CEO Tampanku Ahli Silat

CEO Tampanku Ahli Silat
Part 20 Cinta itu seperti apa?


__ADS_3

"Kenapa Mas Randy tidak memaksanya, jika Maya tidak mau?" Prita penasaran, pasalnya Randy selalu dengan mudah menaklukkan begitu banyak wanita, sekarang malah ditolak oleh Maya.


"Itu bukan urusanmu! Dia tidak seperti dirimu." Randy menyulut rokoknya, ia memang selalu merokok jika sedang stress atau gundah.


Prita merasa sakit hati saat Randy bilang seperti itu, tapi dia juga tidak bisa menghapus kenyataan bahwa dia sudah menjadi budak dari geng Don Juan. Prita berubah menjadi hyper semenjak pengalaman pertamanya dengan Ferdy berlanjut dengan Bobby dan Vino, hanya Marco yang tidak pernah bermain dengannya. Dari ke lima anggota geng Don Juan hanya Marco yang paling diam dan tidak mau bergabung urusan wanita, Randy sang ketua geng menjadi rajanya. Setiap wanita yang pernah bermain dengan Randy pasti akan merindukannya lagi dan lagi.


Randy membentuk geng Don Juan karena ajakan dari Ferdy dan Bobby, sebelumnya tidak pernah terpikir olehnya untuk bermain api cinta dengan banyak wanita. Ketampanan, ketenaran, dan kekayaan membuat Ferdy dan Bobby menggila, mereka meracuni anggota geng Don Juan dengan gaya pacaran bebas seperti di luar negeri. Tidak tanggung-tanggung, bahkan mereka menganggap pacar anggota geng Don Juan adalah milik bersama atau pacar mereka bersama, seperti yang dialami Prita saat ini dan mungkin Priska akan menjadi korban selanjutnya.


"Apa kamu tidak ingin Maya mengalami hal yang sama seperti yang ku alami? Menjadi pacar dari kalian berempat?" Prita memberanikan diri untuk bertanya pada Randy, ia penasaran apakah Randy mulai mencintai Maya dan tidak rela Maya dijadikan pacar bersama oleh teman-teman gengnya.


"Hanya menunggu waktu agar dia bisa bergoyang di bawahku seperti yang kamu lakukan." Randy membohongi Prita, jauh di dalam hatinya memang ia tidak rela membagi Maya dengan teman-temannya itu.


"Tunggu! Kenapa kamu bilang berempat? Kami kan berlima!" Randy kaget.


"Kak Marco tidak pernah bermain denganku. Dia hanya pernah sekali pemanasan lalu meninggalkan aku begitu saja. Entah apa yang dia pikirkan, aku sempat shock karena aku pikir bodyku ini sudah tidak indah dan tidak menarik lagi." Prita menggoyangkan kedua susu murni yang tergantung indah di da – da nya hingga membuat Randy dengan gemas mere – masnya lagi.


"Kenapa kamu terus menggoda? Sudah 3 round, apa tidak cukup?" Randy memberikan ciuman singkat.


"Kamu aja yang tergoda, aku tidak ada maksud menggoda. Pasangan muda memang selalu mengebu-gebu bukan? Bahkan kita pernah melakukannya sampai 4 round hingga membuatku tidak bisa berjalan dengan baik."


"Pakailah seragammu! Sudah cukup untuk hari ini! Takutnya yang lain tidak kebagian madu cintamu karena sudah habis aku hisap." Randy pun segera mengenakan kaos dan jeansnya kembali.


"Marco? Ada apa dengan Marco? Kenapa aku tidak pernah memperhatikannya? Bahkan dia tidak mau bermain dengan Prita, apa mungkin dia juga tidak mau bermain dengan wanita-wanita yang lainnya? Aku harus mencari tahu." Pikiran Randy terus saja bekerja.


"Aku ingin bicara dengan Marco, kenapa dia menolak dirimu yang begitu indah. Apa kamu bisa pulang sendiri atau biar diantarkan oleh supirku?" Tawar Randy.


"Tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri, dari pada orang tua ku curiga." Menolak tawaran Randy.


"Ini sudah jam 19.00, apa orang tuamu tidak curiga kamu pergi kemana?"


"Gampang, bisa bikin alasan kerja kelompok atau apalah. Aku numpang bersih-bersih di kamar mandi sebentar ya?" Prita gerah jika tidak membasuh bodynya dengan air terlebih dahulu, apalagi di bawah sana ada sisa-sisa madu cinta yang tadi sempat disiram dengan jus jeruk juga.


Prita pergi ke kamar mandi, sedangkan Randy menelepon Marco dan menyuruhnya datang ke rumahnya. Marco awalnya enggan datang karena malas jika harus berkumpul dan ternyata hanya membahas tentang happy-happy dan wanita. Randy mengatakan maksudnya memanggil Marco, ia hanya ingin membicarakan masa depan gengnya dengan Marco saja.

__ADS_1


Prita ke luar dari kamar mandi dan sudah rapi kembali seperti saat dia datang tadi sepulang sekolah. Prita berjalan menuju sofa dan mengambil tasnya. "Apa Kak Marco akan ke sini?"


"Iya, aku menyuruhnya ke sini, sebentar lagi dia akan datang. Apa kamu ingin satu round lagi dengan Marco?" Randy menyerigai.


"Kalau satu round lagi denganmu, aku mau." Prita menyingkap mini skirtnya di depan Randy. Tiba-tiba saja Marco datang dan sempat melihatnya.


"Mungkin aku ganggu, aku ke sini nanti saja." Marco hendak pergi, rumah Marco memang tidak terlalu jauh dari rumah Randy, makanya dia bisa datang dengan cepat, kira-kira hanya butuh waktu 15 menit saja.


"Jangan pergi! Prita sebentar lagi pulang." Randy menahan Marco.


"Ya udah aku pulang dulu, bye Mas Randy sayang…" Prita melangkah ke luar hendak meninggalkan Randy dan Marco.


Prita sangat usil, sebenarnya dia penasaran apa yang membuat Marco tidak tertarik dengannya. Prita sengaja tidak menutup resleting jaketnya, bahkan ia sengaja membuka dua kancing teratas seragamnya hingga nampak jelas dua susu murni itu akan tumpah dari wadahnya yang kekecilan.


"Aduh!" Prita pura-pura tersandung dan menabrak Marco hingga ke dua susu murninya jatuh di da – da Marco. Bukannya tertarik, Marco justru kesal dibuatnya. Marco membantu Prita berdiri lalu berlalu pergi berjalan menuju ke arah Randy hingga membuat Randy tertawa keras.



Prita pergi dengan kesal, padahal dia ingin sekali melanjutkan permainan mereka yang dulu sempat gagal. Prita tahu jika senjata milik Marco sama besar dan juga panjang seperti milik Randy. Body Marco pun sedikit lebih atletis dibanding body milik Randy dan teman-temannya yang lain.


"Kamu memanggilku ke sini hanya untuk melihat kamu bermesraan dengan wanita itu?" Marco kesal namun tidak bisa marah pada Randy sang ketua geng.


"Hahaha... Jangan kesal! Memangnya ada apa dengan Prita?" Randy belum ingin mengatakan maksudnya memanggil Randy.


"Nggak ada apa-apa!" Marco menghempaskan tubuhnya ke sofa yang empuk.


"Sepertinya kamu habis bertarung di sini dengan wanita itu." Marco melihat bantal sofa yang berantakan dan bekas jus yang sedikit tumpah.


"Aku penasaran kenapa kamu tidak mau bermain dengan Prita. Bukankah kamu tahu dia adalah pacar, maksudku penghibur geng kita!"


"Jika aku menjawab dengan jujur, aku takut kamu akan marah dan mengamuk padaku." Marco menatap kosong ke depan.


"Katakan saja, aku tidak akan marah. Mumpung kita hanya berdua saja." Janji Randy.

__ADS_1


"Meskipun Prita memang ingin bermain dengan ku, aku tidak menginginkannya. Aku tidak pernah bermain dengan siapapun, termasuk para mantan pacar kalian berempat yang sebelumnya. Aku takut untuk jujur padamu karena posisi ku yang di bawah kalian dan kamu selalu mendengarkan Ferdy serta Bobby."


"Aku sebenarnya kecewa dan bingung. Awal kamu membentuk geng ini, apa memang untuk saling berbagi pacar?"


"Apa yang kalian dapatkan? Kalian tidak akan mendapatkan cinta sejati. Jangan bilang cinta sejati itu bullshit, cinta sejati memang ada dan hanya orang yang beruntung yang bisa mendapatkannya."


"Lebih baik aku bermain solo daripada harus bermain dengan para wanita yang rela bergoyang di bawah kalian berempat. Bukan aku sombong, tapi aku benar-benar tidak bisa. Ada orang yang aku cintai dan aku harap orang itu tidak bernasib sama dengan para pacar kalian."


"Tunggu! Siapa yang kamu cintai?" Randy memotong penjelasan Marco.


"Aku tidak dapat mengatakannya padamu, hanya saja aku tidak ingin melukai wanita lain karena aku berharap wanita yang ku cintai bernasib baik. Aku pun tidak rela jika wanita yang ku cintai dilukai oleh pria lain." Senyuman manis Maya melintas di benak Marco hingga membuat hatinya terasa sakit, andai aja Maya tidak bertemu dengan Randy dan Priska, mungkin dia tidak akan terjebak di sarang singa seperti saat ini.


"Memangnya cinta itu seperti apa? Kenapa kamu sebegitu-nya?" Secara tidak langsung Randy mencari tahu jawaban untuk masalahnya dengan Maya.


"Saat jauh kita rindu, kita sedih karena tidak bisa memilikinya, tapi kita bahagia melihat senyumannya. Cinta itu ketika kamu tidak rela melihat orang lain melukainya, kamu akan menangis jika dia terluka apalagi saat kamu tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolongnya atau meringankan bebannya. Cinta yang tulus itu menjaga, bukan merusak keindahannya."


"Apa kamu merasakan itu semua dengan para wanita mu? Pasti kamu tidak merasakannya. Kalau kamu merasakannya, kamu pasti tidak akan tega mempermainkan mereka dan merubah mereka menjadi bahan penghiburan kalian." Marco berhenti bicara, ia sadar sudah terlalu banyak omong. Namun dia heran mengapa Randy tidak marah-marah mendengar semua ucapannya.


"Rand, jujur saja aku berharap kamu membatalkan perjanjian geng kita mengenai Maya. Kalaupun mereka meninggalkan mu, aku tidak akan meninggalkan mu seorang diri. Maya gadis yang baik, apa kamu tidak mencintainya? Aku saja bisa melihat jika dia tulus mencintaimu. Apa kamu tidak bisa melihatnya?" Marco memberanikan diri untuk berusaha mencegah agar geng mereka tidak merusak Maya.


"Pulang lah! Aku tidak ingin berbicara lebih lanjut lagi." Randy mengusir Marco pulang.


"Tolong pikirkan baik-baik, Rand! Aku hanya ingin jujur padamu, jika kamu tidak terima dan ingin mengeluarkan aku dari geng kalian, aku siap menerima konsekuensinya."


"Coba ingat lagi, kapan geng kita berubah haluan? Pasti kamu tahu apa penyebabnya."


"Pulang lah! Sebelum kesabaran ku habis." Randy mengusir Marco sekali lagi. Marco hanya bisa pasrah dan pergi meninggalkan Randy seorang diri.


...***...


Jangan lupa ikuti update cerita selanjutnya ya…


Jangan lupa jempol, komentar, vote dan tambahkan ke favorit ya… Terima Kasih 😘💕

__ADS_1


__ADS_2