
"Mi, aku bahagia sekali. Akhirnya Maya bersedia menikah dengan ku. Mimi cepat siap-siap ya! Pulang liburan langsung persiapan pernikahan, takutnya Maya berubah pikiran 😊" Pesan Bayu pada Nyi Yanti.
Nyi Yanti kaget bercampur bahagia, tapi detik berikutnya raut wajahnya berubah jadi masam dan marah.
Maya dan Bayu yang terhanyut dengan perasaan mereka, justru sibuk melanjutkan kemesraan mereka. Mereka kaget saat mendengar ponsel Bayu berbunyi tanda panggilan masuk. Bayu terpaksa mengambil ponselnya karena sudah 2 kali berdering.
"Dari Mimi!" Bayu panik.
Maya langsung celingak-celinguk melihat situasi kamar Bayu. Tanpa pikir panjang, Maya gerak cepat langsung menarik Bayu ke depan pintu kamar. Maya langsung membuka pintu kamarnya yang berada di seberang pintu kamar Bayu.
"Cepat angkat, Mas! Nanti Mimi curiga." Sahut Maya.
"Halooo Mimi..." Menjawab video call dari Nyi Yanti.
"Apa yang kamu lakukan pada Maya hingga dia mau menikah secepat itu?" Sembur Nyi Yanti.
"Hiiii... Mimi...!" Maya dada-dada di belakang Bayu.
"Kalian dari mana? Kenapa lama jawab teleponnya?" Nyi Yanti masih curiga.
"Mimi kaya nggak tahu orang liburan aja sih! Kami habis makan malam dan jalan-jalan di luar." Jawab Maya.
"Sekarang kalian dimana?" Sahut Nyi Yanti.
"Ini nganterin Maya ke kamarnya, Mi. Aku harus memastikan Maya sudah masuk ke kamar dengan selamat dan tidak ada hal-hal aneh di sekitar sini." Terang Bayu.
"Alllaaahh... Itu alasan mu aja, Yu!"
"Awas kalau kamu macem-macem sama calon mantu ku!"
"Ingat kalian belum sah!" Nyi Yanti menegaskan.
"Mas Bayu nggak macem-macem sama Maya kok, Mi!" Maya mengambil alih ponsel Bayu.
"Mas Bayu balik aja ke kamar, ponsel Mas Bayu biar aku bawa aja, sekalian ntar ngecek ada apa aja di ponsel Mas Bayu." Perintah Maya.
Bayu hanya menurut dan melihat Maya yang menghilang di balik pintu kamarnya. Bukannya pergi, Bayu tetap menunggu di depan pintu kamar Maya.
"Aku ingin secepatnya menikah dengan Mas Bayu, Mi." Melanjutkan video call dengan Nyi Yanti.
__ADS_1
"Kenapa? Kok tiba-tiba?"
"Kalian tidak kebablasan kan?" Selidik Nyi Yanti.
"Nggak, Mi!" Sahut Maya cepat.
"Aku hanya takut kalau terlalu lama menunggu, Mas Bayu akan pindah ke lain hati atau mencari perempuan lain yang siap menikah." Jujur Maya.
"Mana mungkin Bayu seperti itu, May?" Nyi Yanti paham dengan kekhawatiran Maya.
"Tidak semudah itu untuk mencari pengganti dan yang pasti Bayu tidak mudah jatuh cinta. Aku pasti tidak akan membiarkan Bayu mengkhianati kamu." Nyi Yanti berusaha memberikan rasa aman pada Maya.
"Selama menunggu kamu, hasil pantauan Mimi tidak menunjukkan tanda-tanda Bayu dekat dengan perempuan lain. Kamu bisa percaya 100% info ini, Mimi mengawasi Bayu dengan cermat."
"Iya, Mi. Maka dari itu, sebelum Mas Bayu benar-benar tidak tahan menunggu, lebih baik menikah saja. Toh aku juga sudah lulus SMA!"
"Mimi nggak masalah kan punya menantu nggak kerja?" Tanya Maya.
"Hahaha... Kamu itu penerus perguruan Macan Emas, tidak usah bingung mencari kerja. Bayu pasti juga tidak mengijinkan kamu kerja di tempat lain." Jawab Nyi Yanti.
"Tapi sebenarnya aku ingin kerja dengan usahaku sendiri, Mi." Sanggah Maya.
"Hoooaaamm..." Tiba-tiba Maya menguap.
"Kamu capek habis jalan-jalan kan? Ya sudah, istirahat saja sana."
"Mimi benar-benar akan menyiapkan pernikahan kalian, jadi sudah tidak ada jalan mundur lagi!" Tegas Nyi Yanti.
"Siap, Mi." Maya memberi hormat dengan tangannya.
Panggilan video call telah diakhiri, Maya keluar lagi dari kamarnya dan hendak mengembalikan ponsel Bayu. Maya kaget saat membuka pintu kamar, ternyata Bayu masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Mas Bayu kenapa diam aja disini? Kenapa nggak balik ke kamar?" Tanya Maya.
"Ponselku masih ada di kamu, sayang." Sahut Bayu.
"Kan aku mau liat-liat dulu isi ponsel Mas Bayu. Emangnya nggak boleh?" Ketus Maya.
"Boleh, aku kan nggak pernah larang." Sahut Bayu lembut.
__ADS_1
"Ya udah, sini masuk! Aku mau liat-liat dulu isi ponselmu."
Bayu masuk dan Maya pun mengunci pintu kamarnya. Bayu duduk di sofa, Maya duduk di samping Bayu lalu bersandar. Bayu membawa Maya ke dalam pelukannya, Bayu memeluk Maya dari belakang dan Maya sibuk membuka-buka sosial media dan aplikasi chat di ponsel Bayu. Galeri dan file pun tidak lupa juga dijelajahi, namun tidak ada satupun hal yang Bayu sembunyikan.
Maya meletakkan ponsel Bayu karena sudah bosan tidak ada yang janggal atau mencurigakan di ponsel Bayu. Maya berbalik dan wajahnya begitu dekat dengan Bayu.
"Jadi setelah pulang liburan, kita akan benar-benar menikah?" Tanya Bayu masih tak percaya.
"Iya, sayang. Apa Mas Bayu tidak suka? Mau dibatalkan saja?" Sahut Maya cepat.
"Aku terlalu bahagia dan hampir tak percaya, karena ku pikir masih harus menunggu kamu lulus kuliah." Menci-um pipi Maya.
Maya naik ke pangkuan Bayu, bertatapan mesra lalu entah siapa yang memulai, kini mereka saling berpa-ngutan. Perlahan ci-uman yang lembut berubah menjadi luma-tan yang semakin menggebu. Tangan Bayu mereng-kuh bongkahan ping-gul Maya dan tanpa sadar mulai mere-masnya perlahan. Maya merasakan ada yang mengganjal di bawah sana, namun dia diam saja. Mereka masih terus berciu-man begitu lama, hingga nafas mereka tersenggal-senggal.
"Sayang, hentikan sekarang! Atau aku tidak akan bisa berhenti!" Bayu berusaha menguasai dirinya, berusaha menahan ha-sratnya.
Sepintas Maya menatap Bayu yang sepertinya sudah tak mampu menahan gejolak di dalam dirinya. Bukannya berhenti, Maya justru melanjutkan ci-uman yang sempat terhenti. Perasaan bahagia karena akan segera menikah, serta rasa cinta yang menggebu-gebu membuat Bayu kehilangan kesadarannya.
Tangan Bayu kembali mereng-kuh bongkahan ping-gul Maya, lalu mere-masnya lagi. Perlahan berpindah menangkup dua susu murni yang masih dalam kemasannya itu. Entah siapa yang memulai, dress yang Maya kenakan sudah berhasil ditanggalkan. Terpampang indah dua susu murni yang masih ranum dan segar, menyem-bul di balik bungkusnya yang kekecilan.
"Sayang... " Lirih Bayu.
Maya hanya diam dan membuka bungkus susu murni itu.
Deg... Deg... Deg...
Jantung mereka berdetak lebih kencang dan lebih keras. Bagaikan mendapat kode untuk lanjut, Bayu langsung melahap hidangan yang ada di depan matanya. Bayu menye-sap satu susu murni dengan rakus, sedangkan satunya lagi dia genggam dengan kuat serasa takut direbut orang lain. Perlahan, tanpa malu-malu Maya melepaskan suara-suara kecil karena tidak tahan dengan serangan Bayu.
"Mas, jangan di sofa!" Maya kurang nyaman dengan posisinya sekarang.
Bayu berdiri dengan menggendong Maya di depan, wajah Maya bersembunyi di leher Bayu. Hembusan nafas Maya yang tepat di leher, membuat Bayu semakin tidak tahan. Bayu mendudukkan Maya di tepi springbed, tanpa suara Maya mere-bahkan diri menunggu Bayu.
Bayu mulai membuka semuanya dan dilemparkannya sembarangan, hanya tertinggal kain segi-3 yang masih belum ia tanggalkan. Ia pun langsung datang menyerbu kedua bongkahan susu murni yang sangat ranum dan segar siap dipanen, dise-sapnya kedua susu murni itu bergantian.
...***...
Maaf pemirsa, ini hanya imajinasi liar author 😁🤭
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕
__ADS_1