mbak Dewi juga takut Mas Angga tertarik padaku. Tenang aja, Mbak! Aku yakin Mas Angga tidak akan mendekat karena tahu siapa Mas Randy." Ucap Maya dalam hati.
"Maya!" Terdengar suara Nyi Yanti memanggilnya.
"Iya, Nyi." Maya menoleh ke arah Nyi Yanti.
"Kemari 'lah!" Titah Nyi Yanti.
"Kenapa kamu kemarin tidak berangkat latihan?" Nyi Yanti bertanya sambil berjalan masuk ke dalam rumah menuju halaman belakang.
"Kemarin saya ada urusan, Nyi." Jawab Maya, tanpa penjelasan.
"Urusan apa hingga membuat mu tidak berangkat latihan? Biasanya kamu paling antusias, paling semangat latihan." Nyi Yanti menunggu penjelasan yang lebih detail.
"Ya, ada urusan dengan teman, Nyi." Maya belum mau menjelaskan.
Nyi Yanti berjalan hingga ke halaman belakang dan Maya pun terus mengikutinya. Bayu yang hendak ke luar dari ruang kerjanya, justru mengurungkan niatnya dan bersembunyi di balik pintu. Nyi Yanti pun sengaja berhenti tepat di depan pintu, beliau ingin melihat apakah Bayu akan tetap keluar dan bertemu dengan Maya atau justru berdiam diri dan menghindar. Bayu diam-diam mendengar percakapan Nyi Yanti dengan Maya.
"Ceritakan pada gurumu ini! Siapa tahu aku bisa membantu mu. Bukan 'kah aku sudah pernah bilang, sebagai murid khusus kamu berada dalam lindungan perguruan Macan Emas dan PT Andrepati!" Papar Nyi Yanti.
__ADS_1
"PT Andrepati itu sebenarnya PT apa, Nyi?" Maya justru penasaran dengan PT Andrepati.
"Artinya PT tidak takut mati. Kami menyediakan jasa bodyguard untuk event-event yang dilakukan oleh pemerintah, perusahaan, artis, maupun perorangan. Semacam penyedia security, tapi ini tidak hanya security biasa seperti satpam atau hansip."
"Kami merekrut mantan narapidana, mantan preman, dan ahli silat. Kami menjadikan mereka pasukan berani mati atau bodyguard elite."
"Berarti lebih hebat dari pada Pak Andi Prasetyo Wibowo ya, Nyi?" Tanya Maya ragu-ragu.
"Hahaha... Kamu tidak bisa membandingkannya, kalau dari segi kekayaan mungkin kami sedikit di bawahnya. Tapi kalau dari segi kekuatan, kejujuran, dan integritas, kami jauh lebih unggul."
"Aku bukan bermaksud sombong, aku hanya ingin menjelaskannya padamu agar kamu tidak takut lagi pada keluarga Andi Prasetyo Wibowo." Nyi Yanti menjelaskan sebelum Maya salah sangka.
"Saya tidak berpikir anda sombong, Nyi. Saya berpikir apakah saya tidak keterlaluan meminta perlindungan dari perguruan Macan Emas dan PT Andrepati. Seolah-olah saya hanya memanfaatkan Ki Sopo dan Nyi Yanti." Maya tertunduk merasa bersalah.
"Hei, kamu ini murid khusus ku dan juga murid khusus Ki Sopo, tanpa kamu minta, kami akan melindungi kamu. Kami tentu sudah mempertimbangkan dengan matang-matang apakah kamu layak jadi murid khusus kami dan apa kamu layak untuk dilindungi. Kamu jangan rendah diri seperti itu!" Nyi Yanti merangkul pundak Maya.
"Kamu 'kan sudah seperti anak perempuan kami." Tersenyum hangat hingga membuat hati Maya menjadi lebih tenang.
"Terima kasih, Nyi, karena sudah menganggap saya seperti anak perempuan Nyi Yanti sendiri." Tersenyum bahagia.
"Mimi udah punya Maya, jadi lupa sama anak sendiri! Padahal kemarin ngeselin banget, ngeledekin terus." Bayu berucap dalam hati dari balik pintu.
"Matamu jalan-jalan ke mana, Maya?" Nyi Yanti blak-blakan menegur Maya.
...***...
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕
__ADS_1