
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕
Happy reading awas banjir😁😊🤭.
...***...
Serangan demi serangan terus dilancarkan, sejata itu dengan giat berhasil menghu-jam hu-jam, yang awalnya perlahan lama kelamaan senjata itu menghu-jam dengan ke-ras dan cepat.
Tujuh menit berlalu, senjata itu mulai menyerang dengan lebih ke-ras dan lebih ce-pat lagi, hingga akhirnya mereka berdua melayang ke langit ke tujuh karena sensa-si yang luar biasa. Bayu ambruk ke samping lalu meme-luk Maya dengan ter-eng-gah-eng-gah.
"Terima kasih, Mama sayang." Mengecup puncak kepala Maya.
Sejenak mengatur na-fas, namun pelu-kan Bayu tak terlepas. Maya pun mengatur na-fasnya agar menjadi normal. Jam juga sudah menunjukkan pukul 10. Maya dan Bayu masuk ke kamar kira-kira pukul 9.20, itu berarti mereka melakukan fo-re-pl4y kira-kira 20 sd 30 menit sebelum akhirnya Bayu berhasil meruntuhkan pertahanan Maya.
Di atas nakas ada air putih, Bayu pun bangkit dan mengambilnya untuk diberikannya pada Maya. Saat Bayu bangkit, Maya langsung mengambil seli-mut yang terlipat di ujung ran-jang dan memakainya untuk menutupi tu-buhnya yang tanpa satupun penutup. Bayu meminum setengah air putih itu terlebih dahulu dan setelah itu setengahnya diberikan pada Maya.
"Minum dulu, sayang. Pasti kamu lelah, kan!" Mengulurkan air minum pada Maya.
Maya tanpa pikir panjang langsung meminum air putih itu sampai habis.
"Minum satu gelas berdua, yang kamu minum itu bekas bi-bir ku." Senyum Bayu, rona bahagia memang tak dapat ditutupi.
"Mas Bayu niat romantis apa karena memang cuma ada satu gelas? Pasti yang siapin air minum lupa kalau Mas Bayu sekarang di kamar tidak sendiri lagi." Maya cemberut.
"Hahaha… Kamu jangan salah sangka dong Mama sayang! Itu sengaja disiapin satu sama Mimi dan udah dibacain doa juga. Sama seperti kalau kamu persiapan pertandingan silat, pasti air minumnya dibacain doa dulu biar kuat." Bayu menjelaskan.
"Tapi kan kita tidak sedang akan bertanding Mas Bayu, sayang!" Sanggah Maya.
"Panggil Papa dong! Masa manggil Mas lagi?" Mengelus puncak kepala Maya.
"Kita memang tidak bertanding, tapi bertempur! Pertempuran yang membawa nik-mat." Bayu memegangi belakang kepala Maya lalu menci-um le-her Maya.
Maya diam tidak berani bicara dan masih erat menutupi tu-buhnya dengan seli-mut. Ia pikir pertempuran itu akan berakhir, namun ternyata dia salah.
"Kenapa ditutupi, sayang? Kan udah sah, aku juga sudah lihat semuanya." Tanya Bayu.
"Malu, Mas." Lirih Maya sambil memalingkan wajahnya ke samping.
__ADS_1
Bayu mengambil gelas kosong itu dari tangan Maya dan menaruhnya di nakas lagi. Maya yang malu masih terdiam, sejurus kemudian Bayu memegangi bahu Maya dan mere-bahkan Maya lagi. Maya pun hanya terdiam dan nurut-nurut saja. Bayu berdiri dengan kedua lututnya dan mengung-kung Maya di bawahnya.
Bayu mengajak Maya berci-uman dan tangannya perlahan membuka seli-mut yang sejak tadi dipegangi Maya dengan erat. Tangan Bayu mulai mere-mas re-mas salah satu su-su murni itu dan terkadang memi-lin ujungnya hingga membuat Maya mengge-lepar dan membu-sungkan da-danya. Bayu melepas ciu-mannya karena sudah tidak sabar pengen mi-num su-su murni.
Bi-bir Bayu sesaat menyusuri le-her Maya sambil terus mere-mas su-su murni yang ranum kira-kira ukuran 3-6 dan sebentar lagi akan dibuatnya menjadi 3-8. Bi-bir Bayu memakan su-su murni itu, namun tidak sepenuhnya dapat masuk ke dalam mu-lutnya. Tangan Maya pun sudah bergela-nyut manja di belakang le-her Bayu.
Bayu hendak mensudahi acara minum su-su, ia ingin menyusuri pe-rut datar Maya lalu menuju bunga pink milik Maya yang sekarang menjadi can-du untuknya. Namun Maya menahan kepala Bayu agar tetap terus mencum-bu kedua su-su mur-ninya.
Bayu pun menyadari keinginan Maya, ia pun lanjut meme-ras, memi-lin, menghi-sap, menyapukan li-dahnya di ujung su-su mur-ni itu. Desa-han desa-han kecil berubah menjadi lebih ke-ras. Sepertinya Maya sangat menikmati perlakuan Bayu pada kedua su-su mur-ninya itu.
"Eeeemmm... Terus, Pa! Yang ken-ceng!" Tanpa sadar Maya meminta lebih.
Namun Bayu malah berhenti dan mengambil satu ta-ngan Maya dan menuntunnya untuk memegang senjata itu. Bayu pun mengajari Maya bagaimana memperlakukan senjata itu.
"Sayang, sambil peganggin ya! Sambil dipi-jit atau dire-mes re-mes!" Pinta Bayu.
Setelah Maya megeng-gam senjata itu, Bayu pun lanjut meme-ras, memi-lin, menghi-sap, menyapukan li-dahnya di ujung su-su mur-ni itu. Bayu sangat lahap memakan hidangan yang sudah dua tahun lebih dia dambakan. Maklum, mencintai yang lebih muda harus siap nunggu.
Maya mulai terbiasa meme-gang senjata Bayu. Karena merasakan nik-mat oleh cum-buan ta-ngan dan bi-bir Bayu di da-danya, reflek Maya mulai mere-mas re-mas senjata itu. Maya merasakan senjata itu mulai mengembang sempurna.
"Paaaaaa…"
Maya melepaskan senjata itu dan tangannya berge-lanyut di le-her Bayu. Empat je-mari Bayu mulai menyapu bunga pink yang sudah banjir itu, terkadang Bayu menepuk bunga pink itu karena gemas dan itu menimbulkan sen-sasi tersendiri untuk Maya.
Bayu sudah tidak tahan lalu membuka pa-ha Maya lebar-lebar, wajahnya turun dan menyapa bunga pink itu. Bayu meniupnya dan membuat Maya berge-tar, lalu bi-birnya mulai mencum-bu bunga pink itu dengan ga-nas.
Bayu menge-cup, menggu-lum dan menyapukan li-dahnya pada bunga pink itu. Li-dah Bayu mulai menge-li-tik bi-ji bunga pink itu hingga membuat Maya menggele-par hingga tu-buhnya membu-sur merasakan nik-mat.
Entah belajar dari mana, sembari menge-li-tik bi-ji bunga pink itu, Bayu menu-sukkan satu je-marinya menyerang lembah gelap nan licin itu. Maya semakin ter-eng-gah-eng-gah dan menekan ke-pala Bayu semakin dalam.
"Paaaaaa..." Maya menyem-burkan madu cin-tanya, memba-sahi Bayu di ba-wah sana.
Bayu memberi jeda agar Maya dapat bernafas, lalu setelah itu Bayu mengang-kat bahu Maya agar terbangun.
"Sayang, please! Pengen dici-um juga." Menunjuk pada senjatanya.
Dengan agak kaku dan sedikit aneh, Maya memegang senjata itu dan mulai mere-masnya lalu menge-cup ujungnya.
__ADS_1
"Ibaratkan itu ice cream, biasanya kamu apain, sayang?" Bayu memberi kode.
Maya agak kaget, tapi dia juga tidak ingin mengecewakan Bayu. Ia pun memakan ice cream itu dengan perlahan dan hanya ujungnya saja yang bisa ia ma-sukkan.
"Eeeemmm... Terus, Ma! Yang agak ken-ceng!" Pinta Bayu.
Maya pun menuruti keinginan suaminya itu, lalu mengu-lum ice cream itu dengan sedikit lebih cepat. Bayu pun tidak tinggal diam dan ia pun lanjut meme-ras, memi-lin kedua su-su mur-ni itu. Tak lupa je-marinya juga mampir lagi menu-suk nu-suk bunga pink dan lembah gelap nan licin itu.
Kira-kira hampir 1 jam mereka melakukan fo-re-pl4y membakar semangat, hingga akhirnya mereka sudah tidak tahan dan Bayu segera menyerang lembah gelap nan licin itu dengan senjatanya.
"Eeeemmm... Lebih ce-pat, Pa!" Pinta Maya.
Bayu berdiri dengan lu-tutnya lalu menyerang dari depan dan segera menghu-jamkan senjatanya dengan lebih ce-pat. Maya memegangi kedua su-su murni itu hingga membuat Bayu tak sanggup menahan diri dan mulai menghu-jamkan senjatanya sembari mere-mas su-su murni itu.
Lima belas menit berlalu, tapi belum ada tanda-tanda Bayu akan menyudahi peperangan itu. Maya sedikit kualahan dan sudah menyem-burkan madu cin-tanya lagi. Bayu memberi jeda sedikit lalu meminta Maya mengganti posi-si do99y style dan mulai menyerangnya lagi dari belakang.
Lima belas menit berlalu tapi. "Eeeemmm... Terus, Pa! Yang ken-ceng!"
Bayu memom-pa lebih cepat lagi hingga Maya menyem-burkan madu cin-tanya lagi.
"Haaaaaaaahhhhh..." Teriak Maya pan-jang.
Seorang atlit pencak silat yang rajin latihan dan olah raga memang sta-mina tidak dapat diragukan. Bayu memberi jeda lagi, ia mere-bahkan Maya dengan posisi menyamping, lalu ia menyerang lagi dari belakang.
Bayu terus menghu-jamkan senjatanya ke dalam lembah gelap nan licin itu. Ta-ngannya tidak tinggal diam dan berpegangan pada dua su-su murni itu sembari mere-masnya. Bi-birnya pun terus menci-umi pun-dak dan le-her Maya dari belakang.
Setelah 15 menit, akhirnya Bayu mulai memom-pa dengan lebih ke-ras dan lebih ce-pat. Ka-mar itu penuh suara senjata saling beradu dan desa-han desa-han yang kian menge-ras.
"Haaaaaaaahhhhh..." Teriak mereka pan-jang.
Bayu dan Maya berhasil melewati pengalaman pertama mereka dengan cukup sukses. Sedangkan Ki Sopo dan Nyi Yanti sibuk dengan anggota keluarga lainnya di rumah bagian depan untuk menyelesaikan gossip yang beredar.
...***...
Mohon reader menyikapi dengan bijak 🙏🏼
Please, jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya... Kalau suka ceritanya, boleh 'lah sekalian kasih hadiah biar author makin semangat nulis. Terima Kasih 😘💕
__ADS_1